Sisi Gelap Perkawinan Timur–Barat
Mayat Nike Terpotong-potong
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0507/25/sh09.html
Oleh
Yuyu A.N. Krisna Mandagie
IJMUIDEN - Beberapa tahun lalu penduduk Belanda dikejutkan oleh berita polisi yang ditayangkan lewat televisi, “ditemukan mayat seorang perempuan Indonesia, korban mutilasi di dasar laut dermaga pelabuhan Ijmuiden, tak jauh dari Amsterdam, oleh beberapa penyelam amatir”.
Para penyelam menemukan dua kantong sampah dari plastik hitam merek Komo, berisi potongan tubuh seorang perempuan Asia. Kantong sampah berisi mayat korban mutilasi itu ditenggelamkan di dasar laut dengan pemberat batu bata. Setelah polisi mengadakan investigasi diketahui mayat itu adalah perempuan Indonesia bernama Nike, usia 35 tahun, yang sedang hamil muda.
Nike adalah salah satu dari sekian banyak perempuan Indonesia yang ingin mengubah nasib ke negeri Belanda. Seminggu setelah penemuan itu, polisi Belanda berhasil menangkap tersangka pembunuhan Nike, yaitu Martijn, teman sekerja dan pacar korban.
Peristiwa tersebut sempat membuat gempar masyarakat Indonesia di Belanda. Jenazahnya dipulangkan ke Jawa Tengah. Saat disembahyangkan di kamar jenazah di Oosdorp, orang Indonesia memberikan perhatian. Juga teman-teman almarhum baik dari perusahaan catering dimana dia bekerja maupun teman-teman sesama siswa kursus roti/kue.
Dari keterangan yang berhasil dikumpulkan baik di Belanda maupun Indonesia, diketahui Nike lahir dari keluarga sederhana di sebuah desa di Jawa Tengah. Tamat SMA Nike mengadu nasib ke Jakarta dan bekerja sebagai pelayan toko. Tetapi dia tidak puas dengan pekerjaan itu. Kemudian Nike les bahasa Inggris, lalu bekerja sebagai pegawai di sebuah biro pariwisata. Di tempat inilah Nike mulai berhubungan dengan laki-laki asing. Nike mulai tahu bahwa di luar Indonesia ada kehidupan yang lebih enak.
Nike adalah perempuan yang keras, yang tidak mau menyerah pada nasib. Dengan potensi yang ada pada dirinya, wajah yang eksotik timur, tubuh semampai dengan tinggi badan yang ideal dan kemampuannya berbahasa Inggris, telah membawa Nike melalang buana ke beberapa negara Eropa. Dia pernah tinggal di Wina, Austria; Perth, Australia. Juga pernah di Los Angeles, USA sebagai perempuan penjaja kenikmatan.
Perjalanan Nike cukup mendunia. Tetapi akhirnya ia lelah. Dia butuh tempat untuk melabuhkan diri dari petualangannya yang panjang. Ia pun berganti pasangan antar bangsa. Tetapi toh tidak menemukan apa yang didambakannya. Akhirnya ia berlabuh di kota Weesp Negeri Belanda, menikah dengan Frits.
Mereka menikah di Jawa Tengah dengan upacara adat Jawa. Fritz sempat memperlihatkan foto pernikahan mereka. Setelah menikah suami istri ini tinggal di sebuah flat berlantai 6 di kota kecil Weesp yang terletak antara Amsterdam dan Hilversum. Menurut beberapa orang Indonesia di kota ini, mereka berdua jarang bergaul dengan sesama orang Indonesia. Pasangan ini tidak mempunyai keturunan.
Menjelang akhir hidupnya Nike bekerja di perusahaan catering di kota Amstelveen. Untuk menambah ketrampilannya, karena Nike tidak pernah puas dengan apa yang sudah dicapainya, Nike kursus membuat roti/kue. Di perusahaan catering inilah Nike berkenalan dengan Martijn, karyawan bagian daging.
Saat itu Martijn masih mempunyai seorang istri dan seorang anak. Relasi antara Nike dengan Martijn terjalin makin akrab, layaknya sepasang kekasih. Frits, suami Nike, tidak mengetahui rahasia hubungan asmara antara istrinya dengan Martijn, sampai saat ditemukan potongan-potongan tubuh Nike di dasar laut dermaga pelabuhan Ijmuiden.
Gara-gara Hamil
Menurut Frits, bulan-bulan terakhir menjelang ajalnya, Nike sering keluar malam. Dia senang ke disko, sedangkan Frits karena hambatan penglihatan lebih se-nang nonton televisi di rumah. Hubungan mereka tetap baik sebagai suami istri. Begitu juga hubungannya dengan Martijn.
Menurut beberapa teman, Nike memang perempuan yang mempesona. Dia pintar bergaul dengan siapa saja. Dia mempunyai banyak teman dari berbagai negara. Ada Suriname, Belanda, Cina, Maroko, Turki, juga Indonesia, pokoknya multirasial. Bergaul dengan Nike memang menyenangkan.
Pada suatu malam Nike tidak pulang ke rumah usai kerja. Menurut Frits, hal ini biasa karena Nike sering menginap di rumah temannya. Namun setelah tiga hari Nike tidak pulang, Frits mulai curiga, tetapi dia belum melapor pada polisi. Ketika muncul berita polisi di televisi, Frits langsung pergi ke polisi dan ingin melihat siapa perempuan korban mutilasi itu. Dari bukti-bukti fisik, Frits yakin mayat yang ditemukan di Ijmuiden itu adalah istrinya.
Dua bulan setelah ditemukannya tubuh Nike, terdakwa Martijn diajukan ke Pengadilan Negeri Haarlem. Tak tanggung-tanggung, terdakwa Martijn menunjuk pengacara Abraham Moskowitz sebagai pembelanya. Moskowitz adalah pengacara terkenal dan mungkin yang termahal tarifnya di Belanda.
Persidangan yang berlangsung beberapa bulan memutuskan Martijn bebas, karena barang bukti tidak cukup kuat untuk menggiring Martijn ke penjara. Dari sidang tersebut terungkap Nike dibunuh dalam keadaan hamil. Dan kehamilan itu akibat hubungannya dengan Martijn. Pembunuhan itu terjadi karena Martijn merasa terus didesak oleh Nike untuk memberikan uang, kalau tidak Nike akan membuka rahasia mereka kepada istri Martijn.
Setiap orang berhak untuk menikmati kebahagiaan. Dan Nike menikmati hidupnya dengan caranya sendiri, namun segala perbuatannya itu harus dibayar mahal, yaitu dengan nyawanya. Betapa sedihnya keluarga Nike di Jawa Tengah tatkala mendengar berita kematian putrinya yang tidak wajar itu, apalagi Nike adalah tulang punggung keluarga. Setiap bulan Nike mengirimkan uang untuk keluarganya di kampung.
Kisah tragis yang menimpa Nike ini semoga tidak terulang lagi pada siapa pun, dan membuka mata perempuan Indonesia untuk lebih berhati-hati dalam menjalin hubungan dengan pria asing. Entah itu hubungan berdasarkan cinta atau sekadar suka sama suka.