Bae sonde Bae

July 30th, 2005

Oto bemo di Kupang

Posted by flobamora in Nusa Tenggara Timur

Cerita ini beta ambil dari weblog yang lain:

http://gilajalan.blogspot.com/2003_10_01_gilajalan_archive.html

Oto, itu cara orang-orang di NTT untuk nyebut mobil. Walopun untuk kendaraan umum ada istilah sendiri yaitu bemo, tapi tetep aja gue lebih sering denger kata oto untuk nyebut kendaraan umum. Ada satu kekhasan dari angkot-angkot di ntt, yaitu mereka selalu masang musik dengan volume keras. Kalo kata Danny, temen seperjalanan gue, itu adalah salah satu cara untuk menarik minat penumpang, konon penumpang gak mau naik klo gak ada musiknya. Musik yang dipasang? macem-macem, dangdut house, lagu-lagu daerah, lagu countrynya tantowi yahya, gak semua punya beat yang cepet dan dubztak-dubztak, ada juga yang mellow, mungkin beat gak penting, yang penting kerasnya itu…. :-). jangan ditanya kerasnya kayak apa, itu kaca-kaca jendela sampe bergetar, dan pas turun kuping gue berdenging sampe setengah jam sendiri.. :-)

pernah suatu saat di Kupang, pas gue lagi ada dalam oto yang gak begitu penuh, ada segerombolan anak smp mau naik, tapi baru ngelongokin kepala kedalem, eh mereka gak jadi naik. gue bingung, dan nanya Danny, tau gak kata dia apa? "mereka gak suka musiknya atau musiknya kurang keras.." ha! gak tau Danny boong, atau emang bener….
Oto

Oto di kota larantuka, Flores Timur, yah tipikal lah, ada musik juga, dan pas disana gue udah mulai terbiasa dengan volume kerasnya, tapi ada yang bikin gue suka bengong, yaitu, bukan penumpang yang ngejar oto, tapi oto yang nyamperin penumpang, gak jarang, supir mundurin otonya gara-gara ada penumpang yang kelewat, atau nungguin penumpang keluar rumah…. trus pas brenti kita gak perlu kuatir oto bakal jalan, sebelum kita bener-bener keluar. soalnya supir bakal nungguin, sampe penumpang turun sempurna dan menepi dari jalan, malah pake dadah-dadahan (nah ini hiperbola!)..heheh.. oh iya, mereka selalu punya kenek, yang mereka sebut konjak (katanya sih kependekan dari kondektur jakarta, gak tau deh, gue diboongin lagi atau enggak), dan kenek ini sangat menolong, nurunin naikin barang penumpang, ngangkatin barang kerumah (klo kebetulan rumah penumpang di tepi jalan banget), malah bisa jadi kurir, ngambil barang dari satu rumah, untuk dianterin kerumah lain.
Ri_kupang_bemo

Tapi klo bicara soal angkutan dari kota ke pedesaan dan sebaliknya, itu benerbener bikin gue kadang-kadang suka mengelus dada, angkutannya bener-bener terbatas, hanya satu oto yang lewat dalam waktu satu sampai dua jam, klo misalnya dari desa kita mau ke kota atau sebaliknya, dan ketinggalan satu oto, means kita harus nungguin kendaraan berikutnya satu sampe dua jam sendiri. Nah, oto satu atau dua jam sekali itu termasuk lancar, dan untung waktu kemaren gue tinggalnya didesa yang angkutannya cukup ‘lancar’ itu. Nah, yang masalah pas kita ada perlu ketemu seseorang ke desa lain yang rada jauhan tapi masih dalam satu wilayah pedesaan, untuk ke desa tersebut, kita harus naik oto pergi ke terminal pedesaan yang ada dipinggir kota, trus nunggu selama empat sampe lima jam untuk balik lagi ke desa yang dimaksud, wah pokoknya sempet tuh tidur-tiduran (walopun bukan gue sih yang tidur… hi bro!), jalan-jalan ke pantai (terminal tepi kota pas ditepi pantai, liat aja fotonya) sampe satu kali Danny sebel, pas oto udah dateng gue masih ada dipantai , sempet jajan, pokoknya sempet ngapa-ngapain dulu deh.. mungkin sempet juga balik ke bandung dulu (ctuks! ya gak mungkin lah!), klo oto udah dateng, apa langsung berangkat? enggak dong, mungkin aja kita bisa nunggu dua jam, nungguin para penumpang yang lagi belanja, yup.. ini berasa bukan kendaraan umum, tapi kendaraan antar jemput warga desa, jadi mungkin aja ada penumpang, yang udah naro blanjaannya di oto, trus bilang ke supir kalo dia ada perlu beli yang lain di pasar kota, dan minta ditungguin… Yang gue heran, hukum 7 - 5 penumpang gak berlaku, itu loh 7 di deret belakang supir, dan 5 dideret seberangnya.. soalnya asli itu ada kali 25 orang dalem kendaraan, belum ditambah belanjaan berkarung-karung beras, ember, dst, klo udah masuk disitu, berasa pindang, dan kita musti nerima nasib ketekuk-tekuk, berpanas-panas selama 1 jam-an sampe kedesa yang dimaksud.

Okay, waktu itu akhirnya kita dengan sukses mencapai desa yang dituju, tapi ternyata kita kudu kecewa, karena orang yang harus kita temuin gak ada, dan kita mau balik, pas kita tanya kendaraan lewat jam berapa lagi and guess what’s the answer? "oh tadi itu kendaraan terakhir, kendaraan lewat sini cuman satu kali…" wakwaws!

July 30th, 2005

Sisi Gelap Perkawinan Timur–Barat

Posted by flobamora in Netherlands

”Koelkast” Itu Selalu Digembok

Oleh
Yuyu A.N. Krisna Mandagie

MARIAHOEVE, DEN HAAG - Acara Dharma Wanita di Kedutaan Besar RI (KBRI) di Den Haag setiap Kamis kedua tiap bulan, baru saja bubar. Aku bergegas keluar karena masih ada keperluan ke pusat kota Den Haag. Tiba-tiba ibu Sari, yang dikenal sebagai aktivis di kalangan perempuan Islam, mendekatiku. ”Mbak, mau minta tolong nih,” kata Sari.
”Memang ada apa?” aku balik bertanya.
Tanpa menjawab pertanyaanku, ibu Sari malah langsung mengajakku ke rumahnya yang terletak di Mariahoeve, masih di kota Den Haag, tak jauh dari KBRI. Aku ikut saja masuk ke mobilnya. Rencanaku ke pusat kota Den Haag pun terlupakan.
Lalu kami tiba di rumah ibu Sari, di sebuah flat yang terletak di lantai 8. Di ruang tamu sudah ada seorang perempuan dan beberapa pemuda. Tamu perempuan itu memperkenalkan diri sebagai Sri. Aku belum sempat menyeruput kopi yang dihidangkan, Sri sudah terisak. Perempuan muda ini berasal dari gudang beras di Jawa Barat, Karawang.
Lalu Sri bercerita tentang kehidupannya. Begini penuturannya: Setamat SMA aku dikawinkan orang tuaku dengan pemuda sekampung. Aku tidak mencintai suamiku itu, tetapi sebagai gadis desa aku tak berani membantah. Perkawinan itu membuahkan seorang putri yang manis. Karena suami tidak mempunyai pekerjaan tetap, aku terpaksa harus bekerja. Untung aku pernah les mengetik dan bahasa Inggris.
Aku bekerja di perusahaan milik Belanda di Karawang. Itulah sebabnya selain bahasa Inggris aku bisa sedikit-sedikit berbahasa Belanda. Aku adalah karyawan yang rajin.
Hasil pekerjaanku disukai atasanku. Di kantor aku adalah perempuan aktif dan penggembira. Mungkin ini akibat pergaulanku setiap hari dengan laki-laki yang sebagian besar adalah orang asing yang kreatif dan penuh inisiatif.
Ternyata situasi ini memberikan dampak yang negatif terhadap kehidupan pribadiku. Karena begitu pulang ke rumah, aku segera akan berhadapan dengan situasi yang jauh berbeda. Suami tidak bekerja, kurang inisiatif, mudah cemburu. Aku goyah.
Aku mulai membuka diri dengan laki-laki asing di kantor. Ajakan makan siang berdua mulai aku ladeni. Dari makan siang meningkat ke makan malam. Aku mulai pulang ke rumah sedikit terlambat.
Alasan kerja lembur. Suamiku mulai curiga. Pertengkaran tak dapat dihindari. Hari demi hari makin menjadi-jadi. Puncaknya aku tidak pulang-pulang ke rumah. Aku kos di tempat lain.
Mungkin perbuatan ini akan dikutuk oleh pembaca, karena aku istri yang tidak setia. Tetapi aku punya pandangan lain, seorang istri harus berani menjadi dirinya sendiri. Perkawinan bukan ikatan yang membatasi gerak istri untuk berubah. Mungkin karena perubahanku ini dinilai sangat negatif.
Tetapi kalau Anda berada di pihakku, maka penilaian itu akan menjadi lain. Apakah Anda sebagai istri akan bisa bertahan hidup bersama suami yang pemalas, yang tidak punya usaha dan inisiatif untuk mencari pekerjaan, bahkan selalu marah-marah, curiga dan cemburu?
Perbuatanku menjadi buah bibir para tetangga. Aku malu. Kami pun kemudian bercerai. Aku pindah ke kantor pusat di Jakarta. Nadia aku bawa.

”Diusir” ke Indonesia
Hubunganku dengan laki-laki asing yang nota bene adalah bosku terputus. Dia harus kembali ke tanah airnya. Aku pun mengisi kekosongan itu dengan laki-laki asing lainnya, Leo, seorang Belanda.
Tetapi hubungan yang hanya just for fun ini kemudian berubah serius. Singkat ceritera, kami menikah secara Islam di catatan sipil. Kemudian kami sekeluarga pindah ke Belanda.
Karena keadaan perekonomian dunia terpuruk, perusahaan tempat kami bekerja bangkrut. Leo dan aku kena pemutusan hubungan kerja (PHK). Kami hidup dari jaminan sosial yang diterima Leo. Jumlahnya sedikit sekali. Kami harus membayar sewa rumah, listrik, telepon dll.
Kemewahan yang kami alami di Jakarta berubah menjadi hari-hari penuh perhitungan. Saat itu Leo berubah. Sifat aslinya mulai kelihatan. Dia tidak pernah manis lagi pada diriku. Nadia selalu menjadi tumpuan kemarahannya. Leo menjadi peminum.
Aku tidak pernah mendapat uang. Belanja sangat dibatasi. Leo mengatur segala-galanya. Belanja mingguan kami lakukan bersama tetapi sesuai dengan selera Leo. Isi lemari es hanya Leo yang tahu. Setiap hari lemari es digembok dan hanya dibuka oleh Leo pada jam-jam tertentu. Pada jam 08.00 pagi lemari es dibuka untuk mengambil mentega, selai atau daging asap untuk isi roti, atau susu buat sarapan.
Selesai sarapan, semua bahan dimasukkan lagi lalu lemari es digembok. Lemari es dibuka pada jam 12.00 saat makan siang dan jam 18.00 saat makan malam. Nadia sering dibentak karena meminta es krim yang ada dalam lemari es.
Adakah istri yang hidup seperti aku? Kehidupan rumah tangga kami bagaikan neraka. Aku tidak tahan. Beberapa hari yang lalu aku dan Nadia lari dari rumah. Untung ketemu ibu Sari di Den Haag Central Station.
”Mereka sudah seminggu di sini,” ujar ibu Sari yang juga bersuamikan seorang Belanda tetapi nasibnya sangat bagus, karena Rob, suaminya, adalah seorang suami dan ayah yang baik. Hal itu terlihat dari banyaknya pemuda Indonesia yang sering datang di tempat ini.
Mendengar semua ceritera Sri, aku trenyuh. Aku menasihatinya supaya tidak kembali ke Indonesia, bertahan sampai mendapat izin tinggal. Sri sampai saat itu masih tetap memegang paspor Indonesia.
Aku berpendirian demikian setelah mendengar kehidupan Sri yang serba susah di Karawang. Walaupun bagaimana, hidup materi di Belanda jauh lebih baik daripada di Indonesia. Tapi menurut ibu Sari, besok Leo akan menjemput Sri dan Nadia.
Beberapa bulan aku tidak mendengar berita tentang Sri, hingga pada perayaan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus di Wisma Indonesia, Wassenaar, aku bertemu dengan ibu Sari. Dia bergegas menemuiku. ”Sri dan Nadia sudah kembali ke Indonesia.
Leo membohongi mereka, diajak jalan-jalan ke Amsterdam tetapi mereka dibawa ke Schiphol dan langsung diurus terbang kembali ke Indonesia,” kata ibu Sari. Aku terpaku. Mungkin ini lebih baik bagi Sri dan Nadia.
Aku berharap Sri membaca tulisan ini. Itulah permintaan Sri agar pengalamannya tidak terulang pada perempuan Indonesia lain. Dan aku sudah memenuhi janjiku pada Sri.

July 28th, 2005

Tenun Ikat Kupang Diminati di Jepang

Posted by flobamora in Nusa Tenggara Timur

KUPANG – Kain tenun tradisional ikat asal Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap eksis di tengah lajunya kemajuan industri tekstil. Kain tenun ikat hasil olahan tangan para perempuan Kupang itu kini menembus pangsa pasar Jepang. Mereka menyukai tenun dengan motif flora dan fauna seperti buaya atau komodo.

Tenun adalah seni kerajinan tekstil yang cukup penting dalam kehidupan masyarakat NTT, selain untuk memenuhi kebutuhan sandang sehari-hari juga untuk menambah penghasilan keluarga. Usaha pembuatan tenun ikat ini dilakukan oleh kaum perempuan sejak mereka remaja hingga tua.
Masing-masing daerah di NTT yang dihuni sekitar 15 etnis memiliki potensi tenun yang menganggumkan. Uniknya lagi, hampir di setiap wilayah di NTT memiliki motif dan teknik menenun yang berbeda, begitu juga dengan warna yang ditampilkan.
Teknik tenun bisa digolongkan dalam tiga cara, yakni tenun ikat, tenun buna, dan tenun lotis. Ketiga teknik ini diwariskan secara turun-temurun sehingga menghasilkan jenis dan motif berbeda.
Orang Jepang ternyata sangat meminati kain tenun ikat NTT terutama dengan motif flora dan fauna dan ini hanya dihasilkan di sekitar Pulau Sabu. Mereka juga menyukai motif binatang seperti buaya atau jenis reptilia yang secara setia dipegang etnis Timor.
Salah satu lokasi sentra tenun ikat di Kupang berada di Jalan Kebun Raja II Kelurahan Naikoten I Kupang, NTT, milik Dorce Lussi. Dia menamankan sentra tenun ikatnya dengan nama Ina Ndao. Kain tenun hasil olahan Dorce Lussi selain untuk mencukupi permintaan lokal seperti Surabaya, Jawa Timur serta daerah wisata seperti di Denpasar, Bali ternyata juga diekspor ke Negeri Sakura, Jepang.
“Kami sudah menjual hasil kain tenun ikat Kupang ini hingga ke Jepang. Meski memang tetap harus melalui Surabaya, Jawa Timur,” ujar Ny. Febri (37), salah seorang karyawan di sentra tenun ikat Ina Ndao kepada SH ketika mengunjungi lokasi usaha Dorce Lussi, akhir Juni 2005 lalu.
Kebetulan Dorce Lussi, sang pemilik sentra tenun ikat itu sedang mengikuti Pekan Raya Jakarta (PRJ) di Jakarta. Sentra tenun ikat Ina Ndao merupakan satu dari 15 mitra binaan PT Jasa Raharja yang pernah mengikuti Pameran BUMN ICRA 2004 di Jakarta Convention Centre.
Menurut Ny. Febri, sebagian besar kain tenun ikat yang dihasilkan sentra tenun ikat Ina Ndao adalah motif dari daerah Rotte dan Sabu dengan ciri utama didominasi dengan warna gelap seperti hitam dan merah tua.
”Kain tenun ikat Kupang ini dapat dijual tidak hanya dalam bentuk kain panjang tapi juga dapat dimodifikasi menjadi sarung, selimut, jas, rompi, dompet, penutup leher serta kebaya. Namun, kebanyakan pemesan lebih menyukai kain tenun ikan dalam bentuk kain panjang,” tuturnya.
Kain tenun ikat Kupang paling murah berharga Rp 150.000 untuk ukuran 1,5 meter x 3 meter dan bisa mencapai Rp 10 juta selembarnya.”Kain tenun ikat asal Kupang termasuk daerah lainnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagian besar dikerjakan dengan menggunakan alat tradisional yang terbuat dari kayu cendana atau kayu hitam,” jelas Ny. Febri lagi.
Dia menyebutkan untuk mengerjakan kain tenun ikat untuk model jas dibutuhkan waktu sekitar 10 hari lebih. Untuk jas ukuran kecil memakan waktu sekitar empat hari.
”Sebagiah besar pekerja yang membuat kain tenun ikan di sentra kain tenun ikat Ina Ndao adalah para remaja. Di antara mereka ada yang masih berstatus pelajar. Biasanya mereka mengerjakan kain tenun ikat sepulang dari sekolah,” tambahnya.
Dipasok dari Luar Kupang
Bahan baku untuk usaha kain tenun ikat di Kupang dipasok dari sejumlah daerah terutama dari Surabaya, Jawa Timur. Bahan baku tersebut berupa benang termasuk juga bahan baku warna. Alat tenun yang terbuat dari kayu cukup didatangkan dari daerah di luuar Kota Kupang seperti dari Desa So’e, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Alat tenun kain di NTT tidak jauh berbeda dibanding dengan daerah lainnya di Tanah Air.
Usaha kain tenun ikat Ina Ndao bisa berkembang pesat tidak lepas dari keterlibatan PT Jasa Raharja, satu dari sekian banyak badan usaha milik negara (BUMN) yang memberikan suntikan modal usaha dalam sebuah program yang dikenal dengan nama Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL).
Dari 1992 hingga 2005 pihak PT Jasa Raharja Nusa Tenggara Timur (NTT) menurut Kepala Cabangnya, Syaiful Hazairin telah mengeluarkan sedikitnya 4,7 miliar untuk PKBL itu. Dari jumlah itu, sekitar Rp 600 juta sudah tersalurkan kepada usaha kecil dan menengah (UKM) di wilayah Provinsi NTT.
“Kami sangat dibantu oleh pihak PT Jasa Raharja NTT,” ungkap Ny. Febri, karyawan di sentra kain tenun ikat Ina Ndao. Dia mengakui, usaha kain tenun ikat ini pertama kali mendapat suntikan dana modal dari PT Jasa Raharja sebesar Rp 25 juta.
Pinjaman kedua mencapai Rp 10 juta lebih. Kini, usaha kain tenun ikat Ina Ndao telah berkembang. Bahkan, kini telah merambah ke bidang lainnya seperti menyediakan bahan-bahan tenun dari Parada serta usaha percetakan.
Untuk memasarkan hasilnya, sentra kain tenun ikat Ina Ndao juga membuka toko yang menjual langsung hasil olahan kain tenun ikat seperti jas, kebaya, sarung, kopiah shalat, dompet serta kain untuk menutup leher. Warga Kupang yang ingin membeli bisa langsung ke toko yang terletak di lantai dua di sentra kain tenun ikat Ina Ndao.

July 27th, 2005

Music from a Palm Leaf

Posted by flobamora in Music

Sasando is recognized all the way to Madagascar. Traditional sasando is pentatonic, modern sasando is diatonic.

Dai … damedong …” The man sings, his voice wails; the musical instrument in his arms wails as well. A song for travellers, titled Batu Matia, flows from his mouth. The melody circles as if to emphasize the same message: let the traveller’s blood keep boiling. It is quite obvious: Rote island is located in the middle of the ocean. Even in the time of Dutch colonization, the men were forced to work as forced labor.

            Yes, across the sea, the sons of Rote might suffering. Yet they still meet and sing with their musical instrument: sasando. Hendrik, the man singing and playing the instrument is well versed in the history of the Rote’s struggles. “Love dilemmas of the Rotes – even distances apart, we will still meet, all thanks to God’s protection.” Yes, Hendrik Patuah, son of Rote, 59 years old, on Wednesday two years ago performed in Bentara Budaya, before a limited audience.

            That night he wore full traditional costume: long dark pants, white shirt, tied woven scarf and ti’i  langga. Ti’í langga is a hat made from dried young almyra palm leaf and has a tentacle-like tip of about 40 centimeters. This is a special night. All this time, Hendrik receives singing orders and plays the sasando at least twice a month.

            Originally, sasando was people’s entertainment, played with traditional songs and daces. The traditional sasando is pentatonic and its melody ranges to mi, re, do la, and sol. The instrument that only uses nine to twelve strings is called sasando gong. Three bass strings, the rest are melodic strings. Traditional sasando may sound monotonic. But when combined with Rote kingdom songs such as taebenu, fete boi, teo renda, or fafotik, its presence seems to surpass physical limitations: sacred, spiritual.

            Sasando is akin to the harp, the mother of all string instruments. That day on stage, Hendrik sat with the sasando on his lap. Both hands around the bamboo staff, his fingers plucked the strings. The high- or low-pitch was achieved by pressing a button or a small wooden tab placed beneath the strings which can be raised or lowered.

            Sasando is made from the almyra palm leaf, bamboo staff, motorcycle transmission string, and guitar string or suasa (mix of gold and copper). The palm leaf is knotted to shape a half-circle hollow (haik), which functions as resonator. “The resonating sound of the sasando strings are enhanced by the haik,” said Hendrik.

            In its development, this instrument becomes not just a part of traditional song. Look at Lewi Pinggak, 42, who was playing a sasando violin that was no longer pentatonic. “This sasando is a development of the sasando gong,” said Johny Theedens, a music teacher in Kupang. Indeed, for those more accustomed to modern music, their ears may be more tolerant of the sasando violin. Lewi sat on the stage. All fingers active: three right hand fingers to pick the chords, forefinger and thumb for double-stringed melody, and three left hand fingers to pick the bass strings. Like a guitar. Its ability to combine harmonies have given this instrument a character similar to an orchestra.

            Time passed, and sasando advanced more intricately: from seven-stringed instrument to nine to 12 strings; and now up to 50 strings. From an instrument only able to play three major keys C, D and F, to an instrument able to reach minor keys., D minor or E minor. Unquestionably, as Lewi, a priest, music teacher, and professor said, the sasando violin is a modern instrument.

            But the sasando gong is irreplaceable. In Indonesian music, most use a melismatic method. It means that one syllable of a word is given several melodies. “It is not like that with the sasando. We do not feel the ambience. Listening to this music, I feel as if I am in Africa,” said Rizaldi Siagian, an ethnomusicologist.

            The people of Rote have their own story on this magical instrument. Once upon a time, a leprosy epidemic struck Rote. Due to the epidemic, two brothers, Lunggi Lain and Balo Aman, were exiled by their family. One day, Lunggi’s illness overtook him. He lay beneath an almyra palm tree and fell asleep. Meanwhile, Balo left to find food, tapping the almyra palm sap. At that moment, Lunggi had a dream and heard a strange noise behind the tree. Lunggi then awoke to find his illness had gone.

            The noise was still heard, so Lunggi rushed to find the source. It turned out to be made by a spider’s web hanging between the almyra palm leaves. A few days later Balo returned, and to his surprise found his brother healed. Out of curiosity, Balo then followed Lunggi to enjoy the sound made by the spider’s web. Balo was then healed too. To commemorate the miracle, Balo and Lunggi then decided to make a musical instrument out of the almyra palm leaf. Sasando was born with almyra palm stems as strings.

            Another version said that sasando was created by Sangguana, a young man from Oetefu-Thi village. When fishing, he was stranded at Ndana Island, north of Rote. A native found him and brought him to see King Takala at the Nusaklin palace who was at the time holding a Kebak, at traditional art festival.

            To cut a long story short, the princess then fell in love with Sangguana. The King was to give his blessing with the condition that Sangguana should create a new musical instrument. At night, Sangguana dreamed of playing music melodic, beautiful and comforting. He eventually made the instrument from almyra palm leaf, which was to be called sandhu. The princess changed the name to hitu (seven) since the instrument has seven strings.

            Hendrik and Lewi are worried that if not conserved this music will fade, sooner or later. Many of the younger generation are not interested to learn the sasando. Also, for the people of Rote, the price of a sasando equals one month’s food. The maestros themselves live on barely enough, and that limits their movement.

            Life goes on, the people of Rote keep travelling, and the sasando travels along. In Madagascar, sasando is called baliha and is acknowledged to have come from Indonesia. Yes, they have travelled far to the west. “Dai …. Damedong … “ so Hendrik Patuah serenaded.

Tempo, July 18 2005 – L.H. Idayanie, Jems De Fortuna (Kupang)

July 26th, 2005

Sisi Gelap Perkawinan Timur–Barat

Posted by flobamora in Netherlands

Aku Hanya Alat Reproduksi

Oleh
Yuyu A.N. Krisna Mandagie

LOOSDRECHT - Belanda adalah sebuah negeri yang terletak di bawah permukaan laut. Contohnya, Bandara Internasional Schiphol terletak 4,5 meter di bawah permukaan laut. Di bidang pengaturan air, tak ada negara yang dapat menandingi Belanda. Di Belanda, air mempunyai fungsi sosial yang berhubungan dengan kehidupan manusia. Rekreasi air berkembang dengan baik.
Loosdrecht adalah salah satu kota yang terkenal dengan wisata air. Kota ini terletak di pinggir Danau Loosdrecht yang cukup besar untuk ukuran Belanda. Walaupun tidak sebesar Danau Toba di Sumatera Utara atau Danau Tondano di Minahasa, Sulawesi Utara, Danau Loosdrecht sangat terkenal di Belanda. Di kota ini terdapat vila-vila dari aktor dan aktris dunia.
Aktor Marlon Brando, Telly Savalas, semasa hidupnya sering berminggu-minggu berlibur di vila mereka di kota ini. Aktris Jean Seymour ”Medicine Woman” yang keturunan Belanda sering nampak di kota ini. Vila-vila di kota ini dibangun dengan arsitektur yang menyatu dengan alam sekeliling danau.
Pada musim panas (Juni–Agustus) danau ini dipenuhi oleh perahu-perahu bermotor yang berseliweran dengan penumpangnya perempuan-perempuan bule berbikini yang mencari panasnya matahari.
Tetapi bagi Ningsih, ibu muda beranak satu, semua keindahan yang ditawarkan oleh kota Danau Loosdrecht adalah semu. Beberapa tahun lalu perempuan ini disunting oleh Jansen, duda setengah baya. Dari luar saja, kita sudah dapat melihat bahwa pasangan ini ”jomplang”.
Jansen seperti layaknya pria-pria asing berkulit putih dengan wajah mirip bintang film Harrison Ford. Sementara Ningsih masih polos seperti ABG kampung, tidak bermake-up, rambut lurus sebatas bahu. Rumah bagus di daerah yang berkelas di kota Loosdrecht adalah ukuran kesuksesan materi keluarga ini. Tetapi ada apa di balik itu?
Suatu sore aku kedatangan tamu seorang ibu kenalan keluarga kami. Ibu ini membawa kiriman dari Indonesia buat Ningsih. Dia memintaku supaya mengantarnya ke rumah Ningsih di Loosdrecht yang letaknya dekat dengan Hilversum. Rumah Ningsih dengan rumahku hanya dipisahkan oleh lapangan bola.
Berdua kami berjalan kaki ke rumah Ningsih. Pagar besi rumah bagus itu tertutup rapat. Bel rumah beberapa kali kami tekan tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam rumah. Kemudian seorang ibu tetangga Ningsih keluar dan menemui kami. ”Mungkin keluarga Jansen sedang keluar,” ujarnya.
Menurut ibu (mevrouw) itu, keluarga Jansen agak lain dibandingkan keluarga-keluarga di wijk (lingkungan) itu. Mereka tidak bergaul dengan para tetangga. Ada kesan hidupnya eksklusif, atau sebenarnya ada sesuatu yang disembunyikan.
Kehidupan orang Belanda terkesan individualistis. Tetapi untuk bertegur sapa, itu hal yang lazim di kalangan mereka. Namun keluarga Jansen tidak pernah bertegur sapa dengan tetangganya.

Bagaikan Pembantu
Sore itu kami kembali lagi ke rumah Ningsih. Kali ini kami beruntung. Bel rumah yang kami tekan mendapat reaksi. Pintu rumah terbuka, sosok laki-laki Belanda berjalan ke luar dan menuju pagar. Pintu pagar dibuka dan lelaki itu dengan ramah mempersilakan kami berdua masuk.
Memasuki rumah menuju ke ruang tamu kami harus melewati dapur. Di ruang tamu, seperti layaknya keluarga-keluarga Belanda, pasti ada kursi ”raja”, yang ukurannya lebih besar dari kursi-kursi lainnya. Kursi itu dikhususkan untuk sang suami. Jansen, suami Ningsih, langsung duduk di kursi ”raja”, menunjukkan dialah kepala rumah tangga di keluarga itu.
Keadaan di Indonesia mendominasi percakapan sore hari itu. Jansen mengutak-atik kebobrokan Indonesia. Dia mengemukakan argumen dan analisis sebagai orang Barat. Arogan, sok tahu dan menggurui. Kepalaku menjadi pening. Percakapan kami berubah menjadi debat. Adu argumentasi.
Ningsih tidak mengikuti percakapan kami. Dia sibuk di dapur membuka kiriman yang dibawa oleh ibu temanku itu. Tak lama Ningsih muncul dengan nampan membawa cangkir-cangkir kopi. Ada penganan khas Belanda kue speculaas, kue kering cokelat berbumbu.
Ningsih berjalan terbungkuk-bungkuk seperti gaya seorang batur (pembantu). Dia kelihatan gugup ketika meletakkan mangkuk besar milik Jansen di atas meja, kemudian mempersilakan mengambil cangkir berisi teh. Ningsih kemudian masuk ke dapur. Lama dia tidak ke ruang tamu untuk bergabung bersama kami.
Setelah Jansen memanggil, barulah Ningsih keluar dari dapur dan duduk di pojok ruang tamu sambil mengawasi bayinya. Dari seluruh pembicaraan kami mengenai masalah yang terjadi di Indonesia, Jansen selalu mengaitkan sosok Ningsih di dalamnya. Seolah Ningsih adalah Indonesia yang patut dikasihani. Dia dibawa ke Belanda supaya lebih maju dan modern.
Ningsih diam tidak bereaksi atau berkomentar atas ucapan-ucapan Jansen. Ada kesan Ningsih takut pada Jansen. Ketakutan seorang pembantu pada tuannya.
Ningsih berasal dari keluarga kurang mampu di pinggiran kota Bogor. Bisa lulus SMA saja sudah suatu berkat yang harus disyukuri. Lewat sebuah biro jodoh amatir Ningsih berkenalan dengan Jansen. Jansen kemudian datang ke Bogor, ingin melihat Ningsih secara langsung.
”Setelah Thailand, aku ke Indonesia. Aku punya banyak koleksi foto dan riwayat hidup perempuan-perempuan Asia,” ujar Jansen dengan gaya arogan, menceriterakan pada kami kisah perjumpaannya dengan Ningsih.
Dari segi materi Jansen beruntung. Pekerjaannya sebagai akuntan di perusahaan jasa yang besar di Belanda, menyebabkan dia dapat memiliki mobil BMW seri terbaru, rumah bagus di kawasan elite di kota Loosdrecht, pakaiannya bermerek. Dengan gaji yang bagus Jansen bisa berlibur tiap tahun.

Hanya karena Iba
Jansen berjumpa dengan Ningsih di Bogor. Menurut Jansen, Ningsih bukan tipenya. Tetapi setelah melihat keadaan keluarga Ningsih timbul rasa ibanya, ingin mengangkat kehidupan ABG kampung ini. Tetapi sebenarnya keluarga Ningsih kurang berkenan anaknya kawin dengan Jansen. Ada beberapa kejadian yang membuat keluarga ini tawar hati.
Pernah kejadian, ice cream yang dibeli oleh Jansen dimakan oleh salah seorang keponakan Ningsih yang berusia 7 tahun. Jansen marah luar biasa. Ada juga beberapa peristiwa lain yang menunjukkan Jansen adalah manusia yang penuh perhitungan.
Ningsih belum lagi berusia 20 tahun ketika dia harus menerima lamaran Jansen yang berusia 54 tahun. Mereka akhirnya menikah. Ningsih pun diboyong ke Negeri Belanda. Negeri yang rata dan selalu dingin.
Ningsih menjadi warga negara Belanda. Waktu itu siapa pun yang menikah dengan warga Belanda boleh menjadi warga negara Belanda. Namun akibat berbagai ulah teroris, Pemerintah Belanda memperketat peraturan menyangkut izin tinggal dan kewarganegaraan.
Beberapa hari setelah bertamu ke rumah Ningsih, aku bertemu dengan Ningsih bersama bayinya di winkel centrum (pusat pertokoan) Kerkelanden dekat rumah. Usai berbelanja, Ningsih dengan setengah memaksa ingin mampir ke rumahku. Kami berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang kiri kanannya dirimbuni pokok mawar hutan berwarna merah muda. Pemandangan yang indah. Tetapi seindah itukah perasaan Ningsih? Karena aku melihat ”pelangi” di bola matanya. Tiba di rumah, tangis Ningsih pecah.
”Mbak, ada hal yang ingin aku ceriterakan”, Ningsih membuka percakapan. Perkawinanku sebenarnya adalah sebuah perbudakan dalam bentuk lain. Aku setiap malam harus melayani permintaan Jansen. Dia ingin punya anak banyak dari rahimku. Tetapi Mbak sendiri tahu kehidupan di Belanda kan sulit. Semua harus dikerjakan sendiri. Menggaji pembantu? Kita bisa bangkrut.
Bayiku belum lagi setahun, Jansen sudah ingin aku hamil lagi. Jansen memang cinta anak-anak, tetapi dia tidak mencintaiku. Aku hanya dipakai sebagai alat reproduksi untuk menghasilkan anak baginya. Dia mengharuskan aku makan makanan yang bergizi tinggi agar melahirkan bayi yang sehat.
Tetapi lihatlah, Mbak, tubuhku tetap saja kurus. Sebab biarpun aku makan tiap hari tetapi kalau hatiku selalu terluka, tidak tenang, tetap saja kurus. Jansen orangnya kasar, suka menghina dan menekan harga diriku sebagai seorang perempuan yang hidup miskin yang berasal dari Indonesia.
Hatiku berontak tetapi aku harus menerima keadaan ini karena di kandunganku saat ini sudah ada janin. Aku harus menunggu hingga anakku lahir dan cukup besar, barulah aku akan mengambil langkah-langkah yang tegas.
Kekasaran Jansen tidak saja di dalam rumah, tetapi juga saat bertamu ke rumah orang lain. Pernah dia mengempiskan ban mobil suami temanku sesama orang Indonesia. Aku dipermalukan saat itu. Dan kejadian lain yang memalukan sering terjadi. Jansen sering membentak aku di muka teman-teman.
Dan yang paling tidak aku sukai bila dia sudah mulai membicarakan masalah yang terjadi di Indonesia. Walaupun sekarang aku sudah warga negara Belanda, tetapi jiwaku masih Indonesia. Aku tetap merah putih.
Sore itu aku hanya bisa menasihati Ningsih supaya jangan terlalu memikirkan hal-hal yang bisa mengganggu kandungannya. Tak lama sesudah pertemuan itu aku dengar Ningsih keguguran.

July 26th, 2005

Trans Nusa Air layani penerbangan lokal di NTT

Posted by flobamora in Travel

Kupang, PK

Perusahaan penerbangan PT Trans Nusa Air Service-Kupang mulai awal Agustus 2005 akan melayani penerbangan lokal antar-daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT). Perusahaan konsorsium pengusaha NTT ini akan mengoperasikan pesawat jenis Air Transportation Regional (ATR) 42 berkapasitas 46 tempat duduk.

Direktur Utama (Dirut) PT Trans Nusa Air Service - Kupang, Juvenille Djojana, mengatakan hal itu saat peresmian Kantor Trans Nusa Air - Kupang, di Jalan Soedirman, Kuanino Kupang, Senin (25/7).

Rute penerbangan lokal yang akan dilayani Trans Nusa Air, yakni Kupang-Kalabahi (Alor), Kupang-Ende, Kupang-Maumere (Sikka), Kupang-Larantuka (Flores Timur), Kupang-Atambua (Belu), Kupang-Waingapu (Sumba Timur), dan Kupang-Ruteng (Manggarai)-Labuan Bajo (Manggarai Barat).

Menurut Juven, Trans Nusa Air yang hadir dengan motto; Kami Hadir Untuk Melayani Anda, sebagai bentuk kepeduliannya dan teman-temannya yang tergabung dalam konsorsium pengusaha NTT terhadap terhambatnya roda pemerintahan dan pembangunan ekonomi di NTT akibat keterbatasan sarana transportasi udara.

Juven mengemukakan, pelayanan penerbangan Trans Nusa Air di NTT akan mengggunakan pesawat Turbopropeller yang diproduksi tahun 1990 jenis ATR 42 berkapasitas 46 tempat duduk dan memiliki teknologi terbaru sehingga lebih aman dalam penerbangan jika dibandingkan dengan pesawat sejenis yang telah terlebih dahulu hadir di NTT. Pengadaan pesawat ini, kata Juven, merupakan kerja sama Trans Nusa Air dengan Trigana Air selaku operator pesawat Trans Nusa Air.

Juven mengatakan, pada tahap awal akan melayani delapan rute penerbangan, yakni Kupang-Alor, Kupang-Ende, Kupang-Maumere, Kupang-Larantuka, Kupang-Atambua, Kupang-Waingapu, dan Kupang-Ruteng-Labuan Bajo.

Rute-rute tersebut, menurut Juven, diprioritaskan karena memiliki rata-rata penumpang melebihi kapasitas pesawat yang dioperasikan PT Merpati Nusantara Airliens (MNA) dan PT Pelita Air Service.

Mengenai penerbangan awal yang baru melayani delapan rute, Juven mengatakan, itu baru tahap awal dan saat ini pihaknya sedang mengkaji daerah lain. Jika berpotensi, katanya, tidak menutup kemungkinan akan dilayani.

"Pesawat kita ini cukup besar Jadi tidak semua bandara di NTT bisa didarati. Tergantung panjang run way dan komersil atau tidak karena kita ini bisnis. Soal run way akan kita bicarakan dengan pemerintah daerah masing-masing. Kalau bersedia kita akan layani karena bagaimanapun kita tetap memperhatikan keselamatan penerbangan," katanya.

Selain melayani penerbangan di NTT, lanjut Juven, Trans Nusa Air akan bekerja sama dengan operator penerbangan lain sehingga bisa melanjutkan penerbangan penumpang Trans Nusa ke Jawa dan Bali. "Saat ini kami telah menunjuk perwakilan kami di masing-masing rute, dan menurut rencana kami melakukan penerbangan perdana pada minggu pertama Agustus," kata Juven.

Juven mengaku kehadiran Trans Nusa Air di NTT mendapat sambutan dan dukungan positif dari Gubernur NTT, Piet A Tallo, S.H, Kepala Dinas Perhubungan NTT, Ir. JM Sitepu, dan pemerintah kabupaten/kota di NTT, serta seluruh lapisan masyarakat NTT.

Ia berharap sambutan hangat pemerintah daerah ini dapat mempercepat izin rute bagi Trans Nusa sehingga bisa lebih cepat melayani penerbangan di NTT. Dengan meningkatnya transportasi udara, Juven berharap bisa menarik investasi masuk ke NTT.

July 25th, 2005

Sekitar 20 Kelompok Teroris Aktif Di Belanda

Posted by flobamora in Netherlands

Terdapat sekitar 10 sampai 20 kelompok teroris aktif di Belanda. Demikian Menteri Dalam Negeri Belanda Johan Remkes. Menurutnya ratusan orang terlibat dalam kelompok teroris ini dan mereka tidak enggan menggunakan kekerasan. Beberapa di antara mereka bahkan punya hubungan dengan pihak luar negeri, sementara yang lainnya murni Belanda saja. Berikut penjelasan Glenn Schoen, pakar teroris Belanda.

Ancamannya lebih besar
Setahun lalu pemerintah Belanda sudah mengumumkan bahwa jumlah orang yang terlibat teroris mencapai 150 orang. Mereka diamati dengan seksama oleh dinas rahasia Belanda dan aparat keamanan lainnya. Jadi ucapan Menteri Dalam Negeri Johan Remkes akhir pekan lalu mengejutkan juga, karena untuk pertama kalinya sang mendagri berterus terang dan berbicara khusus.

Yang juga menarik adalah pernyataan Menteri Dalam Negeri Johan Remkes soal hubungan internasional dan kelompok lain yang disebutnya murni kelompok Belanda. Ini berarti bahwa ancaman terorisme tidak hanya ada di Belanda, atau sesuatu yang bersifat dalam negeri belaka. Terdapat pula unsur asing yang aktif di Belanda dan mereka tampaknya akan turun tangan. Harus ditegaskan bahwa dinas intelijen mana pun juga lebih aktif mengamati ancaman yang berasal dari dalam negeri katimbang dari luar negeri. Ini berarti bahwa ancaman terorisme di Belanda lebih besar daripada yang selama ini dianggap orang.

Diikuti secara teratur
Pernyataan Mendagri Johan Remkes bahwa kelompok ini tidak enggan-enggan menggunakan kekerasan, berarti bahwa ancaman teror seperti yang tejadi di London tetap ada. Inilah kekhawatiran utama pemerintah Belanda. Aparat keamanan Belanda menegaskan tahun lalu berhasil menggagalkan tiga ancaman serangan teroris. Melihat apa yang sudah terjadi di London, sekarang dikhawatirkan baik unsur-unsur domestik mau pun asing akan merupakan ancaman seperti itu. Dengan kata lain, lebih besar lagi dari satu insiden seperti pembunuhan sineas Theo van Gogh.

Yang menarik untuk diketahui adalah seberapa besar dinas intelijen Belanda AIVD mengamati mereka yang dicurigai berbahaya ini. Diperkirakan puluhan orang yang dicurigai aktif dalam terorisme diikuti secara teratur oleh aparat keamanan Belanda. Walau begitu akan sulit bagi dinas intelijen Belanda untuk mengamati mereka semuanya. Dinas intelijen Belanda masih dibantu oleh aparat kepolisian. Petugas keamanan Belanda hanya mempekerjakan sekitar 1000 orang, karena itu akan sulit untuk mengawasi semua orang yang dicurigai.

Menyadarkan rakyat
Paling sedikit seorang anggota parlemen Belanda menyesalkan langkah Mendagri Johan Remkes untuk memberitahukan soal ancaman ini langsung kepada khalayak ramai, dan bukannya kepada parlemen. Di sini terlihat bahwa yang dipentingkan oleh Mendagri Remkes adalah memberi tahu khalayak ramai secara langsung, mengenai besarnya, cakupannya dan rumitnya ancaman teror itu. Yang dituju mendagri adalah menyadarkan khalayak ramai bahwa ini adalah ancaman serius yang mungkin akan berlangsung selama beberapa tahun. Selain itu dengan mengumumkan langsung kepada khalayak ramai dan tidak lewat parlemen, Mendagri Remkes juga berharap bisa mendapatkan dukungan langsung dari masyarakat luas. Itulah langkah yang sengaja diumumkannya supaya khalayak ramai sadar akan ancaman teror ini.

Mencotoh Inggris
Ada pula kalangan yang menilai peringatan langsung kepada masyarakat ini tidak banyak membantu. Tapi tampaknya mereka salah. Dalam artian pada akhirnya mereka menjelaskan apa yang dikejar pemerintah, bagaimana pemerintah melihat permasalahan tersebut, berusaha menyampaikan informasi yang dulunya banyak orang protes: terlalu dirahasiakan dan disimpan rapat-rapat. Tapi akhirnya kita bisa melihat upaya salah satu lembaga pemerintah untuk menyampaikan informasi keras secara lebih baik kepada masyarakat.

Informasi ini juga menolong lebih baik lagi dalam memberikan perlindungan. Di sini jelas bahwa pemerintah Belanda tidak hanya mengikuti sekumpulan anak-anak remaja di Amsterdam dan Den Haag yang termasuk dalam kelompok Hofstad. Ini lebih besar, lebih substantif dan serius. Artinya pemerintah butuh dukungan, butuh dana, butuh bantuan dari warga, di mana pemerintah Britania telah melakukannya dengan baik. Di sini tampak pemerintah Belanda berusaha mencontoh pemerintah Inggris.

July 25th, 2005

Sisi Gelap Perkawinan Timur–Barat

Posted by flobamora in Netherlands

Mayat Nike Terpotong-potong

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0507/25/sh09.html

Oleh
Yuyu A.N. Krisna Mandagie

IJMUIDEN - Beberapa tahun lalu penduduk Belanda dikejutkan oleh berita polisi yang ditayangkan lewat televisi, “ditemukan mayat seorang perempuan Indonesia, korban mutilasi di dasar laut dermaga pelabuhan Ijmuiden, tak jauh dari Amsterdam, oleh beberapa penyelam amatir”.
Para penyelam menemukan dua kantong sampah dari plastik hitam merek Komo, berisi potongan tubuh seorang perempuan Asia. Kantong sampah berisi mayat korban mutilasi itu ditenggelamkan di dasar laut dengan pemberat batu bata. Setelah polisi mengadakan investigasi diketahui mayat itu adalah perempuan Indonesia bernama Nike, usia 35 tahun, yang sedang hamil muda.
Nike adalah salah satu dari sekian banyak perempuan Indonesia yang ingin mengubah nasib ke negeri Belanda. Seminggu setelah penemuan itu, polisi Belanda berhasil menangkap tersangka pembunuhan Nike, yaitu Martijn, teman sekerja dan pacar korban.
Peristiwa tersebut sempat membuat gempar masyarakat Indonesia di Belanda. Jenazahnya dipulangkan ke Jawa Tengah. Saat disembahyangkan di kamar jenazah di Oosdorp, orang Indonesia memberikan perhatian. Juga teman-teman almarhum baik dari perusahaan catering dimana dia bekerja maupun teman-teman sesama siswa kursus roti/kue.
Dari keterangan yang berhasil dikumpulkan baik di Belanda maupun Indonesia, diketahui Nike lahir dari keluarga sederhana di sebuah desa di Jawa Tengah. Tamat SMA Nike mengadu nasib ke Jakarta dan bekerja sebagai pelayan toko. Tetapi dia tidak puas dengan pekerjaan itu. Kemudian Nike les bahasa Inggris, lalu bekerja sebagai pegawai di sebuah biro pariwisata. Di tempat inilah Nike mulai berhubungan dengan laki-laki asing. Nike mulai tahu bahwa di luar Indonesia ada kehidupan yang lebih enak.
Nike adalah perempuan yang keras, yang tidak mau menyerah pada nasib. Dengan potensi yang ada pada dirinya, wajah yang eksotik timur, tubuh semampai dengan tinggi badan yang ideal dan kemampuannya berbahasa Inggris, telah membawa Nike melalang buana ke beberapa negara Eropa. Dia pernah tinggal di Wina, Austria; Perth, Australia. Juga pernah di Los Angeles, USA sebagai perempuan penjaja kenikmatan.
Perjalanan Nike cukup mendunia. Tetapi akhirnya ia lelah. Dia butuh tempat untuk melabuhkan diri dari petualangannya yang panjang. Ia pun berganti pasangan antar bangsa. Tetapi toh tidak menemukan apa yang didambakannya. Akhirnya ia berlabuh di kota Weesp Negeri Belanda, menikah dengan Frits.
Mereka menikah di Jawa Tengah dengan upacara adat Jawa. Fritz sempat memperlihatkan foto pernikahan mereka. Setelah menikah suami istri ini tinggal di sebuah flat berlantai 6 di kota kecil Weesp yang terletak antara Amsterdam dan Hilversum. Menurut beberapa orang Indonesia di kota ini, mereka berdua jarang bergaul dengan sesama orang Indonesia. Pasangan ini tidak mempunyai keturunan.
Menjelang akhir hidupnya Nike bekerja di perusahaan catering di kota Amstelveen. Untuk menambah ketrampilannya, karena Nike tidak pernah puas dengan apa yang sudah dicapainya, Nike kursus membuat roti/kue. Di perusahaan catering inilah Nike berkenalan dengan Martijn, karyawan bagian daging.
Saat itu Martijn masih mempunyai seorang istri dan seorang anak. Relasi antara Nike dengan Martijn terjalin makin akrab, layaknya sepasang kekasih. Frits, suami Nike, tidak mengetahui rahasia hubungan asmara antara istrinya dengan Martijn, sampai saat ditemukan potongan-potongan tubuh Nike di dasar laut dermaga pelabuhan Ijmuiden.

Gara-gara Hamil
Menurut Frits, bulan-bulan terakhir menjelang ajalnya, Nike sering keluar malam. Dia senang ke disko, sedangkan Frits karena hambatan penglihatan lebih se-nang nonton televisi di rumah. Hubungan mereka tetap baik sebagai suami istri. Begitu juga hubungannya dengan Martijn.
Menurut beberapa teman, Nike memang perempuan yang mempesona. Dia pintar bergaul dengan siapa saja. Dia mempunyai banyak teman dari berbagai negara. Ada Suriname, Belanda, Cina, Maroko, Turki, juga Indonesia, pokoknya multirasial. Bergaul dengan Nike memang menyenangkan.
Pada suatu malam Nike tidak pulang ke rumah usai kerja. Menurut Frits, hal ini biasa karena Nike sering menginap di rumah temannya. Namun setelah tiga hari Nike tidak pulang, Frits mulai curiga, tetapi dia belum melapor pada polisi. Ketika muncul berita polisi di televisi, Frits langsung pergi ke polisi dan ingin melihat siapa perempuan korban mutilasi itu. Dari bukti-bukti fisik, Frits yakin mayat yang ditemukan di Ijmuiden itu adalah istrinya.
Dua bulan setelah ditemukannya tubuh Nike, terdakwa Martijn diajukan ke Pengadilan Negeri Haarlem. Tak tanggung-tanggung, terdakwa Martijn menunjuk pengacara Abraham Moskowitz sebagai pembelanya. Moskowitz adalah pengacara terkenal dan mungkin yang termahal tarifnya di Belanda.
Persidangan yang berlangsung beberapa bulan memutuskan Martijn bebas, karena barang bukti tidak cukup kuat untuk menggiring Martijn ke penjara. Dari sidang tersebut terungkap Nike dibunuh dalam keadaan hamil. Dan kehamilan itu akibat hubungannya dengan Martijn. Pembunuhan itu terjadi karena Martijn merasa terus didesak oleh Nike untuk memberikan uang, kalau tidak Nike akan membuka rahasia mereka kepada istri Martijn.
Setiap orang berhak untuk menikmati kebahagiaan. Dan Nike menikmati hidupnya dengan caranya sendiri, namun segala perbuatannya itu harus dibayar mahal, yaitu dengan nyawanya. Betapa sedihnya keluarga Nike di Jawa Tengah tatkala mendengar berita kematian putrinya yang tidak wajar itu, apalagi Nike adalah tulang punggung keluarga. Setiap bulan Nike mengirimkan uang untuk keluarganya di kampung.
Kisah tragis yang menimpa Nike ini semoga tidak terulang lagi pada siapa pun, dan membuka mata perempuan Indonesia untuk lebih berhati-hati dalam menjalin hubungan dengan pria asing. Entah itu hubungan berdasarkan cinta atau sekadar suka sama suka.

July 23rd, 2005

Agustus, Lion terbang ke Kupang

Posted by flobamora in Travel

*  Tarif Kupang- Surabaya Rp 519.000,00

*  Tarif Kupang-Jakarta Rp 749.000,00

Kupang, PK

Perusahaan penerbangan nasional, Lion Air menurut rencana melakukan penerbangan perdana ke Kupang, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tanggal 5 Agustus 2005. Penerbangan perdana ke Kupang akan menggunakan pesawat jenis MD Seri 82 kapasitas 165 tempat duduk.

District Manager

Pesawat jenis MD Seri 82, jelas Monika, akan melayani rute Kupang-Surabaya-Jakarta. Jadwal pemberangkatan rute penerbangan Kupang - Surabaya - Jakarta pada pukul 07.00 Wita, dan akan tiba kembali di Kupang pukul 20.55 Wita.

Monika mengatakan, selain melayani penerbangan ke Surabaya-Jakarta, Lion juga akan melayani penerbangan Kupang-Ambon, Kupang-Balikpapan, Kupang-Banjarmasin, Kupang-Batam, Kupang-Yogyakarta, Kupang-Denpasar, Kupang-Kendari, Kupang-Palu, Kupang-Makassar, Kupang Manado, Kupang-Medan, Kupang-Padang, Kupang-Palembang, Kupang-Pekanbaru, Kupang-Solo. Semua rute tersebut, katanya, akan connect di Surabaya, Jawa Timur.

Monika menjelaskan, penerbangan ke NTT di masa mendatang tidak hanya dilayani pesawat jenis MD seri 82, tetapi bisa bergantian dengan pesawat MD seri 83,90, dan seri 800. "Pesawat Lion yang melayani penerbangan ke NTT tidak hanya seri 82, juga seri 83 dan lainnya, karena armada banyak," kata Monika.

Pada penerbangan perdana, demikian Monika, tarif akan dibuka dengan tarif Rp 519.000,00 untuk Kupang-Surabaya dan Rp 749.000,00 rute Kupang-Jakarta. Bagaimana dengan penerbangan antar-daerah di NTT? Monika mengatakan, ada rencana ke sana. Untuk tahap awal, kata Monika, pihaknya masih konsentrasi melayani penerbangan dari Kupang, Surabaya, Jakarta dan kota-kota besar lainnya di seluruh Indonesia.

Tiga Maskapai Penerbangan
Kembali Beroperasi di Kupang

Kamis, 14 Juli 2005
KUPANG (Suaras Karya): Dua penerbangan yang sempat berhenti beroperasi di Nusa Tenggara Timur, yakni Pelita Air dan Star Air, akhirnya kembali membuka jalur penerbangan ke Kupang. Selain itu Adam Air juga memastikan akan memulai penerbangan ke Kupang tanggal 15 Juli mendatang.

Star Air yang sempat berhenti selama sebulan lebih terhitung mulai 1 Juni 2005 dalam rangka evaluasi menyeluruh dan konsolidasi internal, mulai tanggal 15 Juli mendatang akan kembali melayani penerbangan ke Kupang. Jadwal, rute dan frekuensi penerbangan Star Air tetap sama seperti sebelumnya.

Siaran pers Star Air yang diterima Suara Karya, Selasa (12/7) yang ditandatangani Public Relation (PR) & Industry Relations Manager, Wismono Nitidihardjo mengatakan, ketatnya persaingan industri penerbangan di Tanah Air dan fluktuasi harga avtur pesawat yang semakin tinggi, serta harga minyak dunia yang cenderung tinggi menyebabkan maskapai penerbangan perlu melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan bisnis penerbangannya.

Menurut Wismono, sebelum keputusan menghentikan sementara seluruh kegiatan operasi penerbangan, Manajemen Star Air telah melakukan langkah-langkah penghematan, antara lain mengurangi frekuensi penerbangan pada rute-rute tertentu. Namun langkah tersebut, kata Wismono, ternyata masih belum menghasilkan positive operation maupun positive cash flow bagi Star Air. Karena itu, katanya, manajemen menempuh jalan menghentikan sementara seluruh penerbangan mulai 1 Juni 2005 untuk melakukan evaluasi menyeluruh atas kegiatan operasional dan melakukan konsolidasi internal atas semua aspek yang berkaitan dengan kegiatan perusahaan.

Sementara Pelita Air, yang berhenti operasi sejak 1 Juli lalu, mulai beroperasi kembali pada Senin (11/7). Rute, jadwal dan frekuensi penerbangan serta jenis pesawat yang digunakan pun tetap sama seperti sebelumnya.

Adam Air juga dipastikan akan membuka jalur penerbangan ke Kupang dengan rencana penerbangan perdana Adam Air tanggal 15 Juli mendatang. Demikian penjelasan District Manager Adam Air Kupang, Erna Purba.
1607fot_1

Erna menjelaskan, Adam Air yang mulai beroperasi di Indonesia 19 Desember 2003 saat ini telah melayani hampir seluruh kota besar di Tanah Air. Adam Air yang terkenal dengan butik galeri seri merupakan nilai lebih yang tidak dimiliki airlines lain. Pesawat yang dioperasikan ke Kupang selalu bervariasi seperti Boeing 737 seri 500 atau Boeing 737 seri 400. Rute yang dilalui yakni Jakarta-Surabaya-Denpasar-Kupang PP.

Lion Air Kupang, Monika, menyampaikan hal itu saat dihubungi Pos Kupang melalui telepon genggamnya, Rabu (20/7). Monika mengatakan, Lion akan mengoperasikan satu armada untuk melayani penerbangan ke Kupang.

July 22nd, 2005

Poco-Poco, Tebe-Tebe & Sajojo

Posted by flobamora in Music

TIGA tari pergaulan Indonesia naik papan : Poco-poco, Tebe-tebe dan Sajojo. Boleh disejajarkan tari pergaulan impor Salsa, Jive, dan Cha Cha Cha. Siapa memasyarakatkan tiga tari daerah itu? “Dibawa oleh anggota-anggota ABRI sekembali dari Indonesia Timur” kata Ibu Harimawan, guru ballroom.
Pocopoco1
Poco-poco, Tebe-tebe dan Sajojo, populer sejak 1990-an. Mulanya di kalangan militer yang pernah tugas di Timor, Maluku dan Irian. “Mereka belajar tari khas itu di waktu senggangnya. Lalu sepulang ke Jawa, jadilah Poco-poco dan sebagainya memasyarakat” papar Jery, pengajar tari pergaulan dan ballroom di AAU, Kodim dan Polda Yogya.
Pocopoco2
Ita Dedy, pengajar sekaligus pemilik sekolah dansa di Yogyakarta, mendengar versi lain. “Ada yang bilang, tarian itu milik ABRI. Tapi ada juga yang mengatakan milik orang-orang aerobik. Saya mengajar Poco-poco hanya berdasar permintaan. Sebab Poco-poco dan semacamnya, di sini hanya materi pelengkap. Sebagai selingan. Gerakan Poco-poco itu tidak rumit” kata Ita Dedy.

Pada perkembangannya, Poco-poco lebih dan makin populer. Banyak organisasi atau instansi yang secara intern mengadakan latihan rutin.

“Dan karena sering dilombakan, banyak pihak lalu merasa wajib mengadakan latihan rutin” tambah Jery.
Pocopoco3
TEBE-TEBE —mungkin benar— lebih dulu populer. Tahun 1975, prajurit-prajurit kita mulai dikirim ke Timor Timur. Tahun 90-an tari pergaulan itu mulai dipopulerkan di Jawa.

Sajojo? Tari khas Irian ini populer tahun 97-98. Baru kemudian, Poco-poco ngetop setahun lalu.

“Poco-poco itu asal Maluku. Khususnya Ambon.Sementara Tebe-tebe dari Timor. Sajojo dari Irian. Tentu, ketiga tarian itu punya kekhasan sendiri-sendiri sesuai dengan asal mereka. Sebenarnya, itu kan tarian rakyat?” kata Jery.

Ketiga-tiganya berkarakter riang. Ciri poco-poco, step-nya patah-patah dengan arah berganti-ganti. Hitungannya 1-2-3-4. Tebe-tebe hampir sama, dan awal gerakannya dari kaki kanan. “Tapi, masih patah-patah Poco-poco” jelas Jery.
Sajojoancol
Sajojo, khas gerakannya loncat-bongkok-loncat-bongkok, dan dimulai dari kaki kiri.

Musik iringan? Poco-poco dan Tebe-tebe pakai lagu asli dari daerah mereka. Sementara Sajojo, biasanya dengan irama Cha Cha Cha Ambon medly yang sudah banyak dijual di toko-toko kaset. “Kalau Poco-poco dan Tebe-tebe memang seharusnya pakai lagu asli daerahnya. Bisa pakai kaset atau diiringi secara live” papar Jery.

SELAIN dipopulerkan oleh kalangan militer, tiga tari pergaulan itu juga jadi materi pelengkap di sanggar-sanggar bugar. Disisipkan di tengah latihan aerobik, dengan gerakan yang bisa lebih dinamis. Karena musik pengiringnya lebih rampak.

Di kalangan militer, dalam latihan tari pergaulan mereka, menurut Jery harus baku. Karena sering diadakan lomba antar-angkatan. “Sepintas tampak begitu-begitu saja. Tapi segampang dan sesederhana apa pun, kalau dilakukan secara seragam, serempak, akan kelihatan bagus” kata Jerry.

Menurutnya, gerakan poco-poco dan tebe-tebe sudah dibakukan formatnya dan menjadi kegiatan resmi instansi. Ya militer, ya instansi nonmiliter. Dalam Poco-poco versi Jery, ada 20 materi yang dibagi dalam tiga format. “Satu sampai enam format baku, tujuh sampai 13 saya ambil dari versi Berthy Tilarso, 14-20 hasil kreasi saya sendiri”

Dalam lomba, format baku dari nomer satu hingga enam harus dilakukan. “Bagian itulah yang utama dinilai. Maka di kalangan militer, format baku ini harus serius disampaikan dan dipelajari” papar Jery.

POCO POCO

Balenggang pata-pata
Ngana pe goyang pica-pica
Ngana pe body poco-poco
Cuma ngana yang kita cinta
Cuma ngana yang kita sayang
Cuma ngana suka beking pusing

Ngana bilang kita na sayang
Rasa hati ini malayang
Jauh cija cija
Biar kita ngana pe bayang
Biar na beking layang-layang
Cuma ngana yang kita sayang

Lagu Poco-Poco MP3 disini.

Next Page »
  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: