Puji Tuhan! Kebanyakan penumpang Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Citra Mandala Bahari, selamat dari musibah tenggelamnya kapal itu di Selat Pukuafu, perairan antara Pulau Timor dan Rote, Selasa (31/1) malam. Hanya kebesaran Tuhan jualah dan berkat kesigapan Tim SAR yang melakukan pencarian dan penyelamatan dengan kapal perang milik Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) Lantamal IX Kupang, sebanyak 110 penumpang kapal naas itu berhasil diselamatkan. KRI Pandrong berhasil mengevakuasi 50 penumpang dan KRI Tongkol menyelamatkan 60 orang.
Diperkirakan, sekitar 50 penumpang kapal belum diketahui nasibnya. Pasalnya tidak ada data pasti tentang penumpang kapal yang melayari Kupang-Rote pada Selasa (31/1) itu. Sesuai manifest, kapal itu memuat 124 penumpang, termasuk para ABK. Namun diduga ada penumpang yang tidak membeli tiket di loket resmi di darat sehingga tidak terdata dalam manifest kapal. Karena itu, Tim SAR akan terus melakukan pencarian.
Evakuasi korban dipimpin Asisten Intel (Asintel) Lantamal IX Kupang, Letkol Miskam. Proses pencarian sudah dimulai hari Selasa (31/1) pukul 23.00 Wita sampai Rabu (1/2) pukul 12. 30 Wita.
Setelah dievakuasi ke atas KRI, para korban langsung dibawa ke Pelabuhan Tenau-Kupang untuk dilarikan ke RSU Prof. Dr. WZ Johannes Kupang, RS Bhayangkara dan RS Wiraksakti untuk dirawat (lihat tabel). Kebanyakan korban mengalami mual, pusing, kelelahan dan trauma setelah berjuang melawan maut selama belasan jam di laut.
Kesigapan Tim SAR disaksikan Pos Kupang yang mengikuti pencarian dan proses evakuasi dengan KRI Pandrong sejak Selasa (31/1) malam sampai Rabu (1/2) pukul 12.30 Wita. KRI Pandrong yang dikomandani Letkol Laut (P) Rahmat Eko Rahardjo diperkuat 44 personel. Saat tidak terlihat tanda-tanda tenggelamnya kapal di laut pada Selasa malam, wajah seluruh kru KRI ini nampak murung. Semuanya gelisah.
Baru pada pukul 02.27 Wita dini hari Rabu (1/2), seorang penumpang kapal feri, Wadhi Adoe (24), ditemukan dalam kondisi hidup. Warga RT 22/RW 09, Kelurahan Naikoten 1 Kota Kupang itu nampak lemah dan kedinginan. Dia selamat berkat sekoci dan pelampung yang dikenakannya.
Ketika hari mulai terang, para korban kembali ditemukan. Umumnya, korban yang selamat mengggunakan sekoci kapal feri dan mengenakan pelampung. Ada juga yang bertahan dengan kepingan papan. Dengan sigapnya para anggota Tim SAR mengevakuasi para korban dan memberikan pertolongan pertama di atas kapal. Yang kedinginan diselimuti, yang resah dan kebingungan dikuatkan.
Sampai pukul 12.30 Wita, KRI Pandrong sudah mengevakuasi 50 penumpang, termasuk seorang bocah pria usia sekitar lima tahun yang belum diketahui siapa orangtuanya.
Sementara itu dari KRI Tongkol yang dikomandani Kapten Laut (P) Andri Kristian, sampai kemarin sudah mengevakuasi 60 orang dan seorang penumpang, Arnol P Thene ditemukan sudah tewas. Kini, para korban selamat sedang menjalani perawatan di tiga rumah sakit di Kota Kupang. (ris/alf)Isteri dan anak saya berteriak minta tolong saat kapal tenggelam. Suasana gelap karena lampu kapal sudah padam. Saya pegang tangan istri saya Linda Lete dan anak saya Grevans yang masih berumur tiga tahun. Kami duduk di dek II. Kami ke Rote karena istri saya yang ada hamil tujuh bulan mau melahirkan di rumah orangtuanya di sana.
Kisah para penumpang yang selamat
Wadhi Adoe ––
Saat tenggelam, saya tetap berusaha pegang tangan istri dan anak saya. Saya masih dengar mereka berteriak minta tolong kepada saya. Tapi saya tidak bisa buat apa-apa karena sudah dalam air. Akhirnya tangan anak saya dan isteri saya terlepas. Saya pasrah dan berusaha keluar dari dasar laut. Waktu itu hanya saya yang dapat pelampung, sedangkan istri dan anak saya tidak pakai apa-apa. Di atas permukaan laut saya berenang mengejar sebuah sekoci kapal sampai saya selamat.
Saya tidak tahu apakah istri dan anak saya selamat atau tidak. Saya hanya doa saja supaya mereka selamat, tapi… tidak tahulah, waktu itu gelombang besar sekali dan gelap. Saya dan istri saya sudah menikah empat tahun dan baru punya anak satu, Grevans itu. Saat ini istri saya sedang hamil. Di Kupang kami tinggal di RT 22/RW 09, Kelurahan Naikoten I.
Kalaupun istri dan anak saya mati, mudah-mudahan jenazah mereka ditemukan sehingga saya bisa lihat mereka sebelum dikubur. Memang, sebelum kami berangkat saya lihat istri saya mengemas semua pakaiannya dan pakaian anak kami ke dalam tas. Pakaian istri satu tas dan anak saya satu tas. Mungkin itu tandanya kami akan berpisah. Sebab, ketika akan berangkat keluarga sempat larang. Saya kehilangan segala-galanya. Pak tolong beritahu keluarga saya kalau mereka cari, bilang saya selamat. (ris)Saya tidak tahu berenang, meskipun saya pakai pelampung. Untung saya dapat sepotong papan dan saya bertahan dengan papan itu. Saya pasrah karena stres, panik sejak kapal miring kemudian tenggelam. Saya sudah menyerah, pasrah saja namun papan itu akhirnya bisa menyelamatkan saya dari maut.
Deby Mesakh ––
Saya ke Rote bersama teman saya Arni yang mau ikut tes CPNS di sana. Saya tinggal di Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah dan saya sudah PNS di Kantor Bupati Rote Ndao. Semua barang saya hanyut kini hanya pakaian di badan. Tidak apa-apa, yang penting saya selamat. (ris)
Dani Benu (24) ––
Sekitar pukul setengah delapan malam, laut gelap dan gelombang besar menghantam kapal dari sebelah kanan. Kapal langsung miring ke kiri. Semua kendaraan yang ada di dek bawah bergeser ke kiri. Semua penumpang diminta pindah ke kanan untuk menjaga keseimbangan kapal agar tidak tenggelam. Saat kami semua pindah ke bagian kiri kapal itu, air laut sudah masuk ke kapal. Mobil-mobil yang ada di dalam kapal terbalik ke kiri kapal. Para penumpang panik dan kami semua berebutan pelampung untuk menyelamatkan diri. Saya dapat satu pelampung dan saya pakai.
Dalam suasana itu, lampu kapal padam sehingga membuat penumpang bertambah takut. Penumpang mulai cari selamat sendiri-sendiri. Sebab kapal terus miring ke kiri dan kami semua tenggelam bersama kapal. Waktu itu sekitar jam delapan lewat sepuluh menit.
Saya berusaha berenang ke permukaan air laut. Sampai di atas permukaan air laut, saya terus berenang. Sekitar 200 meter dari saya, saya lihat ada sekoci kapal. Saya berusaha berenang mendekati sekoci itu dan di atasnya sudah ada beberapa orang. Kami bertahan di sekoci sampai ditemukan oleh kapal Angkatan Laut. Saya tinggal di Labat (Kelurahan Bakunase-Kota Kupang, Red), mau ke Rote cari kerja. (ris)Kejadiannya sangat singkat. Begitu lampu mati, kapal langsung terbalik. Terbalik begitu saja, tidak oleng lagi. Kami kaget sekali. Memang, waktu kapal belum terbalik, penumpang sudah dibagikan pelampung. Tetapi menurut saya, itu biasa. Tetapi tiba-tiba terbalik begitu saja. Bukan oleng ke kiri dan ke kanan dan karena berat kemudian terus terbalik, tetapi kejadiannya terbalik begitu saja.
Deri Soru (25) ––
Deri Soru sudah dirawat di RSU Kupang. Dia berasal dari Rote Ti’i. Saya penjual bawang di Pasar Kasih-Naikoten. Saya pergi ke Rote mau mengikuti acara penguburan keluarga saya di Rote Tii di Kecamatan Rote Barat Daya. (mar)Saya pulang ke Rote karena saya tianggal di sana. Waktu kapal jalan dari pelabuhan Tenau sekitar jam empat sore, masih agak tenang. Tetapi ketika masuk di Lolok (Selat Pukuafu), ombak mulai besar dan air mulai masuk kapal. Saya ingat, lampu sempat mati tapi menyala lagi. Tiba-tiba gelombang besar pukul kapal dari kanan. Dua truk langsung terbalik ke kiri dan kapal langsung miring ke kiri. Kita langsung di suruh berdiri di sebelah kanan kapal dan langsung dibagikan pelampung. Tapi kapal terus miring. Mesin kapal mati dan lampu juga mati. Kapal mulai tenggelam dengan posisi terbalik ke kiri. Jadi kita baku rampas lompat ikut sebelah kanan kapal. Rasa-rasanya cepat sekali kapal itu tenggelam dan kita sepertinya tiba-tiba saja sudah di laut. Kita terapung dari malam sampai pagi, sampai sekitar jam 09.00 Wita baru ada kapal perang yang datang untuk tolong kita. (alf)Warga RSS Lilia-Staf Dinas Perikanan Rote Ndao) –– Kejadian kapal tenggelam rasanya cepat sekali. Kita tidak siap. Memang waktu kapal keluar dari pelabuhan, laut agak bergelombang tetapi kapal jalan mulus. Tetapi situasi waktu kapal memasuki Selat Pukuafu, mulai goyang. Sampai ada ombak menghantam bagian kanan kapal sampai kapal miring. Waktu kapal miring ini, suasana semakin kacau, apalagi lampu sempat mati. Kita dibagikan pelampung, tetapi kapal terus miring sampai tenggelam. Saya lompat ke laut dengan pelampung. Tetapi di laut gelap dan gelombang besar, jadi kita tidak tahu mau ke mana. Waktu hari sudah terang, baru kita lihat pulau. Tapi kita sudah capek untuk berenang sampai ada kapal yang datang. Saya punya badan sakit semua, seperti mau terlepas semua. Barang-barang saya hilang semua. (alf) Saya sama sekali tidak ada firasat apa-apa. Hanya mobil saya tidak diizinkan naik ke kapal. Jadi mobil saya dibawa kembali oleh keluarga saya. Sementara saya dan istri saya tetap dengan kapal ini. Ada teman yang peringatkan saya agar tidak usah naik kapal dulu karena gelombang besar, tetapi saya pikir biasa saja sampai kejadian ini.
Mathias Tulasik (Warga Kota Ba’a-Rote) ––
David Ndolu (31,
Benny Mulik (39, Warga Oebufu-Kupang) ––
Saya ingat, suasana kapal saat-saat mau tenggelam itu memang panik. Orang berteriak histeris dan minta tolong. Kita semua berupaya selamatkan diri. ABK juga kelihatan panik sampai saya menendang pintu lemari yang berisi pelampung, baru semua penumpang berebutan mengambil pelampung itu. Saat di laut barulah kita ditolong oleh kapal TNI AL tadi itu. (alf) terus bergelayut di angkasa Selat Pukuafu pada hari Selasa (31/1) malam. Laut yang membagi daratan Timor dan Pulau Rote itu sedang bergelora. Gelombang tinggi dan memanjang menggulung ditingkahi tiupan angin kencang. KRI Pandrong terus menyisiri perairan itu mencari penumpang KMP Citra Mandala Bahari yang tenggelam di selat itu.
Bocah itu…
MENDUNG
Setelah sepanjang malam tidak menemukan apa-apa, pada keesokan harinya, Rabu (1/2) pukul 11.00 Wita, Tim SAR yang berada di atas KRI Pandrong melihat sebuah pelampung yang ditumpangi beberapa orang sedang dipermainkan gelombang.
Mujizat telah terjadi. Ada seorang bocah laki-laki, usia sekitar lima tahun, yang entah dengan cara bagaimana bisa berada dalam sekoci kapal yang terapung. Empat pria dewasa yang sudah lebih dahulu ada dalam sekoci itu, tidak mengetahui bagaimana sampai bocah itu berada dalam sekoci bersama-sama dengan mereka. Sekoci itulah yang sedang didekati KRI Pandrong.
Bocah itu berkulit putih, rambut lurus terurai dengan tinggi badan sekitar 120cm. Dia nampak loyo. Matanya cekung dan wajahnya pucat pasi. Ia terus menggigil kedinginan. Bocah ini diam seribu bahasa, tidak menyahut sepatah kata pun saat ditanya tentang siapa namanya dan siapa orangtuanya.
Empat pria dewasa yang bersama bocah ini dalam satu sekoci, menduga, pada saat kapal tenggelam bocah ini terlepas dari pegangan ayah atau ibunya. "Entah bagaimana caranya hingga anak ini naik ke atas sekoci, kami sendiri tidak mengetahui. Kami berempat sedang menunduk karena kedinginan. Tiba-tiba saja, di tengah sekoci yang kami tumpangi itu ada seorang anak laki-laki. Kemungkinan dia dihantam gelombang kemudian terlempar masuk ke sekoci. Tapi bagaimana itu terjadi kami tidak tahu. Ini mujizat Tuhan. Kami langsung melindungi bocah ini hingga mendapat pertolongan dari Tim SAR," tutur pria yang bersama-sama si bocah, saat ditemui di atas geladak KRI Pandrong, Rabu (1/2) siang.
As Intel Lantamal IX Kupang, Letkol Miskam, Komandan Tim SAR yang memimpin proses evakuasi itu, langsung menggendong bocah itu.
Nampak bingung dan trauma atas kejadian yang menimpanya, bocah itu nampak diam saja dalam pelukan Letkol Miskam. Tidak menangis, tidak juga menanyakan dimana ayah, ibu, kakak atau mungkin kerabatnya yang membawanya berlayar hingga akhirnya tenggelam itu.
Kini, bocah malang ini berada di tangan Tim SAR. Untuk memulihkan kesehatannya, bocah ini dilarikan ke RSU Prof. Dr. WZ Johannes-Kupang. Adakah keluarga yang mengenal si bocah ini? Di manakah ayah dan ibunya? Kiranya, Tuhan mempertemukan bocah ini dengan kedua orangtuanya.
***
WAJAH
Yakob Soru (30) nampak sendu. Pandangannya kosong setelah kelelahan bertahan hidup sekitar 12 jam di Selat Pukuafu. Si bungsu, David Soru (3) yang selamat bersamanya dalam musibah itu, nampak manja di pelukan ibunya, Ny. Yakob Soru. Beberapa sanak keluarga melihat kondisi ayah-anak itu langsung menangis histeris. Mereka menciumi Yakob, istrinya dan David.
Kepada Pos Kupang, Yakob Soru mengaku tidak pernah menyangka mendapat musibah ini. Yakob menuturkan, ia bersama dua orang anaknya David dan Adi hendak menuju Rote untuk urusan keluarga. Sedangkan istrinya tidak ikut. Kapal berlayar normal usai lepas jangkar dari Bolok. Namun setelah lebih dari tiga jam berlayar, kapal mulai oleng dihantam gelombang besar. "Kejadiannya sangat cepat sekali. Saat kapal mulai dihantam gelombang, tiba-tiba ada gelombang besar menghantam dari arah kanan badan kapal. Sehingga kapal miring ke kiri," tutur Yakob.
Saat itu, dua truk terbalik ke sisi kiri dek kapal sehingga kapal langsung miring tajam ke kiri. "Saat itu suasana sudah kacau, ABK mulai membagikan pelampung. Air juga sudah mulai memasuki bagian lambung kapal. Karena berat kapal miring ke kiri, jadi ABK menyuruh semua penumpang ke bagian kanan kapal," terangnya.
"Saat itu saya juga langsung mengambil tiga pelampung, satu untuk saya, satu untuk Adi dan satu lagi untuk David. Jadi kita bertiga masing-masing satu pelampung. Tetapi belum bisa meninggalkan kapal karena ada permintaan agar menunggu aba-aba," katanya.
Yakob menuturkan, sebelum ada aba-aba, mesin kapal dan lampu kapal padam. Kapal terus miring ke kiri dan mulai tenggelam. "Saat itu belum ada aba-aba dari ABK tetapi semua penumpang sudah berebutan keluar dari kapal dengan melompat dari sisi kanan. Saya memegang dua anak saya di kiri dan di kanan. Tapi, waktu siap melompat, ada orang yang menabrak tangan saya jadi Adi yang ada di kiri saya terlepas," jelasnya.
Karena malam gelap dan gelombang besar jadi Adih terpisah dan menghilang di tengah kegelapan malam. "Sejak saat ini, saya tidak lihat anak saya lagi. Anak saya hilang. Mudah-mudahan dia selamat," ujar Yakob getir