Bae sonde Bae

August 14th, 2005

Sisi Gelap Perkawinan Timur Barat

Posted by flobamora in Netherlands

AMSTERDAM- Perkawinan adalah komitmen sakral antara laki-laki dan perempuan untuk mewujudkan cinta kasih mereka dalam satu kehidupan rumah tangga, baik suka maupun duka. Namun kadang apa yang diharapkan, diimpikan dan dicita-citakan sangat berbeda dengan yang apa yang dialami. Semoga pengalaman pahit yang dialami beberapa perempuan Indonesia yang bersuamikan Belanda seperti yang dituturkan dalam tulisan ini, menjadi pelajaran dan bahan pertimbangan sebelum mengambil keputusan untuk menikah dengan laki-laki dari belahan bumi lain, khususnya Barat ini. Berikut adalah ungkapan-ungkapan sejumlah perempuan Indonesia yang bersamikan orang Belanda.
"Yu, aku harus cuci darah lagi besok. Kesehatanku menurun benar minggu ini," tutur Albertina, perempuan Kawanua berwajah Timur Tengah, mantan pramugari yang kini hidup di Lelystad, Belanda, menghitung hari-harinya. "Mbak, aku terpaksa mencuri uang celengan Gerard untuk membeli roti," kata Amiatun, perempuan lain yang tinggal di Utrecht.
"Aku tak tahan, Mbak. Aku harus pindah dari rumah itu. Simon memukul aku lagi. Bank pas-ku diambil," ujar Naning, wanita lain lagi, saat aku membuka pintu rumahku di Hilversum, Belanda. Wajahnya sembab dan bengkak biru kehijau-hijauan. Sambil menggenggam kalungnya yang putus-putus, Naning menangis di pangkuanku. Naning kini tinggal di Hoofddorp, kota KLM dekat Schiphol.
"Coba lemari es saja dikunci, Mbak," keluh Anie, perempuan asal Karawang yang tinggal di Den Haag.

Pramugari Garuda
Cafe Majestic di samping toko serba ada Bijenkorf Amsterdam ramai, hampir tidak ada kursi yang kosong. Tempat ini memang populer sebagai tempat rendez vous kalangan tua dan muda. Duduk menikmati segelas ijs lemon tea, sinar matahari musim panas bulan Juli dan lalu-lalang manusia, mobil, trem, bus dan sepeda memberikan kenikmatan tersendiri bagi Albertina, perempuan kurus berkulit pucat dengan wajah Timur Tengah.
Siang itu aku menemaninya sambil mendengar curahan hatinya. Begini ceritanya.

Aku adalah Albertina, lahir sebagai putri bungsu dari tujuh bersaudara keluarga Kawanua baik-baik. Ayahku seorang pegawai, ambtenaar, yang berkedudukan cukup tinggi di daerah asal kami. Ibuku karena pengaruh lingkungan, sangat ke belanda-belandaan.
Saudara-saudaraku yang berjumlah tujuh orang itu semuanya berhasil dalam kehidupannya berkat didikan yang keras dari kedua orang tua kami.
Tahun 1975 aku diterima oleh Garuda Indonesia Airways (GIA) sebagai pramugari. Waktu itu, untuk menjadi pramugari, persyaratannya cukup berat. Harus bisa berbahasa Inggris dengan baik. Postur tubuh harus seimbang antara tinggi dan berat badan. Harus menarik. Pokoknya sangat berat. Karena memang saat itu pramugari yang dibutuhkan masih sangat kecil jumlahnya. Jadi kami benar-benar pilihan.
Aku sangat bangga dan menjadi sombong dengan pekerjaan ini. Tahun pertama hampir seluruh kota besar di Indonesia aku jelajahi. Tahun kedua, kota-kota besar di Asia menjadi tempat persinggahanku. Singapura, Bangkok, Tokyo, adalah kota-kota yang tidak asing bagiku. Sarapan pagi di Jakarta, makan siang di Tokyo.
Tahun ketiga, kota-kota besar di Eropa menjadi tempat yang tidak asing bagiku.
Amsterdam, Frankfurt, Muenchen, Zurich, Roma, Paris, untuk sementara orang hanya sampai taraf memimpikan kota–kota itu, tapi bagiku kota-kota ini biasa aku kunjungi atau singgahi saat kerja maupun sekadar berlibur.
Saat itu mengoleksi barang-barang porselin Italia menjadi tren di kalangan ibu-ibu yang berduit. Aku memanfaatkan situasi ini, berdagang barang-barang tersebut, jambangan bunga, lampu, meja, cermin rias. Pokoknya beraneka ragam proselin produksi Italia menjadi bagian dari bisnisku sebagai pramugari.
Kehidupanku menjadi sangat jet set. Terbang kemana-mana. Singgah dimana-mana.
Uang melimpah. Pergaulanku cukup luas.
Aku memiliki kekasih anak keluarga Jawa yang terpandang. Pada saat itu aku adalah orang yang paling berbahagia. Kami sudah ditunangkan dengan laki-laki Jawa yang sangat aku cintai itu. Apalagi yang kurang dalam kehidupanku? Semuanya terpenuhi. Calon suami dari keluarga terpandang. Pekerjaannya pun bermasa depan yang cerah.
Tahun 1979 aku menghabiskan liburan tahunan di Amsterdam, Negeri Belanda.
Saat itulah bencana menyinggahi kehidupan pribadiku.
Malam itu bersama dua temanku sesama pramugari, aku diundang oleh salah satu keluarga dari salah seorang teman itu. Seusai makan malam, kami lanjutkan dengan minum-minum sambil ngobrol. Di tempat inilah aku berkenalan dengan seorang pria Belanda totok, sebut saja Eduard. Laki-laki ini cukup handsome dan memikat.
Aku tidak tahu apakah ini hanya pengaruh wine.
Sejak malam itu dan malam-malam selanjutnya selama berlibur di Amsterdam menjadi malam kami berdua. Aku tidak ingat dan sadar bahwa aku sudah bertunangan.
Kami ke Dusseldorf, kota belanja di Jerman. Eduard sangat royal membelanjakan uang bagiku. Dan aku menikmatinya. Apapun yang kuingini langsung dibeli.



Leave a reply

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: