Bae sonde Bae

October 28th, 2006

Summertime - Wintertime

Posted by flobamora in Netherlands

Kemarin hari Sabtu beda waktu Belanda dengan Indonesia-Jakarta masih 5 jam, sekarang mulai hari 29 Oktober bedanya sudah jadi 6 jam. Kita di Belanda dan di Eropa berubah lonceng2, kita berubah dari jam 3 pagi ke 2 pagi, jadi kita bisa tambah tidur 1 jam ekstra.

Forward? or Backward?
How you adjust your clocks for Daylight and Standard Time in many places:

Klok1

Spring forward, Fall back

or

Spring ahead, Fall back

or

Spring forward, Fall backward

Klok4


Zomertijd en Wintertijd

Gaat de klok vooruit of achteruit?

Klok5

1)
" Voorjaar Vooruit ":   In het voorjaar gaat de klok vooruit.

2)
In de lente zijn we allemaal weer wat vrolijker na een lange winter, en kunnen we wel met
een uur minder slaap toe, dat deert ons niet zo.
Tegen de winter, als alles weer wat somberder wordt, gaan we de winterslaap in, en kunnen we in die ene nacht lekker een
uurtje langer blijven liggen.

3)
Gaat het uur vooruit of achteruit?
Nou:

In de Lente wordt het Later.

4)
De klok volgt het weer:
Gaat het weer (zomer) vooruit, dan gaat de klok ook vooruit.
Gaat het weer (winter) achteruit, dan de klok
dus ook.

5)
Wintertijd :wint er tijd
mee!
Je kan makkelijk onthouden of de klok vooruit of achteruit moet . Als het in het voorjaar is (zomertijd) dan gaat de klok een uur vooruit (voorjaar). In het najaar (wintertijd) kan je het onthouden door je wint er tijd mee (wintertijd).

Klok2

Winter- und Sommerzeit

Klok3

Wer sich die Sache mit Winter- und Sommerzeit absolut nicht merken kann:

1)

Im Frühjahr holt man die Gartenmöbel hervor ; im Herbst trägt man sie wieder zurück!
2)

Im Straßencafe:
Im Frühling stellt man die Stühle vor das Haus und im Winter stellt man sie wieder zurück ins Haus.

3)

Im Frühling (engl. spring) springt der Stundenzeiger nach vorne. Im Herbst (engl. fall) fällt er wieder zurück. Spring forward, Fall back (Spring nach vorne, fall nach hinten)

October 26th, 2006

Nostalgia Flobamora (7)

Posted by flobamora in Nusa Tenggara Timur

Kemudian ayah menggali sebidang tanah lereng, meratakannya dan membangun sebuah gubuk. Maka kami lega memiliki rumah sendiri, tanpa menumpang di rumah orang. Semuanya dibuat oleh tangan ayah. Aku ingat, ia juga membuat sebuah kursi malas lalu duduklah dia sambil makan sirih.

Cerbung01_5
Kemudian ayah menghilang lagi. Aku dengar cerita ibu tentang pekerjaan ayah. Pekerjaan baru. Ayah tidak lagi menjadi Hoofd Mantri. Ayah mengikuti Tuan Lauwoie, seorang pembela perkara. Ada kasus yang diserahkan kepada ayah untuk dibela.
Aku masih ingat, uang yang ditinggalkan ayah terbatas sehingga pada suatu malam ibu memanggil adikku dan aku untuk makan malam. Di sebuah dulang tersedia beberapa potong kue bendera dan teh manis. Kami mengunyah kue itu lalu minum teh manis dan tidur lelap karena lelah bermain sehari suntuk.
Sungguh, sebuah kenangan yang halus mengiris jiwaku.
Sebelum meninggalkan Bajawa, aku dan adikku pernah mengikuti ibuku ke rumah paman kami, komandan tangsi polisi di Bajawa. Rumah itu bersebelahan dengan rumah klerk. Kami berdua tidak tahu apa pasal ibu berkelahi dengan iparnya. Ibu hanya mengatakan bahwa perempuan itu tidak tahu diri. Saudara ibu yang memberi makan dia tetapi dia menyusahkan ibu dan kami semua. Di kota pantai Endeh barulah aku mengetahui bahwa ayahku dipecat karena affairnya dengan seorang ‘Monica Lewinsky Jawa’ yang muda dan manis bernama Maria. Tante Maria tidak punya anak karena suaminya (seorang polisi) tidak berfungsi (mandul).
Sang suami tidak ‘berbunyi’, tidak peduli pada perbuatan istrinya tetapi yang paling cerewet adalah istri kepala polisi yang adalah ipar dari ibuku. Ipar perempuan ibuku itu melaporkan pada atasan ayahku sehingga ayahku dipecat. Itulah yang membuat ibuku marah lalu berantem dengan iparnya itu. Ibu menggigit pipinya lalu keluar dari rumahnya. Aku dan adikku menjemput ibu, berjalan di kiri dan kanan ibu yang menggerutu terus bahwa ia dibikin susah oleh wanita kaltedis (mandul) yang diberi makan oleh saudaranya.
Hidup berubah cepat. Dari anak pegawai menjadi anak pembela perkara amatiran. Namun setiap hari kami bisa makan. Hanya satu kali itu, ingatku bahwa kami tidur malam setelah mengunyah cuma kue bendera.
Di Endeh, aku dimasukkan ke sekolah Protestan. Hanya satu kelas terdiri dari beberapa anak. Di sini tidak pernah aku belajar berhitung dan membaca. Seingatku tidak pernah. Aku hanya ingat Pak Pendeta (ayah Laksamana Samuel Muda, pahlawan Laut Aru) semacam tangga di papan tulis dan di setiap anak tangga ditaruh angka 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7. Lalu ia memberi contoh suara (nada), do, re, mi, fa, sol, la, si. Selebihnya aku tak ingat ketika bersekolah di kelas satu di gereja Protestan yang kecil di Endeh.
Yang paling aku ingat adalah kegemaranku membeli ubi jalar yang berwarna putih di pasar Endeh dengan uang sen-senan. Lalu membawa pulang dan menggorengnya. Pada hari Natal, ibu mengiris daun pandan dan mencampurnya dengan beberapa jenis kembang, terutama mawar, lalu menyuruh kami mandi dan berpakaian bersih, kemudian membawa kami ke jembatan laut di Endeh, dan menaburkannya ke laut. Ibu berkata, bunga rampai itu dikirim kepada nenek, kepada paman dan sebagainya. Lalu kami bertiga ke jembatan laut menghamburkannya ke laut. Peristiwa itu sangat mengesankan aku. Terasa sangat indah. Terasa bunga itu akan sampai ke suatu tempat rahasia tempat Mama Be’a (Nenek) dan Papa Be’a (kakek) dan sanak saudara bermukim. Ibu telah mengajarkan aku tentang bahasa kerja menanami kebun dan simbol-simbol cinta kasih kepada yang berada di seberang sana, di dalam dan dibalik kehidupan nyata dan fana ini.
***
Tiba-tiba saja, kami bertiga, ibu, aku dan adikku Matilda telah berada di atas sebuah kapal yang berlayar dari Endeh menuju Rote dan Kupang. Aku ingat betul, di kapal kami makan nasi dan ikan asin goreng sepuas-puasnya. Sehabis makan, masih ada tersisa banyak ikan dan nasi. Ibu tidak membuangnya. Aku mengikuti ibu ke atas dek dan membawa nasi itu lalu dijemurnya. Itulah yang kuingat, bagaimana seorang ibu diterpa tekanan hidup, menjaga baik-baik nasi pemberian Tuhan. Seterusnya entah jadi apa nasi itu, aku tak ingat lagi. Aku hanya ingat bahwa kami turun di pelabuhan Ba’a dan menginap di rumah seorang sanak yang aku tak ingat siapa namanya.
Tiba-tiba muncul abangku tertua, Benyamin J. Messakh. Dia datang dari desa Oetefu dengan kuda. Aku dibonceng ke rumahnya. Di tengah jalan aku melihat pohon kesambi sedang berbuah lebat. Abangku memetik beberapa buah dan menyorong kepadaku. Aku tak ingat apakah aku dibonceng di belakangnya atau didepannya. Tiba di Oetefu aku disambut oleh kakak perempuan nomor dua, Mariana dan langsung diberi makan dan mengunjungi beberapa sanak di rumah adat di belakang rumah utama. Beberapa tanteku menyambut aku dengan ciuman sedang yang satu lagi yang dipanggil Te’o Pokek (Tante Buta) meraba-raba aku mulai dari kaki sampai ke kepala. Kemudian aku dibawa ke rumah utama sebuah rumah panggung dan diberi uang logam beberapa keping lalu membiarkan aku tidur siang di sebuah ranjang berseprei putih dan berkelambu. Aku sendiri yang tidur di rumah itu. Kamar-kamarnya kosong.

Ayah Usi Mariana mungkin saja tinggal di rumah istrinya di luar halaman istana mantan raja yang disebu Mba’adulek. Di halaman yang sekelilingnya berpagar batu itu ada tiga buah rumah. Sebuah rumah cukup besar menurut pandangan seorang anak, berlantai tanah putih.
Begitu bangun sore, aku sendirian di rumah panggung itu. Kakak Usi, Susi Mariana entah di mana. Aku berdiri di beranda depan memandang pohon kelapa dan lontar. Bunyi burung tekukur dan udara panas sore hari membuat aku rindu pada ibu. Maka kerinduan itu membuat aku menangis sendiri, sambil memanggil-manggil, "mama… mama…” Mama tak menjawab, mama tidak muncul-muncul walaupun abang sulungku telah berkuda ke Ba’a yang jaraknya dua puluh lima kilometer.
Tiba-tiba terpikir atau teringat, kata guru Sekolah Minggu, bahwa apa yang kita minta dari Tuhan maka Tuhan akan memenuhi permintaan kita. Aku pun menutup mata dan berdoa kepad Tuhan. "Tuhan, saya minta mama saya cepat datang. Saya kesepian. Tuhan, saya minta kalau saya membuka mata maka mama saya sudah ada di depan saya,” begitulah doaku. Sungguh lucu. Sia-sia. Naif. Begitu aku membuka mata ibu tiada.
Akan tetapi aku sama sekali tidak mengomeli Tuhan. Aku bergerak entah ke mana, lupa, tidak teringat oleh khazanah kenangan masa kecilku. Terlalu banyak detik dan jam yang kulupakan. Aku hanya ingat, tiba-tiba saja ibuku dan adikku datang dibawa oleh abangku dan oleh Tuhan. Aku ingat, kami bertiga ditempatkan di rumah besar di samping kiri rumah utama di kamar depan yang berdinding setengah sehingga pandangan ke halaman tidak terhalang.
Di malam hari dari balik kelambu aku melihat ada manea menjaga kami. Manea adalah petugas sukarela yang bergiliran menjaga di rumah raja. Selain menjaga siang malam, tugas serabutan dilakukannya. Ibu meninggalkan kami bermain di halaman.
Kami diberi makan nasi dan daging penyu yang dibawa dari Pulau Ndana milik rakyat dan Raja Ti, pulau kosong manusia kecuali roh atau arwah rakyat Ndana yang dibunuh orang Ti, kambing liar, rusa dan burung serta penyu yang selalu datang ke pantainya untuk bertelur. Abangku hampir setiap hari berlatih pencak silat di salah satu kamar di rumah besar itu, rumah yang dikelilingi beberapa kulit lola raksasa yang konon diambil dari pantai dan laut selatan Rote.
Tidak lama kemudian kami pindah ke Oekahendak, sebuah dusun kecil yang terdiri dari tiga buah rumah dan sebuah mata air kecil. Di sana aku dan adikku bergabung dengan kedua kakak kami, Dina dan Min kecil yang tinggal bersama Papa To’o kami (saudara ibu) dan Te’o Fia kakak perempuan ibu yang tidak kawin.
Seorang kakak perempuan ibu kawin dengan seorang dari keturunan raja Ridana, dari fam (marga) Nunuhitu. Salah satu anak perempuannya yang kami panggil Susi Be’i, kawin dengan Ali Bajiher dan beranak pinak di Ba’a. Hanya Papa To’o (paman) kami yang banyak punya anak sehingga dusun kecil itu tidak terlalu sepi karena memiliki laki-laki yang bisa menyadap lontar dan tati tine (memotong semak belukar di kebun berkarang) dan mengolah sawah yang airnya diperoleh dari Danau Tua dan dari sebuah mata air kecil di Oekahendak itu.
Aku masih ingat wajah Papa To’o, pamanku. Kulitnya kuning seperti ibuku. Badannya kekar. Wajahnya ganteng seperti wajah Hemingway. Ia sangat eksentrik. Sangat eksentrik bagi penduduk sekitarnya karena ia suka memaki dengan bahasa jorok.
Aku sayang betul pada Papa To’o pamanku. Ia suka tertawa keras memperlihatkan giginya yang bagus. Paling kurang senyumnya yang ramah. Pakaiannya celana pendek dan baju tangan pendek. Ia tidak memakai sepatu atau sandal. Aku ingat sekali pada Te’o Fia, tanteku yang tidak banyak bicara tetapi selalu sibuk, menumbuk padi, memberi makan ternak dan sibuk di sawah dan ladang.
Kakak perempuanku membantu Te’o Fia mengambil air ke mata air. Abangku Benyamin (Min Kecil) tak pernah diam. Hampir tiap hari ia pulang membawa tekukur, burung pipit dan udang kecil. Aku sibuk membakar burung-burung itu untuk dimakan. Abangku Benyamin adalah tarsan kecil, spartan. Dia pelempar tepat.
Jika mau makan daging tekukur yang merupakan wabah bagi tanaman padi dan kacang ijo. Min Kecil tinggal memungut batu dan melemparkan ke kerumunan tekukur itu. Lemparannya sangat kuat. Batu yang meluncur sampai berbunyi, mendesing membelah udara. Tekukur yang mati lebih dari satu ekor. Aku sangat gembira bila abangku membawa setumpuk tekukur. Dia lalu mencabut bulunya, membuang usus dan kotorannya dan mencucinya kemudian membubuhkan garam dan memanggang burung itu di halaman.
Kalau tidak tekukur, dia membawa sekeranjang burung pipit yang paruhnya merah dan kuat. Aku mengunyah pipit panggang itu. Dagingnya, tulangnya, sampai ke kepalanya yang berisi otak. Enak sekali dimakan dengan nasi. Ketika musim hujan tiba, parit kecil yang berasal dari mata air itu meluap. Air dipakai untuk mengaliri sawah di sekitarnya.
Yang menarik, udang-udang kecil banyak sekali padahal di musim kemarau parit itu kering. Rupanya Min Kecil menangguk udang-udang itu sampai keranjangnya penuh dan dibawanya pulang. Udang kecil itu direbus dan aku melahapnya. Ketika aku sedang melahap udang beserta nasi, abangku menggodaku.

Dia mengatakan, udang-udang itu telah melahap cucian pakaian orang baru bersalin. Akan tetapi aku aku tidak peduli. Aku makan terus tanpa merasa jijik. Bukankah sudah dicuci.
Setiap hari, sepulang sekolah ia menjadi manusia alam. Dia membuat jerat dari rambut ekor kuda. Aku melihat di ladang jerat-jerat itu berderet panjang sekali mengganggu tanaman padi, jagung dan kacang. Ia juga mengenal gua di sekitar kampung kami denganbaik. Biasanya, kalau kami ke sekolah, bekal kami sebuah lempeng gula lontar. Untuk memperkenalkan guanya ia menyuruh kami berjalan-jalan dan ia berlari ke gua itu lalu memukul-mukul stalagtit dan stalagmit sehingga kedengaran dari jauh bagaikan ia memukul gong. Kemudian sang penemu dan pemandu wisata kembali ke jalanan. Tiba-tiba ia menyuruh kami mundur ke belakang dan menunggu dia pergi sebentar karena ada perempuan putih sedang mandi. Ia ingin mengintip perempuan yang mandi itu. Maka Benyamin, anak Sekolah Rendah yang baru duduk di kelas tiga itu pun pergi. Tidak lama dia kembali dan menggeleng-geleng kepala.
Tidak jadi intip, karena yang mandi itu Susi Di’a (panggilan akrab dari kakak perempuan kami Dina). Libido monyet abangku memang parah. Kalau ia melihat ada gadis-gadis lewat, untuk mencari perhatian gadis-gadis tanggung itu, ia memanjat ke pohon lontar kemudian bergantung kepala ke bawah seperti kalong. Semua orang kagum melihat ia bergantung mengaitkan kaki ke pelepah lontar lalu kepalanya digantungkan ke bawah. Pohon lontar itu cukup tinggi.
Dia tidak takut pada ular berbisa. Pada suatu hari, kami, anak-anak yang lebih kecil darinya sedang mengerubungi dan menonton seekor ular ijo yang berbisa, melingkar di ketiak akar pohon kesambi sambil memagut-magut. Tiba-tiba abangku muncul. “Mundur, mundur, mundur,” katanya lalu meraup leher ular itu dan melenggang pergi.
Ketika raja Thobias Messakh, ayah Kakak Dina dan Abang Min Kecil meninggal, ibu pulang ke Oekahendak, sedangkan abangku yang paling tua Min Besar dan Susi Miana (Kak Mariana), tetap tinggal di istana Mba’adulek, milik ayah mereka raja yang dibuang oleh Belanda ke Sumbawa dan Flores (karena ikut memimpin serangan dalam perang suku antara kerajaan Ti dan Dengka).
Waktu ibu kawin dengan ayahku – seorang mantri rumah sakit di Ba’a, Kak Dina dan adinya seayah tinggal dengan papa To’o dan Te’o Fia. Ketika kami datang ke Oekahendak dari Bajawa, Abang Min Kecil telah duduk di kelas tiga, sebuah sekolah yang terletak tidak jauh dari dusun ibu, disebut Tudameda. Sekolah itu terbuat dari bebak (pelepah gebang) yang bercelah-celah mudah diintip dari luar dan dari dalam. Atapnya terdiri dari daun lontar. Tampaknya seperti kandang kambing, tetapi dari sekolah itu beberapa sarjana dan orang terkenal Indonesia lahir dan bekerja di luar pulau, terutama di Jawa, tak pulang-pulang membangun kampungnya.
Ketika aku mengunjungi Rote di tahun 1997, lokasi sekolah itu sudah jadi kebun. Dulu di seberang Jalan Raya Sirtu, ada rumah Guru Pah, famili ibu, maestro senandu biola. Ana perempuannya yang paling tua menikah dengan abang tertuaku Benyamin. Adiknya Eduard Pah seorang guru, juga maestro sesandu biola. Ia mendapat Anugerah Seni dari pemerintah Republik Indonesia dan profil tentang seniman ini dimuat di New York Times. Satu-satunya seniman musik Rote yang mendapat publisitas internasional lewat New York Times. Jarang juga seniman Indonesia dipublikasi lewat sebuah artikel yang dimuat di koran internasional itu. Dulu, yang disebut Tudameda hanyalah tiga bangunan yaitu rumah pamanku Guru Pah dan di seberangnya Sekolah Rakyat tiga tahun. Tidak jauh dari situ, di tepi jalan berpasir dan kerikil ada sebuah rumah pendeta yang dipagari batu dan didepannya ada sebuah kolam yang terjadi ketika batu dan pasir diambil untuk membuat jalan raya. Beberapa langkah dari sekolah ada sebuah jembatan kecil di atas sungai yang airnya datang dari Danau Tua. Selebihnya padang savana yang menderu dan berdesing ketika angin datang dari gurun Australia dan Samudra Hindia.
Ibu, tampaknya tidak mau memberatkan saudara-saudaranya. Pada suatu malam yang gelap ibu membawa kami mengunjungi salah satu famili di Lalukoen, sebuah kampung yang lebih banyak rumahnya. Waktu akan pulang di malam hari dengan obor dari daun lontar, aku disuruh tinggal di rumah itu. Melihat rumah adat (rumah panggung) yang gelap di malam hari, hanya diterangi pelita yang terbuat dari biji kesambi yang ditumbuk yang dicampur dengan kapas atau kapuk lalu dililitkan ke lidi. Itulah pelita di malam hari. Sebagai anak kota yang terbiasa dengan lampu, aku merasa suasana di rumah adat famili ibu sangat mencekam. Barangkali famili ibuku senang sekali karena ibu menyerahkan aku kepadanya. Aku segera digendong oleh seorang Te’o (tante). Dengan cepat aku meronta-ronta, menangis sejadi-jadinya karena tak mau tinggal di rumah adat itu. Aneh. Padahal di rumah Papa To’o dan Mam To’o, rumah di mana ibuku dilahirkan oleh nenekku. Maria Messakh yang setiap hari kami sapa dengan istilah Mama Be’a juga gelap. Hari pertama kami datang dari Flores dan memasuki rumah itu, ibu menunjuk ke kolong rumah dan mengatakan, “Itu, kuburan Mama Be’a.” Aku ngeri juga kalau tidur malam-malam di bawah atap emperan lebar, di atas sebuah balai-balai induk (dalam bahasa Rote disebut langga inak) yang lebar dan panjang. Ngeri kalau bangun di tengah malam, memandang langsung ke kuburan nenekku tetapi karena mengantuk, aku tidur kembali. Lama-lama aku terbiasa dengan tidur bersama kuburan nenek. Soalnya aku tidur bersama abang.

Biasanya, setiap malam anggota keluarga lelaki tidur di bale-bale induk yang membentang di kiri dan kanan rumah. Papannya lebar sekali, terbuat dari pohon utuh yang tebalnya sekitar tiga sentimeter. Karena umurnya sudah tua dan ditiduri oleh beberapa generasi maka tampaknya licin dan mengkilat. Anggota keluarga perempuan, tidur di atas di rumah panggung yang dipenuhi oleh bakul-bakul besar dan kecil yang terbuat dari anyaman daun lontar, biasanya berisi padi tiga lapis panen. Juga makanan lain seperti gula batu, kacang ijo, jelai, jewawut bijan, dan sebagainya.
Sampai sekarang, aku berpikir, mungin usiaku sudah mencapai usia sekolah sehingga ibu mau menitipkan aku di rumah famili yang dekat dengan sekolah, sekaligus meringankan beban saudara-saudaranya yang telah menampung kakak perempuanku, kakak lelakiku dan adik perempuanku serta ibuku sendiri. Soalnya paman dan saudara ibu hanya hidup dari kebun dan sawah serta sejumlah pohon lontar dan binatang ternak. Biasanya mereka minum gula dan sayuran serta ikan serta daging sekadarnya, tidak biasa masak nasi setiap hari seperti orang kota. Setiap hari aku harus makan nasi, sayur, daging burung dan sebagainya. Aku tidak seperti kakak-kakakku dan ibuku. Barangkali karena itu. Sesungguhnya aku tak tahu pasti motif ibu ketika suatu malam, ibu membawaku ke rumah pendeta Hidalilo, pendeta yang berasal dari Pulau Sabu yang tinggal di Tudameda di rumah yang di depannya ada kolam berair kuning. Malam itu, lampu petromak terang benderang. Ibu membawa aku ke belakang dan aku bergabung dengan anak-anak pendeta. Aku senang sekali bermain dengan anak-anak itu di bawah benderang lampu tekan sehingga ketika ditanya apakah aku mau tinggal di rumah itu, aku mengangguk setuju. Malam itu aku mendapat sebuah tempat tidur box. Keempat sisinya berpagar sehingga kalau mau tidur aku harus memanjat pagar itu. Box itu berkelambu. Aku tertidur pulas karena terlalu lelah bermain sesiang suntuk. Di tengah malam, aku dibangunkan oleh keharusan untuk kencing. Aku menangis karena kantong air seniku terlalu penuh. Ibu Pendeta yang sekamar dengan kami terbangun sedangkan Bapak Pendeta tetap ngorok. Begitu pula anak-anak di ranjang yang besar. Semuanya berada di satu kamar. Ibu Pendeta bertanya, ”Kenapa, Be’a?” sambil merintih aku berkata, ”Mau kencing, Tante.” Lalu Ibu Pendeta menyuruh kencing di pojok kamar. Tampaknya dinding kamar itu tidak sampai ke lantai tanah. Ada celah di mana angin bisa keluar masuk.
Malam itu seingatku; ibu tidak membawa tas pakaian. Ibu melepaskan aku dengan pakaian di badan. Seingatku tidak ada acara makan pagi sebelum berangkat ke sekolah. Aku masih ingat pada suatu malam Ibu Pendeta membagi-bagikan biskuit. Juga masih segar dalam ingatan Ibu Pendeta membawa kami untuk mandi di sungai. Aku masih ingat pula pada suatu malam, ketika Mama Nyora Hidalilo (istri pendeta dan guru dipanggil nyora) membagi-bagi nasi dan lauk, kepada tiap anak ia bertanya mau tambah atau tidak. Anak-anak pendeta mengatakan tidak sedangkan aku mau tambah. Aku lihat nasiku hanya setengah dari nasi anak-anak yang tak mau tambah. Kami hanya makan sekali, makan malam. Tampaknya gaji pendeta itu kecil sedangkan kami hampir sepuluh orang di rumah itu.
Biasanya bila seorang anak angkatnya yang duduk di kelas tiga bernama Karaba mengupas kelapa, aku duduk di depannya dan memungut daging kelapa yang terkikis parang. Enaknya bukan main! Kemudian aku ke kebun jewawut, jelai dan jagungnya yang baru dipanen. Ada melon-melon, kecil yang sudah matang di celah daunan jagung dan jelai yang sudah kering. Buah kacang turis muda pun sedang bergantungan di pohon. Aku sering berpesta melon liar yang kecil dan kacang turis muda.
Aku ingat, sekali ketika berlangsung kebaktian hari Minggu yang dilakukan di sekolah desa tiga tahun yang bentuknya seperti kandang kambing itu, serombongan gadis-gadis kelompok koor, memakai kebaya putih dan sarung hitam dan mantan Raja Ti, (ayah abangku Min Besar dan kakak perempuanku Mariana) duduk sendirian di sebuah kursi di dekat mimbar dan mendongakkan kepalanya memandang pendeta yang sedang berkhotbah.
Waktu itu tidak ada liturgi berdiri segala. Sepanjang kebaktian, umat duduk terus dan aku menguap terus.Karaba adalah tokoh unik dalam kenangan masa kecilku. Walaupun aku duduk jongkok di depannya sambil memungut dan mengunyah tempiasan kikisan daging kelapa dari parangnya, ia tidak pernah memarahiku. Padahal ia seorang pemarah. Aku pernah melihat ia marah ketika menghidupkan api dengan ranting-ranting kayu. Dikipas-kipasnya api itu tetapi tidak juga menyala. Tidak lama kemudian ia mengamuk kepada api dan ranting-ranting itu. Dengan tangan kanannya ia mengobrak-abrik api dengan ranting-rantingnya segala sehingga api ‘ketakutan’ dan mengecil. Kemudian dia menata kembali. Api ‘ketakutan’ lagi lalu menyala (sic!). Amarah yang sangat meluap kepadaku adalah pada suatu hari ketika aku bermain-main sendiri di halaman sekolah. Biasanya anak kelas satu pulang lebih dulu.
Tinggal anak kelas dua dan tiga. Mungkin karena kekurangan guru. Aku bermain sendiri, berputar-putar keliling sekolah sambil nguping apa yang diajarkan guru kepada kelas yang lebih tinggi. Tiba-tiba aku jadi usil. Aku menunduk memungut sebuah lidi dan menusuk-nusukkan ke dalam lewat celah dinding bebak (pelepah gewang). Tiba-tiba terasa pantat anak yang duduk paling belakang tertusuk. Aku rasakan itu. Tiba-tiba anak yang tertusuk itu muncul di pojok luar sekolah dan yang muncul itu adalah Karaba! Aku melompat lari langkah seribu dan ia memungut batu, melempari aku. Sambil tertawa terkekeh-kekeh aku melompat menghindari batu yang mengejarku. Entah siapa yang menyuruh aku usil begitu, membuat aku begitu ‘kreatif’ menciptakan suasana kekanakan yang menyenangkan.Ke mana pun aku mengembara di kota-kota dunia, aku selalu ingat kolamku, kolam kemarau kuning di pinggir Jalan Raya Pasir Batu (Sirtu) itu.
Tiba-tiba aku sibuk membuat perahu kecil sekaligus layarnya. Angin dari gurun Australia menyapu laut dan mendesingkan sabana. Asyik sekali melihat layar perahuku di tiup angin dan melaju kencang dari tepi yang satu ke tepi yang lain dari kolam itu. Rasanya aku telah menjadi insinyur perkapalan yang memperhitungkan dengan tepat ketika membuat perahu itu, sekaligus layarnya yang berbentuk segi tiga dengan tali temalinya. Setelah puas bermain dengan perahuku, aku membuka pakaianku, sebuah baju monyet lalu menceburkan diri ke kolam kemarau kuning itu.
Suatu hari ketika pulang berenang dan bermain-main dengan perahuku aku jongkok lagi di depan Karaba yang sedang mengupas kelapa tua. Seperti biasa, ia tidak marah padaku. Perbuatan menusuk pantatnya telah dilupakannya. Ia membiarkan aku memungut-mungut kikisan kelapa yang terlempar di tanah lalu memasukkan ke mulutku. Ia hanya menggerutu menyalahkan seorang temannya, juga anak angkat pendeta yang diboyong dari Sabu. ”Bapa Pendeta sudah mengutuk si Nara karena ia menulis-nulisi Kitab Suci,” kata Karaba. Sejak itu aku takut sekali dikutuk oleh Bapa Pendeta, terutama takut dimarahi Tuhan kalau salah memegang atau menyia-nyiakan Kitab Suci. Sampai aku bersekolah di Sekolah Standar, kalau aku melihat lembaran Kitab Suci yang tersobek dan terbuang, aku memungutnya dan menyimpannya baik-baik. Aku selalu mengingat anak itu. Si Karaba itu. Bahkan nama anak-anak pendeta sudah kulupakan, padahal pernah bertemu di So’e ketika aku duduk di Sekolah Guru Bawah (SGB) (dulu Normalschool) dan dia belajar di Sekolah Teologia. Ketika aku duduk di Sekolah Standar di ruteng aku dengar Karaba masuk Heiho, kemudian ketika perang dunia usai aku bertemu dia di jalan di Kupang. Badannya tambah hitam dan kurus, tinggi. Aku menegurnya dan dia membalas teguranku sambil berjalan terapung-apung, lurus, dagu terangkat. Aku memandang punggungnya ketika ia menjauh, sambil menarik napas dan desah nostalgia.Tiba-tiba, pada suatu hari ketika aku berjalan menunduk menuju kolam kemarau kuning kesayanganku, ada sesosok tubuh di depanku. ”Papa!” seruku bahagia. Aku disuruh berdiri menunggu di jalan dan ayahku masuk ke dalam untuk memberitahukan bahwa aku diambil kembali. Tidak lama kemudian ayah keluar dan kami berjalan meninggalkan rumah pendeta itu tanpa tas pakaian, kecuali baju monyet di badan. Walaupun aku sendiri tidak bertemu dengan pendeta dan istrinya untuk mengucapkan terima kasih, walaupun tidak ada acara perpisahan, aku masih ingat jasa keluarga pendeta itu memberi tumpangan, tempat tidur dan makanan untuk beberapa lamanya.Kepada orang-orang yang ditemuinya di Oekahendak, ayah menceritakan kesedihannya melihat anaknya yang sudah hitam tak terurus dan pakaiannya yang cuma satu melekat di badan, tidak pernah dicuci.
Di Oekahendak, kepada ibu, ayah menceritakan bagaimana dia mendapat ongkos untuk membeli tiket kapal. Ia menjual pondoknya di Endeh dan barang-barang lain seperti piring mangkuk, setrika dan sebagainya. Rupanya usaha ayah sebagai pengacara amatiran di Endeh macet. Untung, naluri kebapakannya menggerakkan dia mencari anak-anaknya yang terombang ambing di bawah kepak ibu yang kurang berdaya. Pengalaman seorang anak sepertiku sangat menyedihkan, mengharukan dan semuanya menjadi sumber kepekaan, sumber inspirasi ketika aku menjadi dewasa. Tidak dapat disangkal pengalaman menjadi bahan baku untuk kesusasteraanku, untuk karya-karyaku, baik berupa prosa maupun puisi dan lain-lain. Aku memasuki kesusasteraan Indonesia melalui puisi. Sajak-sajak pertamaku dimuat di koran dan majalah Surabaya kemudian Mimbar Indonesia, Jakarta yang ditulis tahun 1955 ketika aku duduk di bangku Sekolah Guru Atas Kristen di Jalan Pringadi, Bubutan, Surabaya, dan ketika mengikuti International Writing Program, sebuah program creative writing di bawah bimbingan Prof. Paul Engle, Ph.D (penyair) di Iowa University, Iowa City, Amerika Serikat.

Gambar Keluarga
begini kuda tunggang dan dadaku diterik tangis padang/lewat jalan liku menuju rumah lalang berpagar batu bila dulu aku datang aku tak tahu ciumanmu tengik tersaar/bibirmu yang hambar memperdengarkan tambur gembala/pandanganmu mengharu usia dewasa sejak itu mengobar/dalam mataku bundar segar seorang anak yang belum sadar kau tinggalkan aku bermain di tepi kolam kemarau kuning/tak sampai sesiang yang indah berenang riang/dengan hidup telanjang memandang kuda tunggang yang tegap airnya makin kering mengabur ke bibir nasib kemarau/aku pulang ke rumah lalang berpagar bagu, lingkar kasih yang buntu/nyenyak malam membenam dalam lapar dalam lupa masa kanak kelakar, dan sindiran yang menyembur senja kemarau kuning/sebagai tuntutan atas budi yang tumbuh menjadi hutan/belum terbayar oleh anak yang lapar mengejar belalang/hingga sekali kelak aku berdiri di atas nyanyian hidup yang manis kau datang kembali dengan bawaan beserba/untung aku belum lesu terpenggal oleh dosa dan hilang sesal.

Bersambung

October 20th, 2006

Anak Kupang ju bisa basaing di Australian Idol

Posted by flobamora in Music

Nama : Jessica Mauboy
Papa : Ferdy Mauboy
Mama : orang Aussie

Posisi saat ini 6 besar di Australian Idol (masih
berlangsung) so kitong doakan agar nona Mauboy bisa
lanjut pi tempat lebih terhormat (mohon basodara
doakan)

Jessicamauboy

http://australianidol.bigpond.com.au/default.aspx?page=contestant&ID=40

The vision of Jessica Mauboy, braving the heat and flies in Alice Springs during her audition will always be a special Idol moment, but as this talented teenager prepares for the Idol finals, Jessica will need to create new and enduring moments. With such a tough competition this year, Jessica would be excused for feeling daunted, but the powerful soul specialist seems to be taking the experience in her stride.

The beautiful teen can thank her indigenous mother and Indonesian father for her exotic looks, but it’s that crystal-clear voice that really attracted our judging panel’s attention. From an early age, her grandmother involved Jessica in the local church choir, but it seems that our young finalist was always destined to follow music. Living in the ‘noisiest house on the block’, Jessica was exposed to music through the singing of her mother and guitar-playing dad, but the whole family is passionate about music.

Singing from the ripe old age of 3, Jessica was always a promising vocalist but the Road To Tamworth competition exposed her talents when she was 14. Winning her heat and travelling to Sydney to perform, Jessica became the competition’s first and youngest winner – a massive boost to the promising performer’s confidence. Now, faced with a competition of the magnitude of Australian Idol, Jessica intends to take her early achievements one step further – to the Sydney Opera House.

Jessica_011 Jessica_012 Jessica_031 Jessica_032

October 19th, 2006

Nostalgia Flobamora (6)

Posted by flobamora in Nusa Tenggara Timur

Cerbung01_4

Pada suatu pagi aku berontak mati-matian karena ibu ingin membawaku ke sekolah. Ibu menggendong aku di pinggangnya dan aku menangis terus, menangis terus meronta-ronta sampai ke Sekolah Rendah yang terletak di seberang lapangan di depan rumah sakit. Sampai di sana aku berhenti menangis karena aku melihat banyak anak-anak sebayaku.
Aku turun dari pinggang ibu dan guru menyambutku, mengangkat tanganku lewat kepala, menyuruh aku meraba telingaku. Sudah itu aku didaftarkan sebagai murid kelas satu tetapi boleh pulang. Sekolah baru mulai besoknya. Aku berkeliling sekolah itu. Aku melihat ada beberapa kantong terbuat dari anyaman daun pandan, seperti kresek plastik zaman sekarang, berisi sesuatu, tergantung di tembok sekolah, di pohon dan di tiang lonceng.
Aku melihat-lihat dari bawah, penuh tandatanya. Tidak ada yang menyuruh aku memanjat tiang lonceng tetapi tiba-tiba aku memanjat tiang lonceng untuk melihat apa yang berada dalam kresek anyaman daun pandan itu. Aku merogoh salah satu kantong dan ternyata isinya jagung kering goreng yang kerasnya seperti batu. Tetapi rahang anak Bajawa dapat menghancurkannya. Anak-anak yang membawa jagung goreng kering (tanpa minyak) itu datang dari kampung yang jauh. Makan pagi mereka dari jagung, ubi dan sebagainya, begitu juga makan siang mereka. Tak ada satu pun yang membawa uang jajan.
Pulang ke rumah, entah bagaimana, aku malas ke sekolah. Ibuku membongkar aku dari keasyikan nyenyak pagi, menyuruh aku mandi tetapi aku menolak semuanya. Aku menangis sejadi-jadinya menolak ke sekolah. Setelah menakut-nakuti aku dengan oto-pos (mobil pos) dan tuan inspektur Belanda, barulah aku mau berjalan bersama ibu ke sekolah. Anak-anak kelas satu telah duduk tenang-tenang di kelas. Ibu langsung mengantarkan aku ke dalam kelas lalu guru mendudukkan aku di bangku paling depan.
Begitu ibuku keluar, sang guru (Tuan Riberu) yang kulitnya hitam membelalakkan matanya kepadaku lalu menggerutu. Jantungku berdebur ketakutan tetapi mataku melihat ke jendela dan ada sedikit rencana kilat muncul di benakku. Kalau dia menyeringai dan bangun mendekatiku, bangun dari kursinya dan menerkam aku maka aku akan lari ke jendela dan melompat lalu lari ke rumah dan takkan kembali lagi selama-lamanya, selama-lamanya! Hanya itu yang kuingat benar ketika masuk sekolah di Bajawa. Aku tidak ingat bahwa guru mulai mengajar membaca, berhitung atau menyanyi. Aku tak ingat berapa lama aku belajar di situ.
Pada suatu malam aku dan adikku dibangunkan lalu dibawa ke mobil dan begitu bangun tidur aku, adikku dan ibuku telah berada di sebuah rumah berlantai tanah di kota pelabuhan Endeh. Ayahku tidak kelihatan ketika aku bangun pagi. Rumah itu terletak di seberang jalan dari rumah Bung Karno, di kampung Tiang Radio, dekat sebuah sumur yang dalam, yang airnya ditarik ramai-ramai oleh beberapa perempuan dari Sabu (sebuah pulau kecil di Laut Sabu). Tidak lama kemudian ayahku kembali, membawa uang logam cukup banyak dan ibu belanja makanan yang cukup enak seperti halnya di Bajawa.
Rumah itu milik seorang bernama Manafe, asal Rote. Begitu ayahku muncul ia membawa kami ke sebuah rumah di samping katedral, di kaki bukit kecil, di sebelah kuburan Tionghoa. Malam pertama telingaku disengat kalajengking sehingga aku terkaing-kaing menangis memecah kesunyian.

Bersambung 

October 14th, 2006

Nostalgia Flobamora (5)

Posted by flobamora in Nusa Tenggara Timur

Indonesia dewasa ini ketika kutulis kenang-kenangan masa kecilku ini, benar-benar telah meninggalkan tanah, meninggalkan hujan, meninggalkan kegiatan pertanian mandiri. Padahal setelah beberapa bulan bibit ditaruh di tanah air kita yang subur ini, makanan akan tiba di dapur dan perut dan kita pun tidak usah membelinya, kita tidak usah tergantung pada uang yang dipinjam dari luar negeri, tidak usah tergantung pada belas kasihan negeri kaya. Malah dengan cukupnya makanan di kebun sendiri, kita dapat bekerja keras dan tenang untuk membayara utang. Program yang produktif di bidang pertanian perlu lekas dibuat, karena tanah bukan saja menghasilkan makanan tetapi juga kerajinan tangan dalam rangka produksi oleh massa di desa-desa dan bukan produksi massal pabrik-pabrik milik segelintir konglomerat. Selama tiga tahun tinggal di Bajawa aku mendengar dari ibu bahwa aku adalah anak nomor lima dan anak perempuanku adalah si bungsu. Di pulau Rote, tepatnya di Nusak (Kerajaan) Ti ada empat saudara tiriku yang memakai nama marga (fam) Messakh. Si sulung bernama Benjamin B. Messakh, nomor dua bernama Mariana Messakh, yang ketiga bernama Dina Messakh dan keempat bernama Benyamin Messakh. Nenekku dari ibu memang dari keluarga Messakh, kawin dengan ayah ibuku dari keluarga Manu yang tergabung dalam leo (suku-suku) Nalefeo yang pada gilirannya sub subsuku Nalefeo masih berkerabat dengan suku-suku Ndanafeo, Todafeo dan Mesafeo. Semua leo tersebut menurut adat Rote menyediakan isteri-isteri bagi para raja di kerajaan Ti (ejaan Belanda Thie). Suami pertama ibuku adalah seorang raja dari kerajaan Ti. Karena ia terlibat dalam perang suky dengan orang Dengka (sebuah kerajaan tetangga) maka Belanda membuang membuang dia ke pulau Sumbawa dan Flores. Di sana ia kawin lagi. Ibu minta cerai. Kawin lagi dengan raja baru bernama Thobias Messakh, ibu melahirkan dua orang anak yaitu Dina dan Benyamin. Tiba-tiba raja itu meninggal. Perkawinannya dengan ayahku, melahirkan aku dan adikku yang dibawa ke Bajawa. Aku dilahirkan di pulau Rote seperti halnya keempat kakakku dan adikku lahir di pulau Semau, sebuah kecil di depan teluk Kupang. Semua itu aku dengar dari ibuku. Ibuku juga bercerita bahwa kakekku dari pihak ayah adalah seorang temukung besar kepala beberapa desa yang terkenal karena memperoleh beberapa bintang dari pemerintah karena jasanya selama tiga puluh tahun mengumpulkan pajak dan satu sen pun tidak dikorup. Juga aku pernah mendengar cerita bahwa di pulau Semau, ibuku pernah sakit keras. Ada infeksi parah di geraham ibuku tetapi untung dokter Belanda di Kupang dapat mengobatinya. Kemudian ayah dipindahkan ke Sumba, memimpin klinik di sebuah dusun bernama Langgaliru, terletak diantara Waingapu dan Waikabubak. 

Kakakku Benyamin Besar, Mariana dan Benyamin kecil tinggal di Rote sedangkan kakak Dina ikut serta. Ikut juga Hosea Poyk (kami memanggilnya Papa Ose) dan Jeremias Poyk (Papa Mias). Di dusun itu menurut cerita ibu aku pernah jatuh dari atas kerangka mobil tua sehingga dadaku lembek dan batuk-batuk terus. Lalu aku dibawa seluruh keluarga melalui padang savana Sumba menuju ke sebelah barat, ke kota kabupaten Waikabubak. Menurut kakak perempuanku Dina, semuanya mengenderai kuda sedang ibuku bercerita bahwa angin mendesing siang dan malam dan batukku tak henti-hentinya. Semua itu tak kusadari. Di tahun 1985, aku sampai dengan bus ke Langgaliru. Berhenti di terminal asal jadi di tepi sungai bening, aku bertanya dalam hati dimanakah klinik yang dikepalai oleh ayahku? yang jelas aku pernah minum dari mata air bening di dusun itu, pernah mandi di sungai bening itu, tetapi semuanya tak kusadari, sampai usiaku memberi kesadaran akan dunia di kota kecil Bajawa, dimana ayahku naik pangkat dari kepala klinik menjadi Hoofdt Mantri yang mengepalai sebuah rumah sakit kabupaten. (Bersambung) 

October 12th, 2006

Nostalgia Flobamora (4)

Posted by flobamora in Nusa Tenggara Timur

Melihat yang demikian, aku jadi takut karena rumahnya dekat. Aku lalu meninggalkan dia menangis pulang kerumah. Untung tidak ada yang melaporkan kepada ayah dan ibuku. Hukuman terhadap kenakalanku selalu tersedia. Hal ini aku alami ketika pada suatu hari, ada seorang gadis manis berjalan memakai kebaya, kain batik dan berkerudung. Mungkin ia anak pegawai negeri (guberneman) sehingga ia kenal betul ibuku.
Aku agak lupa, kata-kata yang kuucapkan kepadanya. Aku hanya ingat bahwa aku selalu melihat pinggulnya yang indah dan lenggangnya yang lembut dan pakaiannya bergaya muslim.Mungkin aku tertarik padanya, mungkin bibit libido mulai bertumbuh atau mungkin karena keusilan seorang anak yang masih ingusan, anak yang belum bersekolah. Ibuku marah besar.dia menyuruh pembantu membawah cabe dan cobek.
Kemudian ia menyuruh pembantu mengambil tahi ayam. Ibu mengulek-ulek semuanya dicobek lalu menangkap aku, memeluk erat-erat dan menggosokan sambal tahi ayam itu kepada mulutku. Setelah aku besar, aku sadar bahwa semuanya itu gombal. Bukan tahi ayam sebenarnya yang dioleskan ke mulutku yang kotor terhadap gadis berkain kebaya dan berkerudung itu.
Musim hujan tiba. Setelah ibu memandikan aku dengan menggosok-gosok telapak kaki dan seluruh tubuh, terutama tumitku yang dakinya tebal, aku mulai berani mandi pagi. Disore hari aku masuk ke bak mandi dan mengocok-ngocok bak itu.
Alangkah senangnya.Dimusim kemarau aku takut mandi pagi dan sore sehingga, bilamana tiba acara mandi aku menangis-nangis ketika dimandikan ibu, apalagi ibu menyebut-nyebut nama Oom Obaya, sopir oto pos (mobil pos) dan tuan inspektur polisi Belanda yang suka berkeliling kota naik sepeda motor gandengan.
Aku paling takut polisi bule itu. Bila ada bunyi sepeda motor gandengan aku lari bersembunyi. Adikku Matilda, pada suatu sore, ketika berjalan bersama ayah, tiba-tiba ia berteriak ketakutan memeluk ayah ketika serombongan suster katolik bule berpakaian putih-putih mendekati kami.Ia tidak takut melihat orang berpakaian putih membungkus seluruh badan.
Ketika bungkusan itu masih jauh, bergerak berombongan, ia tenang-tenang saja tetapi begitu mendekat dan ada manusia putih bermata hijau tertarik pada anak manis kekuningan berambut agak merah dan mencoba mencubit pipinya, adikku berteriak, menangis ketakutan memeluk kaki ayah. Aku hanya geli sendiri dan menatap terus mata biru dalam jilbab katolik itu.
Di Bajawa, seperti juga di semua kabupaten di Flores, kontrolir dan aspiran kontrolir, kemudian inspektur, semuanya Belanda. Di bawah mereka seperti klerk dan Bestuur Assisten adalah orang Rote. Kepala tangsi polisi juga seorang yang berasal daro Rote. Dia pamanku, To’o Hormu. Celakanya, opas-opasnya pun berasala dari Rote. Pakaian opas seperti polisi, memakai kelewang panjang dan topi bambu. Kumisnya terputar bagaikan tanduk kecil di bibirnya.
Dia menjaga kantor-kantor, rumah kontrolir dan bangunan penting lainnya. Kalau ada pohon mangga yang rimbun dan berbuah lebat di depan bangunan itu, opaslah musuh anak-anak yang lebih besar dariku, anak-anak yang telah bersekolah. Ada yang mengatakan, mencuri buah mangga kurang enak tetapi larinya itu yang enak. Pencuri mangga harus cepat turun dari pohon lalu lari melompat pagar. Itulah yang lebih enak dari mencurinya. Walaupun masih kecil, aku sudah bisa berpikir bahwa anak-anak pencuri mangga itu akan menjadi orang jahat kalau sudah besar.
Kembali ke cerita mengenai musim hujan, aku ingat, pada suatu hari ketika aku bangun tidur siang, aku berteriak-teriak memanggil ibu. Ke kamar tamu dan pintu depan yang menghadap jalan raya, aku memanggil keras-keras, ”Mama…” Tidak ada jawaban. Aku ke dapur dan berteriak, ”Mama…” Kemudian terdengar jawaban ibu dari halaman belakang. Aku melongok ke halaman belakang. Ternyata ibu sedang menanam jagung, labu dan sebagainya, dibawah siraman hujan dan gemuruh atap seng rumah kami. Kepalanya berbungkus handuk.
Kemudian aku melupakan kegiatan ibuku. Setelah empat atau lima bulan, aku gembira sekali ketika melihata halaman belakang. Jagung dan labu telah berbuah dan bisa dipetik. Ibu memetik beberapa buah jagung muda dan merebusnya. Aku dan adikku melahap jagung muda rebus itu dan sayur pucuk dan bunga labu.
Buah labu yang panjar belum bisa dipetik karena masih terlalu muda, tetapi jagung dan sayur daun dan bunga labu itu, mungkin untuk pertama kali aku kenal dan sadar memasuki perutku. Aku ingat, beberapa hari kemudian aku memetiknya dan merebusnya sendiri dengan periuk besi.
Lalu aku tidak lagi keluar rumah. Setiap hari aku sibik merebus jagung.
Ketika aku menjadi sastrawan, pergumulan batin paling menonjol adalah di seputar keterasingan makhluk-makhluk urban dan para penganggur. Aku dekat dengan para miskum (orang miskin dan kumuh) atau para kumis (manusia kumuh dan miskin). Mereka terasing, tercerabut, teralienasi dari tanah. Ibulah yang mengajarkan aku bagaimana memperoleh solusi dari keterasingan atau alienasi manusia dari tanah. Orang-orang kota hanya bergantung pada tenaga mereka, tenaga tubuh mereka.
Tenaga dan tubuh mereka tercerabut dari kepribadian mereka, dicabut, direbut oleh uang. Para buruh, para kuli, para pedagang kecil, para pelacur, harus banting tulang menjual daging mereka untuk uang agar bisa makan. Semua mereka terasing dari mereka. Seandainya mereka punya tanah dan pengetahuan untuk menyuburkan tanah dan memelihara tanaman, maka mereka tidak akan kekurangan makanan. Mereka tidak mengasingkan tenaga produktif mereka, daging mereka (seks dan tenaga mereka) kepada uang. Mereka tidak akan terasing, sakit, menjadi manusia tak berdaya.
Manusia, disamping jiwa, roh adalah apa yang dimakannya. Jika makanannya kurang sehat, maka manusia akan bodoh, menjadi setengah binatang. Orang-orang kota dari jenis Miskum atau Kumis gampang digerakkan oleh elit politik dan orang-orang berduit untuk menjadi binatang yang berkelompok untuk bunuh diri ramai-ramai dengan melakukan kerusuhan.

(Bersambung). 

October 9th, 2006

Nostalgia Flobamora (3)

Posted by flobamora in Nusa Tenggara Timur

Samar-samar terbayang olehku, ada beberapa anak kecil yang mengikuti Sekolah Minggu itu. Rasanya tidak sampai sepuluh orang. Gereja Protestan di Bajawa tampak dalam kenanganku, sebuah bangunan kumuh. Barangkali lantainya tanah dengan bangku-bangkunya tanpa sandaran. Aku masih ingat pada sosok seorang anak muda yang menjadi guru Sekolah Minggu. Rasanya di gereja kecil itulah terjadi pertemuan antara ide tentang Tuhan yang sudah tertanam dari sononya dalam jiwa seorang anak kecil sepertiku dan informasi yang diperoleh dari guru itu tentang Tuhan yang turun ke bumi untuk menjemput manusia yang tak berdaya menghadapi ajal dan gelimang dosa.
Kota Bajawa di masa kecilku terdiri dari sebuah tangsi polisi, sebuah rumahsakit, sebuah Sekolah Rakyat, sebuah Gereja Katolik yang indah dan besar sekaligus rumah-rumah untuk pastor dan suster dan beberapa rumah pembesar pemerintah serta beberapa took milik orang Tionghoa dan sebuah pasar terbuka (lapangan). Lapangan rumputnya hijau subur terpotong rapi, mungkin oleh orang-orang strapan (narapidana). Aku tak ingat di mana letak penjara, kecuali jalan menuju kuburan karena rumah dinas kami nomor dua dari pojok jalanan menuju tempat itu.
Ayahku seorang mantri yang mengepalai rumahsakit di kabupaten itu. Masa itu dokter tinggal di ibukota keresidenan (di Endeh) dan sekali-sekali ia dating mengunjungi rumahsakit yang dipimpin oleh ayahku.
Aku ingat betul, pada suatu malam, perutku kram luar biasa. Aku merintih kesakitan. Ayahku menghilang dan kemudian kembali dengan seorang lelaki bule tampak di depan mataku dan ia menaruh stetkop di tubuhku sambil meraba-raba perutku.
Tidak lama kemudian sakitku hilang dan aku tidur lelap dan bangun segar di pagi hari meninggalkan kenangan wajah lelaki bule dan rabaan tangan di perutku, serta suaranya yang samar entah tentang apa bicaranya, aku tak ingat lagi.

Orang selalu memanggil aku Be’a. Ini adalah nama panggilan kesayangan bagi orang Rote. Setiap anak yang sangat disayangi dipanggil Be’a baik ia lelaki atau pun perempuan. Begitu pula kakek yang sangat disayangi, dipanggil Papa Be’a. Nenek kami dipanggil Mama Be’a. Kadang-kadang aku dengar orang mengatakan bahwa kami, aku dan adik perempuanku Matilda alias Nona, anak Tuan Hof. Ini karena ayahku . Itu karena ayahku berpangkat Hoofd Mantri atau Mantri Kepala di rumah sakit itu.
Rumahsakit Bajawa terletak di salah satu pojok halaman tangsi polisi. Biasanya di sore hari ayahku mengajak aku ke rumah sakit. Aku memegang tangan ayahku berjalan setengah mengelilingi tangsi dan dalam perjalanan aku selalu bertanya dan bertanya ”apa itu”. Masa ”apa itu” itu kunikmati benar. Ayah tampak membunyi-bunyikan giginya sedangkan aku memberondongi ayah dengan Tanya ” Apa itu, Pa?” Aku terpesona memandang lapangan rumput yang hijau , pohon-pohon yang rindang, rumah-rumah dan mulut ku berbunyi, ”Apa itu, Pa?” Perasaanku mengalun indah dan tersangka aku menggigit-gigit kukuku.
”Jangan makan kuku,” kata ayahku.
”Kenapa kalau makan kuku,p pa?” tanyaku.
Jawaban yang aneh, yang masih kuingat sampai hari ini, ”makan kuku sendiri berarti makan orang tua?” kata ayahku.
Aku menguakkan muka ke atas, memandang ayahku. Beliau tenang-tenang saja dan aku menikmati elusan udara irasional dalam jiwaku. Ayah tidak mengatakan bahwa di kuku ada telur cacing dan kalau makan kuku, cacing akan masuk ke mulut dan ke perut, kemudian membuat aku sakit. Pada waktu aku sakit, orang tua jadi susah, sedih.
Kasihan ayah dan ibuku kalau aku sakit. Entah, apakah analisa yang demikian itu terjadi di saat itu atau di kemudian hari ketika aku telah bersekolah, aku tak tahu, tetapi aku lebih yakin bahwa setelah mendapat pendidikan tentang ilmu kesehatan barulah jelas bahwa seorang anak yang menggigit-gigit kuku adalah seorang yang makan (menyusahkan) orang tua bila anak itu sakit perut. Kata-kata ”makan orang tua” masih terngiang dalam kasanah kenanganku.
Di tahun baru dan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina, orang di kota kecil itu berpesta membakar mercon. Kenikmatan bakar mercon terasa juga tetapi kenikmatan ini sirna karena berita ada anak yang matanya buta. Oleh karena itu aku sangat takut pada bunyi dan semprotan mercon. Naluri menyelamatkan diri lebih besar daripada naluri menantang bahaya api dan ledakan. Begitulah, pada suatu hari entah hari raya apa, ada anak tangsi membakar mercon besar di lapangan segitiga di luar tangsi di samping menara air. Melihat mercon itu ditutupi sebuah kaleng susu, naluriku menyuruh aku berlari menjauhi ledakan yang tentu akan besar sekali.
Dari kejauhan yang aman, aku melihat dengan aman pula kaleng susu itu mental cukup tinggi ke udara. Setelah dewasa kalau dikenang kembali, aku geli sendiri mengenang ketakutan yang demikian, ketakutan lihat langit terbelah dan ketakutan pada ledakan mercon besar. Naluri melarikan diri dari bahaya di masa kecil, tampaknya tidak hilang ketika aku sudah bekerja sebagai pegawai negeri (guru) dan setelah berumahtangga. Di masa kecil, tidak ada akibat apa tetapi di masa dewasa naluri melarikan diri membuat aku menemui serba kesulitan dan kelucuan hidup. Penuh dengan tragedi dan komik. Misalnya ketika aku lari dari Ternate di saat timbulnya pemberontakan Permesta .Begitu ada kapal di pelabuhan, aku segera naik ke atas dengan pakaian di badan dan kemudian terdampar di Bali. Dengan ”mengemis” sana ”mengemis” sini aku mendapat ongkos untuk ke Jakarta. Di Jakarta, pembesar pendidikan menengah marah-marah lalu memindahkan aku ke Bima. Dua tahun lamanya aku tak menerima gaji. Bayangkan aku masih hidup dan mengajar terus dalam kebaikan orang-orang di Bima . Aku masih ingat pada haji Achmad seorang saudagar yang pernah membantu aku. Aku deºngar saudagar yang baik itu mewariskan usahanya kepada anak-anaknya yang pernah aku didik.
(Bersambung) 

October 6th, 2006

YOU GIVE ME SOMETHING

Posted by flobamora in Music

You want to stay with me in the morning
You only hold me when I sleep,
I was meant to tread the water
Now I’ve gotten in too deep,
For every piece of me that wants you
Another piece backs away.

Is432029

‘Cause you give me something
That makes me scared, alright,
This could be nothing
But I’m willing to give it a try,
Please give me something
‘Cause someday I might know my heart.

You already waited up for hours
Just to spend a little time alone with me,
And I can say I’ve never bought you flowers
I can’t work out what the mean,
I never thought that I’d love someone,
That was someone else’s dream.

‘Cause you give me something
That makes me scared, alright,
This could be nothing
But I’m willing to give it a try,
Please give me something,
‘Cause someday I might call you from my heart,
But it might me a second too late,
And the words I could never say
Gonna come out anyway.

‘Cause you give me something
That makes me scared, alright,
This could be nothing
But I’m willing to give it a try,
Please give me something,
‘Cause you give me something
That makes me scared, alright,
This could be nothing
But I’m willing to give it a try,
Please give me something
‘Cause someday I might know my heart.
Know my heart, know my heart, know my heart

James Morrison.. a little mix between Amos Lee & Gavin Degraw. This song has been in the Top 10 charts in the Netherlands. Honest, sincere song that’s quite relaxing. A song that can be related by anyone who wants or has hope for “something”.

October 6th, 2006

Nostalgia Flobamora (2)

Posted by flobamora in Nusa Tenggara Timur

Jika kemudian ekonomi uang memasuki pulau itu maka subsistensi yang etis itu akan hidup bersama dengan manipulasi, dengan kelicikan, dengan penipuan dan pencurian. Ekonomi lontar atau ekonomi gula begitu berkenalan dengan arak (sopi) yang diperkenalkan oleh Belanda (dibawa dari Batavia) maka maraklah penyulingan arak (sopi) di bawah naungan pohon lontar. Orang Rote menjadi pemabuk, pemarah dan pemalas – terutama anak-anak mudanya. Mereka menjadi penganggur urban di Kupang dan kota-kota lain di Indonesia, terasing dari tanah di pulaunya yang membuat nenek-moyangnya berabad-abad sangat subsisten, jauh dari pengangguran urban.

Cerbung01_3
Di masa VOC orang Rote mulai sadar bahwa mereka buta huruf dan sangat memerlukan sekolah. Akan tetapi dengan apa mereka membayar gaji guru ? Maka VOC meminta guru dibayar denga kacang ijo, lilin lebah dan budak . Namun orang Rote menolak membayar gaji guru yang didatangkan Belanda dengan budak. Mereka hanya mau membayar dengan kacang ijo dan lilin lebah.
Bayangkan kalau seandainya gaji guru dibayar dengan budak. Tentu banyak sekali budak yang dimilikanya ketika guru itu pensiun. Tinggal ongkang-ongkang saja karena sawah dan lading dikerjakan oleh para budak. Untung hal itu tak terjadi.
Jadi pendidikan di pulau Rote bukan dimulai dengan uang. Dengan demikian maka akhirnya pulau Rote memiliki belasan sekolah angka loro atau sering juga disebut sekolah gubernemen (sekolah negeri) Ayahku memasuki sekolah itu, tetapi sebelum menamatkannya di Rote, ia sangat ingin merantau.
Kakek menyetujuinya lalu menjual beberapa ekor kambing. Lalu ayah dikirim ke Kupang untuk tinggal dengan guru Lanu yang juga berasal dari Ringgou, kampung ayah. Karena kakek tak mampu mengirim uang tiap bulan maka ayah memperoleh status anak piara. Biasanya anak yang dipiara oleh orang Rote yang bergaji, bekerja serabutan mulai dari mencari kayu bakar, memikul air mandi dan minum, mencuci piring, momong anak majikan dan sebagainya. Imbalannya adalah makan, pakai dan tidur gratis dan di atas segalanya, anak piara itu dimasukkan ke sekolah. Itulah cara penduduk sebuah pulau yang mayoritas penduduknya tidak punya uang kontan, memajukan generasi mudanya.
Tiba-tiba seorang guru yang juga berasal dari kampung ayah, Guru They, dipindahkan ke Takalar, Sulawesi Selatan. Dia mengajak ayah ikut ke Sulawesi. Sudah tentu ayah sangat setuju. Menurut cerita ayah, ketika duduk di kelas terakhir sekolah gobernemen (sekolah angka loro) itu, ayah harus keluar tiga puluh menit lebih awal.
Ia harus berlari pulang ke rumah untuk masak nasi, sayur dan ikan sehingga Guru They pulang, makanan hangat-hangat sudah tersedia.
Begitu ayah tamat ia langsung mendapat pekerjaan sebagai kepala hallte stasion kereta api yang menghubungkan Makassar dan Takalar. Akan tetapi ketika ada lowongan untuk Sekolah Angkatan Laut Kerajaan Belanda (KIS) maka ayah meninggalkan pekerjaannya. Begitu tamat ia ditugaskan di atas kapal perang SUMBA. Teman-teman lainnya yang seangkatan, termasuk Paraja bertugas di kapal Tujuh lalu mengadakan pemberontakan yang terkenal itu.
Ayahku dipecat karena suka berkelahi. Ketika hidungnya ditinju oleh seseorang, ia mencabut pisau lalu menancapkan ke betisnya.” Untung tak putus urat di atas tumitnya ,” demikian beberapa kali kudengar cerita ayah.
Seorang teman sekampungnya yang bekerja sebagai klerk di boom (pelabuhan), tiba-tiba terkejut melihat ayahku berada di atas timbunan karung, sedang berkelahi dengan seorang buruh angkut. Teman itu segera naik ke bukit karung itu untuk menolong ayah dan begitulah, sang buruh segera angkat kaki. Teman sekampung ayah itu terheran-heran mengapa seorang anggota Angkatan Laut Kerajaan Belanda telah duel di atas timbunan karung.
Lalu menurut cerita ayah, ia bekerja di pabrik binatu besar milik orang Belanda, tetapi karena Belanda selalu memarahinya maka hanguslah pakaian putih milik orang Belanda. Tentu saja pemilik perusahaan binatu itu memecat ayah.
Cerita mengenai kembalinya ayah ke pulau Rote tidak banyak yang kuketahui. Ayah hanya bercerita bahwa ia sukar sekali mendapat pekerjaan karena tiba zaman meleset (malaise) yang kira-kira sama dengan masa krisis sekarang ini. Namun tidak lama kemudian ayah mendapat pekerjaan sebagai mantri verpleger (mantri rumah sakit), kemudian kawin dengan seorang wanita asal Rote. Akan tetapi, karena ibu itu tidak mempunyai anak maka menurut ibu itu ketiku bertemu aku, ia mengijinkan suaminya kawin lagi agar mendapat keturunan.
Setelah bercerai dengannya ayahku kawin dengan ibuku dan lahirlah aku, pada suatu subuh tanggal 16 Juni 1931, di sebuah rumah di tepi pantai, tidak jauh dari mercusuar satu-satunya di pulau Rote.
Bajawa, sebuah kota kecil di Kabupaten Ngada (Pulau Flores) adalah kota kesadaran pertama seorang anak kecil yang lahir di pulau Rote. Rasa bersalah dan ketakutan akan ajal dan penghukuman, entah bagaimana telah tertanam dalam diri seorang kanak-kanak sepertiku. Lucu memang, ibu memberiku uang satu kelip untuk sumbangan Sekolah Minggu. Entah karena rayuan si penjual roti keliling, aku membelanjakan uang itu dan ketika sampai di gereja aku tidak seperti anak lain menyerahkan uang itu kepada guru Sekolah Minggu.
Pada suatu hari, kota yang selalu ditutupi kabut musim hujan itu terbelah. Aku melihat ke langit. Di balik awan ada langit biru. Dengan segera aku mengira bahwa langit terbelah dan ini pertanda dunia mulai kiamat. Aku berlari ke rumah. Berlari kencang ngos-ngosan sambil membayangkan bagaimana kalau aku mati nanti dengan dosa yang kubawa, dosa membelanjakan uang untuk Sekolah Minggu? Berlari ketakutan penuh khayalan pada penghukuman dihari kiamat, sampailah aku ke rumah. Aku berkeliling meja makan membawa ketakutan akan terbelahnya langit dan hukuman hari kiamat tetapi ketakutanku hilang karena ibuku tenang-tenang saja, begitu pula adik perempuanku. Rumah (dalam arti home) melenyapkan ketakutanku.

October 4th, 2006

JOB VACANCIES - Kupang

Posted by flobamora in Current Affairs

JOB VACANCIES
Save the Children (SCUK) is a leading international NGO working to create a better world for children. We are seeking experienced national staff to work for a primary education project in NTT funded by AusAID as part of the Australian Governmentâ€(tm)s official overseas aid program. The following positions are available:

PROJECT OFFICER
(Code: PO-WT, 2 posts based in Kupang, West Timor)
The Project Officer (reporting to the Senior Project Officer) assists in developing and implementing programme activities to improve childrenâ€(tm)s access to quality primary education.

MAIN DUTIES:
§ Implementing and delivering programme activities
§ Conduct monitoring and evaluation activities in order to provide line managers with critical and strategic feedback for improving Save the Children UKâ€(tm)s education programme strategies and practices
§ Develop, maintain and improve relationships with local partners (Government, LNGOâ€(tm)s) to ensure sustainability of the programme
§ Prepare and develop weekly/monthly progress reports

REQUIREMENTS:
§ Bachelorâ€(tm)s degree in education or related discipline
§ Minimum of 3 years of proven relevant experience in primary education programmes with national or international NGOs
§ Experience of pedagogy at primary level, active teaching and learning processes, training and workshops for teachers
Please send application stating relevant experience, code and specific location of position applied for, along with CV to the postal or email address below by 10 October 2006. Only short-listed candidates will be notified. Due to urgent need, applications will be reviewed on a daily basis and candidates may be interviewed and position filled before the closing date.

Office Manager SCUK
Jl. Merpati Tenukiik, #10
Atambua Kota
Fax : 0389 â€" 22513
putu.juliani@ gmail.com

All recruitment practices and procedures reflect Save the Children UKâ€(tm)s commitment to protecting children from abuse.

Next Page »
  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: