Sisi Gelap Perkawinan Timur–Barat (14)
Malam Jahanam Buat Charlotte
Oleh
Yuyu A.N. Krisna Mandagie
UDEN—Charlotte, biasa dipanggil Otte oleh teman-temannya. Di kota kecil Uden, dekat perbatasan Belanda dan Jerman, perempuan ini sangat dikenal karena cara berdandannya yang ajubileh. Ia selalu tampil beda, pakaiannya bagus-bagus dan berani mengikuti mode. Di Belanda seolah-olah dia bebas mengekspresikan dirinya lewat penampilan fisiknya yang cantik.
Otte menikah dengan Herman, laki-laki Belanda yang dikenalnya di atas kapal penumpang milik perusahaan Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) dalam perjalanan dari Manado ke Jakarta.
Herman saat itu tengah ber-libur ke Indonesia Timur. Empat hari di atas kapal ditemani gelombang Selat Makassar dan Laut Jawa, membuat keduanya mabuk kepayang.
Hubungan mereka berlanjut hingga ke pernikahan yang dilangsungkan di Belanda. Pada waktu itu urusan seperti ini masih sangat mudah. Herman yang gagah dan Otte yang cantik, dari luar kelihatan sangat serasi. Pada suatu malam Otte membangunkan keluarga Justinus yang tinggal di kota itu.
Otte saat itu dalam keadaan sangat depresif. Dia histeris saat memasuki rumah keluarga itu. Otte berteriak-teriak dan berguling-guling di ruang tamu. Ibu Justinus menelepon aku dan meminta besok pagi datang ke rumah untuk membantu Otte. Malam itu Otte menginap di rumah keluarga Justinus.
Ibu Justinus dan aku mempunyai paguyuban yang menyikapi perlakuan-perlakuan yang kurang menyenangkan yang dialami oleh perempuan Indonesia di Negeri Belanda. Keesokan harinya aku ke rumah Ibu Justinus. Otte sedang sarapan. Dia nampak tenang.
”Selamat pagi”, aku menyapa Otte.
Otte langsung menjatuhkan dirinya ke pelukanku. Sudah lama aku mengenal Otte, perempuan yang populer itu. Kami sering bertemu di gereja. Setelah agak tenang, Otte mulai menceriterakan isi hatinya. Perkawinannnya dengan Herman sudah dua tahun. Selama itu, Otte mencoba bertahan. Karena bagi dia perkawinan adalah sakral dan tidak ada kata cerai dalam kamus hidupnya. Dan hal ini tidak berkenan di hadapan Tuhan.
Selama dua tahun itu Otte mengalami hal-hal yang menurut dia tidak lazim terjadi dalam sebuah rumah tangga. Sampai saat itu Otte dan Herman tinggal bersama ibu Herman di sebuah flat kecil dengan dua kamar tidur.
Herman bekerja di kantor sosial yang khusus mengurusi orang-orang asing. Hidup mereka tidak berlebih. Otte bisa menerima kondisi ini. Tetapi yang mengganggu jiwa perempuan muda ini adalah tingkah laku Herman dan ibunya.
Setiap malam, usai makan malam, Herman dan ibunya menikmati sisa malam sebelum menuju ke pembaringan dengan berdansa yang diselingi minum wine. Sedangkan Otte hanya menjadi penonton.
Satu , dua kali, Otte masih bisa menerima hal itu sebagai kebiasaan di Belanda. Tetapi lama-lama dia merasa perbuatan itu aneh. Karena tidak ada tetangganya yang berdansa di rumah. Apa lagi setiap malam. Di samping itu ibu mertuanya sangat dominan dalam kehidupan Herman.
Ibu mertuanya memperlakukan Herman seperti anak kecil. Hal-hal kecil menyangkut kehidupan Herman selalu harus dia urus. Saat mandi, mertuanya itu selalu mempersiapkan handuk, pakaian dalam yang akan dikenakan Herman hari itu.
Herman tidak bisa berbuat apa-apa. Sarapan juga selalu disiapkan ibunya. Laki-laki ini menikmati perlakuan ibunya. Ini sangat menyakitkan hati Otte. Kalau Otte protes, Herman hanya menjawab : ”Sabar, mama toh sudah tua. Biarlah sisa hidupnya dinikmati dengan memberikan kasihnya pada aku ”.
Herman tidak pernah memperlakukan kasar pada Otte. Dia adalah suami yang baik. Namun jiwanya mungkin sedikit sakit. Dia begitu sayang pada ibunya. Otte masih menerima hal ini karena wajib seorang anak menyayangi ibunya . Tetapi apa yang Otte lihat setiap hari adalah hubungan yang tidak normal antara Herman dan ibunya.
Mereka sering ngobrol berdua dalam bahasa Belanda yang belum begitu dipahami oleh Otte. Bila Otte protes, Herman menjawab tindakan ini untuk membantu Otte agar bisa cepat fasih berbahasa Belanda. Komunikasi antara Herman dan Otte dilakuakan dalam bahasa Inggris campur Belanda tambah Indonesia.
Guna mengisi kesibukan Otte mengikuti kursus bahasa Belanda dan bekerja malam di perusahaan makanan siap saji. Perempuan ini mencoba untuk bertahan. Hingga tiba malam jahanam itu.
Otte pulang dari pekerjaannya. Jam sudah menunjukkan pukul 22.00. Tanpa menekan bel, Otte membuka pintu flat mereka (Otte mempunyai kunci sendiri) perlahan-lahan dengan maksud jangan sampai menimbulkan bunyi yang dapat membangunkan mertua dan suaminya.
Otte berjalan menuju kamar tidur. Membuka pintu juga perlahan-lahan . Dan saat pintu terbuka, jantung Otte terasa berhenti berdetak. Tubuhnya sempoyongan kehilangan keseimbangan. Apa yang dilihatnya? Di tempat tidur yang biasanya dia dan Herman bermesraan, di situ tergeletak Herman dan ibunya sedang tidur berpelukan di bawah selimut.
Kali ini Otte tidak dapat memberikan toleransinya lagi. Otte langsung keluar dan pergi ke rumah keluarga Justinus di Gouda yang letaknya cukup jauh dari Nijmegen. Sejak peristiwa itu Otte langsung pindah ke kota lain, membawa luka hati dan kekecewaan.
Hidup Otte berubah drastis. Dia menjadi perempuan bawaan laki-laki berduit dan hidung belang. Otte berlabuh dipelukan setiap laki-laki yang bisa memenuhi kebutuhan materinya. Bobo-Bobo Ciang (BBC) bagi Otte adalah pekerjaan rutin. Dia tidak pernah lagi ke gereja. Aku ingin bertemu dengan dia, tetapi dia menghindar selalu.
Aku teringat ketika Otte baru tiba di Belanda, dia rajin menghadiri kebaktian yang diselenggarkan oleh komunitas Kristen Indonesia. Di situ aku berkenalan dengannya. Sampai sekarang menurut ceritera, Otte dan Herman belum bercerai karena Otte memang tidak menghendakinya. Bagi Otte perkawinan hanya satu kali.
Pada acara Pasar Maluku 2004 di Vee Markt di Utrecht aku melihat Herman menggandeng perempuan sambil mendorong baby wagentje (kereta bayi).
Herman mendekati aku dan menyalami : ” Mbak kenalkan ini istriku, Herliana dari Solo”. Aku bergumam ….Oh korban baru….