Bae sonde Bae

September 30th, 2005

Sisi Gelap Perkawinan Timur–Barat (11)

Posted by flobamora in Netherlands

Hati-hati dengan Janji Juleha

Oleh
Yuyu A.N. Krisna Mandagie

BREDA - Aku juga ingin memperingatkan kaum perempuan Indonesia, agar jangan percaya dengan iklan-iklan atau janji-janji dari orang-orang yang dikenal ataupun tidak dikenal, yang akan memberikan pekerjaan atau menawarkan jodoh di Belanda. Itu sama sekali tidak benar.
Beberapa waktu lalu seorang perempuan Indonesia bernama Juleha, suaminya seorang Belanda, ditangkap polisi Belanda. Mereka terbukti “menjual” perempuan Indonesia ke Belanda.
Menurut janji Juleha, mereka akan dijodohkan dengan laki-laki Belanda. Tapi ternyata bohong. Para korban sudah menyetor uang dalam jumlah cukup besar pada Juleha untuk ke Belanda, tapi ternyata setelah tiba di Belanda jodoh tidak dapat, malah mereka harus melayani laki-laki hidung belang. Akibat perbuatan tersebut, suami-istri ini dimasukkan ke penjara di Breda. Sedangkan korbannya enam perempuan Indonesia, dideportasi ke Indonesia.
Aku kenal dengan Juleha, perempuan hitam berbadan bongsor ini. Dia pernah datang ke rumahku untuk menginap, tetapi suamiku tidak mengizinkan.
Waktu itu dia mengaku sebagai janda kaya di Indonesia, adik dari seorang jenderal. Rumahnya di Menteng dan Rawamangun. Dia menyebut dua alamat itu dengan jelas, berikut nomor telepon dimana bisa dihubungi di Jakarta.
Dengan rasa percaya diri Juleha mengungkapkan, dulu ia berpacaran dengan seorang pengusaha di Indonesia, bahkan hampir menikah. Juleha tidak tahu pengusaha ini aku kenal.
Almarhumah istrinya adalah kawanku, yang meninggal karena ulah suaminya. Wah, aku pikir mungkin ini hanya ilusi Juleha.
Juleha bertubuh gembrot kulit hitam dengan betis seperti pemain bola Ajax, Belanda Ronald Koeman. Make up sangat tebal. Mana mungkin si pengusaha yang kukenal itu mau memperistri perempuan seperti Juleha? Aku kenal pengusaha itu, seleranya mengenai wanita memang cukup tinggi.
Juleha memang pintar memainkan lidahnya. Juga pintar bergaul dan mengambil hati lawan bicaranya. Kalau tidak hati-hati kita akan terkecoh.
Pertama kali tiba di Belanda, Juleha berhubungan dekat dengan seorang duda, kawan dekatku. Lewat kawanku ini Juleha memasuki komunitas Indonesia di Belanda. Aku memperingatkan kawanku itu untuk berhati-hati.
Untung kawanku itu memperhatikan peringatanku dan segera memutuskan hubungannya dengan Juleha. Juleha datang ke rumahku mencurahkan isi hatinya gara-gara diputus oleh duda kawanku itu. Aku mendengar curhatnya dan menasihatinya agar pulang saja ke Indonesia.
Setelah peristiwa curhat itu, hampir setahun aku tidak pernah bertemu dengan Juleha. Aku kira dia sudah kembali ke Indonesia. Tetapi pada salah satu acara di aula Nusantara Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tobias Asserlaan Den Haag, aku bertemu dengan Juleha.
“Hei Mbak, apa kabar? Aku sudah menikah lho dengan Frans”, Juleha menegurku dan sekaligus memperkenalkan suaminya. “Kami baru menikah bulan lalu,” sambung Juleha.
“Oh, selamat ya!” jawabku singkat untuk menutupi keterkejutanku. “Nekad juga perempuan Indonesia ini,” kataku dalam hati. Saat itu Juleha sudah bergaya seperti layaknya mevrouw Belanda. Sebuah topi lebar warna bertengger di kepalanya. Sepatu dan tas berwarna merah menyala, menjadikan Juleha pusat perhatian.

Masuk “Black List”
Bulan berikut tersiar kabar Juleha dan suami berikut komplotannya ditangkap. Aku berencana untuk menjenguk Juleha, tetapi karena kesibukanku, sampai Juleha dideportasi ke Indonesia, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.
Menurut ceritera, suami Juleha yang ikut menjadi korban, adalah orang baik-baik. Walaupun sudah berumur dia belum pernah menikah. Termakan oleh rayuan gombal, Frans akhirnya menikahi Juleha. Akhirnya Frans harus mendekam dalam penjara. Dia dipecat dari pekerjaan yang sudah ditekuni hampir 25 tahun. Delapan bulan Juleha, Frans and the gang menjadi penghuni hotel prodeo di Breda.
Kini Juleha masuk daftar hitam (black list) Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. Dia tidak mungkin lagi masuk Belanda. Tetapi bagi manusia seperti Juleha, bukan tidak mungkin dia muncul dengan identitas baru.
Maka kita harus berhati-hati dengan tawaran yang menggiurkan dan janji-janji dari orang-orang seperti Juleha. Itu semua bohong. Pemerintah Belanda tidak pernah memberikan peluang kerja bagi bangsa lain untuk bekerja hanya sebagai pekerja kasar.

September 28th, 2005

Adviser, Maternal and Child Health

Posted by flobamora in Current Affairs

Adviser, Maternal and Child Health

Clinic Cafe Timor
Cooperative/community based primary health service in East Timor
Location city: Dili
Location country: Timor-Leste
Closing date: 18 Oct 2005
Job Description

JOB DESCRIPTION

Clinic Cafe Timor (CCT), a rural cooperative/community based primary health service is seeking a qualified adviser for its new maternal and child health program. The contracted position is for 2 years full time commencing 1 February 2006.

Clinic Cafe Timor is the primary health service of Cooperativa Cafe Timor, the East Timorese organic coffee farmers cooperative. CCT commence operation in 1999 and is a significant contributor to the rural health system of East Timor with 11 fixed health clinics and 4 mobile team treating 200,000 persons annually. CCT is an East Timorese organization, owned by the 20,000 families of the coffee cooperative. It is independent of government and funded from the returns of coffee exports, ongoing USAID grants and donations. With the support of USAID grants, CCT treats all members of the community free of charge.

In close association with East Timorese Government initiatives in maternal and child health, CCT has secured additional monies from MILK (Mainly I Love Kids), a Singapore base children’s charity (See www.milk.org.sg ) to introduce a broad Maternal and Child Health program to 5 rural districts. The program has two major components.
1- to improve and enhance in-clinic MCH activities including supervised birthing.
2- to develop and commence village based MCH activities that will improve MCH outcomes.
Monies have been secured for 3 years for the development and implementation of the program. It is expected the program will mainstream after 3 years. The program will focus on the practical implementation of the content and techniques developed by the East Timorese Government national MCH program currently under development.

The position is advisory and will work directly with CCT’s East Timorese MCH coordinator and program staff with key purposes of developing the program content, driving implementation and transferring skills to program staff. The program will be expected to be fully implemented and independently operating by the end of the 2 year tenure.

SALARY AND CONDITIONS

$58,000 usd gross annual salary - 2 bedroom furnished apartment in secure compound with 24 hr generator power - annual return airfare for contractee to port of employment - after hours access to motor vehicle

KEY RESPONSIBILITIES

Capacity Building:

  • Work full time with the East Timorese MCH coordinator
  • Identify skills and knowledge needs required by the program and develop and deliver related activities.

Program Design and Development:

  • Work with MCH coordinator and program staff to develop and document a practical model and techniques to deliver the national MCH program
  • Identify content requirements that may be specific for CCT associated communities
  • Develop ongoing effective relationship with the East Timorese Ministry of Health and associated agencies
  • Develop quality systems to monitor and evaluate the program including practical data collection and staff performance evaluations
  • Develop and deliver internal or external coordinated training and skills development activities for program staff
  • Assist in the consultation with community and district organizations for program content and models of community access
  • Research and adapt successful techniques from experiences in similar situations in rural communities
  • Use a project management approach to develop a practical implementation schedule

Program Management:

  • Work with MCH coordinator and program staff to implement the program within determined time frames
  • Implement project management techniques to achieve project goals
  • Responsible for reporting progress to the CCT management team
  • Assist in determining the skill/knowledge requirements and in the recruitment of program staff
  • Assist MCH coordinator in managing HR issues within the program
  • Responsible for allocating, monitoring and reporting on the program’s budget

Donor Relations:

  • Produce required narrative and budget reports to the donor organization
  • Act as a contact point for and deal with donor enquires, concerns and visits
  • Develop further project proposals that may enhance the MCH program

Coordination:

  • Actively develop and consolidate a close working relationship with the relevant sections of the East Timorese Ministry of Health and agencies involved in the national MCH program
  • Develop and maintain effective relationships with the other section of CCT and the larger Cooperativa Cafe Timor organization.
  • Act as spokesperson for the MCH program within CCT and with external organizations as required

SKILLS AND COMPETENCES

  • 3 years experience in managing health or education community based interventions with 1 year operating in a developing country or cross culture environment - essential
  • Experience operating in rural / remote environment - highly desirable
  • Proven experience in the design and implementation of community based health or education interventions - highly desirable
  • Relevant tertiary health or education qualification - essential
  • Masters qualification in public health, community development, education - desirable
  • Fluency in English is essential - competency in Tetun / Bahasia Indonesia / Malay is highly desirable
  • Highly developed report writing skills and competency with computer based word processing and spreadsheet software - essential
  • Excellent communication, team building and capacity building skills - essential
  • Willingness to travel and spend extended stays in rural/ remote setting - essential
Vacancies Contact

Dr Ross Brandon, Adviser, Health Program, Cooperativa Cafe Timor, rossbrandon@yahoo.com.au

Reference Code: RW_6GCVUP-22

September 25th, 2005

Institutional Advisor

Posted by flobamora in Current Affairs

Institutional Advisor

Judicial System Monitoring Programme (JSMP)
The Judicial System Monitoring Programme (JSMP) was set up as an East Timorese NGO in early 2001. Through court monitoring, the provision of legal analysis and thematic reports on the development of the judicial system, and outreach and information dissemination, JSMP is committed to the ongoing evaluation and building of the justice system in East Timor. JSMP’s international and East Timorese staff have together established a small but important presence in Dili.
Location city: Dili
Location country: Timor-Leste
Closing date: 30 Sep 2005
Job Description

The Judicial System Monitoring Programme (JSMP) was set up as an East Timorese NGO in early 2001. Through court monitoring, the provision of legal analysis and thematic reports on the development of the judicial system, and outreach and information dissemination, JSMP is committed to the ongoing evaluation and building of the justice system in East Timor. JSMP’s international and East Timorese staff have together established a small but important presence in Dili and JSMP is now seeking a motivated person to join its expanding team.

Job description

At this time JSMP seeks an International Advisor to work with the Director of JSMP (a national staff member) in assisting the organizational development of JSMP through consolidating sound management practices. The Institutional Advisor will be responsible for supporting and mentoring the Director in the daily running of the organization, with specific emphasis on ensuring the implementation of internal policies, controlling finances, human resources, liaising with donors and supporting the operational units in planning processes.

Specific duties:

  • Development and supervision of day to day staff and organizational management and planning structures within JSMP
  • With the Director monitoring project implementation and producing donor reports regarding JSMP activities
  • With the Director writing donor proposals and training all staff in these processes
  • Supervision of finances, preparation of budgets and financial donor reporting together the Director, Office Manager and Finance Officer

The position is to commence on the 1st November is for a period of one year following a three month probationary period. The contract is subject to renewal on the basis of performance and funds.

Position requirements:

  • Fluent English and working Indonesian or Tetum is essential
  • Skills and experience in financial management including budgeting and financial reporting to donors
  • Leadership and management experience particularly in an NGO context
  • Significant skills in project management including planning and implementation
  • Experience and skills in mentoring and a desire to work with closely with East Timorese staff
  • Experience working within the justice sector and knowledge of human rights issues an advantage
  • Portuguese language skills an advantage
Vacancies Contact

For further information please contact Tiago Sarmento on +670 (390) 323 883., Applications should be sent to recruitment@jsmp.minihub.org

Reference Code: RW_6GD5SX-46
September 25th, 2005

Community Health & Nutrition Project Coordinator - Covalima, Timor Leste

Posted by flobamora in Current Affairs
Applications Close: 28 Sep 05
The Community Health & Nutrition Project Coordinator will manage the Covalima Community Health & Nutrition project which is a component of the Covalima District program. The position will manage the health team in Oecusse district, establish program activities to meet stated objectives of the project, establish data collection and monitoring systems, and conduct regular project reporting. The position will work closely with the livelihoods teams on integrating food security activities and strategies with the community based nutrition project.
Key requirements:
·        Experience developing, implementing and managing community based nutrition and health promotion projects
·        Experience in staff mentoring and training
·        Knowledge of biostatistics and/or statistical packages such as EPI info, access and SPSS
·        Experience in monitoring of nutrition or health promotion projects
·        Experience in grassroots community consultation and participatory assessments
·        Experience promoting a positive approach to gender in a development context
·        High level written and verbal English language skills
·        Experience in implementing a positive deviance/hearth approach to community nutrition (desirable)
·        A high level of Tetun or Indonesian language (desirable)
·        Tertiary qualification and/or equivalent experience in Public Health or Nutrition (Masters degree desirable)
This is a 9 month, full time contract. Salary AUS$46,000 plus benefits.

Please note that only applications submitted on our Application Form will be accepted.
Download the position description and application form below or contact Natalie Armstrong via nataliea@oxfam.org.au or +61 3 9289 9477

September 25th, 2005

Sisi Gelap Perkawinan Timur–Barat (9)

Posted by flobamora in Netherlands

Sisi Gelap Perkawinan Timur–Barat (9)
Jadi Istri Sekaligus Penjaga Cafe

Oleh
Yuyu A.N. Krisna Mandagie

LAREN- Masih tersisa gurat-gurat kecantikan di wajah Safira. Dulu memang perempuan ini cantik. Selain cantik, dia juga luas pergaulannya.
Sudah sembilan tahun dia di Belanda karena menikah dengan Johann, laki-laki Belanda pemilik cafe di Laren, sebuah kota mirip Paris kecil di Belanda. Di kota ini kita bisa menjumpai butik-butik dari merek-merek terkenal.
Tetapi yang paling terkenal adalah festival jazz yang diadakan setiap tahun dengan dihadiri oleh pemusik jazz Belanda dan negara-negara lain. Walaupun tidak sebesar North Sea Jazz yang setiap tahun diadakan di Den Haag.
Pencinta jazz dapat menikmati ”musik pembebasan” ini di cafe-cafe yang ada di kota ini. Di sini ada sebuah Museum Singer terkenal yang sering menyelenggarakan pameran seni dan lukisan. Pameran lukisan dan seni, festival musik jazz silih berganti diadakan di kota ini.
Penduduk Laren umumnya adalah kaum the haves. Itulah sebabnya mereka memiliki rumah-rumah yang besar dan bagus. Di kota yang mungil dan indah inilah Safira hidup bersama suaminya Johann, pengusaha sebuah cafe kecil di pinggiran kota.
Ketika aku bertemu dengan Safira ada kesan dia agak sombong ketika itu. Yang aku ingat adalah pertanyaannya yang arogan, ”Kok kamu bisa ke Belanda? Kawin sama Belanda ya?”
”Oh tidak, suamiku bukan orang Belanda. Suamiku orang Indonesia,” jawabku.
”Kok bisa tinggal di Belanda?” jawab Safira.
Aku pun menjawab, ”Ya bisa saja, kenapa tidak.”
Itulah awal perkenalanku dengan Safira. Hari itu dia pulang menumpang mobilku.
Aku bisa mengerti mengapa Safira bertingkah agak sombong. Mungkin dia melihat penampilanku yang biasa-biasa saja. Safira pasti mengukur diriku dengan keadaan dirinya. Kalau tidak kawin dengan Belanda, mana mungkin seorang perempuan Indonesia tinggal bertahun-tahun di Belanda. Wow picik benar.
Selanjutnya kami mulai bersahabat. Karena jarak antara Laren dan Hilversum tidak begitu jauh, maka hampir setiap hari Sabtu Safira datang ke rumahku. Ia selalu berceritera tentang hal-hal yang mewah, yang tinggi. Tanpa malu-malu Safira dengan polos berceritera mengenai keadaannya dulu di Indonesia.
Tatkala hotel berbintang mulai dibangun di Jakarta, Safira sudah bekerja di hotel berbintang 5. Tetapi karena ulahnya sendiri, ia masuk ke kamar tamu hotel. Tidak tanggung-tanggung, tiga bulan lamanya. Pihak manajemen hotel pun bertindak. Safira dipecat dari pekerjaan Dia merusak citra dan reputasi hotel berbintang itu.
Safira kehilangan pekerjaan, tetapi untunglah laki-laki Inggris yang telah hidup bersama Safira selama tiga bulan melanjutkan hubungan mereka. Safira dikontrakkan rumah di daerah Jakarta Selatan. Tiga tahun kemudian, si Inggris kembali ke pelukan istrinya di London, lalu Safira harus keluar dari rumah kontrak hanya dengan satu kopor baju.
Safira tidak mendapat apa-apa dari ”suami” musimannya itu.
Tetapi hal ini tidak berlangsung lama, karena segera Safira mendapat laki-laki Belanda yang kemudian menjadi suaminya. Safira dan Johann kawin di Negeri Belanda.
Dia berharap perkawinannya dengan Johann dapat mengangkat kehidupannya dan keluarganya di Indonesia. Tetapi apa yang dialami adalah sangat jauh dari harapan.
Seragam Koki
Kehidupan Safira dari hari ke hari sungguh memprihatinkan. Pagi-pagi pukul 07.00 Safira sudah bangun. Memeriksa freezer (lemari pendingin beku), apa ada yang kurang dan perlu dibeli hari itu. Pukul 09.00 dia harus berbelanja ke groot handel (pusat grosir) khusus bahan makanan.
Pulang dari groot handel, dia harus membuka cafe pada pukul 12.00. Sesudah itu harus berdiri melayani permintaan di bar, sampai pukul 22.00. Sementara suaminya hanya membantu pada malam hari, kalau sedang tidak ada pertandingan bola. Bila musim pertandingan, jangan harap Johann ada di cafe. Dia akan mengikuti kesebelasan kesayangannya Ajax main di mana saja. Tetapi Safira tetap menutup apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan rumah tangganya.
Perempuan ini hampir tidak punya gaun biasa untuk dikenakan tatkala berkunjung ke rumahku. Dia selalu memakai seragam koki. Hari itu di rumah ada perhelatan. Safira datang dengan seragam koki, sementara ibu-ibu lainnya berpakaian cukup rapih dan modis.
”Fi, apakah kamu enggak punya baju bagus, kok pakai seragam koki? Ini pesta, lho Fi,” tanyaku pada Safira.
”Aku nggak punya baju lain,” jawab Safira jujur. Dia lupa membohongi aku. Guna mengelabui mata para tamuku, Safira tidak pernah keluar dari dapur. Dia menyibukkan diri. Selama pesta berlangsung Safira tetap di dapur.
Hari lain, aku mengajak Safira ke Amsterdam naik kereta api. Kali ini Safira memakai legging hitam dan kaos oblong putih dengan tulisan reklame seven up di dadanya.
Aku pun mengimbanginya dengan memakai pakaian sesederhana mungkin.
Setelah melihat toko-toko di Kalverstaat-Nieuwendijk aku mengajaknya makan di Chopstick restoran Cina langgananku di daerah red district Zeedijk. Kami memesan suikiau yaitu sup pangsit udang yang menjadi trade mark Chopstick.
Safira menikmati makan siang di restoran itu dengan lahapnya. Aku kasihan melihat perempuan ini, cara makannya seperti orang kelaparan. Mungkin memang dia lapar sekali, atau mungkin dia tidak pernah menikmati makanan seperti ini selama di Belanda.
Badan Safira menjadi makin tambun. Pernah beberapa hari Safira sakit pada kaki. Akhirnya dia harus memakai sepatu khusus. Kakinya sudah tak kuat menyangga badannya yang makin berat. Dan mungkin saja kakinya sakit karena kecapaian berdiri sepanjang hari melayani tamu-tamu di cafenya.
Selama berkenalan dengan Safira, baru satu kali dia membawa suaminya Johann ke rumahku.
Itulah kehidupan Safira, tak ubahnya seperti seorang pembantu yang bekerja banting tulang. Dalam hati aku sering bertanya, ”Apa yang kau cari, Safira?”

September 21st, 2005

Pahitnya Menjadi Imigran Gelap

Posted by flobamora in Netherlands
http://www.suarapembaruan.com/News/2005/09/21/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY

Pahitnya Menjadi Imigran Gelap

Oleh Santo Koesoebjono

 

TELEPON berdering pagi-pagi sekali di suatu hari Minggu. Seorang wanita Indonesia meminta tolong untuk mencarikan pekerjaan bagi tujuh pemuda yang baru tiba di Amsterdam. Karena tidak dapat mencarikan pekerjaan bagi warga Indonesia yang datang ke Belanda, penulis, melalui istri, menyarankan agar si ibu itu menghubungi KBRI di Den Haag keesokan harinya. Dia langsung menolak dengan mengatakan, kalau hari itu tidak mendapat pekerjaan, rombongan itu akan segera kembali ke Jakarta.

Ternyata wanita itu pernah mengantarkan rombongan kesenian tari dan gamelan Jawa ke Belanda. Seusai pertunjukan, hampir separuh anggota rombongan tidak kembali ke Indonesia. Mereka menetap di Belanda sebagai penduduk gelap. Mereka bekerja di restoran, sebagai tukang pijat panggilan, sebagai pembantu di rumah-rumah orang, dan bahkan ada yang membantu pekerjaan kasar di KBRI.

Memang, untuk mencari rezeki karena tekanan ekonomi, orang bersedia ke mana saja dan mengerjakan apa saja. Kalau perlu, cara apa pun ditempuh. Tetapi orang sering kali tidak tahu (atau tidak mau tahu) tentang risiko yang dihadapi, tentang konsekuensi dari kehidupan sebagai pekerja gelap di negara asing. Apalagi jika mereka sudah diiming-imingi para calo dengan upah kerja yang tinggi dan kehidupan yang menyenangkan.

Meski makin lama makin sulit mendapat visa memasuki salah satu negara Uni Eropa, tetap saja arus pencari kerja mengalir dari Asia dan Afrika. Jika sudah mendapat visa turis untuk memasuki satu negara, dengan dihilangkannya batas negara-negara Schengen, mudah sekali bagi seseorang pindah dari satu negara ke negara lain. Tidak ada kontrol imigrasi lagi di batas negara.

Orang yang bisa masuk ke salah satu negara Schengen (sudah dapat tempat tinggal) biasanya akan tetap tinggal di negara itu meski visanya sudah habis masa berlakunya. Banyak wanita Indonesia yang bekerja secara ilegal tiap hari di lain rumah tangga sebagai pembantu dan malam harinya tinggal bersama-sama di suatu pondok. Mereka tinggal sampai paspornya hampir habis waktu, atau bahkan ada yang tetap tinggal di negara itu biarpun paspornya sudah tidak berlaku lagi, sehingga tidak mempunyai identitas diri.

Bekal Habis

Para pencari rezeki dari Indonesia sering kali harus mengeluarkan Rp 40 juta untuk sampai di Negeri Belanda, katanya untuk biaya paspor, tiket, dan visa. Jumlah itu berlipat ganda dari biaya yang sebenarnya. Hal itu menunjukkan, yang ingin mencari nafkah di luar negeri bukanlah dari golongan tidak mampu. Banyak di antaranya yang sudah memiliki usaha dagang dan bisnis sendiri.

Uang itu dibayarkan kepada calo yang menjanjikan pekerjaan dan menjanjikan orang yang menjemputnya di Belanda. Ternyata janji itu palsu. Ada orang yang dimasukkan lewat Paris (karena visa masuk Belanda mungkin lebih sulit), dan dari Paris terpaksa mencari jalan sendiri (naik kereta api) ke Belanda. Ada pula yang masuk dari Wina atau Frankfurt. Ada juga yang bisa langsung masuk ke Bandara Schiphol Amsterdam.

Sebagian besar dari pencari kerja itu tidak paham bahasa Inggris, apalagi bahasa Prancis, Jerman, dan Belanda. Bisa dibayangkan sulitnya mencari informasi di negara yang bahasanya tidak kita pahami. Jika sudah sampai di tempat tujuan (Belanda), mereka pun tidak tahu harus tinggal di mana dan di mana bisa cari kerja.

Kebanyakan akan tinggal di hotel dulu, yang tarifnya minimal 50 euro (Rp 600.000) per kamar semalam. Belum lagi biaya makan dan transpor, kalau harus ke kota-kota lain mencari kerja. Tentu saja dalam waktu 1-2 minggu, uang bekal sudah ludes. Mujur nasibnya jika kebetulan bertemu sesama warga Indonesia yang bisa menolong memberikan tempat tinggal atau pekerjaan.

Pernah juga ada serombongan laki-laki Indonesia yang datang ke Belanda dan dibawa calonya berkeliling Belanda naik minibus mencari pekerjaan. Tetapi jelas upaya mencari pekerjaan itu hanya berpura-pura, sebab kantor-kantor yang didatangi si calo itu sebetulnya bukanlah kantor yang memberi peluang kerja.

Setelah uang habis, ada yang langsung balik ke Jakarta, ada yang masih mencoba mengadu nasib ke Hong Kong, dan ada lagi yang pergi ke KBRI untuk meminta bantuan. Imigrasi di KBRI telah berupaya melacak calo yang jelas menipu warga Indonesia itu, tetapi belum berhasil.

Memang di Belanda banyak lowongan untuk jenis pekerjaan yang berat atau berbahaya namun upahnya kecil, seperti keperawatan, kebersihan, bangunan, restoran/catering, dan sebagainya. Warga Belanda sendiri sudah enggan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan itu.

Atau majikan kurang berminat mengambil warga Belanda karena wajib membayar tunjangan pensiun dan premi asuransi kesehatan yang mahal. Lebih murah membayar pekerja gelap yang tidak mampu protes atau menuntut kalau gajinya jauh di bawah upah minimal dan tidak diberi tunjangan apa pun.

Sekalipun perlu sekali tenaga kerja, peraturan di Uni Eropa tidak mengizinkan negara-negara anggotanya mengambil tenaga dari luar Eropa. Lowongan pekerjaan harus diisi dulu oleh penduduk negara Eropa. Kalau masih tidak cukup, diambillah dari negara-negara Eropa Timur.

Dengan meluasnya Uni Eropa dari 15 menjadi 25 negara, pekerja asal Eropa Timur yang tadinya bekerja secara ilegal di Belanda, sekarang bisa mendapat gaji dan tunjangan penuh sebagai pekerja legal. Sekarang sudah lebih dari 20.000 warga Polandia bekerja secara resmi di Belanda sejak Polandia menjadi anggota Uni Eropa pada 2004. Dengan disahkannya posisi pekerja imigran asal Eropa Timur itu, lahan kerja yang masih bisa dimasuki pendatang gelap makin sempit saja dan persaingannya makin kuat.

Di samping itu di Eropa banyak pencari suaka dari Afrika, Asia, dan Timur Tengah yang mempunyai latar belakang pendidikan tinggi. Ini merupakan sumber tenaga kerja yang prima, yang dapat dimanfaatkan dengan segera. Misalnya, sekalipun kebutuhan untuk tenaga perawat makin meningkat, Negeri Belanda tidak bisa lagi mengambil perawat dari Indonesia, padahal ijazah akademi perawat Indonesia diakui Belanda. Rumah-rumah sakit terpaksa melatih pencari suaka atau warga Belanda yang di-PHK untuk dijadikan perawat.

Kalaupun imigran gelap berhasil memperoleh pekerjaan, yang menghadapi risiko itu bukan hanya dirinya sendiri, tetapi juga majikannya. Akhir-akhir ini petugas imigrasi dan polisi di negara-negara Eropa Barat makin rajin melakukan sweeping, mengontrol tempat-tempat kerja yang diduga bisa dijadikan penampungan imigran gelap.

Razia

Dalam enam bulan pertama tahun ini, pemerintah Belanda menyidik 4.300 perusahaan di Belanda. Sebanyak 1.100 perusahaan (26 persen) di antaranya dikenai denda karena mempekerjakan penduduk ilegal. Selama semester pertama tahun lalu hanya 23 persen perusahaan yang didenda.

Jika terjaring dalam razia polisi atau petugas imigrasi, orang yang tidak memiliki kartu identitas dan izin tinggal akan tanpa ampun langsung dideportasi kembali ke negara asal.

Sambil menunggu kesempatan deportasi, mereka ditahan di penjara. Sedangkan majikan atau pemilik perusahaan yang menampung pekerja gelap itu akan didenda tinggi sekali, antara 10.000 - 15.000 euro per pekerja. Oleh sebab itu baik si pekerja gelap maupun si majikan selalu was-was. Hidupnya tidak tenang, sewaktu-waktu restoran, pabrik atau tempat tinggalnya bisa digrebek po- lisi.

Harus terdaftar

Meski lolos dari razia, penduduk gelap juga akan mengalami kesulitan kalau mereka harus ke dokter atau dokter gigi. Soalnya semua biaya perawatan kesehatan tidak dibayar kontan, melainkan melalui perusahaan asuransi.

Untuk bisa membayar asuransi, orang harus terdaftar dan mempunyai alamat resmi yang dilaporkan ke kantor Pemda. Penduduk gelap tidak bisa lapor diri, bukan?

Sedih rasa hati jika lagi-lagi melihat orang Indonesia datang untuk mengadu nasib di Belanda. Sedih, karena mereka sudah membuang begitu banyak uang untuk datang ke Belanda, padahal peluang mendapat pekerjaan kecil sekali dan kondisi kerjanya buruk. Sedih karena membayangkan mereka suatu waktu akan terkena razia atau tidak bisa ke dokter atau rumah sakit kalau diperlukan. Apakah iming-iming hidup enak itu seimbang dengan risiko dan pahitnya hidup di Belanda sebagai imigran gelap? *

Penulis adalah ekonom, ahli kependudukan dan pengamatproses migrasi internasional, yang bermukim di Negeri Belanda

September 20th, 2005

Lowongan UNDP Consultant untuk NTT (2 posisi)

Posted by flobamora in Current Affairs

International Consultant (1) and National Consultants (2 posts)

NTT-UN Joint Action Programme Assessment

Deadline for submission of applications: 25 September 2005

Application should be addressed to:

Personnel Unit

United Nations Development Programme,

Jl. M.H. Thamrin Kav. 3 P.O. Box 2338

Jakarta 10250, Indonesia.

E-mail: recruitment.id@undp.org

Please send your application by e-mail with the post code as the subject of your email,

or by postal mail with the post code in the upper left corner of the envelope and do not

send it by fax. Only short-listed candidates will be contacted.

TOR:

Post Code: 235-05/CPRU

Post Title: International Consultant (1) and National Consultants (2 posts)

Recruitment: International & National

Location/Duty Station: NTT

Duration of Assignment: 30 working days (for desk review, consultations and writing)

Starting Date: Immediate

Background

In 2004, following the reduction in the security phase in West Timor, the UN Country Team

(UNCT) agreed to coordinate the stepping up of UN activities in the region in order to

more effectively meet the high expectations in local government and communities

surrounding an increase in the UN’s presence in West Timor. A West Timor working group

was established, chaired by UNHCR, to manage this coordination process. At the second

meeting of the working group in November, it was agreed that the working group should

broaden this UN coordination initiative to include the whole of Nusa Tenggara Timur (NTT)

province. It was agreed that a consultant (s) would be recruited to undertake a needs

assessment (using secondary data) and draft a UN Joint Action Programme for NTT. This

programme would in turn be incorporated in the UN Development Assistance Framework. The

UN Joint Action Programme for NTT will assist in the coordination of single Agency

specific programmes with each other (to avoid overlap, target specific districts,

communities etc) and will also include joint programme(s) developed according to the UN

Development Group Office joint programme guidelines.

The overall objective of this initiative is to increase the impact of UN system

interventions in NTT through more effective coordination. There is also evidence to

suggest that donors are placing more emphasis on the need to strengthen coordination

between development partners in Indonesia and donors may be increasingly inclined to fund

coordination initiatives such as this UN Joint Action Programme for NTT.

Why focus on Nusa Tenggara Timur province?

NTT is one of the poorest provinces in Indonesia. The proportion of people living below

the national poverty line is 30% compared to a national average of 18%. The poverty

trend is also getting worse; since 1999, NTT has dropped from 21st to 24th in the Human

Poverty Index (HPI) ranking of Indonesia’s 30 provinces and from 24th to 28th in the

Human Development Index (HDI) ranking. In the education sector, NTT has one of the lowest

junior secondary and primary net enrollment rates, the highest repetition rate in the

country (13%), and one of the lowest literacy rates (84%). In terms of the health sector,

46% of the populations are still without access to clean water while 32% do not have

access to health facilities. The maternal mortality rate and infant mortality rate at 369

per 100,000 live births and 51 per 1,000 live births respectively are also significantly

higher than the national average. The total fertility rate of 4.1 children per women is

well above the national average of 2.6, while the contraceptive prevalence rate is almost

50% less than the national average.

There are also significant differences in the status of development between districts in

NTT. The lowest ranked districts by HDI are West and East Sumba at 53 and 56 respectively

compared to an NTT average of 60, while the poorest districts according to the HPI are

West Sumba, Lembata, Manggarai at 38,34 and 33 respectively compared to an NTT average of

28. There are also significant differences between districts in the proportion of people

without access to health facilities (ranging from 6% in Kupang to 62% in Manggarai); in

illiteracy rates (ranging from 2% in Kumpang to 28% in West Sumba); and in the proportion

of under nourished children under five (ranging from 32% in Mangarai to 50% in Suothern

Central Timor). Alor district has a significantly lower Gender Development Index score of

38 compared to an average of 56 in NTT and 59 for Indonesia as a whole.

Responsibilities

Three consultants (two nationals and one international) will be recruited to work under

the supervision and direction of the UN working group on NTT and working on a day-to-day

basis with CPRU and the Resident Coordinator’s Office, the consultant will be expected

to:

1. Undertake a desk review of existing needs assessments of NTT province, programme

evaluations, and other relevant development literature prepared by donors, international

NGOs and UN Agencies with a view to identifying priority development interventions.

Priority will be given to interventions that address the needs of vulnerable groups and

the poorest districts;

2. Undertake a mission to NTT to consult with UN staff working in the province and

other relevant stakeholders on potential priority development interventions and areas for

UN coordination;

3. Review the operational capacity and programmes of UN agencies and other development

actors on the ground in NTT with a view to identifying any gaps in development assistance

and opportunities for coordination- including joint programmes as well as matching of

available resources and capacities on the ground - taking into consideration analysis

from 1) above and result of the initial assessment from 2) above;

4. Consult extensively with all relevant UN Agencies and development partners in

Jakarta in order to identify and gain consensus on development intervention priorities

for NTT and potential areas for UN coordination, including joint programmes;

5. Participate in a UNCT working group on NTT as required;

6. Participate in relevant UNDAF working groups;

7. Prepare and share the draft Joint Action Programme for NTT with the UNCT and

incorporate all feedback;

8. Any other assistance as required that contributes towards UN coordination

activities.

Expected Output

The consultant will prepare a UN Joint Action Programme for NTT. The programme document

will include:

1. Introduction outlining and justifying critical development interventions in NTT and

areas for UN coordination including joint programmes. This will include a brief

explanation for the choices made – why a particular focus and set of expected activities

and not others were selected - making reference NTT -specific factors, such as:

* Links to the achievement of the PRSP, National plans, MDGs and the other

commitments, goals and targets of the Millennium Declaration and international

conferences, summits, conventions and human rights instruments of the UN system;

* The collective comparative advantage of the United Nations system;

* Priorities identified in the CCA, including strengthening national capacities;

* Opportunities arising from, for example, changing development situations, shifts in

national/provincial policies, the adoption of new national/provincial programmes, or

other similar conditions;

* Evolving prospects for effective partnerships.

2. Joint Action Programme matrix (based on the UNDAF programme matrix format) that

includes:

* An overall outcome for the UN system in NTT (this must be linked the UNDAF outcome

1: Achieving the MDGS);

* UN agency specific and collaborative activities (outputs) that will contribute to

achieving the overall outcome;

* Resource mobilisation targets for all activities;

* Coordination mechanisms and programme modalities;

* Role of partners;

* Monitoring and evaluation plan that includes indicators, sources of data for

verification of indicators and responsibilities for M&E activities.

Duration of assignment

30 working days (for desk review, consultations and writing)

Consultant Qualifications:

* A masters degree in a relevant subject.

* At least 10 (ten) years overseas programme development and implementation

experience.

* Previous experience of working with the UN.

* Familiarity with the development situation in NTT and Indonesia.

* Excellent English writing skills.

September 20th, 2005

Lowongan Kupang – Communication Officer

Posted by flobamora in Current Affairs

Kupang – Communication Officer

Lembaga non-profit Center for Media and Health (CMH) bekerja untuk

memperkuat Sistem Kesehatan melalui berbagai kegiatan media yang

"disusun dan ditujukan untuk masyarakat". Program kami dijalankan di

berbagai wilayah di Asia Tenggara. Di Indonesia, program kami mencakup

wilayah Sumatera Utara, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur.

Kami adalah organisasi non-politik swasta yang bertujuan meningkatkan

Sistem Kesehatan dengan meningkatkan kapasitas lokal melalui kegiatan

Komunikasi, Informasi dan Edukasi.

Communication Officer di Kupang akan mendukung CMH dalam bekerja sama

dengan pemerintah dan Dinas Kesehatan setempat, badan internasional,

badan donor dan partner di tingkat masyarakat untuk membangun dan

mengembangkan program komunikasi efektif yang akan membangun dan

memperkuat sistem kesehatan di NTT.

Tanggal mulai : Segera. Kirimkan CV anda SEBELUM Selasa, 20

September 2005

Kandidat harus siap untuk mulai bekerja di kantor Kupang mulai tanggal

29 September 2005.

Tugas dan Tanggung Jawab:

- Bekerja dengan partner untuk menjalankan beberapa kegiatan komunikasi

- Menulis materi komunikasi untuk keperluan publikasi internal dan

eksternal

- Dokumentasi program MCH

- Membantu menulis dan memperbaiki laporan dan proposal yang diajukan

partner

- Menulis laporan

- Mendukung kegiatan media MCH melalui networking

Pendidikan dan/atau Persyaratan pengalaman:

- Minimum S1

- Pengalaman 3-5 tahun di bidang komunikasi

- Kemampuan menulis, edit, wawancara yang baik, dan terutama memiliki

pengetahuan tentang isu umum dan isu kesehatan di Indonesia

- Keahlian komunikasi interpersonal dan lintas-budaya yang baik

- Dapat bekerja dengan baik dan efektif, baik secara individu maupun

dalam tim

- Kemampuan Bahasa Inggris yang baik, baik lisan dan maupun tulisan

Gaji

Rp 12 juta/bulan, nett

Kirimkan CV anda ke stevenmichon@shaw.ca

———————— Yahoo! Groups Sponsor ——————–~–>

DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!

http://us.click.yahoo.com/G7lQgA/FpQLAA/HwKMAA/cPNplB/TM

——————————————————————–~->

"If you search not much, you may find not much"

(bila tidak banyak yang anda cari/kejar, mungkin tidak banyak pula yg anda dapatkan)".

Silahkan klik di bawah ini u lihat email beasiswa yg pernah di posting

http://groups.yahoo.com/group/forumacademiantt/messages

Silahkan klik di bawah ini u lihat alamat-alamat beasiswa di internet

http://groups.yahoo.com/group/forumacademiantt/links

Silahkan lihat elektronik files yg mungkin anda tertarik

http://groups.yahoo.com/group/forumacademiantt/files/

Good Luck…

September 11th, 2005

Jadi Objek Jiwa yang Sakit

Posted by flobamora in Netherlands

Sisi Gelap Perkawinan Timur–Barat (8)
Jadi Objek Jiwa yang Sakit

Oleh
Yuyu A.N. Krisna Mandagie

VEENDAM - Setiap manusia berhak untuk hidup bahagia. Negeri Belanda dengan sistem sosial yang baik, bagi sebagian orang luar termasuk orang Indonesia, dapat memberikan apa yang mereka butuhkan. Kecukupan materi, jaminan kesehatan, dan masa depan yang pasti tidak berkekurangan.
Di Belanda para “pengacara” (pengangguran banyak acara) pun mendapat tunjangan setiap bulan untuk hidup secara wajar dan cukup sandang, pangan dan papan.
Siapa pun pasti akan memimpikan bisa tinggal di negeri seperti ini. Lalu apa alasan perempuan Indonesia menikah atau kawin dengan laki-laki Belanda?
Yang normal adalah mereka benar-benar jatuh cinta dan ingin menempuh hidup bahagia. Susah atau senang sama-sama mereka jalani. Ada pula yang merasa bangga bisa menjadi istri orang asing, karena dia akan tampil beda. Tetapi ada juga yang ingin mengubah nasib, ingin hidup lebih baik.
Sementara ada pendapat yang belum tentu benar, yaitu bahwa perempuan Indonesia menikah dengan bule karena sulit mendapat pasangan laki-laki Indonesia, berhubung syarat untuk menjadi istri orang Indonesia sangat berat.
Harus perawan, pintar, cantik, dari keluarga baik-baik. Pokoknya bibit-bebet-bobot menjadi sangat penting bagi laki-laki Indonesia. Sedangkan laki-laki asing tidak banyak cincong. Kalau sudah cinta, kawin. Tidak ada syarat-syarat tertentu.
Sebaliknya, perempuan Indonesia hampir tidak mempunyai kesempatan untuk menentukan syarat-syarat bagi suami idaman. Terima nasib saja.
Alasan terjadinya perkawinan antara perempuan Indonesia dan lelaki Belanda yang disorot dalam tulisan ini kebanyakan adalah untuk mengubah nasib. Perkawinan yang didasari pertimbangan untung sering menjerumuskan, menimbulkan masalah. Karena keberuntungan yang diharapkan sebelum perkawinan, tak kunjung datang.
Mungkinkah perempuan seperti Lala ini adalah salah satu korban perkawinan berdasarkan perhitungan untung-rugi? Simaklah penuturannya.

Menikah Muda
Usai lulus Akademi Bahasa Asing jurusan Inggris, aku diterima bekerja di hotel berbintang di Medan. Aku menikmati pekerjaan ini. Bisa bertemu dengan tamu-tamu manca negara. Teman-temanku mengatakan aku cantik. Kulitku yang seperti tembaga, hidungku yang bangir menambah eksotis penampilanku. Ini kata mereka. Aku sih merasa biasa-biasa saja.
Aku lahir dari pasangan Ambon-Jawa. Ayahku Ambon, sedangkan ibu adalah wanita Jawa turunan Melayu. Karena kecantikanku, aku menjadi rebutan laki-laki di kota Medan. Aku menikah muda usia, dengan putera seorang pejabat di Sumatera Utara. Perkawinanku tidak berjalan mulus. Kami sama-sama muda, emosional, dan karena dasar kami cinta monyet. Akhirnya kami bercerai setelah putri kami, Viva, berumur tiga tahun. Aku masih terus bekerja di hotel itu.
Aku adalah anak gaul. Di hotel aku sangat dikenal baik oleh tamu-tamu maupun sesama karyawan. Banyak lelaki mendekati diriku tetapi hanya sebatas teman, tidak lebih. Ada juga yang iseng mengajak aku masuk kamar hotel. Tetapi aku bukan perempuan murahan atau perempuan gampangan. Aku adalah seorang perempuan yang lahir dari keluarga yang sangat religius. Kalau melihat penampilanku yang bebas, lepas dan seenaknya, orang menyangka aku perempuan yang bisa dibawa-bawa. Maka mereka akan kecewa bila sudah mendekatiku. Karena aku adalah perempuan yang sangat hati-hati dalam bertindak dan mengambil keputusan.
Aku beruntung memenangkan sayembara yang diadakan oleh sebuah perusahaan, hadiahnya adalah perjalanan gratis ke Eropa. Dalam kesempatan itu aku mengunjungi Belanda. Aku menginap di Groningen di Belanda Utara. Di kota inilah aku berkenalan dengan David.
Tahun berikut David ke Indonesia. Dia menginap di hotel tempat aku bekerja. Perkenalan kami di Belanda berlanjut di Medan. Di sini kami mulai akrab.
Setelah mempertimbangkan untung-rugi, aku pun menerima lamaran David untuk menikah. Aku pikir di Belanda putriku Viva akan memperoleh pendidikan yang baik dan masa depan terjamin. Pernikahan kami berlangsung sederhana, antar keluarga saja.
Kemudian aku dan Viva pindah ke Belanda membentuk keluarga baru bersama David di Veendam, kota kecil tak jauh dari Groningen.

Berpose Bugil
Ada peristiwa aneh yang tak dapat aku lupa sampai mati. Saat itu usia perkawinanku baru enam bulan. Malam itu aku dibangunkan oleh David. Kupikir David membutuhkan pelayananku sebagai istri, seperti malam-malam sebelumnya. Tetapi ternyata tidak, David hanya menyuruhku supaya duduk.
Tetapi bukan duduk sembarang duduk, tetapi aku harus dalam keadaan bugil. David tidak berbuat apa-apa. Tetapi aku harus ganti-ganti pose. Dia hanya memandang tubuhku sampai pagi. Sesudah David puas, aku boleh tidur kembali.
Aku terpukul dengan kejadian tersebut. David ternyata menderita kelainan jiwa. Sejak saat itu aku merasa hanya sebagai objek kepuasaan jiwa David yang aneh itu.
Hampir dua tahun aku hidup bersama David. Ada malam-malam yang indah, tetapi ada juga malam-malam bugil yang menyiksa. Jiwaku ikut terganggu. Aku minta bantuan psikiater. Psikiater menganjurkan aku agar bercerai saja.
Pada sebuah pesta malam Indonesia di kota Apeldoorn, penulis berkenalan dengan Lala, perempuan Ambon-Jawa ini. Kesan pertama dia cantik, lincah. Dia menguasai berbagai jenis dansa, jive, waltz, calypso, cha-cha, hingga poco-poco. Lala berkibar di lantai dansa.
Saat makan malam kami bercakap-cakap tentang masyarakat Indonesia di Belanda, karena Lala termasuk orang baru dalam komunitas ini.
Sesudah itu, Lala hampir setiap hari meneleponku, menuturkan semua deritanya. Ternyata di balik penampilannya yang begitu mempesona, ada ceritera lain.
Kisah seperti yang dialami Lala pernah ditangani oleh Kedutaan Besar RI di Den Haag beberapa tahun lalu. Perempuannya dikirim pulang ke Indonesia. “Mbak, aku menyesal menikah dengan David. Kami akan bercerai. Psikiater akan membantu proses izin tinggalku di Belanda. Kalau tidak, aku harus kembali ke Indonesia. Hal inilah yang meresahkanku”.
Tiga bulan aku bertemu dengan Lala dalam keadaan hamil. Inikah yang membuat Lala resah?

September 3rd, 2005

Rahasia Sebuah Lemari

Posted by flobamora in Netherlands

Rahasia Sebuah Lemari

Oleh
Yuyu A.N. Krisna Mandagie

AMSTERDAM—Waktu dua minggu terasa berlalu begitu cepat. Musim panas pun berakhir dan belahan Eropa memasuki musim gugur. Udara mulai dingin dan daun mulai berguguran. Tetapi aku belum mau beranjak dari pelukan laki-laki itu. Aku masih menginginkan kehangatannya.
Dua minggu telah mengubah seluruh kehidupanku. Aku jatuh cinta pada Eduard. Aku tak mau kembali ke Jakarta lagi. Aku putuskan hubungan pertunanganku. Cincin kukirimkan kembali ke Jakarta. Keluarga kami di Indonesia heboh besar. Baik di Jakarta, Semarang maupun Manado.
Tetapi terus terang, keadaan ini sebenarnya yang dikehendaki ibuku yang sok ke belanda-belandaan. Aku benar-benar jatuh cinta, dan tanpa menyelidiki lebih jauh, siapa sebenarnya Eduard itu, aku menerima lamarannya.
Eduard mengaku bekerja di sebuah perusahaan penerbangan yang cukup ternama di Belanda. Kami pun menikah di Indonesia. Yang paling berbahagia adalah ibuku yang waktu itu sedang sakit, karena memang ibu menginginkan aku menikah dengan orang Belanda.
Tak lama ibu meninggal dunia. Aku bersyukur pada Tuhan karena ibu tidak sempat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku usai pemberkatan nikah. Karena seandainya ibu masih hidup dan mendengar apa yang dialami oleh putri bungsunya ini, ibu pasti akan sedih. Maklum, ibu sangat mendukung perkawinan kami.
Selesai mengurusi surat-surat, dan setelah ibu dimakamkan, aku dan Eduard meninggalkan Jakarta menuju Amsterdam.
Lalu aku langsung menjadi warga negara Belanda. Aku memasuki dunia baru, kehidupan baru di Amsterdam. Sebagai keluarga baru, kami menempati flat dengan dua kamar tidur di pinggiran Amsterdam.
Eduard begitu menyayangiku. Kemesraan pengantin baru benar-benar aku nikmati.
Suatu hari di bulan ketiga perkawinan, Eduard berkata kepadaku bahwa dia merencanakan akan mengganti semua perabotan di rumah, peninggalan istri tuanya. Eduard memang seorang duda.
Kata Eduard, ia ingin semua perabotan baru, begitu pula mobil harus diganti baru.
Aku kurang setuju dengan rencana tersebut. Sebab menurutku, biar saja kami memakai perabotan tua karena Eduard baru saja mengeluarkan banyak uang saat pernikahan kami di Jakarta.
Tetapi Eduard tetap pada keputusannya. Menurut Eduard, uang gampang dicari, kami bisa pinjam di bank dan dibayar dengan cicilan dari gaji. Dan hal ini lumrah di Belanda. Akhirnya aku menyetujui dan menandatangani pinjaman uang di bank bersama dengan Eduard. Jumlahnya cukup besar.
Enam bulan sesudah aku sah menjadi istri Eduard, aku dengan perasaan ingin tahu berhasil membuka lemari Eduard yang selalu dikunci rapat. Aku tidak pernah merencanakan untuk mencampuri urusan pribagi Eduard, karena dia selalu berkata privacy-nya jangan sampai diganggu oleh siapa pun, termasuk oleh istrinya. Dan ini komitmen kami berdua.

Rahasia Sebuah Lemari
Pada suatu pagi, entah mengapa Eduard pergi ke tempat kerja tanpa membawa kunci lemari. Kunci itu tergeletak di atas meja. Mungkin dia lupa. Aku sangat terdorong untuk membuka lemari tersebut. Maka kemudian aku pun membukanya.
Di dalam lemari itu ada sebuah kotak yang terkunci. Tetapi aku bisa membuka karena anak kunci ada dalam rangkaian kunci lemari itu. Kotak itu penuh dengan surat-surat. Dengan rasa ingin tahu aku mulai membaca surat itu satu per satu. Dan terbongkarlah begitu banyak rahasia mengenai siapa Eduard itu. Tetapi aku tak perlu membeberkannya.
Sebagai orang terpelajar, aku bisa memilah-milah persoalan. Aku tahu, mana masalah yang cukup untuk diriku sendiri saja, tetapi aku juga tahu mana masalah yang perlu kulaporkan pada polisi.
Namun yang paling mengejutkan, ternyata Eduard hanyalah seorang sopir di perusahaan penerbangan. Rupanya ia selama ini berbohong dengan mengaku sebagai seorang petugas mekanik pesawat terbang. Aku benar-benar kecewa. Pada masa mudaku, tidak sembarang orang bisa “datang” kepadaku. Tetapi kini aku harus menerima kenyataan bahwa sekarang setiap malam aku tidur dengan seorang sopir bus.
Tetapi apa mau dikata, semua sudah terjadi. Bak’ nasi sudah menjadi bubur. Meski begitu, aku mencoba bertahan. Berusaha mengubah bubur itu menjadi bubur ayam. Setiap hari aku hanya bisa mengelus dada dan setiap malam menangis. Aku hidup dalam tekanan, kebohongan dan kemunafikan. Tetapi aku berprinsip bahwa keluargaku di Indonesia tidak boleh mengetahui cerita sedih ini.
Latar belakang budaya kami memang berbeda, kebiasaan-kebiasaan kami juga bertolak belakang. Ia kasar, pemabuk dan gemar pergi ke kasino. Ini menambah penderitaanku.
Tetapi bila kami mulai berkasih-kasihan sebagai suami-istri, semua derita itu seakan sirna. Saat-saat itu Eduard sangat menyenangkan. Sesudah itu, aku kembali lagi pada penderitaan yang tak berujung.
Keadaan ini berdampak negatif bagi jiwaku. Aku menghukum diriku sendiri dengan mengatakan diriku adalah perempuan rendahan sebab seks bisa membuatku lupa akan penderitaan. Betapa rendahnya seorang Albertina. Maka kepribadianku pun goyah, dan kesehatan merosot. Aku menjadi langganan dokter dan rumah sakit.
Setelah bertahan hidup sebagai istri Eduard selama dua tahun, aku tak sanggup lagi. Maka kami pun bercerai. Setelah bercerai, aku menyangka sebagian penderitaan akan berakhir. Tetapi ternyata derita itu semakin bertambah. Seperti yang kututurkan tadi, beberapa bulan setelah pernikahan, kami meminjam uang di bank. Aku ikut menandatangani formulir pinjaman itu. Nah, disinilah penderitaan itu bersambung. Aku berkewajiban melanjutkan pembayaran pinjaman itu, walaupun kami sudah bercerai. Usai perceraian, Eduard menghilang bak di telan bumi. Alamatnya tidak jelas. Dia menjadi buronan polisi. Mungkin dia telah pindah ke negara lain dengan identitas lain pula.
Dari tunjangan janda, aku dapat hidup dari hari ke hari sambil membayar cicilan pinjaman ke bank. Aku bersyukur pada Tuhan, di saat kejatuhanku, komunitas Indonesia yang ada di Belanda sangat membantu. Mereka menampungku secara cuma-cuma, setelah aku keluar dari flat karena Eduard tidak membayar uang sewanya.
Kemudian dengan kemampuan bahasa Inggris yang baik dan bahasa Belanda yang seadanya, aku diterima bekerja di sebuah bank asing. Hidupku mulai tenang.
Beberapa tahun kemudian setelah hidup menjanda, aku menerima lamaran seorang laki-laki Indonesia. Ia mengerti dan memaklumi keadaanku. Waktu itu aku tidak secantik dahulu ketika masih muda. Aku kini seorang wanita yang sakit-sakitan, tetapi Robert mau mendampingiku, menerima diriku apa adanya. Kami menikah dan kini mempunyai tiga anak laki-laki yang sehat. Tetapi penyakitku semakin parah. Aku tetap saja sakit-sakitan, seminggu sekali harus cuci darah. (bersambung)

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: