Pengantar Redaksi
Pada tahun-tahun awal terbitnya Sinar Harapan, sebuah novel berjudul Sang Guru, karya Gerson Poyk dimuat bersambung. Novelis itu yang juga seorang guru di Bima, NTB (ketika itu Bima masuk Karisidenan Timor) kemudian menjadi wartawan Sinar Harapan. Sebuah kenangan yang paling tak bisa dilewatkan, yaitu dialah yang pertama kali menggunakan istilah Kabinet Seratus Menteri untuk menjuluki kabinet yang berganti-ganti pada masa akhir pemerintahan Soekarno. Kini, Sinar Harapan menandai kelahirannya kembali juga dengan memuat novel terbaru Gerson, Nostalgia Flobamora.
Selamat Menikmati.
1. Buku kenang-kenangan masa kecilku ini kutulis untuk memperingati seekor anjing kesayanganku yang sangat setia mendampingiku kemana aku pergi. Diwaktu aku mandi di mataair Mbaumuku di Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai di Flores Barat, anjing kesayanganku ikut mandi, ketika aku mencabut rumput menyiangi ladang jagungku,ia menungguku. Ketika aku membaca kejayaan dan kejatuhan Napoleon serta kekejaman Kaisar Nero, anjing kesayanganku tidur di kakiku. Ketika otak di kepalaku berurusan dengan kebuasan manusia dalam sejarah kakiku mengusap-usap sebuah kelembutan yang justru dating dari binatang.
Aku masih mengenang sampai hari ini, betapa hancurnya hatiku ketika suatu pagi ketika aku keluar dari halaman dan berjalan beberapa meter menuju sekolah aku melihat anjingku berdiri kemudian berjalan pelan-pelan mendekatiku dan ketika ia mendekat, aku melihat tulang punggungnya telah putus dibelah orang dengan parang. Ia berjalan pelan sekali tidak perduli padaku.
Terbayang olehku, biasanya ia berlari menemuiku lalu melompat dan memelukku dengan suaranya yang riang dan menjilat-jilat tanganku. Bayangan itu membuat aku menangis mengusap-usapnya kemudian menyuruhnya pulang. Begitu ia melangkah pelan-pelan me nuju rumah aku jadi optimis bahwa ia akan sembuh.
Tulang punggungnya yang putus akan tersambung kembali bilamana ia beristirahat dan diberi makan yang bergisi tinggi. Dengan paru-paru yang tampak ia berjalan memasuki halaman rumah lalu berjalan menuju kolong bale-bale bamboo tempat aku selalu duduk atau berbaring sambil membaca riwayat hidup Napoleon dan sebuah buku terbitan Balai Pustaka yang berjudul “Iman dan Pengasihan “ yang mengisahkan kekejaman Kaisar Nero terhadap umat Nasrani di Roma.
Duduk di kelas menghadapi pekerjaan berhitung, aku membayangkan jarum, benang dan kawat untuk menyambung kembali tulang punggung anjingku yang putus itu.
Selain anjing kesayanganku, kenang-kenangan masa kecilku ini terutama kutulis untuk memperingati ayah dan ibuku yang dengan susah payah, penuh kasih sayang membesarkan anak-anaknya, termasuk aku. Yang paling membikin aku bangga pada ayahku ialah bahwa ia menerima anak-anak tirinya, membesarkan mereka, menyekolahkan mereka hingga mereka bisa hidup mandiri.
Yang perempuan kawin dengan orang baik-baik dan yang laki-laki menjadi polisi. Hanya abang tertua yang menjadi tentara yang tidak pernah tinggal dengan kami karena dari rumahnya ia langsung masuk KNIL, dilatih di Purworejo. Ia seangkatan dengan Pak Harto.
Menjelang masuknya Pak Jepang, Pak Harto berpangkat kopral sedangkan abangku sudah sersan. Ketika Jepang mendarat, putuslah hubungan kami dengannya. Di saat sang Merah-Putih berkibar di Indonesia timur, abangku muncul dari hutan gerilya sebagai tentera republik di Sumut.
Ayahku dengan caranya mengantar aku ke pintu gerbang negeri imajinasi sedangkan ibuku dengan caranya pula menuntun imajinasiku ke program-program etis baik dalam tulisan-tulisanku, baik dalam perbuatan praktis dalam masyarakat.
Dengan lain kata ayahku mendorong aku untuk berani mengambil resiko pengembaraan dalam hidup ini, berani untuk hi dup bukan berani mati sedangkan ibuku yang selalu hidup dalam jiwaku, selalu menuntun imajinasiku ke te ngah kebun untuk menanam padi, jagung, ubi, labu dan sebagainya.
Dikemudian hari ketika aku berenang dalam dunia sastra dan filsafat aku mengenang motivasi yang diberikan ayahku.
Ketika aku menulis conceptual tool untuk operasi kemanusiaan, yang berupa kebutuhan maksimum seorang individu yang diambil dari tanah pertanian dan alam, maka ibukulah yang memberi jalan padaku.
Ketika aku menjadi dewasa dan mengembara ke seluruh Indonesia, ketika aku terbang di atas samudera dan benua dan ngelayap di kota-kota dunia, o Tuhan , dimana-mana kudengar derita dan ratap tangis keterasingan urban.
Ketika aku melakukan ekspedisi tunggal mendaki puncak-puncak pegunungan filsafat, ketika itu ibu yang hidup dalam jiwaku menuntun imajinasiku yang terbang dari landasan kategori pengertian rasional yang bersentuhan dengan laboratorium dunia yang menghasilkan pramida besar dan cerobong-cerobong asap industri, menuju ke dunianya sayap-sayap kategori kemerdekaan yang disebut moral, keabadian dan Tuhan.
Di bawah siraman hujan ibu menanam jagung dan sayuran untuk kesehatanku. Itulah kenangan yang paling meresap untuk kemudian, ketika aku menjadi sastrawan, aku sangat yakin bahwa untuk menjadi orang bermoral, perlulah orang kembali ke tanah yang membentang luas di tanah air untuk diolah untuk jadi sawah lading dan padang pengembalaan.
Ayah dan ibuku membawa aku ke suatu perjalanan panjang dari possibility ke probability dan implementasi. Keduanya mempunyai pengabdian tanpa pamrih buat anak-anaknya.
Seperti diketahui, orang-orang di pulau kelahiranku Rote bukanlah petani yang menanami tanaman perdagangan dan industri. Mereka menanam padi, jagung dan sebagainya untuk dimakan sendiri.
Kebanyakan orang Rote menyimpan tiga tahun panen padi di lumbung karena untuk hidup sehari-hari mereka minum gula lontar dan lauk ikan dan sayuran seperti daun kelor, daun papaya dan daun bawang. Itulah yang membuat orang Rote sangat subsisten.
Berabad-abad pulau Rote yang kecil memberikan segalanya untuk penduduknya, sehingga mereka tidak perlu tergantung pada ekonomi uang.Memang ada apa yang disebut ekonomi lontar (gula, balok, anyaman), tapi ekonomi lontar tak membuat orang Rote memegang banyak uang. Mereka tak risau karena makanan dan pakaian yang ditenun sendiri selalu tersedia. Begitu pula dengan tenaga menggarap sawah.Ada begitu banyak kerbau yang dapat merencah (menginjak-nginjak sawah sampai menjadi lumpur).
(Bersambung)