Nostalgia Flobamora (3)
Samar-samar terbayang olehku, ada beberapa anak kecil yang mengikuti Sekolah Minggu itu. Rasanya tidak sampai sepuluh orang. Gereja Protestan di Bajawa tampak dalam kenanganku, sebuah bangunan kumuh. Barangkali lantainya tanah dengan bangku-bangkunya tanpa sandaran. Aku masih ingat pada sosok seorang anak muda yang menjadi guru Sekolah Minggu. Rasanya di gereja kecil itulah terjadi pertemuan antara ide tentang Tuhan yang sudah tertanam dari sononya dalam jiwa seorang anak kecil sepertiku dan informasi yang diperoleh dari guru itu tentang Tuhan yang turun ke bumi untuk menjemput manusia yang tak berdaya menghadapi ajal dan gelimang dosa.
Kota Bajawa di masa kecilku terdiri dari sebuah tangsi polisi, sebuah rumahsakit, sebuah Sekolah Rakyat, sebuah Gereja Katolik yang indah dan besar sekaligus rumah-rumah untuk pastor dan suster dan beberapa rumah pembesar pemerintah serta beberapa took milik orang Tionghoa dan sebuah pasar terbuka (lapangan). Lapangan rumputnya hijau subur terpotong rapi, mungkin oleh orang-orang strapan (narapidana). Aku tak ingat di mana letak penjara, kecuali jalan menuju kuburan karena rumah dinas kami nomor dua dari pojok jalanan menuju tempat itu.
Ayahku seorang mantri yang mengepalai rumahsakit di kabupaten itu. Masa itu dokter tinggal di ibukota keresidenan (di Endeh) dan sekali-sekali ia dating mengunjungi rumahsakit yang dipimpin oleh ayahku.
Aku ingat betul, pada suatu malam, perutku kram luar biasa. Aku merintih kesakitan. Ayahku menghilang dan kemudian kembali dengan seorang lelaki bule tampak di depan mataku dan ia menaruh stetkop di tubuhku sambil meraba-raba perutku.
Tidak lama kemudian sakitku hilang dan aku tidur lelap dan bangun segar di pagi hari meninggalkan kenangan wajah lelaki bule dan rabaan tangan di perutku, serta suaranya yang samar entah tentang apa bicaranya, aku tak ingat lagi.
Orang selalu memanggil aku Be’a. Ini adalah nama panggilan kesayangan bagi orang Rote. Setiap anak yang sangat disayangi dipanggil Be’a baik ia lelaki atau pun perempuan. Begitu pula kakek yang sangat disayangi, dipanggil Papa Be’a. Nenek kami dipanggil Mama Be’a. Kadang-kadang aku dengar orang mengatakan bahwa kami, aku dan adik perempuanku Matilda alias Nona, anak Tuan Hof. Ini karena ayahku . Itu karena ayahku berpangkat Hoofd Mantri atau Mantri Kepala di rumah sakit itu.
Rumahsakit Bajawa terletak di salah satu pojok halaman tangsi polisi. Biasanya di sore hari ayahku mengajak aku ke rumah sakit. Aku memegang tangan ayahku berjalan setengah mengelilingi tangsi dan dalam perjalanan aku selalu bertanya dan bertanya ”apa itu”. Masa ”apa itu” itu kunikmati benar. Ayah tampak membunyi-bunyikan giginya sedangkan aku memberondongi ayah dengan Tanya ” Apa itu, Pa?” Aku terpesona memandang lapangan rumput yang hijau , pohon-pohon yang rindang, rumah-rumah dan mulut ku berbunyi, ”Apa itu, Pa?” Perasaanku mengalun indah dan tersangka aku menggigit-gigit kukuku.
”Jangan makan kuku,” kata ayahku.
”Kenapa kalau makan kuku,p pa?” tanyaku.
Jawaban yang aneh, yang masih kuingat sampai hari ini, ”makan kuku sendiri berarti makan orang tua?” kata ayahku.
Aku menguakkan muka ke atas, memandang ayahku. Beliau tenang-tenang saja dan aku menikmati elusan udara irasional dalam jiwaku. Ayah tidak mengatakan bahwa di kuku ada telur cacing dan kalau makan kuku, cacing akan masuk ke mulut dan ke perut, kemudian membuat aku sakit. Pada waktu aku sakit, orang tua jadi susah, sedih.
Kasihan ayah dan ibuku kalau aku sakit. Entah, apakah analisa yang demikian itu terjadi di saat itu atau di kemudian hari ketika aku telah bersekolah, aku tak tahu, tetapi aku lebih yakin bahwa setelah mendapat pendidikan tentang ilmu kesehatan barulah jelas bahwa seorang anak yang menggigit-gigit kuku adalah seorang yang makan (menyusahkan) orang tua bila anak itu sakit perut. Kata-kata ”makan orang tua” masih terngiang dalam kasanah kenanganku.
Di tahun baru dan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina, orang di kota kecil itu berpesta membakar mercon. Kenikmatan bakar mercon terasa juga tetapi kenikmatan ini sirna karena berita ada anak yang matanya buta. Oleh karena itu aku sangat takut pada bunyi dan semprotan mercon. Naluri menyelamatkan diri lebih besar daripada naluri menantang bahaya api dan ledakan. Begitulah, pada suatu hari entah hari raya apa, ada anak tangsi membakar mercon besar di lapangan segitiga di luar tangsi di samping menara air. Melihat mercon itu ditutupi sebuah kaleng susu, naluriku menyuruh aku berlari menjauhi ledakan yang tentu akan besar sekali.
Dari kejauhan yang aman, aku melihat dengan aman pula kaleng susu itu mental cukup tinggi ke udara. Setelah dewasa kalau dikenang kembali, aku geli sendiri mengenang ketakutan yang demikian, ketakutan lihat langit terbelah dan ketakutan pada ledakan mercon besar. Naluri melarikan diri dari bahaya di masa kecil, tampaknya tidak hilang ketika aku sudah bekerja sebagai pegawai negeri (guru) dan setelah berumahtangga. Di masa kecil, tidak ada akibat apa tetapi di masa dewasa naluri melarikan diri membuat aku menemui serba kesulitan dan kelucuan hidup. Penuh dengan tragedi dan komik. Misalnya ketika aku lari dari Ternate di saat timbulnya pemberontakan Permesta .Begitu ada kapal di pelabuhan, aku segera naik ke atas dengan pakaian di badan dan kemudian terdampar di Bali. Dengan ”mengemis” sana ”mengemis” sini aku mendapat ongkos untuk ke Jakarta. Di Jakarta, pembesar pendidikan menengah marah-marah lalu memindahkan aku ke Bima. Dua tahun lamanya aku tak menerima gaji. Bayangkan aku masih hidup dan mengajar terus dalam kebaikan orang-orang di Bima . Aku masih ingat pada haji Achmad seorang saudagar yang pernah membantu aku. Aku deºngar saudagar yang baik itu mewariskan usahanya kepada anak-anaknya yang pernah aku didik.
(Bersambung)
on October 11th, 2006 at 1:38 am
makasih untuk postingnya, ini baru pertama aku baca tentang ’sang guru’ walau sebenarnya uda tau lama judulnya. bagus ceritanya dan hidup penuturunnya.