Sisi Gelap Perkawinan Timur–Barat (16)
ASSEN—Aku mengenal Christina ketika masih di Jakarta. Kami sama-sama aktivis di gerakan mahasiswa. Dengan latar belakang sama dari luar Jawa, kami tumbuh dan bertekad untuk menjadi yang terbaik dalam segala hal. Karena kami merasa beruntung dibandingkan banyak perempuan muda dari luar Jakarta yang terjerumus dalam kehidupan materi semu yang ditawarkan oleh the big village ini.
Di awal tahun 1970-an, beberapa night club mulai dibuka di Jakarta. Dan Tina pernah didatangi oleh talent scout dari beberapa night club untuk menjadi hosstes di night club tersebut. Karena ada yang bilang bahwa Tina itu jago dansa dan senang pesta.
Tina marah sekali, talent scout itu diusir dari tempat kosnya. “Apa aku semurah itu,” kata Tina menangis menahan marah.
Tina tumbuh menjadi perempuan kota, namun dia menyadari benar maksud orang tua mengirimnya ke Jakarta. Dengan gaji pegawai negeri yang kecil dan hidup yang superhemat keluarganya dapat mengongkosi studinya di Jakarta. Tina adalah mahasiswa fakultas farmasi sebuah universitas di Jakarta. Sangat aktif baik di gerakan mahasiswa maupun di pemuda gereja. Otak dan kecantikan fisiknya seimbang.
Selesai kuliah Tina bekerja di perusahaan farmasi, sesuai dengan bidang studinya. Hidupnya makin baik. Apa yang diingini pasti diperoleh, apalagi dia ingin tampil beda.
Lama kami tidak berjumpa. Aku dengar Tina sudah menikah dengan orang Belanda. Mereka tinggal di Amerika.
Kami sekeluarga pun sudah pindah ke Belanda, karena suamiku yang orang Jawa, bukan Belanda, harus bekerja di negeri ini. Salah seorang teman yang juga tinggal di Belanda memberitahu bahwa Tina dan keluarganya sudah balik ke Belanda, karena suaminya sudah memasuki masa pensiun. Dan katanya dia ingin bertemu denganku.
Akhirnya diputuskan bahwa mereka yang akan datang ke rumahku. Aku begitu gembira menerima berita itu. Terbayang di pelupuk mata saat-saat yang indah waktu kami kuliah di Jakarta. Kami menikmati lezatnya bakmi pangsit restoran cina di pinggir rel Jalan Gondangdia Lama, atau asinan dan cendol (waktu itu) di Jalan Kebon Binatang depan Taman Ismail Marzuki (TIM) sebulan sekali, setelah menerima wesel. Begitu banyak kenangan manis muncul kembali dalam benakku.
Aku juga membayangkan bahwa Tina kini pasti makin cantik. Makin mapan hidupnya karena sekarang dia memeliki segala-galanya. Suami yang ganteng dan berkedudukan, anak-anak yang membanggakan.
Bayangan Buyar
Saat Tina memasuki rumahku, bayangan itu buyar. Siapakah sosok wanita kurus dan tua dengan rambut memutih itu? Pakaiannya pun kedodoran dengan warna yang asal jadi. Apa benar ini Tina? Tina yang dulu cantik, yang selalu tampil beda dari kami yang pas-pasan dalam segala hal?
Aku terkesima dan kemudian memeluknya. Aku tak dapat menahan air mata. Kami berpelukan erat sekali. Christina… Christina…
Dulu sebagai perempuan daerah Christina adalah sosok yang berani maju, tampil beda dan melawan arus. Kami berangan-angan mempunyai suami yang setia, ganteng, pintar dan menjanjikan masa depan baik dan hidup berkecukupan. Tina dan aku sering saling curhat.
Tina bercita-cita tinggal di Eropa atau Amerika. Kalau bisa, kata Tina, suaminya harus orang asing. Anak bukan masalah bagi perempuan cantik ini. Lain dengan aku yang ingin punya anak banyak.
Dan rupanya cita-cita Tina tercapai. Tina menikah dengan ekonom asal Belanda. Untuk mencapai cita-cita itu, sebuah perjalanan panjang dan melelahkan fisik dan psikis harus dijalani.
Kees adalah laki-laki Belanda pertama yang sangat dicintainya, Direktur dari salah sebuah perusahaan Belanda. Hubungan mereka sudah sangat serius. Sebelum menikah, Kees membawa Tina ke Belanda, dia ingin Tina mengetahui tata cara hidup (social life style) iklim di negaranya.
Tina tinggal tiga bulan di Belanda. Tetapi karena berbagai hal Tina memutuskan hubungannya dengan Kees, dan kembali ke Indonesia. Mereka tidak jadi kawin. “Aku sangat down waktu itu. Sampai-sampai aku memutuskan untuk tidak menikah,” ungkap Tina.
Aku, demikian Tina, sangat kecewa dan semangat hidupku seakan tidak ada lagi. Kees yang begitu aku cintai ternyata tidak dapat memenuhi janji-janjinya selama kami pacaran di Jakarta. Masa pacaran yang begitu indah ternyata tidak dapat kami lanjutkan dalam perkawinan yang sah.
Hubungan kedua insan yang berpendidikan, cukup materi dan penuh cinta kasih, ternyata semua itu bukan faktor untuk mewujudkan sebuah perkawinan. Masih begitu banyak faktor lain yang harus dipikirkan dan dipertimbangakan. “Aku mungkin terlalu rasional dalam memutuskan hal-hal yang emosial. Kees begitu baik, tetapi terkadang ada hal yang muncul tanpa disadarinya. Itu sangat menyakitkan aku,” Tina mencurahkan isi hatinya.
Waktu itu kumpul kebo belumlah popular, aku sudah menjalaninya. Aku jump off the queue. Aku berani melompati garis norma-norma kehidupan adat. Orang tuaku sangat religius. Aku tinggalkan mereka. Aku tinggalkan keindonesiaanku. Mana ada perempuan yang mau hidup coba-coba kawin. Itu semua aku jalani.
Setelah kepulanganku ke Jakarta, aku menutup diri terhadap laki-laki. Konsentrasiku hanya pada pekerjaan, sebagai farmakolog di perusahaan yang lama. Beberapa tahun kemudian aku bertemu dengan Paul. Direktur baru yang menggantikan kedudukan Kees.
Aku dan Paul mengulangi ceritera yang dulu pernah aku rangkai bersama Kees. Kami langsung menikah tanpa coba-coba. Setahun setelah itu lahir seorang putra, menyusul setahun lagi seorang putri. Kami menetap di Amerika. Karena Paul pensiun, maka kami sekeluarga memutuskan kembali ke Belanda. Demikian Tina.
Kami berdua terus berhubungan lewat telepon. Akulah yang selalu menghubungi Tina. Suami Tina sangat membatasi penggunaan telepon keluar. Kalau orang melihat penampilan suami dan anak-anakku, mereka tidak menyangka kalau suamiku adalah seorang yang punya posisi di perusahaan besar. Mobil kami yang mewah ini adalah milik perusahan yang diberikan kepada suamiku setelah pensiun. Kami sekeluarga hidup sangat sederhana.
Penyakit Sering Lupa
Aku hidup hampir 20 tahun dengan Paul. Dan inilah hasilnya sepasang anak dan tubuhku yang keropos. Selama berumah tangga aku tidak pernah bisa menyenangkan diriku sendiri. Apa yang aku punya semasa belum menikah tidak pernah lagi aku jumpai dalam kehidupanku bersama Paul.
Paul adalah manusia yang penuh perhitungan. Lihat saja pakaianku, pernah kau lihat aku pakai baju seperti ini. Dulu walaupun orang tua miskin, pakaianku selalu serasi.
Aku layaknya sebagai pembantu suami dan anak-anak. Mengurus mereka memasak, setrika, mengurus kebun, membersihkan rumah, itu perkerjaan setiap hari.
Sesaat setelah menikah aku ingin bercerai saja. Tetapi aku tidak mau dicemooh bahwa aku seorang perempuan yang gampangan. Asal bule, oke saja. Dan mau dipecundangi oleh laki-laki kulit putih. Padahal aku cukup berpendidikan, karirku bagus. Aku telah membohongi diriku sendiri. Aku bertahan dan akan terus bertahan sampai Tuhan mengambil aku.
Dia kemudian melanjutkan, aku tidak pernah diberi uang sekadar untuk memanjakan diriku. Alat make up yang aku pakai ini adalah yang paling murah di Belanda yang bisa di beli di toko Zeeman. Sepatu yang aku pakai ini dibeli ketika obral.
Saat ini Tina menderita penyakit sering lupa. Dia sudah memeriksakan dirinya ke dokter. Dan kini dalam perawatan seorang psikiater. Tina tidak pernah tampil sebagai Tina tetapi sebagai nyonya Paul, munafik, menutupi hidup yang sebenarnya. Karena dia selalu berobsesi menjadi isteri dan ibu yang ideal.
Pernah Tina berjanji akan ke rumahku yang baru. Aku sudah memberikan alamat dan nomor telepon yang baru. Rencananya dia akan tiba pukul 17.00 sore. Aku tunggu –tunggu Tina tidak muncul-muncul, dan dia tidak berusaha menelepon. Aku sedikit bingung dimana perempuan ini.
Pada pukul 20.00 telepon berdering. Ternyata dari Tina. ”Aduh sori, sori banget, aku jam tiga sore tadi sudah di stasiun kereta api Utrecht, tetapi alamat dan nomor teleponmu aku lupa bawa. Aku terpaksa pulang, sekarang aku sudah di rumah”.
Tina nervous, pelupa dan tidak pernah tenang. Jarak antara rumah Tina di kota Assen dan rumahku di Hilversum sekitar 154 kilometer atau sekitar 2,5 jam dengan mobil atau kereta api. Dan jam 3 sore dia sudah sampai di stasiun kereta api Utrecht yang jaraknya tinggal 15 kilometer dari Hilversum. Karena jiwanya yang tidak pernah tenang, Tina harus bolak balik Assen-Utrecht-Assen sekitar 280 kilometer sambil menenteng rantang yang berisi daging rendang untukku.