Aku Ingin Menutup Mata di Indonesia
Oleh
Yuyu A.N. Krisna Mandagie
DEN HELDER - Apakah pertimbangan perempuan Indonesia mau kawin atau menikah dengan laki-laki asing, dalam tinjauan ini adalah Belanda? Dari tulisan ini dapat ditarik kesimpulan yang samar bahwa perempuan Indonesia itu menikah dengan orang Belanda karena alasan ekonomi, status sosial, cinta atau petualangan. Minta maaf kalau hal ini tidak benar.
Simak kehidupan Imah, seorang janda dari Sulawesi Utara. Saat ini Imah sudah berumur 63 tahun, hidup di salah satu dari enam rumah jompo yang dikhususkan bagi mereka yang mempunyai hubungan dengan Indonesia, milik sebuah yayasan di Belanda. Suami keduanya, Belanda totok, sudah lama meninggal dunia.
Dua anak Imah dari suami pertama tinggal di Jakarta dengan kehidupan yang lumayan. Imah, perempuan tua yang kini duduk di kursi roda, membuka kembali lembaran masa lalu.
Sekitar tahun 1960 saat usai pemberontakan PRRI (Perjuangan Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera Utara dan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) di Sulawesi Utara. Gadis kecil Imah menjadi korban perang lokal. Imah harus kawin dalam usia yang sangat muda. Orang tuanya terpaksa mengawinkan Imah karena takut dibawa kabur dan disia-sia oleh tentara pusat, demikian masyarakat Provinsi Sulawesi Utara menyebut para tentara yang datang dari Jakarta (pusat) yang umumnya adalah orang Jawa untuk mengamankan kawasan ini. Kebencian dan ketakutan akan tentara Jawa pada saat itu sangat dibesar-besarkan. Ada pendapat ekstrim mengatakan tentara Jawa telah merusak kaum perempuan di Sulawesi Utara. Perempuan kawasan ini dianggap gampangan.
Predikat ini sangat menyakitkan perempuan Sulawesi Utara. Semua orang tua tidak ingin anak perempuan mereka hanya menjadi isteri simpanan. Karena kalau tidak salah, masyarakat Sulawesi Utara sangat mengagungkan sebuah perkawinan. Etnis ini mempunyai tradisi agama dan adat setiap kali memperingati ulang tahun perkawinan seperti kawin perak 25 tahun dan kawin emas 50 tahun. Karena bagi masyarakat Sulawesi Utara, perkawinan itu adalah ikrar yang sakral (di hadapan Tuhan) dan legal (hukum/manusia) dari dua anak manusia yang saling mengasihi dan menyintai.
Tetapi perang selalu merusak segala-galanya. Fisik, psikis dan moral, serta etika dari satu bangsa atau etnis tertentu dimana perang itu berlangsung. Imah salah satu korban.
Setelah menikah dengan orang sekampung, karena takut dibawa tentara pusat, Imah dan suaminya pindah ke Makassar, di selatan Pulau Sulawesi. Kesulitan hidup menyebabkan mereka tak dapat mempertahankan keutuhan rumah tangga. Imah pindah ke Jakarta. Kedua anaknya dipulangkan ke Manado tinggal dengan nenek mereka.
Di Jakarta Imah bekerja pada familinya sebagai tukang masak. Tahun 1965 pecah G30S. Majikan Imah terlibat dan ditangkap. Pada tahun 1970-an banyak lelaki Belanda datang ke Indonesia mencari perempuan untuk dijadikan isteri. Muncul biro jodoh gelap. Lewat biro jodoh gelap inilah Imah yang berwajah lumayan akhirnya mendapatkan jodoh Lambertus, duda Belanda totok beranak empat.
Perkawinan mereka dilangsungkan di Jakarta dan di Den Helder, Belanda. Lambertus adalah seorang marinir penduduk kota itu. Kalau kita melihat dari luar, pasangan ini cukup serasi dan harmonis. Imah kemudian bekerja sebagai pegawai sebuah pabrik. Kalau dilihat dari kemampuan suaminya, Imah sebenarnya tak perlu kerja.
"Tetapi aku kan harus menghidupi kedua anakku dan keluargaku di Indonesia," kata Imah membuka dirinya. Lambertus tidak mau tahu dengan anak-anakku. Lambertus pernah mengatakan, "Ma, sekarang kamu sudah aku kawini. Nah kamu sudah bisa tinggal di Belanda. Nah, bekerjalah dan hidupilah dirimu dan anak-anakmu. Aku tidak mau menjamin anak-anakmu. Aku juga punya anak yang menjadi tanggunganku".
Imah terkejut mendengar penjelasan Lambertus. Perkawinan macam apa ini. Jadi aku hanya dibawa ke Belanda untuk mengurusi dirinya, tetapi segala keperluanku menjadi tanggung jawab aku sendiri. "Jadi apa dong aku ini," tanya Imah.
Lama-lama Imah bisa menerima keadaan tersebut. Dia melihat sisi positifnya saja. Imah bekerja keras. Pulang dari pabrik dia menjaga anak-anak dari pasangan yang bekerja malam. Imah juga menerima pesanan makanan dan kue-kue dari teman-temannya.
Sandiwara untuk Anak-anakku
Sebenarnya Imah tidak sendirian mengalami perlakuan dari suami Belanda seperti Lambertus itu. Banyak perempuan Indonesia yang diperlakukan demikian oleh suami-suaminya yang nota bene adalah warga dari sebuah negara yang terkenal di dunia sebagai pejuang Hak-hak Asasi Manusia.
Mereka harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka dan tanggungannya di Indonesia.
Jadi suami-suami mereka sama seperti Lambertus, mencari isteri yang bisa menghidupi diri sendiri, uang suami tidak diganggu gugat.
Bayangan Imah keluarga normal-utuh-manusiawi hilang sudah. Sejak itu Imah adalah sosok perempuan yang hidup tanpa rasa pada suaminya. "Kalau malam-malam, ya aku layani dengan baik sebagai seorang isteri, tetapi jiwaku kosong melompong", ungkap Imah.
Imah melanjutkan, aku pikir kok bisa begini nasibku. Tetapi tidak apa-apa, yang penting anak-anakku harus sekolah hingga setinggi apapun. Kedua anakku tidak tahu apa yang dialami ibu mereka. Mereka menyangka aku isteri dari Belanda kaya.
Mereka tidak tahu kalau tanganku ini kasarnya seperti kayu, karena setiap hari harus membersihkan rumah orang-orang, kerja keras, cuci piring, cuci WC.
Tiap tahun Lambertus dan aku liburan ke Indonesia sekaligus melihat anak-anakku. Anak-anakku mengira aku dimanja oleh papa tirinya, Lambertus. Mereka tidak tahu bahwa tiket Lambertus aku yang bayar dari uang hasil kerja kerasku. Oh sandiwara, aku bersandiwara pada anak-anakku, keluargaku dan orang-orang sekitarku.
Hatiku sering menangis. Dalam bayanganku dulu sebelum menikah dengan Lambertus, aku akan hidup lebih baik bersama laki-laki ini. Aku akan menjadi isteri dan utuh. Ibu hanya untuk kedua anakku di Indonesia, karena Lambertus telah mengisyaratkan dia tidak ingin mempunyai anak dariku.
Itu putusan yang baik sekali, karena empat anak Lambertus dari isteri pertamanya sudah cukup merepotkankanku. Keempat anak tiriku tinggal bersama kami. Aku mengurus layaknya seorang ibu, tetapi karena latar belakang kebudayaan yang berbeda maka sering maksud baikku diterjemahkan salah oleh Lambertus dan anak-anaknya.
Aku sering berpikir akan mengajak kedua anakku pindah ke Belanda, tetapi akal sehatku mengatakan itu akan menimbulkan persoalan baru dalam keluarga.
Di samping itu Lambertus sangat tidak setuju dengan rencanaku itu. Kedua anakku akhirnya kutinggalkan bersama ibuku. Ada rasa berdosa di dalam hatiku. Ibu macam apakah aku ini, anak orang lain diurusi, anak sendiri dibiarkan.
Itulah pergumulan hidupku dari hari ke hari selama bertahun-tahun. Sehingga tubuhku yang menanggung akibatnya. Aku sakit asma. Sampai saat ini aku masih menjadi langganan penyakit itu. Tetapi aku mengambil segi positifnya. Kulawan semua perasaan yang merisaukan hatiku. Aku terus berjuang, bekerja, demi kedua anakku di Indonesia.
Kini aku memetik buahnya, kedua anakku itu telah menjadi orang dan hidup berkecukupan. Kedua anakku tak perlu tahu bagaimana caranya ibu mereka berjuang. Lambertus kini sudah tiada. Aku tidak mendapat apa-apa dari almarhum.
Rumah dan semua peninggalan menjadi milik anak-anak tiriku. Pensiun pun aku tidak dapat karena hanya kawin di gereja, tidak di catatan sipil. Aku tidak punya hak atas harta benda Lambertus.
Rencanaku, aku akan pulang ke Indonesia untuk menghabiskan sisa hidupku bersama anak-anak dan cucu-cucu. … di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda, tempat berlindung di hari tua sampai akhir menutup mata….