Bae sonde Bae

November 8th, 2005

Pasien ”Tak Dikenal”

Posted by flobamora in Netherlands

UTRECHT—Santi, seorang perempuan Indonesia yang harus menerima nasibnya yang gelap. Dia meninggal setelah sakit di sebuah rumah sakit sebagai pasien yang ”tidak dikenal” karena ia tinggal di Belanda secara illegal.
Aku mengenal Santi ketika dia bekerja sebagai pelayan di sebuah toko barang-barang dan di restoran Cina Indonesia di pusat pertokoan Hoogcatarijn Station Centraal Utrecht.
Santi perempuan muda yang berasal dari Jawa Timur sudah empat tahun tinggal bersama teman laki-laki orang Belanda yang dikenalnya ketika masih di Banyuwangi. Tetapi sangat disayangkan, Santi adalah penduduk tak berizin tinggal.
Bila ke Utrecht aku menyempatkan singgah di toko tempat Santi bekerja. Aku senang dengan sifat Santi yang penggembira. Dia sering menceriterakan ulah anaknya yang tinggal di Surabaya bersama neneknya (ibunya Santi).
”Aku ingin anakku sekolahnya tinggi,” kalimat itu sering diucapkan. Itulah sebabnya aku ke Belanda, Mbak, tambah Santi. Bekerja apa saja. Sebagai petugas cleaning service, penjaga anak, tukang cuci piring di restoran, menjadi pelayan di rumah biliar. Sampai akhirnya dia bekerja tetap sebagai pembantu di toko dan pencuci piring di restoran Cina Indonesia.
Menurut ceritera, Santi adalah janda yang ditinggal mati suaminya bersama seorang putra. Suami Santi meninggal saat anak mereka lahir. Santi harus memelihara anak mereka itu. Dia pun pindah ke Surabaya, bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Anak berikut ibunya diboyong ke Surabaya. Sebagai orang Jawa Timur, Santi adalah perempuan yang keras. Tidak mau menyerah pada nasib. Dia berusaha mengubahnya. ”Aku kan diberi akal dan kekuatan. Aku pasti bisa mengubah kehidupan ini menjadi lebih baik,” tekad Santi.

Bertemu George
Dia kemudian bekerja di sebuah hotel di kota buaya. Beberapa tahun di situ dia berkenalan dengan George, laki-laki Belanda yang bertubuh tambun, tukang lampu jalan di Utrecht dan sekitarnya termasuk kota kecil Houten, Nieuwegein, Dooren.
Mereka hidup bersama beberapa minggu di Surabaya sebelum George membawanya ke Utrecht di Belanda dengan izin tinggal tiga bulan. Namun sesudah tiga bulan, Santi tidak pulang ke Indonesia.
Malah tinggal terus bersama George menjadi pelayan siang dan malam. Santi pandai masak dan rajin untuk semua pekerjaan rumah tangga, membuat George tidak keberatan Santi tinggal di rumahnya sebagai penduduk gelap.
Hidup Santi mulai berubah. Keuangan menjadi lebih baik hasil kerja gelap di toko dan di restoran itu. Sudah beberapa kali Santi mengeluh ada gangguan pada maagnya. Tetapi karena dia penduduk gelap maka dia tidak berhak mendapat pelayanan kesehatan lewat asuransi.
Untuk mengurangi rasa sakit, dia mengonsumsi obat maag yang dijual bebas. Dari hasil banting tulang tiap bulan dia bisa secara rutin mengirim uang kepada anaknya yang masih duduk di SMA di Surabaya.
Bercakap-cakap atau ngerumpi dengan Santi bisa menghilangkan stres. Dia pandai mencari topik yang menarik untuk dibahas. Kalau mendengar cara Santi beradu argumentasi, rasanya dia bukan cewek kelas rumah biliar.

Meninggal dalam Kesendirian
Dari hari ke hari kesehatan Santi makin menurun. Badannya makin kurus, kulitnya memucat. Dengan kondisi seperti itu Santi tetap bekerja di toko dan di restoran. Terakhir aku ketemu Santi kelihatan begitu lemah. Kemudian aku tidak pernah bertemu dengan Santi baik di toko maupun di restoran itu. Sampai pada suatu hari ada yang menelepon aku, Santi meninggal dunia.
Ceritera sadis menjelang kematian Santi adalah saat Santi sakit, George tidak mau bertanggung jawab. Santi disuruh ke rumah sakit dan mengatakan dia tidak punya siapa-siapa di tempat itu. Dan Santi dirawat inap di tempat orang-orang gelandangan yang tidak diketahui asal usulnya. Menyedihkan sekali. Dia meninggal dalam kesendiriannya.
George tidak mau tahu. Mungkin karena takut dia akan kena sanksi hukum karena menerima orang gelap selama bertahun-tahun. Tetapi dimanakah rasa kemanusiaan laki-laki ini? Bertahun-tahun Santi melayaninya sebagai suami dalam tanda petik. Sampai hati saat Santi sakit dan hingga meninggal dia membiarkan perempuan malang ini menghadap Tuhan dalam kesendiriannya.
Tidak ada orang Indonesia yang tahu sewaktu Santi sakit. Toko dan restoran tempat Santi bekerja secara gelap juga tidak memberitahukan teman-teman Santi sesama perempuan Indonesia. Mungkin mereka seperti George, takut kena sanksi dari polisi Belanda. Aku juga tidak tahu kapan Santi masuk rumah sakit dan kapan meninggalnya.
Beberapa petugas dari KBRI akhirnya mengambil alih tanggung jawab atas diri perempuan malang ini. Jenazah Santi disembahyangkan dan dimakamkan sebagaimana layaknya seorang muslimah.
Sebenarnya banyak perempuan Indonesia walaupun tidak setragis Santi yaitu sampai meninggal dunia. Tetapi sebenarnya kalau mereka mau jujur pada dirinya sendiri, mereka tidak lebih beruntung dari Santi. Mereka hidup tetapi sebenarnya perasaannya telah mati.
Ada yang menyombongkan diri dengan mengatakan suaminya ahli ini dan itu. Suami kerja ini dan itu. Kerja apapun di Belanda kalau kita hidup hemat kita bisa berlibur ke Indonesia setiap tahun. Dengan kerja keras dan rajin menabung dan hidup hemat, Belanda ada tempat untuk mengumpulkan euro.
Bayangkan saja penghasilan seorang yang bekerja schoonmaak (cleaning service) gelap sekitar 8 euro per jam. Sehari bisa kerja 10 jam x 8 euro = 80 euro, kalau seminggu dikalikan 7 berarti 560 euro. Satu bulan 4 minggu x 560 euro = 2.240 Euro. Ini kalau rajin dan tanpa istirahat.
Bila di rupiahkan, 2.240 euro x Rp 12.000 = Rp 26.880.000 (dua puluh enam juta delapan ratus delapan puluh ribu rupiah) bersih, karena tidak dipotong pajak. Kalau dilihat dari jumlah penghasilan yang besar itu, siapa pun ingin bekerja di Belanda.
Hitungan ini adalah hitungan bagi seseorang yang bekerja gelap, sehingga dia bisa menerima penghasilannya secara utuh, tidak dipotong pajak.
Tetapi apakah kita mau meninggal seperti Santi? Yang mungkin sampai saat ini, anak dan ibunya mungkin tidak atau belum mengetahui bahwa Santi sudah tiada.



Leave a reply

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: