Bae sonde Bae

June 30th, 2005

Music from Roti

Posted by flobamora in Music

Indonesia dalam Denting Sasando

SASANDO, alat musik tradisional yang berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, bisa dikatakan hampir tenggelam di tengah lalu lintas musik industri saat ini. Instrumen petik yang menjadi salah satu kekayaan bunyi yang penting di Nusantara itu nyaris tak didengar oleh khalayak di negeri sendiri.

KEKAYAAN bunyi yang tersimpan dalam sasando berikut para maestronya akan ditampilkan dalam pergelaran musik Megalitikum-Kuantum pada 29-30 Juni mendatang di Jakarta Convention Center. Zakaria

Sasando dari sisi bahan memang terkesan sederhana. Sasando tradisional menggunakan sembilan dawai yang terpasang pada tabung bambu. Itu mengapa ia digolongkan sebagai jenis tube-zither-siter tabung. Sebagai resonator, digunakan daun lontar muda yang ditangkupkan sehingga membentuk rongga setengah lingkaran. Alat itu dimainkan dengan cara dipangku dan dipetik dengan jari-jari kedua tangan.

Dalam khazanah bunyi di Nusantara, sasando termasuk unik. Instrumen dengan sistem tangga nada heksatobik atau enam nada ini mempunyai gaya melodi yang terdengar lain dibandingkan dengan musik lain di Indonesia.

"Melodinya menggunakan gaya menurun ke bawah, descending movement, yang mengingatkan pada gaya Afrika. Ini unik untuk Indonesia. Perlu didengar dan diapresiasi," kata etnomusikolog Rizaldi Siagian tentang sasando dan komposisi tradisional.

Siter tabung serupa sasando dijumpai di Asia Tenggara, seperti Filipina, Vietnam, dan Malaysia, yang banyak menghasilkan bambu. Sejumlah tempat di Indonesia juga mengenal alat musik petik serupa sasando. Di Mandailing dikenal gondang bulu, sedangkan di Karo terdapat keteng-keteng. Cerana

"Perbedannya dengan sasando, gondang bulu dan keteng-keteng berfungsi ritmik, bukan melodik," kata Rizaldi.

Dalam tata pergaulan internasional di masa lalu, sasando bahkan pernah berpengaruh sampai ke Madagaskar. Negeri itu juga mengenal alat musik petik serupa sasando yang disebut valiha yang dijadikan alat musik nasional Madagaskar.

SASANDO menjadi bagian dari hidup keseharian Hendrik Pah (59), seniman sekaligus pembuat sasando asal Rote yang kini tinggal di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bersama rekannya, Nane Messakh, Hendrik akan memainkan sasando dalam pergelaran Megalitikum-Kuantum yang digelar untuk memperingati 40 tahun harian Kompas.

Hendrik tinggal jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Rumahnya yang sederhana di Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, NTT, itu terletak di sekitar ladang jagung. Rumah berlantai tanah itu berdinding yang terbuat dari pelepah daun lontar. Atap rumah terbuat dari daun pohon lontar. Bahan dasar rumah itu tak jauh beda dengan bahan dasar alat musik sasando yang menggunakan daun lontar sebagai rongga resonator.

Di halaman belakang rumah terdapat peranti untuk membuat sasando. Hendrik menggunakan teknologi bersahaja untuk membubut kayu yang digunakan sebagai penambat tali sasando.

Perkakas itu berfungsi sebagai semacam mesin bubut. Alat itu terbuat dari pelepah daun lontar yang ditancapkan di tanah. Pada ujung lengkungan yang lentur itu dipasang tali yang dihubungkan ke pedal dari kayu. Lengkung dan tali serta pedal itu menghasilkan tenaga yang digunakan untuk menggerakkan roda. Roda itulah yang menjadi pemutar kayu untuk dibentuk sebagai penambat tali sasando.

Dari kehidupan yang serba sederhana itulah Hendrik membuat dan memainkan sasando yang secara turun-temurun diajarkan leluhurnya di kampung halaman di Pulau Rote. Keluarga besar Pah memang termasuk keturunan seniman sasando yang cukup dikenal di NTT, terutama di sekitar Kupang. Ia bermain dari desa ke desa memenuhi panggilan orang yang mengadakan upacara, mulai dari kelahiran, perkawinan, sampai kematian.

Hendrik seperti menyanyikan kehidupan dengan sasando dan lagunya. Siklus hidup manusia, mulai dari lahir, kawin, sampai mati, itu tadi ikut ia rayakan dengan sasando dan syair. Suatu malam di Kupang, Hendrik dan Nane berduet memainkan sasando sambil melantunkan syair-syair tentang kehidupan, tentang kematian. Bagi yang telanjur terpola dengan tata bunyi musik pop, nyanyian sasando Hendrik dan kawan-kawan itu mungkin akan terdengar aneh, tapi itulah sepotong wajah Indonesia, yang terlupakan.

SASANDO dalam perkembangannya harus berhadapan dengan perubahan zaman. Di masa lalu ei atau dawai sasando terbuat dari sayatan kulit bambu. Ada pula yang membuat dawai dari daun gewang. Zaman telah berganti dan serat-serat kawat kopling sepeda motor pun dijadikan tali sasando. Ada pula yang memilih menggunakan dawai gitar.

Sasando juga diajak untuk masuk dalam wilayah kultur pop. Zakarias Ndaong (27), pemilik kios kecil Dalek Esa, di Jalan Timor, Oesapa, Kupang, dengan terampil membawakan lagu-lagu pop seperti I Have a Dream dari ABBA yang belakangan dipopulerkan boyband Westlife.

Zakarias tampak bangga memainkan sasando lipat itu di depan para tamu yang mengunjungi kiosnya. Ia lalu mengenakan topi ti’ilangga, topi khas Rote yang terbuat dari daun lontar. Ia juga memainkan lagu ABBA lain, yaitu Chiquitita. Ia juga memainkan lagu Mother How are You Today. Seorang pembeli meminta Zakarias memainkan lagu tradisional.

Oleh pengantar tamu ia lalu diminta memainkan lagu "Jepang". Rupanya yang dimaksud lagu Jepang itu adalah Kokoronotomo, lagu pop juga yang kebetulan berlirik bahasa Jepang. Lagu tersebut pernah populer di Indonesia pada pertengahan tahun 1980-an.

Rupanya, sasando juga mengikuti perkembangan musik pop. Setidaknya, Zakarias juga siap memainkan lagu Sheila on 7 sampai lagu Peterpan Ada Apa Denganmu yang tengah populer. Agaknya, Zakarias memang akrab dengan dunia gaul. Melongok ke bilik di balik kios itu terlihat poster band pop All Saints, 5ive sampai kumpulan grup The Rockers of ’90.

Agar dapat digunakan untuk memainkan I Have a Dream, Kokoronotomo, atau Ada Apa Denganmu itu, maka sasando harus di-stem dengan titi nada diatonis. Menurut Zakarias, yang paling banyak dibeli orang adalah sasando diatonis. Agar bisa bersaing dengan gemuruh zaman, sasando pun dibuat versi elektronis yang dilengkapi dengan perangkat spool layaknya gitar listrik. Untuk versi elektrik itu, sasando telah menanggalkan resonator lontarnya.

Demi kepraktisan, muncullah kemudian sasando lipat. Tangkupan daun lontar pada sasando bisa dilipat seperti bilah-bilah kipas yang bisa ditutup rapi. Begitulah sasando disesuaikan dengan gaya hidup kaum urban yang serba praktis yang menciptakan segala sesuatu serba portable, gampang dijinjing dan tidak memakan tempat.

Apa boleh buat, gaya hidup masyarakat dengan mobilitas tinggi butuh sesuatu yang serba praktis. Bukankah di Desa Oebelo kini orang-orang lebih suka menggunakan kursi plastik warna-warni, produk massal yang menggantikan kursi kayu yang bahan bakunya semakin susah didapat.

Sasando juga telah berhadapan dengan pasar global. Ia berada di arena yang sama dengan produk industri massal yang mengitari habitat sasando. Tak jauh dari kios sasando itu bertebaran poster iklan rokok LA Lights sampai Coca-Cola. Ada juga toko roti dengan mana mentereng Paris Bakery. Ada juga dealer mobil Toyota. Ketika Zakarias sedang memainkan sasando, di jalan raya melintas truk mengangkut belasan sepeda motor bebek.

Sasando berada di tengah masyarakat yang berubah: mobilitas cepat, konsumerisme, budaya pasar. Sasando pun menjadi barang produksi dengan mengikuti kultur pasar. Sasando dijual dengan harga bervariasi sesuai jenis. Sasando lipat dijual dengan harga sekitar Rp 500.000. Untuk sasando elektrik dipasang harga sekitar Rp 1 juta. Sasando konvensional, nonlipat, dijual dengan harga berbeda-beda di setiap perajin. Ada yang menjual Rp 100.000 hingga Rp 150.000.

Ada pula sasando suvenir yang mungil berukuran sekitar tujuh sentimeter yang dijual seharga Rp 50.000. Sasando versi cenderamata ini tentu saja tidak bisa dimainkan. Ia sering dijadikan oleh-oleh dan bisa dipajang sebagai hiasan-tanpa denting-denting indah itu. Sasando yang berubah boleh jadi menjadi pantulan wajah bangsa yang berubah. Semoga dentingnya masih sempat didengar oleh bangsa yang seperti sedang belajar mengingat kembali wajah sendiri ini.

Troubled Grass and Crying Bamboo: The Music of Roti

The island of Roti is located just southwest of West Timor in the semi-arid tropics of Eastern Indonesia. The recording Troubled Grass and Crying Bamboo: The Music of Roti features examples of the two main musical genres in Roti, poetic song accompanied by sasandu tube zither, and the meko gong and drum ensemble. It also features a soundscape collage of natural and man-made sounds from Roti, including the sounds of morning, a circle dance, night, a story-teller, the sea, and the sasando biola, an expanded, diatonic form of the sasandu. Roti_1

The title "Troubled Grass and Crying Bamboo" (Falu fik no soda ok) is a translation of a couplet from a Rotinese poetic narrative that describes the origins of death and of song. In this tale, Death claims its first victim, and the bereaved take up the sasandu and sway like the troubled tall grass, their mournful song like the crying voices of the wind in a bamboo grove. This tale is but one example of the way Rotinese use oration, whether recited, chanted or sung, to express, enliven and maintain Rotinese culture.

At the heart of all ritual and traditional life in Roti is oration. Traditional oration in Roti finds its most sophisticated expression in a ritual, poetic form of Rotinese that employs parallelism. Ritual, poetic languages in parallel form are found throughout Eastern Indonesia (as well as in many other areas throughout the world). These language forms express and encode social wisdom and ritual knowledge which portray reality as fundamentally dualistic, in a syntactic form that is itself dyadic. For example, the Rotinese couplet Hata hori au masik, oe dae ana noe ("Man is like salt, touched by water he dissolves") metaphorically expresses the dualistic nature of the human condition - which seems solid and enduring although it is fragile and ultimately ephemeral - within the guidelines of Rotinese grammatical parallelism. Roti_3

Most Rotinese songs alternate verses in parallel language with a refrain in standard Rotinese or Bahasa Kupang, the regional lingua franca comprised of Malay, Dutch, Rotinese and Timorese elements. While each song is identifiable by its distinctive refrain, the verses are variable and singers may use the same parallel couplets in many different songs. The overall mood of many traditional Rotinese songs is one of gentle melancholy; the theme - that life is full of suffering, governed by fate, and ultimately illusory. Roti_6

The main accompanying instrument for Rotinese song is the sasandu, a plucked, bamboo tube-zither with a palm leaf resonator. Its ten or eleven strings are made from strands of motorcycle coupling wire, and their pitch is adjusted with individual, movable bridges and tuning pegs. The resonator is made by shaping the large fan-leaf of the lontar palm into a pleated hemisphere. Although it resembles tube-zithers found among other Austronesian peoples (for example, the Savunese ketadu haba, the Sikkanese santo, and the Malagasy valiha) the Rotinese claim the sasandu as their own invention, and revere it as the single most distinctive medium and symbol of their music culture. Roti_7

Besides sasandu-accompanied song, the other main musical genre in Roti is the meko group, an ensemble of nine (or sometimes ten) either locally made iron or imported bronze, bossed gongs, and a labu drum. Usually played to accompany dance, meko group compositions are comprised of interlocking parts that may repeat indefinitely, played at uniform tempo and maximum volume. With its brash and bold style, the sound of the meko group provides a sharp contrast to the relatively quiet and introspective sasandu. Roti_8

Rotinese musical performances happen at festivals and at parties for a birth, the dedication of a new house, a wedding, or a wake. The main music-making tends to go on in the cool of the night, as guests converse, play cards, drink sweet, strong black coffee, and eat treats like boiled water buffalo hide with sea salt. Many guests also enjoy chewing betel and areca, and some will drink potent, home-made palm gin. Meko gong pieces may be played spontaneously throughout the evening, and typically start when one player picks up a pair of meko and beats out the pattern to a well-known composition. He is joined one by one by other meko players, and finally by the counter-rhythm of the labu drummer. Depending on the piece performed, a few women or men may get up and dance the appropriate steps, making the party even more lively. If there is someone present who can sing and play sasandu, he will certainly be urged to perform sometime during the evening (although meko and sasandu share some common repertoire, they never play together). Others present may join in singing the second half of couplets that they recognize, while someone sitting next to the sasandu player will invariably accompany him by drumming on the hard leaf shell of the instrument with a light stick. A talented sasandu-player and singer will improvise verses based on traditional couplets that suit the mood of the occasion, and can sometimes move listeners to tears with his sung poetry.

Roti_cover

Troubled Grass and Crying Bamboo: The Music of Roti (61:16)

  1. Batu Matia A.A. Malelak, Esau Nalle and Johannes Ledoh 5:29
  2. Tele Non Tele Ote Ote Non A.A. Malelak and Friends 6:23
  3. Mudipapa Busalanga Iron Meko Group 3:07
  4. Tae Benu Busalanga Iron Meko Group 2:05
  5. Baku Natia Daniel Huan 11:44
  6. Feto Bo’i Daniel Huan 5:49
  7. Tae Benu Busalanga Bronze Meko Group 2:44
  8. Do Ke Ka Busalanga Bronze Meko Group 2:32
  9. Teo Renda Bernadus and Alexander Henuk 5:13
  10. Ofalanga Bernadus and Alexander Henuk 4:14
  11. Rotinese Soundscape 9:25
    a. Dawn
    b. Circle Dance led by Jonas Moi
    c. Night
    d. Troubled Grass and Crying Bamboo told by Johannes Mesak
    e. Sea
    f. Bo Lele Bo sasando biola solo by Eli Koamesa
  12. Batu Matia Henrik Pande, Benyamin Adu and Nikolas Messah 1:51

I have ordered the above mentionde Audio CD at http://www.labyrinth.net.au/~cbasile/roti.html.

I also do have an Audio CD which is rarely available, even Amazon was sold out:

Tcd1719

  1. Foti
  2. Kaka Filanda
  3. Ofa Langga
  4. Ofa Langga
  5. Batu Matia
  6. Engga Lutu
  7. Li Basili
  8. Tai Benu
  9. Teo Renda
  10. Ailoda Fetoboi
  11. Lelendo

June 30th, 2005

PELAJARAN BAHASA PAPUA

Posted by flobamora in Culture, social, people & other

sa                 : saya
de                 : dia
ko                 : kau
kam                : kalian
tong               : kita
pi                 : pergi
jang               : jangan
mo                 : mau
su                 : sudah
pu                 : punya
trada              : tidak ada
tratatau           : tidak ada
kalawai            : sejenis tombak untuk menikam ikan
sageru             : minuman beralkohol tradisional
air masing         : air laut
ipar               : sodara (panggilan akrab buat seseorang)
pace               : bung
mace               : nona/wanita
fui fui            : guna guna/ magic

contoh penggunaan dalam kalimat :

sa tra tau         : saya tidak tau
jang ko marah sa   : jangan kau marah saya
sa pu nona         : saya punya nona
sa tra tau,tadi de ada tapi mungki su pi : saya tidak tau,tadi dia tapi mungkin sudah pergi
sa sayang ko       : saya sayang kamu

jang kastinggal sa : jangan tinggalkan aku
sa rindu ko        : saya rindu kamu

June 29th, 2005

Dari Mana Nama Alexia?

Posted by flobamora in Netherlands

Seorang bayi telah lahir di dunia. Tapi bayi ini bukan sembarang manusia. Bayi ini mendapat nama panjang yang penuh makna: Alexia Juliana Marcela Laurentien. Dari mana nama Alexia?

Urutan ketiga
Dia adalah puteri kedua pasangan Putri Máxima dan Pangeran Willem-Alexander penerus Tahta Kerajaan Belanda, cucu kelima Ratu Beatrix. Ketika masih di perut saja sudah menduduki urutan ke tiga sebagai penerus tahta kerajaan Belanda, di belakang ayahnya Pangeran Willem-Alexander dan kakaknya Catharina-Amalia. Di garis penerus tahta dinasti Oranje, memang tidak ada diskriminasi gender, baik pria maupun wanita punya hak sama untuk memangku tahta. Putri dengan panggilan Alexia ini lahir Minggu 26 Juni 2005, tapi namanya baru diumumkan dua hari kemudian, ketika sang ayah Pangeran Willem-Alexander secara pribadi melaporkan kelahiran putrinya ke kantor catatan sipil kota praja Den Haag.

Berita kelahirannya sendiri sejatinya tidak istimewa. Sejak Putri Máxima akhir tahun lalu diisukan hamil dan beberapa bulan belakangan perutnya makin buncit, semua orang sudah mahfum dia akan melahirkan bayi. Proses melahirkan juga berjalan lancar.

Yang istimewa
Hal istimewa dari bayi ini sebenarnya adalah namanya: Alexia Juliana Marcela Laurentien, diambil dari nama orang-orang penting di seputar keluarga kerajaan. Memang sudah lumrah dalam budaya masyarakat Belanda dan Eropa, kalau anak lahir diberi nama orang-orang terdahulu, seperti nama nenek, kakek, paman, tante atau leluhur sebagai penghormatan. Seperti yang disampaikan sendiri oleh sang ayah, bahwa harapannya bayi itu kelak akan mewarisi kepribadian nama-nama orang pendahulu yang disandangnya.

Ketika pertama kali mendengar nama itu, seketika orang-orang pun langsung mengenali dua nama pendahulu: Juliana dan Laurentien. Juliana, jelas nama mendiang Putri Juliana eyang buyut sang bayi dan nenek dari Pangeran Willem-Alexander dan ibunda Ratu Beatrix. Lalu Laurentien diambil dari nama Putri Laurentien, istri Pangeran Constantijn, adik Willem-Alexander.

10887763_1 Marcela dan Alexia
Dari mana nama Marcela dan Alexia ? Menurut sang ayah, Marcela adalah nama dari wali perempuan Putri Máxima, saudara perempuan ibu kandung Máxima dari Argentina. Yang paling menarik dan sempat menimbulkan tanda tanya adalah pilihan nama Alexia. Dalam lingkup keluarga Oranje tidak ada nama Alexia, kecuali .. nama anak perempuan di luar nikah dari mendiang Pangeran Bernhard. Seperti pengakuan Pangeran Bernhard sendiri ketika masih hidup, bahwa harta warisannya akan dibagi enam, empat anak dari Putri Juliana dan dua orang anak perempuan lain di luar nikah. Yaitu Alexia yang tinggal dan lahir di Prancis dan Alicia yang hidup di Amerika. Apakah dari sana nama Alexia itu?

Pangeran Willem-Alexander sadar nama itu bisa menimbulkan pemikiran yang menyimpang ke sana, maka dia langsung menandaskan Alexia tidak diambil dari sekian banyak Alexia-Alexia yang dia kenal. Lebih dari itu, Pangeran penerus tahta itu mengimbuhkan, Putri Máxima lah yang sebenarnya memilih nama Alexia yang berasal dari nama Alexander sang ayahanda sendiri.

Penghormatan
Sangat mungkin, Putri Máxima yang memilihkan nama Alexia sebagai penghormatan kepada sang ayah yang beberapa tahun lagi mungkin menjadi Raja Belanda. Dan boleh jadi Pangeran Willem-Alexander sendiri sempat terkejut dengan penghormatan itu, tetapi saya pun percaya bahwa Máxima sebagai seorang ibu memiliki intuisi dan perasaan tajam dalam memberikan nama buat bayi yang dikandungnya selama sembilan bulan itu.

Dan selama ini pun saya terkesan dengan Máxima yang berwawasan luas, cerdas dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Kecerdasannya terbukti betapa cepatnya dia fasih berbahasa Belanda hanya dalam beberapa bulan saja, lalu karirnya yang mulus sebelum dia menikah dengan Pangeran Willem-Alexander. Betapa ia juga punya rasa sosial yang tinggi, banyangkan ketika mengandung besar berkunjung ke Afrika dan tidak segan keluar masuk kawasan kumuh dan berbincang dengan orang-orang miskin di sana.

Jadi saya tidak heran jua kalau Putri Máxima sadar dengan pilihan nama Alexia, yang dengan "terselubung" juga ingin menghormati anak "haram" Pangeran Bernhard dari Hélène Grinda perempuan Prancis yang dikenal dengan sebutan Poupette. Alexia ini sekarang usianya sekitar 37 tahun dan hidup di Paris Prancis. Mungkin saja Putri Máxima juga memahami betapa "tante" Alexia dari Prancis itu nasibnya tidak semujur anak-anak Pangeran Bernhard lainnya. Keberadaannya selama ini nyaris anonim dan hidup tanpa ayah di sampingnya. Dan mungkin saja Máxima juga masih ingat betapa sedihnya ketika Alexia dan ibunya Poupette itu tidak diijinkan ikut masuk bersama keluarga kerajaan ke dalam tombe mengantar jenazah Pangeran Bernhard menuju tempat peristirahatan terakhir. Sebagai alasan penampakannya bisa menyedot perhatian media yang berlebihan.

Makin kagum
Bagi saya Alexia adalah pilihan nama yang baik dan cocok, entah Máxima secara kebetulan atau sengaja. Karena bagi Willem-Alexander adalah sebuah bentuk penghormatan, dan bagi Alexia di Prancis bisa menjadi obat yang bisa meringankan penderitaan bathin dan pengucilan sekian lama. Ah..apa pun alasannya dan dari mana nama itu sebenarnya diambil, satu hal pasti: Kekagumanku pada Putri Máxima makin besar saja. Saya hanya ingin berucap selamat datang Putri Alexia dan semoga engkau mewarisi sifat dan kepribadian ibumu Máxima.

June 28th, 2005

Baby princess named Alexia

Posted by flobamora in Netherlands

AMSTERDAM — Crown Prince Willem-Alexander registered the name of his second daughter as Alexia Juliana Marcella Laurentien in The Hague on Tuesday.

Argentine-born Princess Maxima gave birth to the child on Sunday.

As with the entry of the names of future Queen, Amalia, into the register 18 months ago, Prime Minister Jan Pete Balkenende and the vice-president of the Council of State Tjeenk Willink attended Tuesday’s ceremony in the Oude Stadhuis.

Maximastweede_groot_tcm44175213

Hague Mayor Wim Deetman and Henk Kokken jointly received Willem-Alexander’s declaration of his second daughter’s names.

Alexia Juliana is third in line to the Dutch throne after her sister Amalia and her father. She was

born at 2.40pm on Sunday, weighing 3,490 grammes and was 50 centimetres in length.

June 28th, 2005

Dutch Top 10 Charts

Posted by flobamora in Music

1. de jeugd van tegenwoordig - Watskeburt?

2. Akon - Lonely

3. U2 - City of blinding flights

4. Shakira - La tortura

5. The black eyed peas - Don’t phunk with my heart

6. Guus Meeuwis - Geef mij je angst

7. Daniel Powter - Bad day

8. Kelly Clarkson - Since U been gone

9. Backstreet boys - Incomplete

10. Snoop dogg - Signs

June 28th, 2005

IFC supports Komodo park

Posted by flobamora in Nusa Tenggara Timur

JAKARTA: The International Finance Corporation (IFC) has pledged to provide US$5 million in grants aimed at ensuring effective long-term management and sustainable financing of the Komodo National Park, home to some of the world’s richest diversity at sea and on land.

"IFC is pleased to be participating in this innovative and exciting business venture that will identify and apply ways of increasing sustainable revenues for the local communities and improving the unique local ecology," IFC environmental and social department director Rachel Kyte said on Monday.

Kyte said the grant from the IFC, the private sector arm of the World Bank Group, to PT Putri Naga Komodo (PNK), a company jointly owned by the Nature Conservancy and tourist firm PT Jaytasha Putrindo Utama.

In a public-private partnership with the government and the local communities, PNK will promote the park on Flores Island as a tourist destination and increase the net benefits to conservation and local development, the statement said.

June 28th, 2005

Kupang, the dirtiest city? Shame!

Posted by flobamora in Nusa Tenggara Timur

Kupang, the dirtiest city? Shame!

When I read the email letter written by Zafar Young from Singapore proposing that Kupang, the capital of East Nusa Tenggara (NTT), get an award for the dirtiest and nosiest city in Indonesia, I was not surprised.

The government and the people of the city don’t seem to realize how their actions and way of living is impacting on the area. Is there no one there who sees how dirty their city is and what about the government, which has the power and authority to put in place controls to make urban living nicer? Is there no one in the administration or the police who is able to persuade people that their noisy audio systems bother other people or even violate their human rights to peace and quiet?

As an Indonesian living abroad, I feel very ashamed when I read this kind of news, especially from visitors to Kupang who leave with bad memories of the city.

These kind of stories should give the regional government and the mayor of Kupang something to think about.

Don’t they have sufficient power to create rules based on national law to make Kupang clean, calm and safe? We will never attract investors and tourists to come to our region if we leave these problems uncontrolled.

SEVERIN MEO GOA, Adelaide, Australia

 

http://www.thejakartapost.com/detaileditorial.asp?fileid=20050628.F05&irec=3

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: