Aku Harus Bayar Kembali Uang Tiket
Oleh
Yuyu A.N. Krisna Mandagie
ROTTERDAM—Setelah hancur lebur dalam Perang Dunia II, kini Rotterdam tumbuh menjadi kota pelabuhan modern dan terbesar di Eropa. Bangunan-bangunan modern di kota pelabuhan ini merupakan hasil eksperimen para arsitek Belanda, seperti rumah miring, rumah pensil, rumah berbentuk jepitan kertas yang terdapat di kawasan Blaak.
Jembatan yang paling modern di Belanda kita jumpai di kota ini. Juga bangunan apartemen/flat raksasa dan modern. Belanda adalah negara multikultur seperti yang sering didengung-dengungkan oleh pemerintah Belanda. Rotterdam merupakan salah satu kota multietnis disamping Den Haag, Amsterdam dan kota-kota lainnya di negara ini. Etnis Maroko, Turki, Mesir, Cina, India dan Indonesia hidup berbaur dengan orang-orang Belanda di kota ini.
Jumlah orang Indonesia di Rotterdam cukup banyak. Di sini ada komunitas Kristen Indonesia dan komunitas Islam Indonesia yang hidup dengan damai dan penuh toleransi. Di komunitas Kristen Indonesia kita menjumpai Ellen. Perempuan Indonesia yang pernah bekerja sebagai sekretaris pada perusahaan ekspor impor di Tanjung Priok Jakarta, saat dia hidup enak dan berkecukupan.
Atas jasa sebuah biro jodoh ilegal, Ellen berkenalan dan kemudian menikah dengan Samuel. Waktu itu usia Ellen 40 tahun, usia yang menggelisahkan bagi seorang perempuan. Mereka menikah di Rotterdam. Pesta cukup meriah. Penulis menghadiri perkawinan tersebut.
Tetapi perkawinan itu hanya berusia beberapa bulan. Pasangan ini bercerai. Dan hal ini cukup mengejutkan orang-orang Indonesia di Rotterdam, ”Kok baru kawin sudah cerai. Ada apa, ya?”
Ellen akhirnya membuka kartunya. Kehidupanku yang hura-hura di Jakarta, ternyata tidak dapat mengisi kekosongan hidupku. Aku mendambakan dekapan laki-laki yang menyintai aku. Aku tidak dapat membohongi diriku sendiri.
Akhirnya atas jasa seorang kenalan di Belanda aku diperkenalkan dengan Samuel. Hanya dalam beberapa bulan aku sudah dikirimi tiket ke Belanda. Kami kemudian menikah. Pesta perkawinan kami cukup meriah untuk ukuran Belanda.
Sebagaimana layaknya suami isteri pada malam pertama perkawinan kami, aku tidak merasakan kebahagiaan seperti apa yang kubayangkan. Malam itu kami hanya tidur nyenyak karena kelelahan mengurusi semua keperluan pesta perkawinan kami.
Pagi hari aku terbangun, kulihat Samuel masih tidur nyenyak bagaikan bayi meringkuk di bawah selimut. Pada hari-hari berikutnya kami berdua tidak pernah terlibat percakapan yang mesra. Percakapan kami selalu to the point. Aku mulai merasa aneh. Ada apa dengan suamiku ini. Sebulan berlalu aku belum juga disentuhnya.
Pada suatu malam rahasia sikap dingin Samuel mulai tersingkap. Dia mengajakku berhubungan layaknya suami isteri. Hatiku berbunga-bunga, tidak sia-sia penantianku selama sebulan ini. Tetapi apa yang terjadi, aku kecewa dan sangat ketakutan. Karena apa yang diingini oleh Samuel adalah benar-benar aneh dan menjijikkan.
Aku sudah berumur dan tetap mempertahankan kesucian. Kini kesucianku akan direnggutnya dengan cara yang sama sekali tidak masuk akalku. Samuel ingin melalukan tugasnya sebagai suami dengan cara yang tak lazim. Sodomi.
Aku terang-terang menolak perlakuan yang tak lazim itu. Keesokkan harinya aku tinggalkan rumah Samuel dan meminta bantuan maatschappelijk-werk (badan sosial yang mengurusi persoalan kemanusiaan). Mereka menampungku selama beberapa hari. Aku dinasihatkan untuk kembali pada Samuel. Tetapi aku sangat ketakutan. Dan Samuel tidak bersedia menerimaku, karena sudah kepalang malu.
Akhirnya dengan bantuan maatschappelijk werk, kami bercerai. Aku pindah ke rumah sendiri, karena aku sudah mulai kerja dan izin tinggalku beres, karena aku sudah masuk warga negara Belanda.
Takut Jadi “Tiang Garam”
Aku memulai hidupku yang baru. Sebagai manusia aku terkadang menolak dan menyesali hidupku mengapa harus begini. Itulah sebabnya aku sering kehilangan diriku di tengah hiruk pikuk manusia di sekitarku. Aku senang termenung, pada saat itu aku sedang mencoba untuk mengerti dan menerima kenyataan ini. Orang mengira aku sedikit miring.
Yang paling menyakitkan hatiku adalah, dalam sidang pengadilan perceraian kami, Samuel dengan wajah yang dingin tanpa perasaan menuntut aku membayar kembali seluruh uang yang telah dikeluarkannya. Uang tiket, biaya perkawinan, dan pengeluaran lainnya. Aku menyetujui, karena tak mau berutang pada Samuel. Hakim memutuskan aku boleh mencicilnya.
Secara rasional, sikap yang diambil oleh Samuel itu wajar-wajar saja. Karena logis saja seseorang yang memberi mengharapkan untuk memperoleh sesuatu. Dan kalau ternyata dia tidak memperoleh, dia berhak meminta kembali apa yang sudah diberikannya. Walaupun sebelumnya tidak ada perjanjian mengenai utang piutang dalam perkawinan kami ini. Aku sangat terpukul dan kaget. “Kok ada perkawinan seperti ini,” kata Ellen.
Belum lama ini pembawa acara TV di Indonesia Huhges menuntut cerai dari suaminya, Afin, karena merasa telah dilecehkan dari segi keuangan/penghasilan, dan terlebih lagi dari segi perilaku seksual.
Berita itu mengingatkan aku pada pengalaman hidup yang dialami Ellen yang lari sebelum sempat diapa-apakan oleh Samuel.
Kini Ellen sudah 60 tahun usianya, dia tetap sendiri mengarungi kehidupan di tanah rantau, negara yang dingin sepanjang tahun. Dia sudah tidak bekerja lagi. Keinginannya untuk kembali ke Indonesia besar sekali, yang diwujudkan dengan liburan sekali setahun dan mengunjungi sanak saudaranya.
Bagi Ellen, masa lalu adalah persiapan ke masa kini dan masa kini persiapan ke masa akan datang. Dia tidak pernah menyesali kehidupannya. Dia pantang menengok ke belakang, takut akan menjadi tiang garam.