Bae sonde Bae

October 18th, 2005

Di Kebun pun Okelah

Posted by flobamora in Culture, social, people & other

ADA yang bilang jangan percaya sama mulut lelaki. Laki-laki mah buaya darat. Ada juga yang mengatakan lelaki itu seperti kucing, pendiam dan terlihat bageur, tapi sekali menggeliat, cakarannya bo!
Intermezzo_di_kebun_1
Makanya, eneng-eneng geulis mesti berhati-hati mencari pacar. Jangan sampai ketemu dengan laki-laki buaya atau pemuda yang ngabudi ucing, apalagi ucing gering. Cinta sama pacar boleh-boleh saja, sebab kata orang cinta itu anugerah, jangan disia-siakan. Tapi jangan lupa, mencintai seseorang itu jangan sampai membabi buta. Kata nenek itu berbahaya.

Seperti yang dialami Euis (16), namanya disamarkan. Ia sudah satu bulan berpacaran dengan Ujang (16), juga nama samaran. Tapi, meskipun baru sebulan berkenalan, keduanya sudah lengket seperti permen karet. Ke mana-mana selalu berdempet-dempet. Kata Euis, Aa Ujang mah asyik, sering ngajak main dan banyak duit.

Meskipun pasangan ABG ini secara hukum masih dikategorikan anak-anak alias masih bau kencur dan bau jaringao, tapi soal kahayang mah tidak kalah sama om-om dan tante-tante yang sudah berpengalaman.

Berbeda dengan Ujang, Euis mah meskipun sudah tidak merasa asing lagi dengan urusan "gituan", dia masih punya benteng. Bibir atas mah boleh diembat sampai jeding, gunung sakembarannya pun kalau cuma kesentil dikit mah enggak apa-apa, tetapi yang satu itu mah nehi. Mendingan tumtutumpuran dan cinta sampai di sini ketimbang harus nyanggakeun saaya-aya. Itulah sebabnya ketika Ujang aha-ehe, Euis tetap pada pendiriannya, dia tidak mau digadabah.

Tapi, jangan disebut Ujang kalau tidak bisa menaklukkan sang pacar. Pada Jumat (26/7), Ujang mengajak Euis dan Eneng, temannya, jalan-jalan naik motor ke suatu tempat di Cikalage dan Cikancung. Puas bermain, Eneng diantarkan ke rumahnya, tapi Euis kembali diajak jalan-jalan ke Kp. Candi, Desa dampit, Kec. Cicalengka, sekira pukul 12.45 WIB. Lalu keduanya masuk kebun. Pikir Ujang, di kebun pun okelah.

Di kebun itulah Ujang mulai beraksi. Mula-mula, Ujang senyam-senyum kumasep, merasa dirinya Arjuna, senyumnya dibalas sama sang Subadra. Lalu Ujang bisik-bisik, membuat Euis cekikikan dan bulu romanya merinding bagai bulu landak. Waktu Ujang mengedip, Euis teh mengangguk seperti burung puter yang sedang beger. Tidak antaparah lagi, Ujang langsung beraksi. Eneng pun diam saja waktu Ujang menyerang pipi dan bibirnya.

Nah, ketika ada kokod palid nyasar ke bagian bergambar petir alias tegangan tinggi, Euis ngagurinjal, kemudian berlari. Sayangnya, Ujang sudah kemasukan gaang. Euis yang hendak lari malah diterjang lalu dihompet dan mulutnya disumpal dengan tanah.

Euis berusaha melawan, tapi namanya juga perempuan, tenaganya keburu habis. Akhirnya Euis hanya bisa menangis saat Ujang ngecah sawah sakotaknya.

"Tidak usah takut, Aa mau bertanggung jawab," kata Ujang sambil hah heh hoh.

Euis tidak menjawab. Ia melihat Ujang seperti buaya. Meski beberapa kali Ujang mengatakan sayang, Euis mah ngagukguk sampai ke rumahnya. Saking bencinya sama Ujang, Euis melaporkan kekasihnya itu ke polisi.

Kini Ujang diseret ke Pengadilan Negeri Bale Bandung untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Jaksa penuntut umum Salman, S.H. mendakwanya dengan pasal 285 di hadapan majelis hakim yang diketuai oleh Endang Sri, S.H.



Leave a reply

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: