Bae sonde Bae

September 30th, 2005

Sisi Gelap Perkawinan Timur–Barat (11)

Posted by flobamora in Netherlands

Hati-hati dengan Janji Juleha

Oleh
Yuyu A.N. Krisna Mandagie

BREDA - Aku juga ingin memperingatkan kaum perempuan Indonesia, agar jangan percaya dengan iklan-iklan atau janji-janji dari orang-orang yang dikenal ataupun tidak dikenal, yang akan memberikan pekerjaan atau menawarkan jodoh di Belanda. Itu sama sekali tidak benar.
Beberapa waktu lalu seorang perempuan Indonesia bernama Juleha, suaminya seorang Belanda, ditangkap polisi Belanda. Mereka terbukti “menjual” perempuan Indonesia ke Belanda.
Menurut janji Juleha, mereka akan dijodohkan dengan laki-laki Belanda. Tapi ternyata bohong. Para korban sudah menyetor uang dalam jumlah cukup besar pada Juleha untuk ke Belanda, tapi ternyata setelah tiba di Belanda jodoh tidak dapat, malah mereka harus melayani laki-laki hidung belang. Akibat perbuatan tersebut, suami-istri ini dimasukkan ke penjara di Breda. Sedangkan korbannya enam perempuan Indonesia, dideportasi ke Indonesia.
Aku kenal dengan Juleha, perempuan hitam berbadan bongsor ini. Dia pernah datang ke rumahku untuk menginap, tetapi suamiku tidak mengizinkan.
Waktu itu dia mengaku sebagai janda kaya di Indonesia, adik dari seorang jenderal. Rumahnya di Menteng dan Rawamangun. Dia menyebut dua alamat itu dengan jelas, berikut nomor telepon dimana bisa dihubungi di Jakarta.
Dengan rasa percaya diri Juleha mengungkapkan, dulu ia berpacaran dengan seorang pengusaha di Indonesia, bahkan hampir menikah. Juleha tidak tahu pengusaha ini aku kenal.
Almarhumah istrinya adalah kawanku, yang meninggal karena ulah suaminya. Wah, aku pikir mungkin ini hanya ilusi Juleha.
Juleha bertubuh gembrot kulit hitam dengan betis seperti pemain bola Ajax, Belanda Ronald Koeman. Make up sangat tebal. Mana mungkin si pengusaha yang kukenal itu mau memperistri perempuan seperti Juleha? Aku kenal pengusaha itu, seleranya mengenai wanita memang cukup tinggi.
Juleha memang pintar memainkan lidahnya. Juga pintar bergaul dan mengambil hati lawan bicaranya. Kalau tidak hati-hati kita akan terkecoh.
Pertama kali tiba di Belanda, Juleha berhubungan dekat dengan seorang duda, kawan dekatku. Lewat kawanku ini Juleha memasuki komunitas Indonesia di Belanda. Aku memperingatkan kawanku itu untuk berhati-hati.
Untung kawanku itu memperhatikan peringatanku dan segera memutuskan hubungannya dengan Juleha. Juleha datang ke rumahku mencurahkan isi hatinya gara-gara diputus oleh duda kawanku itu. Aku mendengar curhatnya dan menasihatinya agar pulang saja ke Indonesia.
Setelah peristiwa curhat itu, hampir setahun aku tidak pernah bertemu dengan Juleha. Aku kira dia sudah kembali ke Indonesia. Tetapi pada salah satu acara di aula Nusantara Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tobias Asserlaan Den Haag, aku bertemu dengan Juleha.
“Hei Mbak, apa kabar? Aku sudah menikah lho dengan Frans”, Juleha menegurku dan sekaligus memperkenalkan suaminya. “Kami baru menikah bulan lalu,” sambung Juleha.
“Oh, selamat ya!” jawabku singkat untuk menutupi keterkejutanku. “Nekad juga perempuan Indonesia ini,” kataku dalam hati. Saat itu Juleha sudah bergaya seperti layaknya mevrouw Belanda. Sebuah topi lebar warna bertengger di kepalanya. Sepatu dan tas berwarna merah menyala, menjadikan Juleha pusat perhatian.

Masuk “Black List”
Bulan berikut tersiar kabar Juleha dan suami berikut komplotannya ditangkap. Aku berencana untuk menjenguk Juleha, tetapi karena kesibukanku, sampai Juleha dideportasi ke Indonesia, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.
Menurut ceritera, suami Juleha yang ikut menjadi korban, adalah orang baik-baik. Walaupun sudah berumur dia belum pernah menikah. Termakan oleh rayuan gombal, Frans akhirnya menikahi Juleha. Akhirnya Frans harus mendekam dalam penjara. Dia dipecat dari pekerjaan yang sudah ditekuni hampir 25 tahun. Delapan bulan Juleha, Frans and the gang menjadi penghuni hotel prodeo di Breda.
Kini Juleha masuk daftar hitam (black list) Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. Dia tidak mungkin lagi masuk Belanda. Tetapi bagi manusia seperti Juleha, bukan tidak mungkin dia muncul dengan identitas baru.
Maka kita harus berhati-hati dengan tawaran yang menggiurkan dan janji-janji dari orang-orang seperti Juleha. Itu semua bohong. Pemerintah Belanda tidak pernah memberikan peluang kerja bagi bangsa lain untuk bekerja hanya sebagai pekerja kasar.



Leave a reply

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: