Teman-teman…..hari minggu kemarin saya main ke rumah Opa di ujung gang, ehhhhh diceritain ini nih :
Cerita 1
Seorang Katolik menulis surat kepeda Editir sebuah surat kabar dan mengeluh kepada para pembaca bahwa dia merasa sia-sia pergi ke Gereja setiap hari Minggu.
Dia menulis : " saya sudah pergi ke gereja selama 30 tahun dan selama itu saya telah mendengar 3456 khotbah. Tapi… selama hidup, saya tidak bisa mengingat sati khotbahpun. Jadi saya rasa saya telah memboroskan begitu banyak waktu, begitu juga dengan para pastor, mereka juga telah memboroskan waktu mereka dengan Khotbah - khotbah tersebut " .
Sutar itu menimbulkan perdebatan yang cukup hebat dalan kolom pembaca dan berlangsung cukup lama, sampai akhirnya ada seseorang yang menanggapi demikian : " saya sudah menikah selama 30 tahun. Selama ini saya telah istri saya telah memasak 32.123 jenis masakan. Selama pernikahan saya ini saya tidak bisa mengingat satupun jenis masakan ang dimasak oleh istri saya. Tapi….saya tahu bahwa masakan-masakan itu telah memberi kekuatan yang saya perlukan untuk kehidupan sehari-hari saya. seandainya istri saya tidak memberikan makanan itu kepada saya, maka….saya sudah lama meninggal "
Cerita 2
Nenek Granny sedang menyambut cucu-cucunya pulang dari sekolah. Mereka adalah anak-anak muda yang sangat cerdas dan sering menggoda nenek mereka. Kali ini, Tom mulai menggoda dia denga berkata : " nek, apakah nenek masih pergi ke Gereja tiap hari Minggu ?" " tentu ! " " Apa yang nenek peroleh dari Gereja? apakah nenek bisa memberitahu kami tentang Injil minggulalu? " " tidak sayang, nenek sudah lupa. Nenek hanya ingat bahwa nenek menyukainya. "
" Lalu apa khotbah dari Pastor? " " nenek tidak ingat. Nenek kan sudah semakin tua dan ingatan nenek makin melemah dari hari ke hari. nenek hanya ingat bahwa ia telah memberi khotbah yang memberi kekuatan, Nenek menyukai Khotbah itu "
Tom masih terusmenggoda, " Apa untungnya dong nenek ke Gereja jika nenek tidak mendapatkan sesuatu dariNYA ? " Nenek itu terdiam oleh kata-kata itu dan ia duduk sesaat termenung. Anak-anak lain tampak menjadi malu dan sedikit kesal terhadap Tom. Tiba-tiba nenek itu berdiri dan keluar dari ruangan tempat mereka duduk, sambil berkata " anak-anak…ayo ikut nenek ke dapur "
Ketika tiba di dapur, ia mengambil tas rajutan dan memberinya kepada tom sambil berkata : " bawalah ini ke mata air, dan isilah dengan air, lalu bawa kemari ! "
" Nenek..apa nenek tidak sedang melucu? air di dalam tas rajitan…! Nek…yang bener aja ahhh " tanya Tom setengah geli, memikirkan Neneknya sudah pikun, menyuruhnya melakukan sesuatu yang tak mungkin. " Tidak Tom….lakukanlah seperti yang kukatakan. Nenek hanya ingin memperlihatkan kepadamu sesuatu "
Maka Tom pun berlari ke luar dan dalam beberapa menit kemudian ia telah kembali dengan tas yang meneteskan air. " lihat nih Nek " katanya " tidak ada air di dalamnya kan? " " benar " kata Nenek, " tapi…lihatlah, betapa bersihnya tas itu sekarang. Anak-anak, tidak pernah kamu ke gereka tanpa mendapatkan sesuatu, meskipun kamu tidak menyadari itu dan tidak mengetahuinya "
Cerita 3
Suatu ketika, ada seorang pria yang menganggap Natal sebagai sebuah Takhayul belaka!.Dia bukanlah orang yang kikir. Dia adalah pria yang baik hati dan tulus, setia kepada keluarganya dan bersih kelakuannya terhadap orang lain.Tapi…dia tidak percaya pada kelahiran Yesus christus yang diceritakan pada hari Natal. Dia sungguh-sungguh tidak percaya. " saya benar-benar minta maaf jika saya membuatmu sedih " kata pria itu kepada istrinya yang rajin pergi ke Gereja. " Tapi….saya tidak dapat mengerti menagapa Tuhan mau menjadi manusia? itu adalah hal yang tidak masuk akal bagi saya "
Pada suatu malam Natal, istri dan anak-anaknya pergi menghadiri kebaktian tengah malam di gereja. pria itu menolak untuk menemani mereka. " saya tidak mau menjadi munafik " katanya. " lebig baik saya tinggal di rumah. Saya akan menunggu sampai kalian pulang ".
Tak lama setelah keluarganya berangkat, salju mulai turun. Ia melihat ke luar jendela dan melihat butiran-butiran salju itu berjatuhan. Kemudian ia kembali ke kursinya disamping perapian dan mulai membaca surat kabar. Beberapa menit kemudian, ia dikejutkan oleh suara ketukan. Bunyi itu terulang 3 kali. Ia berfikir seseorang pasti sedang melemparkan bola salju ke arah jendela rumahnya. Ketika ia pergi ke pintu masuk untuk mengeceknya, ia menemukan sekumpulan burung terbaring tak berdaya di salji yang dingin. Mereka telah terjebak dalam badai salju dan menabrak kaca jendela ketika hendak mencari tempat berteduh.
Saya tidak dapat membiarkan makhluk kecil itu kedinginan disini, pikir Pria itu. Tapi…bagaimana saya bisa menolong mereka? kemudian ia teringat akan kandang pony anak-anaknya. Kandang itu pasti dapat memberikan tempat perlindungan yang hangat, pikirnya. Dengan segera ia mengambil jacketnya dan pergi ke kandang, ia membuka pimtu lebar-lebar dan menyalakan lampunya. tetapi burung-burung tidak masuk ke dalam kandang. Makanan..pasti makanan dapat menuntun mereka masuk, pikirnya. Jadi ia berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil remah-remah roti dan menebarnya di salju untuk membuat jejak ke arah kandang. Tapi..ia sungguh terkejut. Burung-burung itu tidak menghiraukan remah roti tadi dan terus melompat-lompat kedinginan diatas salju.
Pria itu mencoba menggring mereka seperti anjing menggiring domba, tetapi justru burung-burung itu berpencaran kesana kemari, malah menjauhi kandang yang hangat itu. " Mereka mengganggap saya sebagai mahluk yang aneh dan menakutkan ", kata pria itu pada dirinya sendiri. " dan saya tidak dapat memikirkan cara lain untunk memberitahu mereka bahwa mereka dapat mempercayai saya. Kalau saja saya dapat menjadi seekor burung beberapa menit saja , mungkin saya dapat membawa mereka pada tempat yang aman "
Pada saat itu juga, lonceng gereja berbunyi. Pria itu berdiri tertegun selama beberapa waktu , mendengarkan lonceng itu menyambut Natal yang indah^. kemudian ia terjatuh pada lututnya dan berkata, " sekarang saya mengerti " bisiknya dengan terisak. " sekarang saya mengerti mengapa KAU mau menjadi manusia "
Teman-teman…..sering kita mengalami kejenuhan untuk pergi ke Gereja dan meresa tak ada gunanya, semoga cerita2 diatas bisa lebih meneguhkan kita akan pentingnya ke Gereja.
salam,