Bae sonde Bae

October 12th, 2006

Nostalgia Flobamora (4)

Posted by flobamora in Nusa Tenggara Timur

Melihat yang demikian, aku jadi takut karena rumahnya dekat. Aku lalu meninggalkan dia menangis pulang kerumah. Untung tidak ada yang melaporkan kepada ayah dan ibuku. Hukuman terhadap kenakalanku selalu tersedia. Hal ini aku alami ketika pada suatu hari, ada seorang gadis manis berjalan memakai kebaya, kain batik dan berkerudung. Mungkin ia anak pegawai negeri (guberneman) sehingga ia kenal betul ibuku.
Aku agak lupa, kata-kata yang kuucapkan kepadanya. Aku hanya ingat bahwa aku selalu melihat pinggulnya yang indah dan lenggangnya yang lembut dan pakaiannya bergaya muslim.Mungkin aku tertarik padanya, mungkin bibit libido mulai bertumbuh atau mungkin karena keusilan seorang anak yang masih ingusan, anak yang belum bersekolah. Ibuku marah besar.dia menyuruh pembantu membawah cabe dan cobek.
Kemudian ia menyuruh pembantu mengambil tahi ayam. Ibu mengulek-ulek semuanya dicobek lalu menangkap aku, memeluk erat-erat dan menggosokan sambal tahi ayam itu kepada mulutku. Setelah aku besar, aku sadar bahwa semuanya itu gombal. Bukan tahi ayam sebenarnya yang dioleskan ke mulutku yang kotor terhadap gadis berkain kebaya dan berkerudung itu.
Musim hujan tiba. Setelah ibu memandikan aku dengan menggosok-gosok telapak kaki dan seluruh tubuh, terutama tumitku yang dakinya tebal, aku mulai berani mandi pagi. Disore hari aku masuk ke bak mandi dan mengocok-ngocok bak itu.
Alangkah senangnya.Dimusim kemarau aku takut mandi pagi dan sore sehingga, bilamana tiba acara mandi aku menangis-nangis ketika dimandikan ibu, apalagi ibu menyebut-nyebut nama Oom Obaya, sopir oto pos (mobil pos) dan tuan inspektur polisi Belanda yang suka berkeliling kota naik sepeda motor gandengan.
Aku paling takut polisi bule itu. Bila ada bunyi sepeda motor gandengan aku lari bersembunyi. Adikku Matilda, pada suatu sore, ketika berjalan bersama ayah, tiba-tiba ia berteriak ketakutan memeluk ayah ketika serombongan suster katolik bule berpakaian putih-putih mendekati kami.Ia tidak takut melihat orang berpakaian putih membungkus seluruh badan.
Ketika bungkusan itu masih jauh, bergerak berombongan, ia tenang-tenang saja tetapi begitu mendekat dan ada manusia putih bermata hijau tertarik pada anak manis kekuningan berambut agak merah dan mencoba mencubit pipinya, adikku berteriak, menangis ketakutan memeluk kaki ayah. Aku hanya geli sendiri dan menatap terus mata biru dalam jilbab katolik itu.
Di Bajawa, seperti juga di semua kabupaten di Flores, kontrolir dan aspiran kontrolir, kemudian inspektur, semuanya Belanda. Di bawah mereka seperti klerk dan Bestuur Assisten adalah orang Rote. Kepala tangsi polisi juga seorang yang berasal daro Rote. Dia pamanku, To’o Hormu. Celakanya, opas-opasnya pun berasala dari Rote. Pakaian opas seperti polisi, memakai kelewang panjang dan topi bambu. Kumisnya terputar bagaikan tanduk kecil di bibirnya.
Dia menjaga kantor-kantor, rumah kontrolir dan bangunan penting lainnya. Kalau ada pohon mangga yang rimbun dan berbuah lebat di depan bangunan itu, opaslah musuh anak-anak yang lebih besar dariku, anak-anak yang telah bersekolah. Ada yang mengatakan, mencuri buah mangga kurang enak tetapi larinya itu yang enak. Pencuri mangga harus cepat turun dari pohon lalu lari melompat pagar. Itulah yang lebih enak dari mencurinya. Walaupun masih kecil, aku sudah bisa berpikir bahwa anak-anak pencuri mangga itu akan menjadi orang jahat kalau sudah besar.
Kembali ke cerita mengenai musim hujan, aku ingat, pada suatu hari ketika aku bangun tidur siang, aku berteriak-teriak memanggil ibu. Ke kamar tamu dan pintu depan yang menghadap jalan raya, aku memanggil keras-keras, ”Mama…” Tidak ada jawaban. Aku ke dapur dan berteriak, ”Mama…” Kemudian terdengar jawaban ibu dari halaman belakang. Aku melongok ke halaman belakang. Ternyata ibu sedang menanam jagung, labu dan sebagainya, dibawah siraman hujan dan gemuruh atap seng rumah kami. Kepalanya berbungkus handuk.
Kemudian aku melupakan kegiatan ibuku. Setelah empat atau lima bulan, aku gembira sekali ketika melihata halaman belakang. Jagung dan labu telah berbuah dan bisa dipetik. Ibu memetik beberapa buah jagung muda dan merebusnya. Aku dan adikku melahap jagung muda rebus itu dan sayur pucuk dan bunga labu.
Buah labu yang panjar belum bisa dipetik karena masih terlalu muda, tetapi jagung dan sayur daun dan bunga labu itu, mungkin untuk pertama kali aku kenal dan sadar memasuki perutku. Aku ingat, beberapa hari kemudian aku memetiknya dan merebusnya sendiri dengan periuk besi.
Lalu aku tidak lagi keluar rumah. Setiap hari aku sibik merebus jagung.
Ketika aku menjadi sastrawan, pergumulan batin paling menonjol adalah di seputar keterasingan makhluk-makhluk urban dan para penganggur. Aku dekat dengan para miskum (orang miskin dan kumuh) atau para kumis (manusia kumuh dan miskin). Mereka terasing, tercerabut, teralienasi dari tanah. Ibulah yang mengajarkan aku bagaimana memperoleh solusi dari keterasingan atau alienasi manusia dari tanah. Orang-orang kota hanya bergantung pada tenaga mereka, tenaga tubuh mereka.
Tenaga dan tubuh mereka tercerabut dari kepribadian mereka, dicabut, direbut oleh uang. Para buruh, para kuli, para pedagang kecil, para pelacur, harus banting tulang menjual daging mereka untuk uang agar bisa makan. Semua mereka terasing dari mereka. Seandainya mereka punya tanah dan pengetahuan untuk menyuburkan tanah dan memelihara tanaman, maka mereka tidak akan kekurangan makanan. Mereka tidak mengasingkan tenaga produktif mereka, daging mereka (seks dan tenaga mereka) kepada uang. Mereka tidak akan terasing, sakit, menjadi manusia tak berdaya.
Manusia, disamping jiwa, roh adalah apa yang dimakannya. Jika makanannya kurang sehat, maka manusia akan bodoh, menjadi setengah binatang. Orang-orang kota dari jenis Miskum atau Kumis gampang digerakkan oleh elit politik dan orang-orang berduit untuk menjadi binatang yang berkelompok untuk bunuh diri ramai-ramai dengan melakukan kerusuhan.

(Bersambung). 



Leave a reply

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: