Bae sonde Bae

October 19th, 2006

Nostalgia Flobamora (6)

Posted by flobamora in Nusa Tenggara Timur

Cerbung01_4

Pada suatu pagi aku berontak mati-matian karena ibu ingin membawaku ke sekolah. Ibu menggendong aku di pinggangnya dan aku menangis terus, menangis terus meronta-ronta sampai ke Sekolah Rendah yang terletak di seberang lapangan di depan rumah sakit. Sampai di sana aku berhenti menangis karena aku melihat banyak anak-anak sebayaku.
Aku turun dari pinggang ibu dan guru menyambutku, mengangkat tanganku lewat kepala, menyuruh aku meraba telingaku. Sudah itu aku didaftarkan sebagai murid kelas satu tetapi boleh pulang. Sekolah baru mulai besoknya. Aku berkeliling sekolah itu. Aku melihat ada beberapa kantong terbuat dari anyaman daun pandan, seperti kresek plastik zaman sekarang, berisi sesuatu, tergantung di tembok sekolah, di pohon dan di tiang lonceng.
Aku melihat-lihat dari bawah, penuh tandatanya. Tidak ada yang menyuruh aku memanjat tiang lonceng tetapi tiba-tiba aku memanjat tiang lonceng untuk melihat apa yang berada dalam kresek anyaman daun pandan itu. Aku merogoh salah satu kantong dan ternyata isinya jagung kering goreng yang kerasnya seperti batu. Tetapi rahang anak Bajawa dapat menghancurkannya. Anak-anak yang membawa jagung goreng kering (tanpa minyak) itu datang dari kampung yang jauh. Makan pagi mereka dari jagung, ubi dan sebagainya, begitu juga makan siang mereka. Tak ada satu pun yang membawa uang jajan.
Pulang ke rumah, entah bagaimana, aku malas ke sekolah. Ibuku membongkar aku dari keasyikan nyenyak pagi, menyuruh aku mandi tetapi aku menolak semuanya. Aku menangis sejadi-jadinya menolak ke sekolah. Setelah menakut-nakuti aku dengan oto-pos (mobil pos) dan tuan inspektur Belanda, barulah aku mau berjalan bersama ibu ke sekolah. Anak-anak kelas satu telah duduk tenang-tenang di kelas. Ibu langsung mengantarkan aku ke dalam kelas lalu guru mendudukkan aku di bangku paling depan.
Begitu ibuku keluar, sang guru (Tuan Riberu) yang kulitnya hitam membelalakkan matanya kepadaku lalu menggerutu. Jantungku berdebur ketakutan tetapi mataku melihat ke jendela dan ada sedikit rencana kilat muncul di benakku. Kalau dia menyeringai dan bangun mendekatiku, bangun dari kursinya dan menerkam aku maka aku akan lari ke jendela dan melompat lalu lari ke rumah dan takkan kembali lagi selama-lamanya, selama-lamanya! Hanya itu yang kuingat benar ketika masuk sekolah di Bajawa. Aku tidak ingat bahwa guru mulai mengajar membaca, berhitung atau menyanyi. Aku tak ingat berapa lama aku belajar di situ.
Pada suatu malam aku dan adikku dibangunkan lalu dibawa ke mobil dan begitu bangun tidur aku, adikku dan ibuku telah berada di sebuah rumah berlantai tanah di kota pelabuhan Endeh. Ayahku tidak kelihatan ketika aku bangun pagi. Rumah itu terletak di seberang jalan dari rumah Bung Karno, di kampung Tiang Radio, dekat sebuah sumur yang dalam, yang airnya ditarik ramai-ramai oleh beberapa perempuan dari Sabu (sebuah pulau kecil di Laut Sabu). Tidak lama kemudian ayahku kembali, membawa uang logam cukup banyak dan ibu belanja makanan yang cukup enak seperti halnya di Bajawa.
Rumah itu milik seorang bernama Manafe, asal Rote. Begitu ayahku muncul ia membawa kami ke sebuah rumah di samping katedral, di kaki bukit kecil, di sebelah kuburan Tionghoa. Malam pertama telingaku disengat kalajengking sehingga aku terkaing-kaing menangis memecah kesunyian.

Bersambung 



Leave a reply

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: