Nostalgia Flobamora (2)
Jika kemudian ekonomi uang memasuki pulau itu maka subsistensi yang etis itu akan hidup bersama dengan manipulasi, dengan kelicikan, dengan penipuan dan pencurian. Ekonomi lontar atau ekonomi gula begitu berkenalan dengan arak (sopi) yang diperkenalkan oleh Belanda (dibawa dari Batavia) maka maraklah penyulingan arak (sopi) di bawah naungan pohon lontar. Orang Rote menjadi pemabuk, pemarah dan pemalas – terutama anak-anak mudanya. Mereka menjadi penganggur urban di Kupang dan kota-kota lain di Indonesia, terasing dari tanah di pulaunya yang membuat nenek-moyangnya berabad-abad sangat subsisten, jauh dari pengangguran urban.
Di masa VOC orang Rote mulai sadar bahwa mereka buta huruf dan sangat memerlukan sekolah. Akan tetapi dengan apa mereka membayar gaji guru ? Maka VOC meminta guru dibayar denga kacang ijo, lilin lebah dan budak . Namun orang Rote menolak membayar gaji guru yang didatangkan Belanda dengan budak. Mereka hanya mau membayar dengan kacang ijo dan lilin lebah.
Bayangkan kalau seandainya gaji guru dibayar dengan budak. Tentu banyak sekali budak yang dimilikanya ketika guru itu pensiun. Tinggal ongkang-ongkang saja karena sawah dan lading dikerjakan oleh para budak. Untung hal itu tak terjadi.
Jadi pendidikan di pulau Rote bukan dimulai dengan uang. Dengan demikian maka akhirnya pulau Rote memiliki belasan sekolah angka loro atau sering juga disebut sekolah gubernemen (sekolah negeri) Ayahku memasuki sekolah itu, tetapi sebelum menamatkannya di Rote, ia sangat ingin merantau.
Kakek menyetujuinya lalu menjual beberapa ekor kambing. Lalu ayah dikirim ke Kupang untuk tinggal dengan guru Lanu yang juga berasal dari Ringgou, kampung ayah. Karena kakek tak mampu mengirim uang tiap bulan maka ayah memperoleh status anak piara. Biasanya anak yang dipiara oleh orang Rote yang bergaji, bekerja serabutan mulai dari mencari kayu bakar, memikul air mandi dan minum, mencuci piring, momong anak majikan dan sebagainya. Imbalannya adalah makan, pakai dan tidur gratis dan di atas segalanya, anak piara itu dimasukkan ke sekolah. Itulah cara penduduk sebuah pulau yang mayoritas penduduknya tidak punya uang kontan, memajukan generasi mudanya.
Tiba-tiba seorang guru yang juga berasal dari kampung ayah, Guru They, dipindahkan ke Takalar, Sulawesi Selatan. Dia mengajak ayah ikut ke Sulawesi. Sudah tentu ayah sangat setuju. Menurut cerita ayah, ketika duduk di kelas terakhir sekolah gobernemen (sekolah angka loro) itu, ayah harus keluar tiga puluh menit lebih awal.
Ia harus berlari pulang ke rumah untuk masak nasi, sayur dan ikan sehingga Guru They pulang, makanan hangat-hangat sudah tersedia.
Begitu ayah tamat ia langsung mendapat pekerjaan sebagai kepala hallte stasion kereta api yang menghubungkan Makassar dan Takalar. Akan tetapi ketika ada lowongan untuk Sekolah Angkatan Laut Kerajaan Belanda (KIS) maka ayah meninggalkan pekerjaannya. Begitu tamat ia ditugaskan di atas kapal perang SUMBA. Teman-teman lainnya yang seangkatan, termasuk Paraja bertugas di kapal Tujuh lalu mengadakan pemberontakan yang terkenal itu.
Ayahku dipecat karena suka berkelahi. Ketika hidungnya ditinju oleh seseorang, ia mencabut pisau lalu menancapkan ke betisnya.” Untung tak putus urat di atas tumitnya ,” demikian beberapa kali kudengar cerita ayah.
Seorang teman sekampungnya yang bekerja sebagai klerk di boom (pelabuhan), tiba-tiba terkejut melihat ayahku berada di atas timbunan karung, sedang berkelahi dengan seorang buruh angkut. Teman itu segera naik ke bukit karung itu untuk menolong ayah dan begitulah, sang buruh segera angkat kaki. Teman sekampung ayah itu terheran-heran mengapa seorang anggota Angkatan Laut Kerajaan Belanda telah duel di atas timbunan karung.
Lalu menurut cerita ayah, ia bekerja di pabrik binatu besar milik orang Belanda, tetapi karena Belanda selalu memarahinya maka hanguslah pakaian putih milik orang Belanda. Tentu saja pemilik perusahaan binatu itu memecat ayah.
Cerita mengenai kembalinya ayah ke pulau Rote tidak banyak yang kuketahui. Ayah hanya bercerita bahwa ia sukar sekali mendapat pekerjaan karena tiba zaman meleset (malaise) yang kira-kira sama dengan masa krisis sekarang ini. Namun tidak lama kemudian ayah mendapat pekerjaan sebagai mantri verpleger (mantri rumah sakit), kemudian kawin dengan seorang wanita asal Rote. Akan tetapi, karena ibu itu tidak mempunyai anak maka menurut ibu itu ketiku bertemu aku, ia mengijinkan suaminya kawin lagi agar mendapat keturunan.
Setelah bercerai dengannya ayahku kawin dengan ibuku dan lahirlah aku, pada suatu subuh tanggal 16 Juni 1931, di sebuah rumah di tepi pantai, tidak jauh dari mercusuar satu-satunya di pulau Rote.
Bajawa, sebuah kota kecil di Kabupaten Ngada (Pulau Flores) adalah kota kesadaran pertama seorang anak kecil yang lahir di pulau Rote. Rasa bersalah dan ketakutan akan ajal dan penghukuman, entah bagaimana telah tertanam dalam diri seorang kanak-kanak sepertiku. Lucu memang, ibu memberiku uang satu kelip untuk sumbangan Sekolah Minggu. Entah karena rayuan si penjual roti keliling, aku membelanjakan uang itu dan ketika sampai di gereja aku tidak seperti anak lain menyerahkan uang itu kepada guru Sekolah Minggu.
Pada suatu hari, kota yang selalu ditutupi kabut musim hujan itu terbelah. Aku melihat ke langit. Di balik awan ada langit biru. Dengan segera aku mengira bahwa langit terbelah dan ini pertanda dunia mulai kiamat. Aku berlari ke rumah. Berlari kencang ngos-ngosan sambil membayangkan bagaimana kalau aku mati nanti dengan dosa yang kubawa, dosa membelanjakan uang untuk Sekolah Minggu? Berlari ketakutan penuh khayalan pada penghukuman dihari kiamat, sampailah aku ke rumah. Aku berkeliling meja makan membawa ketakutan akan terbelahnya langit dan hukuman hari kiamat tetapi ketakutanku hilang karena ibuku tenang-tenang saja, begitu pula adik perempuanku. Rumah (dalam arti home) melenyapkan ketakutanku.