Bae sonde Bae

October 14th, 2006

Nostalgia Flobamora (5)

Posted by flobamora in Nusa Tenggara Timur

Indonesia dewasa ini ketika kutulis kenang-kenangan masa kecilku ini, benar-benar telah meninggalkan tanah, meninggalkan hujan, meninggalkan kegiatan pertanian mandiri. Padahal setelah beberapa bulan bibit ditaruh di tanah air kita yang subur ini, makanan akan tiba di dapur dan perut dan kita pun tidak usah membelinya, kita tidak usah tergantung pada uang yang dipinjam dari luar negeri, tidak usah tergantung pada belas kasihan negeri kaya. Malah dengan cukupnya makanan di kebun sendiri, kita dapat bekerja keras dan tenang untuk membayara utang. Program yang produktif di bidang pertanian perlu lekas dibuat, karena tanah bukan saja menghasilkan makanan tetapi juga kerajinan tangan dalam rangka produksi oleh massa di desa-desa dan bukan produksi massal pabrik-pabrik milik segelintir konglomerat. Selama tiga tahun tinggal di Bajawa aku mendengar dari ibu bahwa aku adalah anak nomor lima dan anak perempuanku adalah si bungsu. Di pulau Rote, tepatnya di Nusak (Kerajaan) Ti ada empat saudara tiriku yang memakai nama marga (fam) Messakh. Si sulung bernama Benjamin B. Messakh, nomor dua bernama Mariana Messakh, yang ketiga bernama Dina Messakh dan keempat bernama Benyamin Messakh. Nenekku dari ibu memang dari keluarga Messakh, kawin dengan ayah ibuku dari keluarga Manu yang tergabung dalam leo (suku-suku) Nalefeo yang pada gilirannya sub subsuku Nalefeo masih berkerabat dengan suku-suku Ndanafeo, Todafeo dan Mesafeo. Semua leo tersebut menurut adat Rote menyediakan isteri-isteri bagi para raja di kerajaan Ti (ejaan Belanda Thie). Suami pertama ibuku adalah seorang raja dari kerajaan Ti. Karena ia terlibat dalam perang suky dengan orang Dengka (sebuah kerajaan tetangga) maka Belanda membuang membuang dia ke pulau Sumbawa dan Flores. Di sana ia kawin lagi. Ibu minta cerai. Kawin lagi dengan raja baru bernama Thobias Messakh, ibu melahirkan dua orang anak yaitu Dina dan Benyamin. Tiba-tiba raja itu meninggal. Perkawinannya dengan ayahku, melahirkan aku dan adikku yang dibawa ke Bajawa. Aku dilahirkan di pulau Rote seperti halnya keempat kakakku dan adikku lahir di pulau Semau, sebuah kecil di depan teluk Kupang. Semua itu aku dengar dari ibuku. Ibuku juga bercerita bahwa kakekku dari pihak ayah adalah seorang temukung besar kepala beberapa desa yang terkenal karena memperoleh beberapa bintang dari pemerintah karena jasanya selama tiga puluh tahun mengumpulkan pajak dan satu sen pun tidak dikorup. Juga aku pernah mendengar cerita bahwa di pulau Semau, ibuku pernah sakit keras. Ada infeksi parah di geraham ibuku tetapi untung dokter Belanda di Kupang dapat mengobatinya. Kemudian ayah dipindahkan ke Sumba, memimpin klinik di sebuah dusun bernama Langgaliru, terletak diantara Waingapu dan Waikabubak. 

Kakakku Benyamin Besar, Mariana dan Benyamin kecil tinggal di Rote sedangkan kakak Dina ikut serta. Ikut juga Hosea Poyk (kami memanggilnya Papa Ose) dan Jeremias Poyk (Papa Mias). Di dusun itu menurut cerita ibu aku pernah jatuh dari atas kerangka mobil tua sehingga dadaku lembek dan batuk-batuk terus. Lalu aku dibawa seluruh keluarga melalui padang savana Sumba menuju ke sebelah barat, ke kota kabupaten Waikabubak. Menurut kakak perempuanku Dina, semuanya mengenderai kuda sedang ibuku bercerita bahwa angin mendesing siang dan malam dan batukku tak henti-hentinya. Semua itu tak kusadari. Di tahun 1985, aku sampai dengan bus ke Langgaliru. Berhenti di terminal asal jadi di tepi sungai bening, aku bertanya dalam hati dimanakah klinik yang dikepalai oleh ayahku? yang jelas aku pernah minum dari mata air bening di dusun itu, pernah mandi di sungai bening itu, tetapi semuanya tak kusadari, sampai usiaku memberi kesadaran akan dunia di kota kecil Bajawa, dimana ayahku naik pangkat dari kepala klinik menjadi Hoofdt Mantri yang mengepalai sebuah rumah sakit kabupaten. (Bersambung) 



Leave a reply

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: