Istri Temon ‘Indo’!
"TEMON pulang kampung bawa istri wanita indo!" ujar Temin.
"Masak? Ayo ke rumahnya!" sambut Teman. Sekembali dari rumah Temon, ia menukas, "Indo dari mana? Seperti bibik-bibik!"
"Indo…nesia!" jawab Temin ngakak. "Otakmu terkontaminasi sinetron yang menonjolkan primadona indo berdarah campuran bule! Akibatnya, setiap mendengar indo langsung membayangkan wanita atau pria berdarah campuran bule! Padahal, indo yang standar universal itu justru Indonesia dan Indocina!"
"Para produser dan sutradara sinetron itu tak sendiri!" sambut Teman. "Penonjolan indo bule untuk mencitrakan keindonesiaan pria atau wanita dalam sinetron itu cuma salah satu aspek westernisasi versi kebule-bulean dalam ragam dimensi kehidupan bangsa kita! Mulai cara berpakaian para eksekutif dan politisi, pemikiran dalam ragam pengetahuan sampai sistem ekonomi pasar liberal yang efektif di masyarakat, semua kebule-bulean! Malah nyaris dalam semua produk yang kita pakai sehari-hari, dari arloji, komputer sampai mobil, dibuat dengan campuran komponen impor! Dan jujur saja, semua itu kita usung sebagai kebanggaan Indonesia!"
"Kalau itu alasanmu, susah mendebatnya!" ujar Temin. "Mungkin karena 350 tahun kita dijajah Belanda! Dulu pribumi yang maju gaya hidupnya kebelanda-belandaan, kini kebule-bulean! Makin banyak warga yang maju, kian dominan gaya kebule-bulean, bahkan menjurus sebagai budaya alternatif!"
"Gejala gaya hidup demikian sebagai budaya alternatif bisa lebih mapan lagi ke generasi selanjutnya!" timpal Teman. "Sebab, kalau dulu gaya kebelandaan cuma merasuki kalangan demang ke atas dengan kawalan serdadu di pusat-pusat kekuasaan, kini lewat layar televisi dengan program Hollywood dan acara Barat lain, pengaruh gaya hidup itu menyelinap ke dalam rumah kita, membentuk alam pikir dan cita rasa anak-anak kita!"
"Juga secara sistematis negara memfasilitasi pengaitan gerbong bangsa kita ke lokomotif liberalisasi perdagangan dunia, yang di balik setiap unsurnya, mengandung latar belakang ideologi tertentu!" tegas Temin. "Salah satu ideologinya, yang sekarang juga sudah terasa pengaruhnya di tengah masyarakat, adalah hedonisme–kecintaan pada barang-barang mewah melebihi kecintaan terhadap sesama manusia sendiri!"
"Malah demi mendapatkan barang-barang mewah itu, rela mengorbankan sesama manusia!" timpal Teman. "Gejala itulah yang akan terus menguat dalam masyarakat kita! Parahnya, hal itu bukan hanya dalam wujud pemilikan barang konsumtif yang melebihi kebutuhan, tapi juga keinginan secara fisik menjadi bule! Cewek-cewek berkulit hitam manis berebut ragam pemutih kulit!"
"Semua itu sah-sah saja sebagai lambang kesejahteraan bersama!" tegas Temin. "Tapi, malangnya, hedonisme dicapai lewat korupsi dan cara lain yang mengorbankan sesama! Sebab, liberalisme itu sendiri adalah ideologi survival ot the fittest, hanya yang terkuat berhak hidup, sehingga yang terjadi selalu homo homini lupus–saling memangsa di antara sesamanya!" ***
on September 23rd, 2006 at 4:02 am
hallo aku mo ikutan coment ya Wah bener itu Mas…aku setuju, aneh ya…contohnya aja nih masalah ajang2 kompetisi yang membawa nama bangsa. Kenapa ya adik2 kita ynag berprestasi yang ikut di ajang2 kompetisi ilmiah international itu ga di ekspose ya seperti Olimpiade matematika, fisika dll. Lha ini malah ajang2 pegeon2 yang nota bene bikin malu bangsa aja karena yang dikirim ga qualified.