Bae sonde Bae

November 30th, 2006

District Team Leader - (Covalima district - Timor Leste)

Posted by flobamora in Current Affairs

District Team Leader - (Covalima district - Timor Leste)

The District Team Leader (DTL) is a senior position responsible for
management of the Community Health, Food Security, Community Based
Disaster Management and Sustainable Livelihoods programs in the Covalima
district. The DTL will line manage the international Health and
Nutrition Coordinator and with the support of a counterpart national
Team Leader, manage approximately twenty national staff. They will work
closely with three international technical coordinators based in Dili:
Community Health and Nutrition; Sustainable Livelihoods and Food
Security; and, Water Supply and Sanitation.  The DTL will work closely
with the Deputy Program Manager on the overall program development
including integrating advocacy, gender and other program activities. 

Key requirements:
* Experience working in community development programs - health
and/or livelihoods experience a distinct advantage
* Considerable  experience in program management
* Demonstrated high level skill and ability in community
participatory and consultation methods
* Proven experience in developing and conducting training programs
with national NGOs and community groups
* Ability to integrate gender throughout program actvities
* Experience leading a multi disciplinary and multi cultural team
* Working knowledge of Tetum or Bahasa Indonesian (highly
desirable)

This is a 12 month, full time contract. For a full position description
and application form please visit www.oxfam.org.au/jobs or contact
Louise Miller via +61 3 9289 9357 or louisemiller@oxfam.org.au.  Salary
AUS$51,670 plus benefits. 

CLOSING DATE: 5 PM (Melbourne) Thursday 14 December 2006

Equal Employment Opportunity Employer

November 27th, 2006

SURVEY KEPUASAN

Posted by flobamora in Internet, fun & other

Berikut hasil survei terbaru yang menganalisa tingkat kepuasan pria
saat tidur bersama wanita menurut majalah Ehem! edisi Agustus 2006:

1. Tidur dengan Wanita Cantik……Bangga ½ mati.
2. Tidur dengan PSK………………Mahal ½ mati.
3. Tidur dengan Wanita Jelek…….Stress ½ mati.
4. Tidur dengan Wanita Hyper……Capek ½ mati.
5. Tidur dengan Pacar…………….Nafsu ½ mati.
6. Tidur dengan Istri……………….Mending pura-pura mati.
————

ISTILAH KB
1. Kalau 5 tahun kawin, langsung punya 4 anak, itu berarti KB =
Kumpul Bocah
2. Kalau 5 tahun kawin, anak cuma satu, itu berarti KB = Kurang
Bergairah
3. Kalau sudah 5 tahun kawin, belum punya anak, itu berarti KB =
Kurang Bisa
4. Kalau 5 tahun pacaran belum juga kawin, itu berarti, KB = Kagak
Berani
5. Kalo kagak pacaran tapi punya anak, itu berarti KB = KeTerlanjuran
Bunting
6. Kalo kagak punya pacar dan anak, itu berarti KB = Kayaknya Bencong
deh!

———-
SEPAK BOLA DI SURGA

Dua orang sobat kental, Ucup dan Boneng, sedang duduk-duduk sambil
memberi makan ikan di kolam dan membicarakan sepakbola, permainan
yang mereka mainkan setiap hari, apalagi selama piala dunia kemarin.

Tiba-tiba Ucup berkata pada Boneng, "Menurut lo ada nggak ya sepak
bola di surga?"
Boneng berpikir sebentar dan menjawab, "Wah, ngga tau deh gue. Tapi
kita bikin perjanjian aja, kalau gue meninggal duluan, gue bakal
balik dan ngasih tau lo apa ada sepak bola di surga. Kalo lo
meninggal duluan, lo musti ngelakuin hal yang sama".
Mereka pun berjabat tangan, dan ternyata beberapa bulan kemudian si
Ucup yang
meninggal dunia.

Suatu hari, seperti biasa Boneng sedang duduk di pinggir kolam
memberi makan ikan-ikannya seorang diri ketika dia mendengar bisikan
suara,
"Neng… Boneng."
Boneng celingukan, "Ucup…? itu loe nih?"
"Iya ini gue, Neng", bisik hantu Ucup.
Dalam ketakjubannya Boneng bertanya, "Jadi gimana, ada sepakbola ngga
di
surga?"
"Ntar dulu…", Ucup berkata, "Gue punya cerita bagus dan cerita
jelek nih."
"Kasih cerita bagus dulu deh", kata Boneng masih penasaran.
Ucup berkata, "Yaa… emang ada sih sepakbola di surga."
Boneng kegirangan, "Hebat dong! Trus cerita jeleknya apaan?!"
Ucup melenguh dan berbisik, "Lo bakal jadi kiper hari Sabtu ini."

November 23rd, 2006

Lowongan: Area Humanitarian Project Officer Kupang

Posted by flobamora in Current Affairs
Area Humanitarian Project Officer Kupang (only for Indonesian Nationality)
Oxfam Great Britain 
Oxfam GB is an international NGO working in over 70 countries to address poverty and suffering. Oxfam responds in emergencies to save lives; works with people to improve their lives and prospects through longer term development programmes; and campaigns on the issues that we believe will achieve lasting change and an end to poverty.
Location: Indonesia (Makassar, Jayapura, and Kupang)
Closing date: 10 Dec 2006
Job Description

You will be the main focal point for disaster preparedness and risk reduction activities of Oxfam in the concerned field location. You will be responsible for coordinating the process of vulnerability and hazards assessments in designated areas and facilitating capacity building activities for local government authorities, local NGO partners on disaster risk reduction and preparedness. As such, you are expected to manage activities aiming towards influencing the local government or local authorities, as primary duty bearer, to build disaster mitigation aspects into poverty reduction programmes.

Skill and Competence
- Minimum of two years experience with international agencies in implementing and managing humanitarian responses, including experience of building local capacities to assess, design and manage programme
- University Education in Management, Humanitarian or Development related field of study.
- Good understanding of relief and development issues, preferably in the context of complex emergency situation with experience of or ability to work directly with local NGOs and communities.
- Strong interpersonal skills and the ability to work sensitively with people from various cultural and social backgrounds.
- Ability to work as part of a multi-cultural team and communicate effectively, both verbally and in writing.
- Experience in working in multi-sectoral programme and ability to manage multiple priorities and work under pressure and to deadlines.
- Fluency in both written and spoken English and Bahasa Indonesia.
- Computer literacy

Vacancies Contact
phoebe agustine
(pagustine@oxfam.org.uk)
November 16th, 2006

Presentasi Beasiswa Belanda

Posted by flobamora in Current Affairs

Presentasi Beasiswa Belanda

Logo1_new

Jika Anda bekerja di            Institusi pemerintah pusat dan daerah

            universitas negeri/swasta

            LSM dan,

            Media

kami mengundang Anda untuk menghadiri:

Presentasi di Universitas

Hari/tgl: Senin, 20 November 2006

Pukul: 14.00-selesai

Tempat :

Ruang Aula

Gedung Rektorat

Universitas Nusa Cendana

Jl. Adisucipto Penfui

Kupang 

—————————-

Presentasi di BAPPEDA

Hari/tgl: Selasa, 21 November 2006

Pukul: 09.00-selesai

Tempat :

Ruang Aula BAPPEDA

Kantor BAPPEDA Propinsi

Nusa Tenggara Timur

Jl. Polisi Militer No. 2

Kupang

================

Informasi lebih lanjut hubungi: 021-5290 2172

e-mail: beasiswa1@nec.or.id

Netherlands Education Centre adalah lembaga non-profit yang ditunjuk secara resmi dan didanai oleh pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda di Indonesia. Salah satu fungsinya adalah menjalankan program beasiswa pemerintah Belanda, atas nama Kedutaan Belanda di Indonesia.

www.nec.or.id

November 10th, 2006

Pahlawan Nasional Kebanggaan NTT

Posted by flobamora in Nusa Tenggara Timur

Penetapan Izaak Huru Doko yang akrab dengan panggilan Cak Doko sebagai pahlawan nasional, memang sudah sepantasnya. Sebab, pria kelahiran Ledemanu -Sabu, 20 November 1913 itu dikagumi karena keberanian dan nasionalismenya yang tinggi. Di masa silam, Izaak pernah menerima tantangan berkelahi dari seorang tentara Jepang yang mabuk dalam sebuah pesta peresmian sawah di Okamura (Noil Kaoek) di Amarasi.

10izaaku

Prof Maria Agustina Noach PhD MEd menyebut sosok Cak Doko sebagai seorang tokoh yang mengagumkan. Kenangan indah pada tahun 1950, guru besar Universitas Negeri Nusa Cendana (Undana) Kupang itu masih seorang bocah kecil, pelajar Sekolah Rakyat (SR) Airnona, berdiri dalam barisan menyambut kedatangan Cak Doko, seorang pembesar, Menteri Muda Penerangan.

"Cak Doko pantas dan memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai pahlawan bersama sederatan nama tokoh lainnya dari NTT. Cak Doko pantas dihargai dan diabadikan namanya sebagai pahlawan," tegas Prof Maria Noach dalam sarasehan bertajuk "Perjuangan Almarhum Izaak Huru Doko sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia" yang diselenggarakan Universitas Kristen Artha Wacana Kupang, baru-baru ini.

Sementara itu, putra kedua Cak Doko, Paul JA Doko SH seusai mewakili penerimaan Penganugerahan Pahlawan Nasional, kepada Pembaruan di Jakarta, Kamis (9/10), mengatakan pengangkatan sang ayah sebagai pahlawan adalah satu kebanggaan bagi rakyat Nusa Tenggara Timur.

"Bahwa salah satu warga negara Indonesia asal NTT dan kawasan Timur Indonesia diakui perjuangannya melawan penjajah dan mempertahankan keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia," ujar Paul.

Paul menyebutkan upaya mempertahankan NKRI, terlihat. Cak Doko bersama sejumlah tokoh seperti Anak Agung Gede dan tokoh Indonesia Timur lain berjuang lewat Negara Indonesia Timur (NIT). Sekalipun mengambil langkah kooperatif dengan Belanda, mereka berjuang untuk membubarkan NIT dan kembali ke Republik Indonesia. Pola demikian karena kondisi geografis NTT kurang memungkinkan untuk berjuang secara fisik, akhirnya kooperatif dan berhasil.

Paul menceriterakan nasihat ayahnya untuk selalu memberantas kemiskinan dan kebodohan harus melalui pendidikan. "Sikap itulah yang membuat, ia memilih tetap menjadi pendidik. Saat Provinsi Sunda Kecil pada tahun 1958 dimekarkan menjadi tiga provinsi yakni Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT), ia ditunjuk menjadi gubernur pertama, tapi almarhum menolak dengan halus," ungkapnya.

Paul menambahkan saat penyerahan penganugerahan pahlawan di Istana kepada ayahnya, yang menerima bukan dirinya, tetapi putranya Bertho Izaac Doko, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kepulauan Riau (Kepri) didampingi istrinya.

"Anak saya berhak menerima karena perjalanan hidupnya masih panjang dan generasi penerus perjuangan kakeknya. Sebuah kebanggaan bagi Bertho dan putra-putera NTT lainnya. Puji Tuhan bahwa ayah kami dan semua teman-teman seperjuangan untuk mempertahankan NKRI diakui pemerintah dan bangsanya," tandasnya.

Bentuk Organisasi Menurut catatan Pakar Sejarah Undana, Prof Drs Munanjar Widiyatmika, Cak Doko putera ke-8 dari 9 bersaudara dari pasangan Kitu Huru Doko (Alm) dan Loni Doko (Alm). Cak Doko mengenyam pendidikan pada Sekolah Desa antara tahun 1925-1928 di Sabu, kemudian melanjutkan ke MULO B di Ambon (1928-1934) dan HIK Bandung (1934-1937).

Semasa pendidikan di HIK Bandung, Cak Doko bersama Herman Johannes, seorang mahasiswa Tecnische Hoge School (THS) dan beberapa teman lainnya di HIK, yakni Ch F Nadomanu, SK Tibuldji dan JHA Toelle mendirikan organisasi pemuda Timorsche Jongeren yang bertujuan untuk mempersatukan seluruh pelajar asal Keresidenan Timor yang sedang belajar di berbagai kota besar di Indonesia. Sebagai media penghubung dan pemersatu, organisasi pemuda ini menerbitkan majalah De Timorshe Jongeren.

Tahun 1937, mereka membentuk organisasi perjuangan dengan nama Perserikatan Kebangsaan Timor (PKT). Cak Doko dipercaya sebagai ketua dan dibantu Ch F Nadomanu sebagai sekretaris. Lewat perjuangan PKT, HA Koroh, Raja Amarasi dicalonkan sebagai anggota Volksraad. PKT juga mementaskan sandiwara Koko Sonbai yang mengisahkan perjuangan rakyat Timor terhadap ketidakadilan penguasa kolonial Belanda.

Ketika pasukan Jepang di bawah pimpinan Jenderal Hayakawa memasuki Kota Kupang, 20 Februari 1942, Cak Doko sempat ditodong dengan senapan berbayonet dan diperiksa tentara Jepang, namun kemudian dibebaskan. Atas permintaan jemaat Protestan Tabun, bersama Pdt M Haba, Cak Doko menghadap Panglima Tertinggi Bala Tentara Jepang untuk melaporkan keadaan yang sangat mengganggu ketenangan batin umat beragama atas perintah pengumpulan wanita muda. Berkat diplomasi Cak Doko, akhirnya diperoleh jaminan, pengumpulan wanita muda hanya berlaku bagi wanita tunasusila saja.

Cak Doko sebagai Kepala Penerangan dan Kepala Seinendan juga dikenal karena berani membela kepentingan kaum perempuan. Ketika keluar perintah agar semua orang termasuk para istri pegawai untuk dikerahkan dalam kerja paksa pembuatan lubang perlindungan. Ia menyarankan agar wanita peliharaan Minseibu memberi contoh terdahulu dalam kerja paksa tersebut. Alhasi istri para pegawai lolos dari perintah tersebut.

Cak Doko mencatat, satu kenangan manis dalam sejarah perjuangannya, adalah ketika bersama HA Koroh menerima bendera Merah Putih dari pembesar Angkatan Laut Jepang untuk pertama kalinya dikibarkan berdampingan dengan bendera Hinomaru, dalam peringatan Hari Kelahiran Kaisar Jepang (Tenschu Setsu), 9 April 1945.

Ketika Jepang menyerah pada tentara Sekutu, Ken Karikan (Kepala Pemerintahan Jepang) di Kupang, menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada Dr A Gaebler sebagai wali kota, dibantu Tom Pello dan IH Doko. Kekuasaan pemerintahan itu diemban sampai pasukan sekutu mendarat di Kupang, 11 September 1945.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di HIK bandung, Cak Doko diangkat sebagai guru WLO pada Openbare Schakel School di Kupang, sejak 1 Maret 1937 hingga 1 Maret 1942, ketika balatentara Jepang mengambil alih kekuasaan Belanda di Kupang.

Zaman pendudukan Jepang, Cak Doko diangkat sebagai Bunkyo Kakari yang membawahi bidang pengajaran dan penerangan pada Kantor Minseibu Timor di Kupang, sejak 1 Maret 1942 sampai 1 September 1945. bersamaan dengan itu, pada tahun 1944 ketika terbentuk Syo Sunda Syu (Provinsi Sunda Kecil), Cak Doko bersama Raja Amarasi, HA Koroh ditunjuk sebagai anggota Syo Sunda Sukhai Iin, semacam Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang berkedudukan di Singaraja - Bali.

Dituduh Antek Jepang Ketika Jepang bertekuk lutut dalam Perang Dunia II, balatentara Jepang pun meninggalkan Kupang. pasukan NICA mengambil alih kekuasaan. 1 September 1945, Cak Doko diberhentikan dari tugasnya dan sempat menjalani masa tahanan atas tuduhan sebagai antek pasukan Jepang. Namun, kemudian ia diperbantukan sebagai Kepala Kantor Displaces Persons pada Kantor HPB Kupang.

Kariernya terus menanjak, ketika 1 Agustus 1947 dipercayakan sebagai Wakil Direktur Politik Redaktur pada Kabinet Presiden Negara Indonesia Timur (NIT). Selanjutnya, 15 Januari 1948 - 12 Januari 1949, Cak Doko dipercayakan sebagai Menteri Muda Penerangan NIT. Jabatan selanjutnya adalah Menteri Penerangan NIT (1 Januari 1949-14 Maret 1950), Menteri Pengajaran NIT (14 Maret-10 Mei 1950).

Cak Doko kembali dipercayakan sebagai Wakil Direktur Politik Redaktur pada kantor Menteri Pengajaran NIT (10 Mei - 1 Juli 1950). Reprendaris diperbantukan pada kementrian Pengajaran NIT dengan tugas Wakil Sekretaris Jenderal, kemudian sebagai Reprendaris pada Kantor Inspeksi Pengajaran Provinsi Sunda Kecil di Singaraja (1 Juli - 25 Oktober 1950.

Jabatan Inspektur Sekolah Rakyat Daerah Provinsi Sunda Kecil di Singaraja, sempat diemban antara 25 Oktober 1950-1 Januari 1951, selanjutnya sebagai Inspeksi Daerah dengan tugas Pimpinan Sekolah Rakyat Sunda Kecil merangkap Koordinator Inspeksi pengajaran Daerah Provinsi Sunda Kecil sejak 1 Januari 1951 hingga 1 September 1957.

Ketika Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terbentuk bersama Provinsi Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB), Cak Doko memilih pulang kampung untuk menggenjot pendidikan di NTT yang masih jauh tertinggal dibanding daerah lainnya di Indonesia. Padahal, ia ditawarkan untuk ditempatkan sebagai pejabat pada Kementerian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (PP dan K) di Jakarta.

Cak Doko juga pernah menolak ketika akan dicalonkan sebagai Gubernur NTT yang pertama dan Anggota Konstituante. Akhirnya, Cak Doko diangkat sebagai Kepala Perwakilan PP dan K merangkap Kepala Dinas PP dan K NTT hingga pensiun pada tahun 1971.

Buah perjuangan dalam bidang pendikan di NTT, adalah pembangunan Kantor Perwakilan PP dan K NTT di Kupang, menggagas berdirinya Universitas Udaya di Denpasar - Bali (1959) dan Undana Kupang (1962), membentuk Yayasan Pendidikan Kristen (Yupenkris) yang mendorong berdirinya Sekolah Dasar (SD) Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) yang tersebar di berbagai pelosok di NTT serta mendirikan Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang pada tahun 1985 lalu.

Dalam membina rumah tangga, Cak Doko menikah dengan Dorkas Doko - Toepoe, 7 November 1938 dan memiliki empat putra, masing-masing Drs Benny Doko, Paul JA Doko SH, Viktor WF Doko dan Isayati M Doko.

Cak Doko meninggal dunia di Kupang, 29 Juli 1985. Untuk mengenang kepahlawanan Cak Doko, sebuah patung atau monumen torso IH Doko dibangun di sudut timur lapangan upacara yang diberi nama Alun-alun IH Doko di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT di Kupang. [Pembaruan/Adhie Malehere/Wolas Krenak]

http://www.suarapembaruan.com/News/2006/11/10/Personal/per01.htm

November 9th, 2006

Australian Idol 2006 - Final 3

Posted by flobamora in Music

Ini link di YouTube:

http://www.youtube.com/watch?v=Y07y0uiMEUo&mode=related&search=

November 4th, 2006

Flobamora (8)

Posted by flobamora in Nusa Tenggara Timur

Sajak ini kutulis ketika pengalaman masa kecil sudah mengendap jauh dalam jiwaku. Masa kecilku telah berubah menjadi puisi. Masa kecilku adalah kuda tunggang, tambur gembala, jalan setapak yang berliku, rumah lalang (dan daun lontar) berpagar batu.
Akan tetapi terasa oleh si kecil itu (si aku puitis itu) bahwa pandangan yang mengharukan dia di masa dewasa nanti telah bertumbuh, telah mengobar dalam mata seorang anak kecil yang belum sadar akan segi-segi hambar dalam kehidupannya. Ayahku (kau) telah meninggalkan aku bermain di tepi kolam kemarau kuning, hanya sebentar berenang riang dengan hidup telanjang memandang kuda tunggang yang tegap. Air di kolam tempat aku bermain makin kering, mengabur ke bibir nasib kemarau lalu aku pun pulang ke rumah lalang berpagar batu, lingkar kasih yang buntu, lalu tidur dalam lapar dalam lupa masa kanak. Bagaimana pun, kehidupan ini penuh dengan kelakar dan sindiran dan ini merupakan hutang budi yang belum bisa dibayar oleh seorang anak kecil yang lapar mengejar belalang. Kelak semuanya akan terbayar bila telah sampai pada nyanyian hidup yang manis.Ayahku datang dengan bawaan beserba.
Beruntunglah, aku belum terkapar…
Begitulah tafsiran atar sajak yang ditulis sekitar tiga puluh lima tahun yang lalu. Di tahun 1997, aku pernah ke Rote dan mencari kolam kemarau kuning itu. Rumah lalang berpagar batu pun kudatangi. Hanya pagar batunya yang masih tersisa. Batu datar di pintu itu membari bayangan adikku perempuan yang bermain mengupas biji kesambi untuk dijadikan pelita. Adikku sangat berbakat matematika.
Otak kirinya bagus. Ia pintar berhitung. Aku masih ingat ia mengatur biji-biji kesambi itu menurut kelompok-kelompok yang belum dikupas, isi yang telah dikupas dan kulit biji. Semuanya ditumpuk rapi. Ia sudah bisa berpikir kategoris.
Memang dalam keluarga ibuku ada bakat-bakat matematika dan musik. Saudara misanku Jusuf Manu seorang guru yang cerdas. Dialah yang sering mengirim wesel kepada Adrianus Mooy karena ibu Jusuf adalah mama kecil Adri (adik perempuan ayah Adri). Seperti sudah aku katakan, Eduard Pah, mendapat Anugrah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia untuk musik. Ayahnya seorang guru, mungkin lebih hebat lagi bila bermain sesandu (Dulu ejaannya sesandu tetapi di perantauan aku mendengar lidah Jawa menyebutnya Sasando). Daniel Pah, di masa kecilnya loncat kelas melulu. Sayang ia tak sempat kuliah untuk menjadi professor padahal matematikanya bagus, bahasa Inggrisnya dan ilmu-ilmu lainnya juga bagus.
Setiap ujian ia pasti nomor satu. Aku bangga sekali padanya. Karena tak mampu kuliah maka ia hanya bisa menjadi guru dan kepala Sekolah Guru Atas Negeri sampai pensiunannya. Ketika di tahun 1997 aku mengunjungi Rote, banyak dari keluarga Manu yang putus sekolah. Oekahendak pun telah menjadi hutan. Kuburan keluarga pada hilang ditelan pohon gewang dan sebagainya. Saudara perempuan ayah Adrianus Mooy yang kawin dengan pamanku misalnya, kuburannya telah tercampur dengan kuburan yang lain yang tidak dikenal oleh generasi berikut. Yang masih utuh hanya kuburan nenekku, Maria Messakh karena berada dalam lingkaran pagar batu yang belum lenyap semuanya.
Akan tetapi kenangan masa kecil tentang rumah itu masih segar dalam diriku.
Kenangan fotografis masih jelas. Daun yang mengatapi rumah itu, balai-balai kayu, tangga kayu dan tiang-tiangnya masih jelas. Bahkan pohon kom yang dalam bahasa Rote disebut kole masih tergambar dalam kenangan fotografisku itu. Rumah paman (Papa To’o) itu disebut Kole Dale karena pohon kole (kom) yang berduri dan berbuah kecil seperti kelereng yang asam-asam manis itu menjadi petunjuk rumah keluarga ibu dalam cerpen-cerpenku, dalam novel-novelku, terutama novel Meredam Dendam.
Ayah membawa aku kembali ke rumah itu. Aku ingat, Papa To’o membuat pesta menyambut ayahku. Ia mengambil senapan tumbuk (sundut) dan menembak seekor babi besar. Yang menarik adalah bola yang terbuat dari kantong air seni binatang ternak itu. Sambil memegang bongkah daging dan mengunyahnya, aku bermain bola.
Tiba-tiba kami bersiap untuk pindah ke Ba’a. Aku ingat kami berjalan kaki telanjang sepanjang 25 km dengan beberapa wanita yang aku sudah lupa nama mereka. Tiba di Ba’a kami menumpang di sebuah rumah dekat jembatan Lelete Langgak, di pinggir jalan, di kaki bukit yang gundul. Di rumah itu, kakekku datang dari E’ahun, ibukota Kerajaan Ringgou. Kakakku Dina (Susi Di’a) adalah anak kesayangan kakekku Laurens Poyk. Di waktu aku masih bayi, terjadi zaman meleset (malaise) sehingga ayah diberhentikan sebagai mantri. Ia memboyong kami (ibu, Susi Di’a dan aku) ke Ringgou. Kakakku, Susi Di’a (Kak Dina) masih ingat, kalau ada pesta kakek selalu membawanya ke pesta itu dan di sana daging berlimpah. Kakakku kenyang oleh pesta yang penuh dengan gading itu. Bertemu lagi dengan kakek di Ba’a Kakak Dina menggosok bintangnya dengan asam jawa sehingga mengkilat lalu digantungkan ke dadanya (jas tutupnya). Sebelum keluar menuju kantor kontrolir (bupati Belanda), adikku Mathilda (Nona) melompat lalu menusuk pipinya yang cekung karena ompong, sebelum kakek melangkah keluar.
Menurut cerita Susi Di’a (Kak Dina) ia diminta oleh kemenakan ibu, Jusuf Manu, seorang guru, untuk tinggal dengan mereka. Kak Dina punya pengalaman pahit di rumah sepupunya itu hanya karena ia kurang awas menjaga seorang adik (putra Bang Jusuf) sehingga jatuh ke dalam sumur.
Ia dimarahi habis-habisan. Sampai hari tuanya ia masih ingat akan nasib ketakutan melihat seorang anak jatuh ke sumur menerima amarah besar abang misannya Jusuf Manu.
Ayah tidak punya pekerjaan tetapi ibu masih bisa masak kemudian memanggil aku keras-keras untuk makan nasi dan dendeng. Pada suatu hari kami pindah ke sebuah rumah di punggung bukit dan ayah meninggalkan kami.
Ia berangkat ke Ringgou tanpa meninggalkan uang sepeser pun. Lalu Ibu mengajak kami berjalan, mendaki pundak bukit dan turun ke panatai pasir putih yang melengkung indah. Ketika itu air sedasng surut jauh sekali. Agak ke tengah, kelihatan beberapa orang sedang sibuk makan meting., berarti turun ke kawasan yang airnya surut itu untuk memungut makanan laut seperti kerang, gurita, ikan, kepiting dan sayur laut yang disebut latu dan sebagainya. Persis di pantai, pasirnya memang putih bersih tetapi lebih ke tengah banyak sekali batu kerangnya yang berselang-seling dengan pasir putih tetapi orang harus berhati-hati melangkah karena ada juga duri laut.

Ketika aku berjalan di pasir pantai aku bertemu bersitan kerang-kerang kecil. Tinggal mengoreknya dari pasir lalu mengupasnya dan mengunyahnya mentah-mentah. Tampaknya sebidang pasir pantai itu lumbung kerang. Aku makan sekenyang-kenyangnya seperti manusia purba yang masih dalam peradaban pungut biji-bijian dan kerang-kerangan dan yang masih tinggal di gua-gua.
Hari itu kami membawa beberapa keranjang kerang, sayur laut (agar-agar) dan sebagainya. Kerangnya cukup besar. Ada agar-agar yang harus direbus dulu dan ada yang enak dimakan mentah-mentah. Setelah kerang direbus bersama agar-agar, kami makan sekenyang-kenyangnya sambil minum air gula. Itulah cara makan orang Rote.
Malam itu aku tidur. Bangun pagi-pagi leherku kaku, agak pegal kalau dimiringkan. Orang mengatakan aku salah tidur, padahal itulah rematik, kebanyakan asam urat yang datang dari makanan laut. Ibuku memang punya bakat rematik.
Tiba-tiba ayah pulang dari Ringgou membawa seekor kerbau besar. Ada yang menemaninya tetapi aku lupa namanya. Kerbau itu segera dibawa ke rumah potong dan dengan demikian daging berkelimpahan.
Uang pun banyak setelah daging terjual. Kami makan enak tiap hari. Beras baru, lauk daging yang dimasak dengan bumbu beserba. Ibuku memang pintar memasak karena ia pernah tinggal di rumah Pendeta Belanda, Pendeta (domine) de Vries di masa gadisnya.
Seusai menjual daging kerbau itu ayah membangun sebuah gubuk di pinggir jalan dekat dengan gereja di Menggelama. Gubuk itu demikian kecilnya, demikian daruratnya. Yang penting tidak numpang-numpang. Atap dan dindingnya dari daun kelapa. Tempat duduk dari batu ceper. Sudah itu, pada suatu hari ayah membawa cangkul ke sebidang tanah di pinggir kali lalu membuat bedeng-bedeng untuk ditanami sayur sawi. Dia mengajak kami memungut tinja sapi dan kerbau yang sudah kering dan ditaruh di atas bedeng yang dibuatnya kemudian dibakarnya. Setelah disiram, ayah menebarkan bibit sawi lalu setiap sore ayah menyiramnya.
Setelah selesai ayah mengajak kami mandi di sungai. Setiap hari aku berkeliling semak belukar dan padang rumput yang telah mengering di bukit untuk mencari tinja sapi dan kerbau yang sudah kering dan membawanya ke bedeng-bedeng sayur itu. Sambil mencari tinja sapi dan kerbau itu, aku mengambil pelepah kelapa dan lontar, lalu bermain meluncur (berselancar) dari pundak bukit ke bawah. Alangkah bahagianya.
Di samping menanam sawi, ayah sibuk menulis surat lamaran kerja. Nanah putih pohon kekak dijadikan lem surat.
Aku jadi murid kelas satu dengan gurunya yang bernama Tuan Sereh, seorang lelaki berkaca mata. Dia perintahkan murid-murid untuk membuat lidi yang diikat gabung. Ada sepuluh lidi satu gabungan, ada lima lidi. Ikatannya harus rapi dan ukurannya pun harus sama. Karena baru pindah dari Tudameda, aku tak mendengar perintah Tuan Sereh itu. Dengan kepanikan aku meminta-minta dari beberapa teman sehingga ukurannya berbeda. Dia mengomando. ”Anak-anak, atur semua lidi di atas meja!” Lalu ia memeriksa semua meja apakah lidinya rata, rapi atau tidak.
Aku melihat lidiku panjang pendek, tinggi rendah. Kemduian aku mera takan yang paling atas dan di bawahnya aku tutup dengan mistar lalu kutekan.
Ujung atasnya rata sekali. Beres, pikirku. Memang waktu ia memeriksa lidiku, ia memujiku. Bagus. Rata. Lalu dia memerintah. Angkah sepuluh lidi. Sepuluh lidi ditambah lima lidi, berapa? Aku menjawab. Bagus. Taruh kembali lidinya. Wah, lidinya panjang pendek. Ia mencubit pipiku tetapi tak bisa karena daging pipiku kumasukkan ke dalam. Tiba-tiba ia menempeleng aku. Plak. Itulah yang aku ingat ketika duduk di kelas satu. Sekali aku ditunjuk untuk berdiri di kelas lalu disuruh bercerita. Aku maju, berdiri lalu berceloteh entah tentang apa…
Tiba-tiba ayah berlayar ke Kupang untuk mencari pekerjaan. Kami ditinggalkan, mungkin dengan uang hasil jualan daging kerbau yang diberikan kakek (Papa Be’a) di Ringgou. Waktu itu bulan Desember. Aku ingat betul karena pernah merayakan Natal ketika ayah tiada. Hadiah Natalku hanya sebuah buku tulis tipis karena setoranku juga kecil.

Aku rindu pada ayah. Rasanya setengah tahun atau lebih kami bersama ayah di Ba’a. Bulan Agustus lalu ayah membawaku ke pasar malam. Ia melemparkan beberapa sen ke tikar dadu dan tiba-tiba dia menang. Setelah diraupnya uang kemenangannya ia meninggalkan tempat itu. Setan judi tentu jengkel, gondok, ketika aku mengunyah roti segar yang dibeli ayah. Cara ayah mempermainkan setan judi selalu kutiru.
Oh, aku hampir lupa. Sebelum bersekolah ayah mengajak aku berjalan kaki ke kampung kelahiran ayah, Ringgou.
Jaraknya 40 km. Jadi pulang balik 80 km. Jalan kaki dari Ti berjarak 25 km itu sudah bisa kulakukan. Bahkan adikku juga sudah begitu kuat berjalan kaki dari dusun ibu, Oekahendak ke Ba’a. Kami start dari Ba’a pagi hari. Mula-mula ayah membeli kue cucur di pasar Ba’a. Aku mengunyah-ngunyah kue itu sambil berjalan mengikuti ayah. Sudah banyak yang tak kuingat mengenai yang kulihat sepanjang perjalanan. Aku Cuma ingat bahwa sampai di Korbafo, aku lihat ada kolam dan mata air tempat orang mengambil air dan mandi. Kemudian berjalan terus, berjalan dan berjalan dan akhirnya sampailah kami di E’ahun. Menyeberang sebuah sungai kecil di depan rumah raja, sampailah kami ke rumah kakek yang berada di sebuah tempat bernama Roki.
Kesan pertama dari rumah panggung itu adalah bau ikan kering. Di mana-mana tergantung ikan kering yang lebar-lebar. Aku segera membayangkan bahwa kakek beserta saudara-saudara ayahku makan ikan setiap hari. Rumah kakekku hampir sama dengan rumah keluarga ibuku di Oekahendak. Di Roki ada abang ayahku yang kami panggil Papa Ogus. Nama lengkapnya August Poyk. Istrinya dari keluarga (fam) Tokoh. Berikut adik ayahku, Papa Ose (Hosea Poyk) dan ada satu yang baru gede bernama Abraham (Papa Bang).

Semua mereka pada waktu itu petani yang hidup dari mamar (kebun kelapa, nangka, mangga, pisang, pinang dan sebagainya), bersawah, berkebun dan beternak. Papa Ogus, yang tertua yang mengelola semua pusaka keluarga Poyk. Setelah perang dunia usai Papa Ose menjadi guru di Oekabiti (Timor). Bersama istrinya dari marga (fam) Funai, Papa Ose memiliki dua hektar lebih sawah irigasi. Ketika keduanya pindah ke tempat kerja baru sawah dua hektar lebih itu dititipkan kepada seorang kerabat dari Ringgou. Setelah Papa Ose meninggal, kerabat dari Ringgou itu, bersama dengan kepala desa membuat sertifikat atas nama kerabat dasri Ringgou itu. Ahli waris Papa Ose (anak-anaknya) gigit jari, walaupun orang tua-tua pemimpin informal di desa itu mengetahui betul bahwa sawah itu milik guru Hosea. Anak-anaknya adalah saksi hidup yang ikut bekerja menyiang dan memanen. Aku hanya berkata, ikhlaskan (lupakan) saja tetai kalau orang (kerabat) Ringgou itu ingin menjual sawah itu kita beli saja.
Kembali ke masa kecil. Aku ingat, waktu kembali ke Ba’a aku digendong di bahu Papa Bang. Tanganku memegang dahinya. Namun aku tidak ingat apakah ia mengantar sampai ke Ba’a ataukah ia hanya mengantar kami sampai di sebuah dataran yang berumput pimping yang tinggi. Aku tak ingat lagi mengenai perjalanan dengan ayahku pulang ke Ba’a yang jaraknya menurut kata orang ketika itu, 40 km.
Aku dilahirkan di sekitar masa krisis ekonomi dunia, seperti sudah kukatakan, zaman malaise (orang-orang menyebutnya zaman meleset). Ayahku diberhentikan dari pekerjaannya sebagai mantri di Ba’a sehingga ia dan ibuku, aku dan kakak perempuanku Dina pulang ke Ringgou dan di sana ayah bertani, menanam tembakau untuk dijual. Kakak perempuanku Dina seperti sudah kuceritakan, masih ingat kebaikan kakek membawanya ke pesta-pesta untuk makan daging dan makanan yang enak-enak lainnya.
Setelah keadaan membaik, ayah dipekerjakan lagi sebagai mantri di Pulau Bilba (Rote), Pulau Sewau dan Langgaliru (Sumba) kemudian dipindahkan ke Bajawa. Jadi ibuku dan kakak perempuanku pernah tinggal di Ringgou sedangkan abangku Min Kecil tetap tinggal di Ti. Ketika ayah dipindahkan ke Bajawa, hanya aku dan adikku yang dibawa ke sana. Untunglah ayahku berhenti dari pekerjaannya sehingga kami bisa pulang ke Rote menemui saudara-saudaraku, walaupun di satu pihak, ayah tidak punya pekerjaan. Akan tetapi ayah sedang berusaha. Ketika ayahku berada di Kupang untuk mencari pekerjaan baru, aku ingat, seorang nenek dari Sabu yang tinggal di Ba’a datang ke gubuk kami di pinggir sajlan itu dan meramal dengan daun sirih. Ia menggenggam-genggam daun sirih di tangannya kemudian melemparkannya ke atas tikar. Daun sirih yang terlepas dari gengamannya terbuka, bergerak pelan-pelan dan diam. Lalu ia berkata, ”Bapak kalian sudah mendapat pekerjaan di Kupang,” katanya. Aku dan adikku bahagia sekali.
Sudah tentu ibuku juga. Aku sudah lupa nama nenek asal Pulau Sabu itu. Menurut cerita nenek itu, ia pernah meninggal (berapa lama, aku tak ingat lagi) dan di surga ia melihat banyak sekali makanan yang dibuang sia-sia oleh manusia.
Konon Amalodo, seorang lelaki Sabu, bisa masuk dalam botol. Bila dia dimasukkan ke penjara di Ba’a, dia bisa menghilang. Konon ia naik kelapa kering ke Kupang, muncul di penjara Kupang.
Benar, ayahku mendapat pekerjaan di perusahaan Singer Sewing Machine, buatan Amerika. Aku berbahagia sekali, seperti juga ibu dan saudara-saudaraku karena segera meninggalkan pondok daun kelapa di pinggir Jalan Sirtu itu. Soalnya, pada suatu hari, ketika kapal KPM (yang berubah menjadi Pelni sekarang) berlabuh di Pelabuhan Ba’a, saudara sepupuku (anak pamanku) Nadus Manu, siswa Sekolah Teologia (STOVIL) di So’e, pulang berlibur ke Rote. Ketika bertemu dengan famili ibuku yang pernah memukul aku sampai menangis terkaing-kaing karena aku mengejeknya di saat ia cerewet melihat gubuk kami, saudara sepupuku Nadus Manu, bertanya tentang kami kepadanya. Aku lihat ia mencibir, berkata,”Hi, pondoknya kecil,” katanya. ”Tempat duduknya dari batu,” tambahnya.
Nah, sekarang ayahku sudah mendapat kerja dan akan membangun rumah yang lebih baik, di suatu tempat entah di mana.
Itulah kebahagiaan kami. Kebahagiaan lain ketika itu adalah lulusnya abang tertua (sulung) kami, Benyamin J. Messakh waktu menempuh tes masuk tentara. Kami bahagia karena itu. Ibu pun mengikhlaskan anak tertuanya masuk tentara. Kami mengantarkannya ke pelabuhan. Ia naik kapal, berlayar menuju Jawa dan akan masuk sekolah militer (KNIL) di Purworejo.

***
Sehabis merayakan Natal, kami naik sebuah perahu lambo menuju Kupang. Ibu membawa keempat anaknya kepada ayahku yang telah tiba berjuang mencari pekerjaan untuk kehidupan kami selanjutnya. Hanya kakakku Mariana yang tinggal di Rote, mengurus ayahnya.
Perahu mengembangkan layarnya di siang hari. Kami ditempatkan dalam rumah perahu dan sekali-sekali aku melongokkan kepala keluar kemudian masuk lagi dan tidur. Di malam hari datang badai. Hujan lebat sekali, angin dan gelombang mengocok perahu. Aku melihat anak buah perahu mendekati satu per satu penumpang dan menanyakan apakah membawa daging babgi. Kalau ada biar dibuang ke laut agar badai berhenti. Karena aku mengantuk maka aku tertidur dalam bantingan ombak dan badai.
Kemudian aku terbangun lagi dan melongok ke luar. Aku lihat ada anak buah perahu yang berenang-renang di malam buta Karena lautnya sudah tenang. Ternyata perahu itu telah berlabuh di balik sebuah cuatan karang yang permukaannya datar di atas laut. Luasnya kira-kira lima ribu meter persegi. Kemudian aku mengetahui dari awak perahu, cuatan karang yang ceper itu disebut Pulau Kambing. Perahu berlabuh di balik Pulau Kambing itu selama sehari di bawah mendung yang lebat yang berubah menjadi hujan. Anak buah perahu bersampan menuju pulau besar (Rote) untuk membeli kambing. Hari itu aku lihat anak buah perahu memasak nasi di tungku di haluan perahu, membakar daging kambing dan membagi-bagikan kepada penumpang.

Setelah badai reda, perahu berlayar lagi menuju Kupang. Tidak disangka begitu sampai di Selat Pukuafu, selat antara Rote dan Timor Laut begitu tenang bagaikan minyak. Angin tiada sehingga perahu tak maju-maju. Untuk mendatangkan angin, anak buah perahu memukul-mukul gong. Makin siang angin bertiup sehingga perahu maju meninggalkan Selat Pukuafu yang berbahaya, selat yang dijuluki ‘kuburan orang Rote.’
Tiba di Kupang hari sudah malam. Kami langsung dijemput ayah dan dibawa ke Fatufeto, ke rumah Oom Pandy yang berasal dari Rote, tempat ayah menyewa sebuah kamar di situ. Aku ingat kami, mendapat sebuah petak di belakang rumahnya yang penuh dengan pohon asam, sehingga hampir setiap hari aku memanjat pohon itu, memetik buahnya dan makan. Dari rumah itu, kalau aku menangis seluruh kampung pohon asam Fatufeto mendengar suaraku. Begitu kata seorang ibu ketika bertemu aku di masa remaja.
Ayah dan ibu merubah penampilan kami semua. Baju baru, sepatu baru dibeli dan aku serta abangku Min Kecil masuk sekolah. Aku masuk di kelas satu Volksschool (Sekolah Rakyat tiga tahun) di Bonipoi dan abangku Min Kecil duduk di kelas empat Vervolkschool (Sekolah Standar) di Desa Airmata. Pada suatu petang, aku dan kakak Dina dan adikku Matilda (Nona, diajak oleh dua orang gadis untuk membuat foto kenang-kenangan di studio foto.

Kami berpakaian bagus. Aku dan adikku Matilda memakai pakaian baru dan sepatu. Ketika sampai di sebuah gang di Pelabuhan Lama Kupar kami masuk ke studio foto milik orang Tionghoa. Kami naik ke loteng dan si baba tukang foto mulai mengatur semuanya. Sebuah bangku diambil dan aku serta adikku Matilda disuruh duduk bergantungan kaki. Kakak Dina berdiri di belakang, di tengah-tengah, sedangkan dua gadis temannya (putri Oom Soh yang berasal dari Ringgou), mengapitnya. Maka sang baba membungkuk dan masuk ke dalam selubung kain hitam. Aku menjadi tegang memandang kamera. Tiba-tiba si baba keluar terbungkuk-bungkuk dari selubung hitamnya dan memandang aku lalu menggoyang dagu ke arahku, disertai telunjuknya juga ke arahku dan berkata, ”Buka gigi!” kemudian masuk lagi ke dalam selubung kain hitamnya. Dia menghitung sampai tiga dan aku membuka gigiku lebar-lebar sejalan dengan tarikan ceklek!
Semua gadis dan anak perempuan yang ada di dalam foto itu manis-manis, cantik-cantik karena semuanya memang perempuan cantik tetapi akulah yang seperti monyet yang meringis membuka gigiku. Gadis di belakangku, Susi Gita Soh yang berdiri di belakangku mengatakan bahwa si baba, tukang foto itu, menyuruhnya harus membuka bibir karena waktu itu ia senyum terkulum menutup bibir. Ah, aku kira si baba menyuruhku nyengir!

Tidak lama kemudian ayah membawa kabar bahwa ia dipindahkan ke Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai. Aku gembira. Di sana ia akan memimpin sebuah toko yang penuh dengan mesin jahit Singer Sewing Machine. Aku sering membaca tiga kata itu sebagaimana adanya, tidak memakai ucapan bahasa Inggris. Aku tak ingat mengenai pelayaran dengan kapal dari Kupang ke Endeh. Aku tak ingat mengenai pelayaran dengan kapal dari Kupang ke Endeh. Letaknya di pantai. Mungkin di sebuah penginapan. Aku ingat pada suatu pagi datang sebuah mobil sedan antik, kapnya dari terpal, keempat rodanya berjeriji kawat (seperti sepeda). Di kursi depan duduk bos (inspektur keuangan perusahaan), di samping kanan ayah, di tengah ibu yang memangku aku dan di samping kiri Susi Di’a (Kak Dina) yang memangku adikku Nona (Matilda). Yang mungkin cukup sengsara adalah abangku Min Kecil yang terlipat bersama barang di belakang kami. Namun ia segar dan menikmati juga perjalanan itu. Jalan raya tidak beraspal hanya pasir batu tetapi rata rapi dikerjakan oleh rodi.
Tiba di tepi danau Rana Mese, di ujung timur pegunungan Mandosawu, mobil berhenti. Ayah dan ibu dibantu oleh kakak Dina memasak nasi setelah Abang Min mengumpulkan kayu bakar.

Nasi dimasak dan ikan hanya dibakar lalu kami semua makan. Bos ayah juga ikut makan. Aku tak ingat apakah kami semua minum air. Mungkin saja di sekitar ada pancuran air murni yang datang dari gunung karena permukaan danau berada di bawah sana, dalam sekali tetapi batu yang dilemparkan oleh jago lempar seperti abangku tidak akan jatuh di permukaan danau. Danau itu seperti bulan biru dilihat dari udara ketika aku sudah menjadi sastrawan dan wartawan, ketika terbang dari Maumere ke Denpasar. Imajinasiku melihat ddiriku di tepi danau itu seperti sub partikel.
Kami sampai di Ruteng malam hari. Perjalanan cukup jauh tetapi tidak banyak yang kuingat kecuali ketika mendaki, kulihat seorang petani wanita berpakaian lusuh lari terbirit-birit bersembunyi ke semak belukar tinggi karena ia terkejut mendengar bunyi mobil antik beroda ‘kawat’ yang kami tumpangi. Kami turun di sebuah rumah toko yang menghadap ke pasar, di samping kebun kopi.
Kesan pertama yang kuperoleh adalah dinginnya air. Di pagi hari aku mandi dan terasa sekali jari dan burungku dingin seperti kena es membeku. Pokoknya anggota-anggota tubuh yang kecil yang paling dingin.
Di rumah toko itu, aku ingat, abangku Min mengajar Nona bagaimana membuat mercon.
Dia mengambil korek, mengorek pentilnya dan membungkusnya dengan kertasnya. Lalu bungkusan kecil itu dititi dengan batu dan berbunyilah mercon kecil itu. Keduanya asyik bermain sehingga habislah beberapa kotak korek api. Aku hanya dengar abangku berteriak, menangis, karena dihajar ibu gara-gara korek api habis. Nona tidak dipukul ibu. Itulah kenangan pertama tentang Ruteng. Kemudian, aku ingat, kami pindah ke toko yang lebih besar, lebih tinggi karena bertingkat. Di depannya ditaruh papan dengan tulisan Singer Sewing Machine. Pada suatu hari seorang lelaki mengetuk toko kami dan ingin membeli obat.

Pada suatu hari seorang lelaki mengetuk toko kami dan ingin membeli obat. Kakak Dina mengatakan padanya, ini toko mesin jahit, bukan rumah sakit. Sungguh menggelikan. Masa dia tidak mengetahui di mana rumah sakit.
Ayah membawa abangku Min ke Sekolah Standar. Ini suatu kesempatan yang baik karena di seluruh kabupaten (Onderafdeling) Manggarai, ada puluhan Sekolah Rakyat tiga tahun dan hanya ada satu Sekolah Standar yang cuma terdiri dari kelas empat dan kelas lima. Dari sana anak-anak yang lulus dapat masuk seminari dan sekolah guru yang disebut Sekolah Normal (Normal School).
Aku dibawa ayah ke sebuah sekolah Belanda liar (swasta) yang dipimpin oleh Meneer Suprapto yang beristrikan seorang wanita Bangsawan Rote bernama Maria Giri. (Lihat tulisanku berjudul Maria Giri, Bunga Kecil dari Padang Sabana, dalam antologi Baktiku Pada Pertiwi). Tidak lama kemudian sekolah liar itu bubar karena Tuan Suprapto ditahan Belanda. Aku dimasukkan ayah ke Sekolah Rendah tiga tahun, didudukkan di kelas dua dengan guru muda yang simpatik bernama Leo Misa dari Desa Lio, di tepi danau Kalimutu.
Sebelum Jepang masuk, aku naik ke kelas tiga. Guruku di kelas tiga selalu mengajarkan agama dan membaca. Ia membagikan buku Pantja Tanteran dan kami membaca dan membaca keras sendiri dan kelas tampaknya ramai sekali oleh sejumlah mulut yang berbunyi keras. Kemudian datang Pastor Mensen, orang Belanda yang mengajarkan agama. Aku senang sekali membaca cerita Injil yang disederhanakan penuh dengan ilustrasi. Dari sanalah aku mengetahui tentang cerita Nabi Musa dan Tuhan Yesus, bukan dari Injil asli.
Apalagi cerita Pastor Mensen sangat menarik. Ia bercerita tentang malaikat, tentang surga dan para santu (baru ketika aku bersekolah di Jawa, aku dengar orang menyebutnya santo). Guru kelasku mengajarkan kami agar selalu memuji Tuhan serwa sekalian alam.
Pujilah Tuhan selalu dalam hidupmu. Lihatlah, daun-daun pun bergayutan memuji Tuhan. Aku merasa bahwa di balik daunan yang bergoyang memuji Tuhan, di sana Tuhan ada walaupun hanya daun yang bergoyang itulah yang tampak.
Rasanya di kelas tiga, ketika belum sempat belajar berhitung, terutama menghafal kali-kalian, pada suatu hari ketika aku pulang, tiba-tiba aku diberitahu ibu bahwa ayah sudah ditahan di sel polisi karena uang perusahaan tekor seratus gulden (rupiah masa itu). Aku diam. Murung. Gelombang duka dalam batinku membikin aku diam.
Aku sedih tetapi apa mau dikata. Ibu memasak nasi dan ikan untukku lalu aku makan. Entah di mana saudara-saudaraku. Aku ingat aku makan sendiri di meja kecil di kamar depan yang telah kosong.

Sejumlah mesin jahit yang tersisa sudah diangkut entah ke mana. Tidak lama kemudian kami terdampar di rumah seorang yang membuat aku tambah sedih dan berusaha seumur hidup untuk merejam dendamku. Jika dendam itu timbul, aku berusaha sekuat tenaga batinku untuk menghancurkannya. Pengalaman (sensasi) absurd di rumah itu melahirkan novelku Merejam Dendam, dimuat di harian SP (akan dibukukan dengan judul Meredam Dendam).
Di rumah itu, aku masih bersekolah. Aku ingat aku digunduli abangku dengan pecahan botol sehingga kepalaku luka-luka. Tidak lama kemudian kami ditampung di rumah seorang janda, di sebuah kamar. Malam-malam, ibu meninggalkan aku, menuju rumah penampungan pertama. Aku ingat anak lelaki janda itu membentak-bentak aku supaya diam jangan mengganggu tidur orang.
Besoknya, aku melihat ayahku digotong dari penjara. Ia kena pnemonia karena tidur di kamar terbuka sehingga angin dingin menyengsarakannya. Aku hanya menarik napas sedih dan berbicara sendiri dari kejauhan, berdiri di tepi jalan raya, ”Bapa saya meninggal…”
Ternyata ayah sembuh. Kami pindah lagi ke sebuah pondok yang kosong yang terdiri atas dua kamar. Atapnya dari ilalang dan lantainya tanah. Abangku Min, aku dan adikku putus sekolah. Aku ingat di pondok itu kami masih bisa makan teratur karena sumbangan beras dari orang-orang yang prihatin pada kami.
Di antaranya seorang polisi profesional yang kami sapa dengan Bung Meler (Meuller).

Tampaknya dia masih ada hubungan famili dengan ibu. Suatu hari ia terseok-seok mendorong sekarung beras yang dimuat di atas bagasi sepedanya mendatangi pondok kami. Tanpa bicara ia menurunkan karung besar itu lalu pergi. Ketika aku menjadi wartawan harian Sinar Harapan di Jakarta, ia muncul di kantor dengan sepeda. Ia telah pensiun. Kedatangannya ke Jakarta untuk mengunjungi putranya yang sudah kawin di Jakarta, bekerja di Priok. Dari rumah anaknya di Priok ia naik sepeda ke Pintu Besar Selatan dekat Stasiun Kota, ke kantor harian Sinar Harapan. Ia meminta bantuan uang untuk memperbaiki atap rumah daunnya yang bocor. Aku menyesal sekali tak dapat membantunya sebaik-baiknya. Hanya sesen dua dan beberapa potong pakaian yang aku ngebon dari koperasi wartawan yang bisa kuberikan padanya. Aku tetap merasa bersalah karena tidak membantunya sebaik-baiknya. Dia salah satu idolaku di masa kecil. Orang Rote yang satu ini adalah pemain bola yang dipuja peminat sepak bola sepertiku. Bila ia mengendarai kuda, ia bisa berdiri di atasnya. Yang mengagetkan aku adalah ketika pada suatu hari aku menonton sekelompok orang bermain judi di belakang toko. Tiba-tiba ia muncul dengan seutas tali dan menjerat para penjudi itu. Semuanya lari pontang panting. Ia betul-betul seorang polisi yang bekerja siang dan malam, hujan atau pun tidak.
Ayahku hanya seminggu di sel. Pengadilan memutuskan masuk penjara selama tiga tahun karena makan uang seratus rupiah. Ia dibawa ke penjara, lalu memakai pakaian narapidana, baju putih lengan pendek leher bundar dan celana pendek putih dari kain blacu kasar. Karena ayah dianggap orang terpelajar maka dia bertugas sebagai mandor menjaga anak buahnya sesama narapidana yang membersihkan jalan raya di kota itu.
Waktu abangku Min tidak mau sekolah lagi begitu ayahku divonis masuk penjara selama tiga tahun, Tuan Wowor, Kepala Sekolah Standar (Standarschool) muncul diam-diam di pondok kami dengan pakaian putih-putihnya, dengan helmnya untuk mencari abangku. Ia sangat prihatin, ingin menolong kami. Sayang abangku telah menghilang ke kampung Karot di mana ada sebuah panggung pacuan kuda. Entah siapa yang menyuruhnya menjaga kuda pacuan sehingga ia hanya suka menjadi joki dan tiap hari tinggal di panggung pacuan kuda itu. Tidak lama kemudian, ia terkenal sebagai joki ulung. Kudanya yang ditunggangnya selalu menang dan begitu menang, ia berdiri di atas punggung kuda.

Ketika penonton bertepuk tangan, ia terjatuh dari punggung kuda tetapi tidak sampai terlempar ke tanah. Ia hanya tergantung di leher kuda ketika kuda sedang berlari kencang. Jadi tiga kejutan sekaligus dilakukannya. Pertama, kudanya nomor satu. Kedua, berdiri di punggung kuda tanpa pelana.
Ketiga, anak yang putus sekolah di kelas empat Sekolah Rakyat (Standardschool) itu, tergantung seperti monyet di leher kuda. Suatu kali, ketika ia berdiri di jalur pacuan ada kuda yang berlari sendiri karena jokinya jatuh. Aku mengira, kuda itu akan melindasnya karena jarak kuda itu sudah terlalu dekat padanya. Ternyata ia meloncat bagaikan kilat ke pagar sehingga selamatlah ia dari gilasan kuda. Aku bangga sekali akan reaksi motorik tubuh abangku seperti juga aku bangga akan ibuku yang telah melahirkan seorang tarzan kecil sebagai saudaraku.
Dalam keadaan mesra dalam penderitaan hidup bersama ibu dan ketiga saudaraku tanpa ayah, tiba-tiba datang seorang pegawai kantor pos, seorang klerk yang bernama David Kaha, melamar kakak Dina.
Aku marah betul. Pagi-pagi aku ke sekolah tanpa makan pagi. Pulang dari sekolah, aku melempar mangga muda dan mengunyahnya, menelan sekenyang-kenyangnya. Kemudian aku memanjat murbai dan terong belanda yang pohonnya tinggi. Pulang ke rumah, ketika kakakku Dina berada di dapur, aku lalu masuk ke kolong tempat tidur dan tidur di lantai tanah itu.
Perbuatan demikian konyol itu kulakukan sebagai protes. Aku tak setuju kalau kakakku kawin dengan klerk itu. Tidak. Ketika kakakku memanggil aku dengan suara lembut, membujukku, barulah aku keluar dari kolong tempat tidur kemudian mengunyah makanan yang diberikannya. Akan tetapi tiba-tiba ia si klerk itu datang lagi. Aku keluar, bermain di halaman tetapi tiba-tiba aku memungut sebuah batu besar dan kulempar ke pintu. Gedebuk! Seisi rumah berteriak memanggil namaku. Mereka menegurku. Kalau sekarang kulihat para cucu kakakku Dina yang kini telah menjadi sarjana dan dosen, aku tersenyum sendiri. Akan tetapi memang aku sedih dan marah betul ketika kakakku kawin dengan klerk itu. Sedih bercampur marah. Aku tetap konsisten dengan ketidaksetujuanku ketika diajak ke rumahnya. Hanya abangku Min dan adikku Nona yang ikut dengan kakak Dina ke rumahnya.
Ketika Oom Malole, seorang guru Injil asal Rote memberikan sebidang tanah di Hambal, ibu dan aku saja yang pindah ke kebun yang penuh dengan ilalang dan belukar. Raja Manggarai yang beragama Katolik memberikan kawasan Hombal untuk para pendatang yang pada umumnya Protestan. Guru Injil Malole menjadi koordinator. Hanya aku dan ibuku yang tinggal di kebun itu, di sebuah gubuk milik Oom Tampati, seorang polisi yang berasal dari Manado.
Pondok itu cukup besar. Kami pindah ke pondok itu hanya dengan beberapa ikat jagung kering yang ibu peroleh entah dari mana. Tanpa minyak aku goreng jagung itu. Kerasnya seperti batu tetapi gigi-ku kuat bak tang layaknya sehingga butir-butir jagung itu hancur dan memasuki perutku, kemudian aku menuju tabung bambu betung yang besar yang tergantung di tiang berisi air yang diambil dari mata air bening di tepi kebun. Aku mengangkat dasar bambu itu ke atas dan airnya muncul di mulut bambu lalu aku meminum air yang tak dimasak itu sepuas-puasnya.
Ibuku mengontrol anak-anaknya yang tinggal di rumah gedongan sedangkan aku tinggal sendiri di gubukku sambil bernyanyi-nyanyi dan membaca buku riwayat hidup Napoleon. Malam-malam ibu pulang ke pondok ilalang kami.
Ibuku mengajar aku tentang bagaimana orang mis-kin tanpa harta dan uang melakukan diplomasi.
Ia PR yang luar biasa. Bangun pagi-pagi, ibu hanya melihat kebunnya yang penuh semak belukar dan ilalang. Apakah ibu dan aku sanggup mengalahkan alam dengan tangan seorang perempuan dan otot seorang anak yang putus sekolah di kuartal pertama kelas tiga Sekolah Rendah?

Begini ceritanya.
Bangun pagi-pagi ibu makan sirih di emper timur pondok kami sambil berjemur matahari. Tiba-tiba seorang lelaki tua yang otot petaninya masih kokoh lewat terbungkuk-bungkuk. Ibu menegur lelaki itu dan keduanya ngobrol sambil makan sirih. Diplomasi sirih-pinang itu berhasil. Ibu memberinya beberapa potong pakaian dan besoknya ia membawa parang yang tajam dan mulai menebas ilalang dan semak krotolaria dan putri malu. Dua yang terakhir ini adalah pupuk hijau penumpas ilalang. Namun pertempuran antara tanaman pupuk hijau dan ilalang itu perlu diselesaikan oleh tangan manusia.
Nah, lelaki tua itu bekerja mati-matian tanpa membicarakan dulu berapa biaya per hari atau berapa biaya kalau memborongnya. Ibu lalu berangkat ke rumah gedongan, ke rumah kakakku Dina, untuk meminta beras. Ibu memasak makanan, membuat sayuran dan lauk lainnya. Rupanya Ema Tu’a, (Bapak Tua) dari desa tradisional (adat) Tenda senang dengan masakan ibu. Kemudian ia memanggil anaknya yang kami sapa dengan Karaeng Ramut.

Dia mencari kayu bakar untuk ibu, menolong ibu mengupas dan memarut kelapa lalu ibu membuat sayur lodeh untuk makan siang kami se-mua. Begitu sayur itu masuk ke mulut Karaeng Ramut, ia memberitahukan ke mana-mana bahwa sayur masakan ibu enak sekali. Waktu aku melakukan napak tilas ke Ruteng di tahun 1979, aku bertemu dengan Ka-raeng Ramut. Dia langsung bertanya mengenai ibu dan ketika aku mengatakan ibu sudah meninggal, matanya berkaca-kaca, diam se-saat lalu berkata, “Ibu mengajar saya memasak sayur.” Karaeng Ramut, masih sehat, awet muda, karena banyak makan sayur.
Sebaliknya, di masa kecilku, Karaeng Ramut mengajar aku memelihara parang dan pisau, membuat gagang parang dan besi lunak menjadi waja. Bagai-mana mengasah parang dan pisau, bagaimana memotong kayu terutama bambu dan kayu keras.
Bagaimana memegang cangkul dan sekop. Manusia Tenda hidup dengan tool yang terbuat dari sepotong besi tiba-tiba digiring menjadi romusha di Surabaya Kedua (di Riung, kabupaten Ngada), menggali parit-parit, meratakan lapangan terbang, menggali gua-gua persembunyian kapal terbang dan sebagainya. Ia tetap kuat walaupun ceritanya, makanannya terdiri dari ikan asin yang dicampur dengan rumput liar.
Kemudian datang lagi saudara-saudara pe-rempuannya untuk menanam padi. Semuanya tanpa bayar. Para petani itu sudah merasa bahwa ibuku adalah ibu mereka. Ayah sering mengirim makanannya dari penjara. Tidak pernah para narapidana makan nasi, kecuali jagung kering yang direbus sampai matang dan ikan asin. Enak juga karena campur tangan ikan asin kualitas lumayan. Ka-dang-kadang ayah datang untuk mengerjakan kebun itu berjam-jam dan pulang ke penjara jam enam sore.
Ketika padi, jagung dan singkong yang ditanam sekaligus di kebun mulai menghijau, aku mendapat tugas untuk menjaga dua orang anak kecil. Keduanya perempuan. Seorang sudah bisa berjalan tetapi seorang masih merangkak.
Aku pun menjadi baby sitter. Namun apa yang kubuat dengan makanan keduanya? Tikar sudah kugelar dekat tungku. Aku sedang merebus jagung dan kacang ijo. Di samping itu beberapa bongkah ubi jalar sedang kupanggang di bara api. Aku keluar membawa bambu betung ke mata air dan me-nyuruh sang kakak yang adiknya masih me-rangkak menjaga adiknya. Tiba-tiba ketika aku kembali, sang kakak keluar sebentar untuk buang air besar di halaman. Aku sangat terkejut ketika adik-nya yang masih merangkak telah berada di depan tungku dan tampaknya ingin mengambil ubi yang sedang terpanggang di bara api. Aku segera me-nyambar anak itu dan mengembalikannya ke tikar. Ketika kakaknya kembali, ternyata ia mencret dan tampak tinjanya berlumuran di kaki, paha dan pantat. Aku agak jijik melihat makhluk kecil yang berlumuran tinja itu.
Aku mengambil pompa semprot air dari bambu yang kubuat sendiri untuk ber-main semprot-semprotan di mata air dan sungai. Aku menyedot air dan menyuruh ia nungging. Lalu pantatnya kusemprot. Juga kakinya, pahanya, se-muanya kusemprot. Karena nungging terlalu rendah maka semprotan air ke pantatnya menempiaskan tinjanya ke mulutnya. Wah, repot, aku segera mencuci mulutnya yang kemasukan tinja.
Itulah kesibukanku sebagai baby sitter. Tahun berganti tahun, ketika aku sudah menjadi tua, kedua anak itu kujumpa kembali di tahun 1997. Ke-duanya sudah menjadi ibu guru. Malah keduanya sudah menjadi kepala sekolah. Kedua gadis Rote itu kawin dengan orang baik-baik sehingga dapat mempunyai rumah besar, semuanya, semua lantainya terdiri atas keramik putih, jendela dan pin-tu kayu jati dan sudah punya anak dan cucu tetapi aku tak akan menceritakan pengalamanku kepada keduanya. Biarlah mereka bahagia. Aku tidak akan menyanyikan lagu duka mereka. Mereka tak tahu bahwa aku seorang yang tidak punya rumah, pekerjaan tetap, mobil dan harta lainnya. Mereka berdua hanya tahu bahwa aku seorang pengarang dan wartawan freelance Reo di tahun 1945. Di Ruteng, asap mengepul di tangki penyimpanan mi-nyak di belakang tangsi polisi dan sementara itu orang-orang Belanda menyingkir jauh ke luar kota. Semua peristiwa tersebut adalah hiburan yang mendebarkan bagi kami anak-anak. Kawanku bernama Enggot mengajak aku tidur di rumahnya di pinggir jalan agar bisa menyambut konvoi ken-daraan militer Jepang yang datang dari Reo. Dia pembual besar. Katanya, begitu iring-iringan truk lewat, anak-anak harus berlutut dan mencium tanah memberi penghormatan kepada tentara Dai Nippon. Kami berkerumun di sebuah rumah dinas pegawai kehewanan. Seorang lelaki menyuruh tuan rumah mencabut papan rumah dinas itu, ka-rena rumah itu menurut dia, sudah menjadi rumah pribadi. Begitu papan itu dicopot, orang yang menyuruhnya berkata, “Nah, bukan lagi rumah Belanda. Sekarang rumah itu milik Anda.”
Pagi-pagi, iring-iringan truk tentara Jepang menderu dari Utara. Aku berdebar-debar. Begitu melihat dari jauh kendaraan pertama bala tentara Jepang itu, aku berlutut dan mencium tanah. Badanku gemetar tetapi aku tetap tuntuk mencium tanah menyembah bala tentara Jepang. Tiba-tiba ada sesuatu yang dilemparkan dari truk. Ah, mati aku. Tentara telah melempar bom. Aku menyerahkan nyawaku kepada Tuhan. Tinggal tunggu gra-nat itu meledak tapi sampai iring-iringan sepuluh atau dua puluh kendaraan itu selesai, bom itu tidak meledak. Aku berdiri melihat di kanan kiri. Sialan, ternyata biskuit dan gula-gula yang dilemparkan kepada kami anak-anak. Kami berebutan gembira lalu mengunyah makanan itu.

Tentara Jepang yang gundul-gundul itu masih muda-muda. Topi mereka seperti topi yang banyak dijual di toko-toko sekarang tetapi di kiri kanan dan belakang topi ada pita-pita lebar bergantungan. Mereka berhenti di samping pasar. Di tepi kebun kopi yang rimbun. Ada yang turun lalu langsung menimba air parit dan memasak nasi dan sebagainya. Aku diberikan uang Jepang logam dari aluminium (seperti coin kita sekarang tahun 2000). Puas menonton tentara gundul yang pendek-pendek itu, kami anak-anak berjalan ke rumah kontrolir (bupati Belanda) yang kulihat kedua tangannya sudah diikatkan ke tiang bendera mulai dari pagi sampai malam. Aku terharu, aku tidak bisa mengerti, bagaimana sehingga keadaan begitu berbalik seratus delapan puluh derajat.
Aku membayangkan, bagaimana anak perempuannya yang kecil, si noni Belanda yang biasa memungut buah murbai yang jatuh di rumput di halaman Tuan Detaq Bestuur Assisten asal Rote itu? Aku pernah menggodanya. Pada suatu hari, ketika aku melihat si noni sedang memungut murbai matang dan memasukkannya, aku mengambil sarung hitam bekas dipakai abangku yang kena cacar air, lalu memakai topeng kulit kambing yang hitam, juga buatan abangku. Aku membungkus badanku dengan kain hitam itu lalu mendekatinya sambil menari-nari menggoyang pantatku. Ia lari terbirit-birit melaporkan pada opas. Aku bersembunyi sambil mengintip opas yang mencari-cariku. Aku terapung mengintip ayahnya yang terikat, terjemur terik matahari dan merunduk terus berjam-jam, dari balik pagar hijau.

Pesta penyambutan bala tentara Jepang selesai. Beberapa lama kemudian datang satu batalion Heiho dasri Labuan Bajo. Aku bangga sekali karena komandan Heiho bercampur tentara Jepang apel di lapangan bola di depan tangsi. Kerabatku itu betul-betul pembesar yang setara dengan Jepang. Ketika bermain-main ke markasnya, tampak prajurit Jepang masak air panas untuk mandinya. Bernadus Lauwoie, pribumi Rote yang sudah menjadi pembesar Jepang itu. Beberapa tentara Jepang senang sekali bergaul dengan anak-anak. Ada prajurit yang suka memamerkan pengetahuan ilmu pasti dan fisika. Dia mengajar kami secara akrab, sambil memberi kami makan ubi rebus bercampur gula pasir. Aku segera menyesuaikan diri dengan tentara Jepang. Tangsi polisi penuh dengan Jepang. Temanku Melianus Manubelu, mengajak aku ke tangsi untuk bermain-main dengan prajurit Jepang itu. Yang lucu, di pojok lapangan bola, di depan toko-toko Tionghoa, berdiri seorang prajurit pendek, lebih pendek dari senjatanya. Mendengar cerita orang bahwa ada yang ditempeleng kalau tidak menghormat, aku harus menekukkan tubuhku empat puluh lima derajat menghormati ‘serangga’ perang yang lebih pendek dari senapannya itu. Sebelum menekukkan tubuh, aku berbaris sepuluh langkah, lalu langkahku membelok menghadapinya kemudian menekukkan tubuh menghormatinya. Begitu tubuhku tegak kembali, aku melihat wajahnya. Ia agak menutup sebelah matanya dengan pipinya sehingga tampaknya agar meringis karena kepanasan dan teriknya matahari siang yang membakarnya. Waktu aku mengadakan napak tilas ke Ruteng di tahun 1979, aku mengulangi lagi perbuatanku menghormat si pendek itu. Walaupun Jepangnya sudah tidak ada, aku menghormat tempat itu. Waktu aku tegak kembali, mulutku berbunyi, “Anjing!” Seandainya ada encim atau encek yang melihat perbuatanku dari toko di pojok seberang jalan, ia pasti berpikir aku orang gila.

Ayahku hanya beberapa bulan di penjara. Begitu cepat ia dikeluarkan, entah karena apa. Mungkin karena perusahaan Singer Sewing Machine adalah perusahaan Amerika, musuh Jepang. Keluar dari penjara, langkah pertama ayah adalah mencari uang untuk membeli beras dan lauknya. Kebetulan ketika itu iparku dipindahkan ke Bajawa. Biasanya kalau pegawai gubernemen di kota itu pindah, diadakanlah lelang umum. Seorang petugas berjalan keliling kota membawa gong. Di depan rumah orang atau di tempat yang ramai ia berdiri dan memukul gong beberapa kali.
”Dengar, dengar, dengar. Pada hari Kamis tanggal dua puluh Agustus, akan diadakan lelang di rumah Tuan Kalerek David Kaha. Barang-barang mewah pasti akan murah. Ada kursi tamu terbuat dari kayu jati kelas satu, meja marmer, lemari jati, gramofon, koi besi (tempat tidur besi) kelambu, dan piring mangkok porselin.
Dengar, dengar, hadirilah ramai-ramai….
” Begitulah kurang lebih teriaknya. Tong, tong, tong… lalu berjalanlah ia ke tempat lain untuk berteriak lagi, memukul gong lagi. Maka ayah memboyong dari pondok di kebun beberapa barang yang tidak perlu.
Setelah lelang selesai, kami memperoleh sedikit uang. Ayah membeli beras, minyak goreng dan bawang. Lalu kami memetik pucuk daun ubi jalar.
Makanan ditaruh di tikar dan sebelum makan ayah berdoa untuk kami semua. Rasanya enak sekali, nasi tanpa ikan tetapi hanya pucuk daun ubi jalar yang ditumis cukup enak bagi orang miskin seperti kami.
Di kala hujan turun tak putus-putusnya, ayah mengajariku bahasa Belanda. Aku berpikir, walaupun tidak sempat bersekolah di sekolah formal, yang penting bisa berbahasa Belanda dulu agar bisa belajar sendiri di kemudian hari.
Pada suatu malam, ketika duduk di depan api di tungku timbul ide (inspirasi) untuk bersekolah lagi. Ayah setuju sekali lalu mengantarku. Aku disuruh duduk dan mengerjakan pekerjaan berhitung. Namun payah, payah, karena aku tidak pernah menghafal kali-kalian. Selama satu kuartal di kelas tiga, satu setengah tahun yang lalu, pelajaran yang kuterima hanyalah menyanyi, baca sendiri dongeng-dongeng binatang di buku berat Pantja Tanteran, membaca buku bergambar tentang Injil, mendengar cerita guru tentang perlunya memuji Tuhan dan cerita Pastor Mensen tentang surga.
Memang aku pernah lihat teman-teman duduk di batu sambil menghafal kali-kalian tetapi aku tidak terdorong karena guru tidak mendorong kami. Mungkin nanti, tetapi aku keburu keluar. Namun ada kategori pengertian dalam diriku.
Misalnya tujuh kali tujuh. Aku mengerti ada tujuh sesuatu di kali tujuh. Ada tujuh kelompok lidi yang masing-masing kelompok berisi tujuh biji lidi.
Maka aku pun mencoret-coret tujuh kelompok lidi di batu tulis, kemudian dengan susah payah menghitungnya satu demi satu. Pengalaman menghitung lidi itu menghasilkan tujuh puluh sembilan lidi. Namun testing pertama aku memperoleh biji enam.
Pulang ke rumah aku menghafal kali-kalian dan setelah itu aku maju tak gentar menghadapi testing selanjutnya oleh Tuan Wowor, Kepala Sekolah Standar satu-satunya di Kabupaten Manggarai. Aku bahagia sekali, lebih-lebih ketika ada tamu pembesar datang berkunjung ke Ruteng, misalnya Bapa Uskup, orang Jepang, perwira Jepang dan sebagainya.
Kami memakai pakaian seragam kuning yang ada ketumanya dan topi kuning seperti topi angkatan laut Perancis. Kami berbaris rapi dari sekolah menuju lapangan.
Semua orang berkerumun menonton kami begitu mendengar genderang barisan kami berbunyi sepanjang jalan.
Sebelumnya, ketika aku tidak bersekolah dan tinggal di kebun, mencangkul dan menyiang, aku sering jalan-jalan sore di kota. Aku tertarik sekali melihat anak-anak Sekolah Standar berbaris memakai seragam kuning itu. Rasanya aku bermimpi untuk memakai pakaian itu, ikut berbaris dengan mereka. Impian itu menjadi kenyataan. Aku ikut memakai pakaian seragam itu, berbaris ke lapangan dan kemudian Bapa Uskup dan pembesar Jepang mendengar nyanyian kami, menonton permainan kami di lapangan.

Impian lain ketika aku masih ikut ibu bekerja di kebun adalah main mobil-mobilan kayu yang bagus milik seorang anak Tionghoa. Aku berkata dalam hati, ” Nanti kalau aku sudah besar, aku akan menciptakan mobil yang lebih bagus dari itu.
Itulah suara hati yang nyaring dari seorang anak yang terasing-tercerabut dari dirinya, dari haknya untuk bermain, untuk memiliki mainan. Ternyata setelah besar aku banyak menciptakan karya sastra. Ini berarti imajinasiku bermain-main dalam novel-novelku, dalam sekolah novela, cerpen, dongeng-do-ngeng dan karyaku yang lain dalam bahasa Indonesia dan ada yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Jepang dan Turki.
Walaupun bukan orang kaya, tetapi pemerintah negeri asing mengundangku sekaligus membiayaiku untuk tinggal dan bermain-main di negeri mereka. Di masa kecilku, ketika duduk di depan tungku di kebunku di Ruteng, lalu timbul inspirasi untuk bersekolah lagi, tidak pernah terbayang aku bisa melanglang buana.
Di Ruteng, setiap kali ada anak-anak berlibur, aku selalu iri pada mereka. Kapankah aku bisa seperti mereka, kapankah aku bisa melanjutkan sekolah seperti mereka? O, Tuhan, bisik jiwaku, tetapi setelah duduk di kelas empat, aku hampir saja dikeluarkan karena tiba-tiba aku menonjok seorang anak, teman kelasku karena dia mengejek aku dengan mengatakan bahwa ayahku masuk bui. Akan tetapi suatu hari aku kena batunya ketika aku sedang menggambar kuda.
Tampaknya, kudaku melompat sehingga aku menyentakkan badanku dari duduku. Rupanya, Tuan Wowor menikmati juga kebagusan kudaku dari belakang tetapi kepalaku kena dagunya dan kacamatanya terpental. Dia kaget tampaknya lalu marah besar. Melangkah ke depan, ia mengambil sebuah pentung hitam sebesar pentung yang dipakai polisi. Aku pasrah menerima nasib kepalaku pecah.
Oh! Dipukulkannya pentung hitam itu ke kepalaku. Tong! Ternyata sebuah kayu dadap yang ringan ba-gaikan gabus yang dicat hitam.
Di kelas kami ada lima orang gadis. Ini untuk pertama kalinya Sekolah Standar menerima murid wanita, bercampur dengan anak lelaki. Suatu hari ketika aku sedang bermain-main air di keran umum di halaman sekolah, tiba-tiba tanganku menutup mulut keran. Air dari keran membersit kencang membasahi baju tiga orang anak perempuan.
Mereka melaporkan kepada Tuan Wowor dan aku dipanggil menghadap.
Aku ketakutan setengah mati ketika Tuan Wowor ingin memberitahukan kepada suster kepala asrama dan aku disuruh me-nyeterika baju itu sampai kering. Untung aku disuruh duduk kembali dan para perempuan itu duduk basah-basah. Aku naik ke kelas lima.
Guru kelas kami, Tuan Sintus de Rodriques yang masih muda, seorang Larantuqueros (orang Larantuka) di Flores Timur.
Kalau dia berbicara tentang kemerdekaan Indonesia, kaki-nya bergerak-gerak. Lain dengan guruku di kelas lima ini seorang nasionalis sejati. Dialah yang memperkenalkan kami tentang Republik Indonesia, kemerde-kaan dan bendera merah putih, padahal waktu itu bendera Je-pang sedang berkibar. Padahal istrinya peranakan Jepang.
Dialah pula yang membuat aku suka pelajaran berhitung karena caranya mengajar enak sekali. Dia pula yang mengajarkan kami bahasa Jepang. Waktu teman kelasku anak Rote, Melianus Maubelu mendapat rangking satu dan aku jatuh di ranging dua aku mengevaluasi diri sendiri. O, aku tahu jawaban mengapa aku jatuh di rangking dua.
Dia anak polisi. Aku pernah makan di rumahnya. Makannya enak-enak dan bergizi sedang-kan aku, ketika itu, kalau pulang sekolah mesti mencabut singkong lebih dahulu, merebusnya kemudian merebus daunnya dan memakannya hanya dengan garam dan cabe dari kebun.
Waktu dilakukan pertandingan panco, ia pun nomor satu dan aku nomor dua. Dia kuat sekali karena gizinya bagus itulah. Akan tetapi kami berdua anak Rote yang paling kuat di kelas lima. Otot yang paling kuat di bidang olah raga perpancoan. Melianus Manubelu ini sangat kagum pada ayahku ketika ia mendengar ayahku berpidato dengan bahasa indah, puitis pada hari perkawinan putri kepala penjara dengan seorang kepala pertanian Kabupaten Manggarai.
Ia bahkan mengucapkan dengan lancar kalimat-kalimat bagus dari pidato perkawinan itu. Indah juga, pikirku.

Aku jadi heran. Mengapa aku tidak peduli pada pidato ayahku yang bagus itu. Rasanya aku agak malu melihat ayahku bersastra-sastra. Seandainya Melianus tidak mati muda ia akan menjadi sastrawan.
Kembali kepada Tuan Sintus, guru kelas limaku. Selain senang pada pelajaran berhitung terutama hitungan-hitungan yang hanya memakai angka, tanpa kata-kata, untuk pertama kali aku mendapat ‘hadiah sastra’.
Aku membuat sebuah esei di batu tulis. Ia membacanya. Tiba-tiba ia menyuruh kami diam dan ia membacakan eseiku di depan kelas. Rasanya dialah, Guru Sintus itulah yang mengantarkankan aku menjadi seorang sastrawan Indonesia. Aku selalu mengingatnya sehingga berita kematiannya di Jakarta karena sakit, sangat menyedihkan aku karena aku ingin sekali bertemu dengannya untuk memberitahukan bahwa aku telah menjadi seorang sastrawan di negeri ini.
Di kelas lima aku merasakan betul nikmatnya bersekolah walaupun tidak ada buku, kecuali buku bacaan Matahari Terbit , kecuali sebuah batu tulis dengan kalam-kalam batunya. Tiap hari batu beradu batu. Habis ditulis bisa dihapus. Biasanya kami memakai ludah untuk menghapusnya.
Semacam kumputer jadinya. Komputer primitif yang dipakai siswa ‘zaman batu’. Aku sudah lupa, apakah perkenalan kami dengan buku tulis ketika duduk di kelas lima atau enam. Namun kertasnya masih sangat susah sehingga ada teman yang menemukan jalan keluar dengan mengambil buku tulis yang sudah penuh dengan tulisan indah tebal-tipis yang ditulis dengan tinta dan pena lalu dicelupkan ke dalam air beberapa lama kemudian dijemur. Tulisannya luntur sedikit dan walaupun masih kotor sudah bisa ditimpa dengan tulisan baru.
Bacaaan yang mengharukan aku adalah syair Ratap Tangis Kuda Sado. Aku sedih membayangkan kuda sado yang setiap hari bekerja, dipecut dan lapar, haus, mulutnya berbusa.
Syair itu mungkin ada dibuku bacaan Matahari Terbit. Aku tertarik sekali pada kapal Melcior Trubb yang berlabung di Tanjung Priok. Barangkali inilah membikin aku menjadi mahluk urban.
Lalu di kelas lima itu, ada mata pelajaran pekerjaan tangan. Anak-anak kampung terampil sekali membuat tali dari serat waru dan tumbuhan belukar. Aku tertarik sekali melihat mereka mengupas kulit kayu waru dan mengambil seratnya lalu menjemurnya. Setelah kering mereka membuat tali. Aku jadi sibuk membuat tali. Ada yang kecil ada tali yang besar. Suatu kali aku dapat ide untuk membuat kapal terbang dari kayu waru.
Di depannya ada dua sayap dan di belakangnya ada satu sayap mendatar dan ada satu sayap ekor yang tegak lurus di belakang pesawat itu. Di depannya ada baling-baling dari kertas.Karyaku diperlihatkan di depan kelas. Sang guru mengatakan, ”Bagus, bagus,” lalu digoyangnya di tangannya agar pesawatku membelah udara dan baling-balingnya berputar. Ketika aku mampir di kantor gubernur NTT di tahun 1974, seorang kawan sekelas yang bekerja di kantor itu mengingatkan aku akan pesawat terbangku itu.
Dia tidak teringat bahwa karanganku pernah dibacakan di depan kelas. Ketertarikanku kepada pesawat terbang memang luar biasa di masa kecilku. Seandainya sekolahku mulus, mungkin aku lebih dulu menjadi Doktor Aeronautika daripada mantan Presiden Habibie. Untung orang tuaku miskin sehingga aku menjadi seorang otodidak dan sastrawan sehingga nama serta fotoku bisa terpampang di Ensiklopedia Indonesia dan Nusantara dan karya-karyaku bisa diterjemahkan ke bahasa asing.
Ketika naik ke kelas enam, kami mendapat seorang guru bernama Tuan Tjangkung, asli Manggarai.
Di kelas ini, pertama kali kami mendapat pelajaran sejarah. Sejarah tempo dulu Manggarai diceritakan dengan bahasa yang sangat menarik. ”Dahulu,” katanya mengawali ceritanya, ”Orang Manggarai tidak mengenal sopi atau arak.” Lalu datang seorang raja dari Pulau Rote, yaitu raja kerajaan Ti. Raja Ti ini, dibantu oleh opas Feosau, juga orang dari Rote, membuat periuk tanah yang besar, lalu menyuling tuak dari sirup aren. Biasanya Tuan Tjangkung pergi entah ke mana setelah membagi-bagikan buku bacaan.
Dengan sendirinya kelas jadi ribut karena semuanya membaca secara ngaji. Akan tetapi Tuan Tjangkung tidak seperti Tuan Sintus.
Biasanya, kalau kelas ribut karena ditinggalkan guru Sintus. Begitu Tuan Sintus masuk ke kelas lima, langsung menuju aku dan menghajar aku dengan ikat pinggangnya lalu diam. Padahal semuanya ribut. Bukan aku saja. Mungkin aku sudah tercatat sejak kelas empat bahwa aku satu-satunya anak yang paling nakal di sekolah itu, anak yang telah pernah memukul kawannya sampai berdarah-darah. Waktu itu, waktu duduk di kelas empat, ada pertandingan bola antar kelas. Aku mengambil inisiatif sendiri untuk menjadi wasit garis.
Ketika ada anak yang berdiri lewat dari garis, aku dekati dia dan memukul kakinya pelan-pelan dengan pelepah pisang. Tiba-tiba ia tersinggung dan menyepak keras-keras lututku sehingga aku terjatuh. Sakitnya luar biasa. Beberapa detik lamanya aku mengurut-urut lututku dan ketika perihnya hilang, aku bangun dan mengirim bogem mentah ke mulutnya. Orang kuat kedua olahraga panco di kelas lima itu tidak mengira bahwa ototku dapat merobek mulut orang. Melihat darahnya mulai memerahi mulutnya, aku katakan :, ”Sudah, kau menendang lebih dulu. Sudah.” Lalu aku berlari menghindar.

Sementara dia mengejarku, massa ikut mengejarku. Aku lari menuju guru-guru yang sedang ngobrol di halaman depan sekolah. ”Tuan, Tuan, tolong,” kataku. Tiba-tiba anak yang mulut dan hidungnya berdarah itu terjatuh dan meluncur di rumput yang basah oleh hujan itu. Begitu anak itu bangun, Tuan Wowor melihat darah bercampur lumpur di wajahnya.
Dari lapangan rumput Tuan Wowor membawa aku menaiki tangga lalu memamerkan aku kepada seluruh murid yang berdiri di lapangan. Ia tidak lagi mengadili aku. Aku tidak perlu mengatakan bahwa anak itu yang lebih dahulu menendang aku sehingga seluruh tubuhku terbongkar rasanya Ia masuk ke dalam dan mengambil selebaran Tuan Besar Jepang. Huruf-huruf besar membuat aku bisa membacanya. ”Jangan membunuh, jangan mencuri dan sebagainya.Karena sudah ada darah, maka ini berarti membunih. Tuan Besar Jepang akan membunuhmu!” katanya lalu menarik aku ke dalam dan aku disuruh berlutut di depan kelas.

Aku kena shock berat. Bukan karena berlutut tetapi karena dipamerkan kepada massa dan tanpa mengadiliku langsung dituduh pembunuh. Padahal anak itu yang lebih dahulu menyepakku. Aku lalu berjanji pada diriku, biar orang menyiksaku, aku tidak akan membalasnya dengan kekerasan. Lutut kiri ditendang, aku akan bersabar, bahkan sampai ke tendangan pada lutut kananku. Pulang ke rumah, aku masih shock. Aku menjadi pendiam. Malam-malam ketika duduk di depan tungku aku berjanji lagi pada diriku agar tidak akan berkelahi lagi, tidak lagi, selama-lamanya.
Pagi-pagi, ketika kembali ke sekolah, aku masih takut pada massa yang menyalahkanku sebagai pembunuh. Tiba-tiba, seorang teman menyapaku lalu dia berjalan bersamaku menuju halaman sekolah. Aku terhibur sekali, aku masih disapa orang, aku bukan orang terbuang tanpa pengadilan walaupun aku sudah merasa bersalah karena membalas tendangan yang membongkar lututku.
Itulah pengalamanku ketika kau duduk di kelas empat. Pengalaman yang membuat guruku di kelas lima selalu mengarahkan sabetan ikat pinggangnya kepadaku bilamana seluruh kelas ribut. Akan tetapi bagaimana pun guru kelas lima itu sangat memperhatikan bakatku.
Guruku di kelas enam memang selalu meninggalkan kelas tetapi kalau ia kembali, ia tak peduli siapa raja ribut di kelas. Seingatku pelajaran berhitung tidak terlalu banyak seperti di kelas lima. Yang aku ingat, di kelas enam aku telah menjadi anak manis, tidak pernah dihukum. Ia hanya menghukum Raja Ti dengan pelajaran sejarahnya dan tidak mengagumi abangku joki ulung Benyamin yang namanya menjadi masyur di Manggarai sampai di kelas enam sekolah kami. ”Orang bilang, Min itu joki luar biasa tetapi ingat, ingat pepatah mengatakan, sepandai-pandainya tupai melompat, sekali waktu akan terjatuh jua.” Abangku Min, tidak pernah terjatuh dari kuda.
Dia mendewasa, menjadi polisi, pensiun baik-baik. Sebagai polisi dengan pangkat terakhir letnan.
Di samping bermain, di kelas enam, aku suka menonton anak-anak kelas empat bermain bola jeruk Bali.
Anak-anak di kota Ruteng mengatakan ‘lemon pampermus’. Waktu itu barang siapa yang pintar main tekan yaitu salah satu kaki memberi bola, yang lain menekan kaki lawan agar tidak mengambil bola dan bawa sendiri maka dia menjadi pujaan. Ada seorang anak baru masuk kelas empat yang badannya bundar boncel pintar sekali membawa bola.
Aku sangat mengagumi anak yang baru masuk itu. Di kemudian hari anak yang pintar membawa sendiri bola itu menjadi gubernur NTT.
Di tahun 1945, ketika Jepang kalah, kelas enam dibubarkan dan tinggal dua kelas saja seperti Sekolah Standar sebelum Jepang.

Ijasah tidak diberikan. Hanya sepotong surat tulisan tangan yang ditandatangani Tuan Tjangkung bahwa aku sudah menamatkan Sekolah Rendah enam tahun.
Hitung-hitung setelah ayah keluar dari penjara, kami berpindah-pindah tempat tinggal sebanyak enam kali. Kali yang keenam barulah kami menempati rumah sendiri dekat Mataair Mabumuku. Ketika aku ke Ruteng di tahun 1979, tanah kami masih ada. Kosong. Di sampingnya sudah ada Sekolah Dasar Negeri di atas tanah milik teman masa kecilku Paulus Dera. Bertemu denganPaulus Dera yang asih menempati pondoknya yang kecil ia melaporkan bahwa tanahnya diambil begitu saja oleh Bupati (waktu itu Bupati Frans Lega) tanpa ganti rugi. Empat buah tiang rumah kami diambil dari lereng gunung Mandosawu. Aku ingat betul ayah mengajakku naik ke gunung berbekal surat izin dan sekaleng biskuit penuh nasi dan ikan. Kini aku agak menyesal juga, telah mengambil empat batang kayu dari hutan yang sudah tampak rusak itu.
Temanku, pelukis dan penyair Tariganu yang saudaranya pakar kehutanan yang bertugas di Ruteng mengatakan bahwa di Pegunungan Mandosawu, terdapat paling banyak spesies tumbuhan. Semau yang ada di dunia ini ada di pegunungan itu. Setelah empat buah balok itu dilempat dan menggelinding di jalur air hujan, aku menarik tiang-tiang itu menuju kampung Mbaumuku. Berat tetapi asyik juga. Soalnya harus melalui jalan setapak yang bertemu dengan pagar, kemudian melalui kampung .Tenda dan turun ke jalan raya kemudian kebun, sungai lalu harus dipikul sampai ke halaman rumah. Ayah dan aku sendiri yang membangun rumah itu.

Di masa Jepang itu, kesulitan kami memang mengenai rumah tinggal sebelum ayah mengatasi-nya dengan membangun dua rumah sekaligus. Atapnya dari alang-alang yang diikat rapi pada batang bambu sepanjang tiga meter. Aku pernah belajar dari orang-orang kampung di utara Ruteng mengenai bagaimana membuat atap. Lain dengan atap ilalang Bali yang terlalu tebal. Atap ilalang buatan Manggarai tipis sehingga tidak banyak memakan ilalang dan bisa bertahan sampai tiga tahun kalau disusun agak rapat. Atap ilalang tidak berisik seperti atap seng.
Aku kira bunyi hujan di atap ilalang merupakan obat bagi kesehatan jiwa dan raga. Mungkin saja. Bayangkan, bila hujan turun dan bunyi atap mendesau, aku tidur nyenyak sekali di atas bangku satu papan. Kedua telapak tangan dijepit paha, melingkar seperti tidur anjing, tanpa baju. Bangun pagi-pagi segar sekali. Ruteng kota paling sehat. Apalagi tinggal di kebun, tanpa banyak bertemu manusia pembawa flu.
Selama enam tahun tinggal di Ruteng aku tidak pernah sakit. Tinggal di kebun jauh dari flu. Malah di tengah malam aku bisa mandi. Badanku sangat menyesuaikan diri dengan dinginnya Ruteng, kota sejuk yang setiap musim hujan, turun butir-butir es yang membuat cubitan mesra di kulit kalau kebetulan aku mandi telanjang hujan-hujan di sungai.
Seingatku penyakitku hanyalah koreng. Kenanya di kulup sehingga makin digaruk makin enak-enak pedas seperti orang makan rujak! (lihat cerpenku ‘Si Keong’ yang sudah diterjemahkan ke bahasa Jerman dalam antoloji ‘Perlen im Reisfeld. Judul cerpenku ‘Mutiara di Tengah Sawah” di-jadikan judul antologi bahasa Jerman tersebut).
Tinggal di rumah kami yang baru, pada suatu hari, ibuku ke kebun kami yang semula untuk mengolahnya kembali setelah cukup lama ditumbuhi pupuk hijau, tetapi tiba-tiba Oom Malole muncul dan ribut.
Barangkali dia mengira kebun itu sudah ditinggalkan dan dia merasa sudah dikembalikan kepada dirinya sebagai koordinator para pendatang itu. Perang mulut terjadi. Tiba-tiba ibu mengejarnya dengan parang sambil berkata, “ Kau bawa tanah ini dari Rote?” sambil mundur balik kanan ia mengomel, “Hi, ini perempuanTi mau bunuh saya!” Aku tertawa geli melihat ibu yang kurus mengejar seorang lelaki buncit.
Memang sudah sangat terkenal bahwa orang Ti di Pulau Rote selalu terlibat perang suku yang disebabkan oleh sengketa tanah. Di Nusa Tenggara ada beberapa suku NTT yang temperamental, penaik darah, yaitu orang Waiwerang, Ngada, Kobano dan Ti terutama dan Rote pada umumnya. Waktu aku katakan pada seorang wartawan yang mengatakan bahwa orang Ti suka main parang atau kapak dan aku katakan padanya bahwa aku orang Ti dan beberapa familiku termasuk abangku tentara yang sudah pernah menembak tepat tentara Belanda, ia mungkin ngeri, tidak pernah mengunjungiku wa-laupun bertetangga. Ibuku seperti sudah kuceritakan pernah menggigit pipi iparnya sendiri hanya karena iparnya melaporkan affair ayahku.
Jadi, ada potensi kekerasan dalam keturunan kami, terutama dari suku ibu. Menurut ayahku, kakekku sebagai temukung besar (kepala beberapa desa) yang memperoleh bintang jasa dari pemerintah waktu itu menghadapi para pendatang dari Sulawesi Selatan yang membentuk desa pantai Pepella.
Dari Pepella mereka berlayar ke perairan Australia untuk mengambil kerang-kerang raksasa, teripang, dan sebagainya. Kakek menaklukkan temperamen mereka yang cepat mencabut badik untuk selanjutnya mencabut nyawa sendiri. Kakek melawan badik dengan linggis.
Dia tidak menyerang membabi buta. Menurut ayahku kakek mengambil linggis lalu dipatahkannya di muka pemegang badik itu. Lalu tiba-tiba parapendatang itu mengira bahwa kakek mempunyai tenaga dalam. Mereka lalu membayar pajak secara teratur untuk pemerintah ke-tika itu.
Itulah sedikit tentang watak dan temperamen keluargaku. Ada bibit-bibit kekerasan dalam keturunanku tetapi dengan pendidikan, hukuman, dan sebagainya maka ada janji kepada diri sendiri untuk tidak memakai kekerasan mutlak, tidak terlibat dengan murder dan suicide.
Pada umumnya, baik ayah, baik ibu dan kami anak-anak adalah manusia terbuka kepada siapa saja. Kepada orang Tenda, kepada orang Karot, di kota Ru-teng, kepada semuanya, bahkan kepada narapidana yang baru keluar dari penjara. Begitu keluar mereka menumpang di rumah.
Ibu pernah menerima seorang anak kampung yang hidup gentayangan di pasar penuh luka yang besar di kaki. Ia berjalan kaki dengan lukanya itu dari ru-mahnya di desa yang jauh membawa kayu bakar untuk dijual tetapi tak laku.
Ia duduk tanpa uang di pasar Ruteng yang pada waktu itu hanya ditempati oleh tiga orang penjual sirih dan pinang. Selebihnya bangunan tanpa dinding yang panjang itu kosong melompong. Hanya sekali pasar yang sepi itu penuh manusia, yaitu pada suatu hari, ketika wanita penjual sirih pinang di pasar, ibu melihat borok anak itu lalu dibawanya ke rumah sakit kemudian dibawa ke rumah.
Anak itu membantu-bantu ibu.
Sayangnya baru sebulan dua, ayah ditahan.
Namun ia tidak segera pulang ke kampungnya. Ibu membuat babika (singkong parut, dicampur kelapa parut dan gula merah, dibungkus dengan daun pisang lalu dipanggang di api arang). Babika penuh sebuah nyiru dibawa anak itu berkeliling kota. Hari-hari pertama ada yang laku sehingga ibu bisa membeli beras.
Luar biasa mengharukan! Anak yang seusia denganku itu buta huruf karena tak pernah menginjak bangku sekolah. Pulang dari sekolah (waktu masih duduk di kelas tiga), aku lihat anak itu makin pucat. Kulitnya yang putih makin putih saja. Ia sedang tertidur sambil duduk bersandar di pojok toko, di atas kaki lima. Tidak lama kemudian ia pulang ke kampung dengan uang yang diperolehnya dari mejual babika.

Aku ingat, pada suatu hari ayah mengundang seorang keluarga Jacob yang kawin dengan putri Tuan BA (Bestuur Assisten) makan siang bersama. Makanan cukup enak (karena ibuku pintar memasak) Waktu masih gadis dulu ibu belajar pada Tuan Pendeta de Vries. Beberapa tahun lamanya pendeta Ds de Vries dan istrinya menampung gadis-gadis Rote yang sudah bisa membaca dan menulis Latin maupun Arab untuk belajar mengurus rumah tangga. Kebanyakan ‘tamatan’ sekolah non formal itu menjadi nyora (istri guru dan pendeta) dan ibuku menjadi istri sah (nikah gereja dan pemerintah) dari Raja Ti, David Messakh dan memperoleh dua anak seperti sudah kuceritakan. Itulah yang menyebabkan ibu pandai memask, antara lain untuk makan siang dari seorang sanak ayah yang kawin dengan anak gadis Tuan Bestuur Assisten Winokan. Aku ingat nama istrinya, Lenny Winokan. Gadisnya tidak terlalu tinggi, berbadan penuh, manis dan suaminya seorang lelaki tinggi, hitam manis. Aku membuntuti keduanya keluar dari gereja katedral, hanya karena yang satu hitam dan yang istri putih. Walaupun bergaji besar di sebuah perusahaan di Makassar dan walaupun dinikahi anak tuan besar kabupaten, namun lelaki muda asal Ringgou, Rote, itu tidak menolak datang ke rumah kami, makan tanpa meja kecuali di atas sebuah dipan, sementara di kamar candu, para encek Tionghoa berdesing dengan entah bahasa Mandarin atau apa. Sehabis makan, ketika akan pulang, ia memberi aku dan adikku uang cukup banyak.
Rumah itu terdiri atas dua petak. Sebuah rumah berdinding papan dan berlantai semen. Petak pertama adalah petak yang kami tinggali ketika baru pertama kali datang. Sungguh sangat kontras. Pertama kali datang, petak itu penuh dengan mesin jahit. Di depannya ada pelat bertuliskan Singer Sewing Machine. Orang memanggil ayah Tuan Singer. Siapa yang mengira sekeluarnya ayah dari penjara, kami tinggal dengan encek-encek pengisap candu? Satu bale-bale papan lagi. Cuma sebuah sekat papan yang membatasi kami. Untung mereka tidak peduli dengan kami. Dulu di petak itu tinggal Baba Toulae, seorang Tionghoa tukang jahit yang anak-anaknya kebanyakan perempuan imut-imut cantik, lebih adik dariku. Ketika toko kami pindah ke rumah petak yang lebih besar bertingkat dua, Baba Tolae juga pindah menjadi tetangga kami. Petak paling ujung ditempati oleh orang Islam yang membuat kami jadi ingin tahu ketika tiba saat sembahyang maghrib. Untuk pertama kali kami mendengar sembahyang Islam. Abangku Benyamin yang nakal itu, mengorek loteng lalu mengintip ke bawah. Aku juga ikut mengintip dan melihat mereka jongkok dan tegak. Bau menyan mengepul naik ke hidung kami. Rupanya loteng itu dikuasai ayah untuk menyimpan mesin jahit. Akhirnya kami terbiasa dengan tontonan dari loteng itu. Abang Benyamin menutup kembali lubang itu. Namun kolong rumah yang rendah merupakan rahasia yang harus diungkap. Pada suatu hari aku masuk lewat sebuah celah papan dan merayap ke dalam sejauh mungkin. Tidak ada apa-apa di dalamnya. Aku keluar lagi.
Untung tak ada ular berbisa.
Tiba-tiba anak tetangga tukang jahit itu sering menyanyi. Pakai baju biru, potongannya baru, barulah aku tahu, tuan… dan seterusnya. Lagu itu mereka dengar dari pasar yang berada di depan toko kami. Waktu itu sebuah rombongan sandiwara yang dipimpin oleh Tuan Nathan, konon berasal dari Filipina, mengunjungi Ruteng beberapa lama sebelum Jepang masuk.
Hampir tiap malam ada pertunjukan. Aku tertarik pada anak penabuh Tambun sambil memegang poster berjalan berkeliling kota. Genderang itu ditabuh sambil berjalan santai. Aku dan kawan-kawan mengikutinya ke mana ia pergi untuk menarik perhatian publik. Semula aku selalu asyik menonton stomwals. Besi yang besar itu menggiling jalan raya dan aku berkata kepada diriku, bahwa kalau aku besar aku ingin jadi sopir kendaraan besi. Memang banyak hal yang menarik di kota Ruteng. Begitu banyak permainan dan perbutan yang menyengkan. Permainan-permainan seperti membuat kuda dari pelepah pisang lalu berlari, tidak melontarkan aku ke masa depan. Aku tidak ingin menjadi joki. Membuat perahu, mobil-mobil dari kulit jeruk Bali, tidak melontarkan aku ke cita-cita untuk menjadi montir. Begitu pula ketika aku membuat kapal terbang. Tidak ada impian untuk menjadi montir pesawat terbang, kecuali bermimpi indah untuk menjadi pilot. Aku pernah punya velek sepeda yang didorong sepenggal kayu. Ada lagi pekerjaan yang konyol. Biasanya kalau aku sedang bermain bola di lapangan, di musim kemarau, ada saja kertas koran atau sobekan beberapa halaman buku yang terbang ke tengah lapangan. Aku segera berhenti, membongkok lalu membaca. Tetapi aku tidak pernah ingin menjadi pengarang buku atau wartawan. Impianku hanyalah yang dua itu. Menjadi sopir stomwals yang beratnya entah berapa ton itu dan kemudian menjadi bintang panggung. Menjadi aktor. Keinginanku hampir tercapai ketika duduk di kelas tiga sekolah Guru Atas di Surabaya. Aku menjadi terbaik pada festival Seni Drama di tahun 1956. Aku ingat Jetty Sumali, kakak Tatiek Maliyati Sihombing menjadi sutradara terbaik. Grup teater mereka menjadi pemenang pertama. Tapi akhirnya aku tidak menjadi aktor. Aku menghadapi pekerjaan yang lebih berat daripada sopir stomwals. Aku menjadi pengarang cerpen, dan novel-novel. Aku membaca setiap hari, menulis setiap hari. Ini lebih berat daripada menjadi sopir stomwals.
Akan tetapi daya tarik kelompok sandiwara keliling menjelang datangnya Jepang itu luar biasa. Abangku Benyamin, si anak pemberani itu menyerobot lewat kolong terpal, duduk di kelas kambing yang tinggi. Aku lihat betisnya dipukul dengan rotan oelh mandor-mandor penjaga tetap ia lolos masuk. Aku pulang ke rumah lalu tidur. Di tengah malam, abangku naik dari tiang depan, ke atas loteng dan turun ke kamar tidur. Besoknya ia dirotan habis-habisan oleh ibu. Ini rotan kedua. Rotan pertaman karena si jago lempar burung tekukur di ladang itu melempar burng-burung di kota lalu batunya menggoreng seng-seng orang.
Itulah rotan kedua.
Abangku cekatan sebagai joki. Dia joki pemberani, joki ulung. Dia sangat suka mendengar ringkik kuda. Baginya ringkik kuda adalah musik sedangkan aku sangat tertarik pada si imut-imut anak tukang jahit Baka Tolac yang manis mungil. Kalau di menyanyi, matanya jadi sangat cipit dan kedua pipinya melesung. Tangannya, goyang pinggangnya membuat semua orang yang melihat anak usia TK itu, terkagum-kagum. Ia hafal banyak nyanyian yang dinyanyikan para artis sandiwara keliling itu. Bukan saja menyanyi tetapi ia sekaligus menari. Badannya seolah menyanyi. Bukan main! Tubuh dan jiwaku terlompat melihat semua itu. Aku digerakkan oleh ide untuk membuat panggung sendiri, layar sendiri dan tambur sendiri. Aku mengambil kaleng arang. Aku mengambil penjepitnya dan membengkokkan begitu rupa sehingga kalau disentak oleh kaki maka kelengku berbunyi. Dua bilah kayu dipakai sebagai pemukul kaleng itu. Aku membuat panggung sendiri, aku mengambil kain-kain batik ibu aku pernah mengusulkan kepada teman sekolahku di SR (dia di kelas empat dan aku di kelas enam ketika itu). Usulku adalah, kalau bisa dibuat terusan yang memindahkan banjir menjauhi mata air bening itu. Dan di tempat itu,sangat bermanfaat bilamana dibuat taman, kolam renang alam dan buatan, restoran, kafe. Alangkah baiknya di bekas rumahku dibangun sebuah pondok baca yang berisi buku-buku bermutu, terutama karya sastrawan asal Manggarai Dami Toda, dan sastra dunia. Ide ini eprnah kusampaikan pada Gubernur (Ben Mboi) dan spontan ia mengatakan, "Bilang sama Bupati!"

Ironisnya, seperti sudah kukatakan, di waktu Jepang kami tak pernah kekurangan apapun. Makanan, pakaian berlimpah karena ayahku bekerja pada Tsubono. Namun ketika Jepang kalah, kami mulai kelaparan beberapa bulan sebelum Nica masuk membawa beras, kentang kering, susu dan gula. Waktu susu, terigu, kentang kering dan gula bertumpuk di rumah, kami, sebuah keluarga Rote datang ke rumah kami, membawa anak yang masih kecil. Ia tertatih ke ruang makan dan meraup susu bubuk lalu memasukkan ke dalam mulutnya.
Aku menggendong dia ke depan lalu buru-buru mengganti susu dengan terigu. Namun ia kembali ke belakang meraup terigu tetapi tiba-tiba disemburkan keluar. Anak yang kugendong-gendong itu di kemudian hari menjadi wali kota Kupang yang panggilan akrabnya Adi Bu Amalo. Ada kemungkinan euforia kemenangan sekutu membuat orang tidak terlalu peduli pada ladang jagung, ubi dan padi. Waktu itu benar-benar paceklik.
Orang menjual batang pohon araen yang ada sagunya.
Yang punya singkong masih beruntung. Aku hanya sehari merasakan lapar sesungguhnya. Namun tulang rusukku muncul. Malam-malam aku bermimpi tentang makanan. Salah satu mimpi yang paling konyol adalah bahwa batu-batu di sungai de depan runahku menjadi roti. Akan tetapi ayah cepat bergerak sehingga kami cepat mempunyai makanan. Bersamaan dengan itu, seorang lelaki Rote yang masih adahubungan perkawinan dengan sanak-familiku keluardari penjara.

Dia bernama Daniel Jacop, kepala segala pencuri di seluruh Manggarai. Begitu keluar dari penjara ia sering berkunjung ke rumah kami dan di dalam kainnya yang selalu diselempangkan penuh dengan telur ayam rebus. Diam-diam dia membagikan kepada kami anak-anak. Akan tetapi, tiba-tiba Robin Hood telor itu ditangkap lagi dan seperti sudah kuceritakan, ia muncul malam-malam meminta parang dariku.
Sementara itu para Heiho berbondong-bondong datang ke rumah kami, membawa bongkah perak dari Reo yang dibom sekutu. Namun ibu mengembalikan perak itu (kira-kira 20 kg) kepada mereka karena begitu logam mulia itu disimpan di rumah kami, petir dan halilintar menyambar pohon bambu di samping rumah kami.
Dari kantor Tsubono ayah membawa satu amplop penuh berisi intan yang belum diasah tetapi ketika adikku membersihkan lemari ia mengira benda yang dalam amplop itu adalah pecahan-pecahan kaca sehingga ia membuangnya ke sungai. Yang sangat berharga buatku adalah hadiah dari opsir Jepang buat abangku Benyamin dan diserahkannya kepadaku.
Hadiah itu berupa sebuah sepeda ban mat. Sepeda itu kupakai hampir setiap hari. Pagi, sore bahkan malam. Pada suatu sore ada seorang anak kecil kurang gizi berjalann di jalan setapak di luar kota. Aku menolongnya dengan memboncengnya di bagasi. Baru beberapa meter memboncengnya, ban belakang terhenti. Ketika kuperiksa ternyata tumitnya masuk ke jeriji roda sehingga hampir seluruhnya terkelupas.
Aku sangat ketakutan sehingga menyuruhnya pulang. Aku agak lega karena ia tidak pincang berjalan menjauhi aku. Melihat itu aku berkata keras, "Hai, kalau bertemu tahi kuda atau sapi, atau kerbau, ambil dan gosokkan ke lukanya, ya!" kataku. "Ya," katanya. Pengobatan yang demikian itu aku pelajari dari anak-anak yang lebih besar dariku di lapangan bola. Ketika kakiku menyepak batu dan kulit telapakku mengelupas ada anak yang lebih besar berteriak, "Cepat gosok lukamu dengan tahi kuda atau sapi. Cepat. Tahi kerbau pun bisa. Cepat!" kata temanku yang lebih tua umurnya daripadaku.
Untung aku tidak kena tetanus ketika itu. Akan tetapi bagaimana nasib anak kecil lelaki kurus yang kubonceng itu? Entahlah. Aku tak pernah melihatnya lagi. Aku ingin membagi kebahagiaanku yang kuperoleh dari sepeda Jepang ban mati itu tetapi maksud baikku berubah menjadi bencana, menjadi ketakutan akan digebuk malah berubah menjadi bencana, menjadi ketakutan akan digebuk malah dibunuh oleh orangtua dan massa di kampung itu.

Menghindar, mungkin sekali merupakan jalan tengah. Akan tetapi aku selalu membayangkan anak itu, dengan tumitnya yang mengelupas. Apalagi setelah aku tau bahwa kalau dulu, ketika ayahku masih dalam penjara aku bekerja di ladang dari pagi samapi sore maka setelah memiliki sepeda itu aku genjot dia si ban mati itu mulai dari pagi sampai sore bahkan sampai malam seperti sudah kukatakan. Alangkah sehatnya.
Seluruh orang Manggarai tidak peduli apalagi iri pada sepedaku. Hanya seorang lelaki tua Rote bernama Kustandji Manu yang iri. Waktu bertemu aku dengan sepedaku yang berlumur lumpur, ia marah-marah. "Siang malam lu berkeliling seluruh kabupaten Manggarai dengan sepeda ini. Lama-lama jadi rusak." Katanya dengan mulutnya yang merah karena sirih.
Aku tidak peduli. Ini bukan sepedanya, ini hadiah dari opsir Jepang karena abangku Benyamin tinggal dengan dia, mengurus kuda putih kesyangannya. Ia mencari rumput segar di ladang-ladang utntuk makanan kuda itu, ia memandikannya, menyikatnya dan melatihnya untuk bisa menderap lembut di tengah kota dan memacu kencang di pacuan kuda di sebelah barat desa Karot.
Selama tinggal dengan opsir Jepang itu pada suatu hari orang melihat abangku membawa truk Jepang. Karena kecil ia menaruh bantal besar pantatnya. Akan tetapi yang paling nakal adalah pada suatu sore ketika ia sedang berkeliling kota di atas kudanya yang menderap lembut (tel). Tiba-tiba, ketika ia melewati depan kompleks yogun ianfu, ada seorang perempuan cantik menahannya dan meminta dibonceng. Ketika itu akusedang berdiri di deplan toko Tionghoa.
Aku lihat kudanya memacu kencang (halop) dan perempuan yang berbadan tinggi itu memeluk erat anak kecil Benyamin yang memboncengnya. Bajunya melayang sehingga pahanya yang pucat menjadi tontonan banyak manusia di tokok itu. Perempuan itu menangis, meringis-ringis, berteriak, "Sudah, Min, sudah, Min, cukup, pantat saya luka sakit," tetapi si Benja (panggilan ibuku ketika marah padanya) terus memacu kuda itu sambil tertawa-tawa.
Aku tidak heran kenakalan dan sadisme abangku. Mungkin perempuan itu anak priyayi atau menak dari Jawa yang diculik untuk mengikuti rombongan yogun ianfu yang dibawa Jepang. Kedatangan para wanita penghibur itu tidak kalah penyambutannya oleh anak-anak seperti kami. Mula-mula orang sibuk membangun beberapa rumah beratap ilalang berdinding bambu, berdiri di atas tanah yang akan didiami perempuan rumah panjang.
Aku kira perempuan Manggarai yang akan ditampung di sana karena pernah aku nguping obrolan orang dewasa bahwa Tuan Besar Jepang memerintahkan kepala desa dan kampung mengumpul para perempuan mandul untuk diberikan kepada Jepang.
Namun, tidak ada satu pun dari desa kesayanganku Tenda memiliki perempuan mandul. Di Karot ada seorang dan konon sebuah desa di sebelah barat kota memiliki banyak perempuan mandul, sehingga di sana, di desa itu akhirnya bahkan setelah Jepang pergi menjadi desa Ianfu.
Dengan datangnya para ianfu dari Jawa maka penuhlah kota itu dengn kemaksiatan. Kebutuhan mesin perang itu diangkut dengan kapal kayu yang berlayar dari Jawa, mendarat di Labuan Bajo, ibukota kecamatan Komodo. Dari sana mereka naik kuda. Berhari-hari anak tangsi, anak kampung dan anak kota (aku termasuk kategori anak kota) menunggu di ketinggian dan pada suatu hari datanglah mereka, para perempuan itu naik kuda. Mungkin karena kepanasan dan pakaian kotor tak pernah dicuci dalam perjalanan yang cukup jauh itu maka tidak ada satu pun yang menarik.
Semuanya hangus terbakar matahari dan tampaknya seperti babu atau mbok bakul. Di depan sekali aku lihat seorang encim, wajah kerut-merut tua, hangus kemerahan dan bonyok.
Karena takut diusir tentara, begitu mendekat, kami lari. Bubar menghilang, pulang ke rumah.
Namun hari-hari berikutnya kompleks rumah yogun ianfu itu tertutup, sepi. Entah kemana mereka dibungkus. Selama mereka berada di Ruteng aku hanya melihat dua perempuan yang ngontrol dalam bahasa Jawa menuju kebun Misi Katolik untuk membeli sayuran seperti tomat, sawi, wortel dan sebagainya.

Kebun misi sangat subur karena pupuk dari kandang sapi. Aku lihat, selain tukang kebun, para suster juga ikut mencangkul. Beberapa kali kelas kami pun disuruh ‘bermain tanah’ (mencangkul) di kebun itu. Selain sayur-sayuran, pada suatu musim panas di masa Jepang itu, di halaman kompleks misi Katolik aku melihat ada jemuran gandum yang baru dipanen dari ladang milik misi itu.
Aku segera duduk menjongkok dan memungut beberapa butir, mengupasnya dan mengunyah-ngunyahnya. Di saat itu karena tidak bersekolah sekitar satu setengah tahun dan bekerja di ladang, terlintas ide untuk menanam gandum di kebunku agar bisa makan roti segar di masa perang. Seandainya ide ini ada pada teman-teman yang kemudian menjadi petani, pedagang dan birokrat mungkin dataran tinggi Manggarai akan menghasilkan gandum untuk pembuatan roti, mie, kue-kue dan sebagainya. Namun, kini belum terlambat. Begitulah. Setelah aku menjadi wartawan kemudian sebagai sastrawan pengembara maka begitu aku sampai ke dataran tinggi Sumatera, Sulawesi dan terbang melayang di atas pegunungan dan lereng landai serta dataran tingginya, ide ini masih hidup di benakku, ide tentang menanam gandum yang kuperoleh dari masa kecilku di dataran tinggi Ruteng.
Sebagai diketahui dataran tinggi di Manggarai cukup luas. Di utara dan di selatan pegunungan Mandusawu terbentang dataran tinggi yang cukup luas, cukup untuk menghasilkan berton-ton gandum.
Teman-temanku di Ruteng cukup banyak tetapi ketika aku duduk di kelas enam Sekolah Standar, setelah menjadi monyet di pohon nangka di samping kanan belakang gereja Katedral Ruteng, monyet yang membawa garam dan memetik nangka muda dan mengunyahnya dengan garam, aku berjalan-jalan keliling katedral. Tiba-tiba aku dipanggil oleh Melianus Manubelu dan seorang kawan lagi yang sedang mengunyah tebu. Keduanya membagi tebu itu dan kami merobek tebu yang panjang dengan rahang sambil mengunyah dan mengisap airnya.
”Be’a,” kata Melianus. ”Kau bisa simpan rahasia, tidak?”

”Rahasia apa?” tanyaku.
”Rahasia besar. Di depan gereja ini, di depan Tuhan, kita membuat cinta rahasia.,” kata Melianus. Aku terheran dengan ide mereka tentang apa yang kemudian, setelah bisa berbahasa Inggris, aku sebut secret love.
”Begini. Sekarang kita bagi-bagi cewek. Kau dapat Dede, aku dapat Lisa dan teman kita yang satu ini (aku lupa namanya), mendapat Julie. Jangan bilang ke siapa-siapa, ya! Mulai sekarang Dade pacar kau, Lies pacar saya dan Julie pacar dia,” kata Melianus sambil mengunyah tebu.
Airnya ditelan, ampasnya dibuang.
Yang dimaksud dengan Dade adalah putri Raja Manggarai dan Lies adalah adik Dade, lebih cantik dari kakaknya. Julie, lengkapnya Julie Sinaulan, anak purnawirawan polisi memang manis walaupun masih ingusan.
Setelah itu, aku tinggalkan anak-anak tangsi itu, tetapi aku sangat setuju bahw Dade punyaku.
Yes, she is my secret love. Namun, tiba-tiba saja seluruh kota mengadakan persiapan pertunangan putri Raja Manggarai dengan putra Raja Bauwae. Masyarakat menunggu kedatangan rombongan dari Bauwae. Rombongan caci (adu pukul dengan cambuk) dan tarian Dandi digelar di lapangan. Berdiri di tepi jalan tanpa sepatu, berpakaian tak pernah kenal sabun, walaupun dicuci terus aku melihat putra Raja menaiki seeokor kuda pacuan yang indah. Nama kuda itu Landomae. Memang kuda itu bagus sekali.
Berjalan kaki telanjang lapar-lapar aku tertawa geli dalam hati mengingat tiga monyet yang duduk di depan gereja, di tangga pintu depan gereja, menyerahkan Dede kepadaku.
Kini ia calon permaisuri Raja Boawae.
Melianus Manubelu sering mengajak aku ke rumahnya, baik ketika masih tinggal dalam tangsi, maupun di tepi sungai, di rumah persembunyian dari bom perang dunia. Dia punya abang bernama Yahya Manubelu. Dia kakak kelas kami. Kalau aku tidak nganggur di kebun, mungkin kami satu kelas. Badannya tinggi. Pada suatu hari ketika pulang sekolah, si Yahya menarik kupingku.
Karena aku sangat takut kupingku copot, aku mengikuti saja tarikannya. Rupanya ada lima anak tangsi berbaris menghadap lima anak kota dan kampung. ”Dengar,” katanya. ”Kalau saya hitung sampai tiga, kalian berkelahi. Baku tinju. Satu, dua, tiga!”
Tinju seorang juara panco melayang ke hidung atau mulut anak polisi itu. Cilaka! Bibirnya penyok, hidungnya pecah berdarah. Aku segera berlari meninggalkan arena perkelahian yang direkayasa Yahya itu. Biasanya pulang ke rumah aku harus lewat depan tangsi polisi tetapi jika melewati tangsi aku pasti ditangkap bapak anak itu. Maka aku memutar agak jauh, berjalan di dalam kali kering, melompat dari batu ke batu dan sampailah aku di mata air tercintaku.
Aku minum, membasuh muka lalu mengendap-endap di balik semak dan rumpun bambu, mengintip ke rumahku beratap ilalang berdinding bambu betung.
Aman. Aku masuk. Seisi rumah bercerita bahwa sang polisi ngamuk-ngamuk di halaman rumah sambil menghunus kelewang panjangnya, tetapi begitu mantan anggota Koningkleijke Marine yang pernah bertugas di kapal perang Sumba itu keluar membawa alu penumpuk padi yang terbuat dari kayu keras, sang polisi keluar dari halaman rumah kami sambil memaki-maki.
Itulah perkelahian berdarah kedua tetapi yang kedua ini tidak menimbulkan rasa bersalah dan menyesal yang mendalam karena bukan kemauanku untuk berkelahi. Ketika aku berlibur dari Sekolah Guru Atas (SGA) di Surabaya, kapal berlabuh sebentar di Kedindi (Reo). Aku kaget melihat anak yang kupukul itu sudah menjadi polisi.
Badannya tinggi besar sedangkan aku kecil pendek. Untuk tidak berurusan dengan kenangan berdarah, walaupun sudah dihapus oleh setangan (sapu tangan) sejarah, aku tidak memperkenalkan diri. Aku hanya berjalan mengelilingi lelaki besar yang berpakaian seragam menyandang senjata itu lalu naik kembali ke kapal.

Teman-temanku anak tangsi yang lain dan anak kota masih kuingat semua. Waktu ayahku pindah ke Alor sebagai pegawai Departemen Dalam Negeri, Melianus menulis surat buatku dengan penuh kegembiraan menyatakan bahwa ia telah diangkat menjadi pegawai tata usaha di kantor Yayasan Kopra di Ende. Aku membalasnya dengan mengatakan bahwa aku sudah bisa omong Inggris.
Kemudian surat menyurat terhenti, ia masuk sekolah pastor (seminari). Sementara itu, aku masuk Ovvo (Opleiding voor Volksondewijser). Teman lain, anak tangsi adalah Jootje Sinaulan. Dia adik kelasku. Aku dengar ia menjadi polisi di Manado dan pensiun di sana. Ada lagi Tote Matutina, teman sekelas yang kemudian menjadi jururawat. Seorang Tote lain, berbadan jangkung, teman sekelasku juga. Ketika aku ke Ruteng di tahun 1979, ia menjadi sopir Sekwilda Manggarai, Pius Papu, kakak kelasku. Ada lagi Frans Lehot, kakak kelasku yang paling aku takuti karena ia kuat sekali. Di Surabaya, ketika ia masuk sekolah jururawat dan aku duduk di Sekolah Guru Atas, dia sering membonceng aku dengan sepedanya pergi pulang pasar malam dan kalau aku sakit ia menyuntikku.
Vitus Wowor teman sekelasku menjadi biarawan Trapis. Yang paling lucu adalah kakak kelasku, Andreas Matutina, abang sekelasku Tote Matutina (Tote, panggilan akrab dari Josef). Pada suatu hari seorang murid menangkap basah tulisan Andreas di tembok sekolah, di sebuah pojok yang susah dicapai kalau tidak punya bakat menjadi pemanjat tebing. Aku merayap bagaikan cicak ke arah tulisan itu. Tidak ada apa-apanya, kecuali nama seorang gadis Jawa, anak polisi bernama Mariam. Kok kata Mariam saja, merupaakn dosa besar.

Dia dianggap gila perempuan. Seluruh sekolah membicarakan skandal menulis nama cewek di tembok. Pada suatu hari, ketika pulang sekolah ada yang mengejarnya, ingin menangkapnya sebagai orang yang berdosa berat, karena dianggap telah berzinah dengan Mariam. Ande (nama akrabnya) berlari kencang menghindari kejaran massa agama itu, sambil ketawa-ketawa.
Bertahun-tahun kemudian, aku bertemu dia di pesawat yang terbang dari Maumere ke Kupang. ”Pater, foto kenang-kenangan sebentar. Dia duduk tenang-tenang dan di sampingnya berdiri sang pramugari yang lebih cantik dari Mariam.
Akan tetapi Pastor Andre tidak peduli dengan kecantikan wanita. Ia sedang dikelilingi malaikat-malaikat surgawi.
Di kota kenangan Ruteng, yang paling aku benci adalah para kenek truk.Kalau kami melompat ke bak, kami dicambuk dengan tali lalu berguguranlah kami memperoleh lutut dan siku yang lecet.
Setelah tamat SR, ayah mengajak aku ke Cancar (16 km dari Ruteng) membawa parang. Ayah menawarkan parang-parang itu, meninggalkannya di beberapa rumah dengan janji bahwa kalau panen nanti, harga parang itu satu kaleng padi. Kemudian aku mengikuti teman untuk membeli jagung di desa yang jauh. Pada suatu hari, ketika aku dan temanku menginap di sebuah desa ketika kami berdagang kain, pemilik rumah yang kami tumpangi bercerita bahwa desa itu paling bersih.
Semua rumah punya kakus yang selalu diisi setiap pagi. Walaupun tidak punya air tetapi daun pisang kering dan mentah dan dedaunan lain cukup untuk dijadikan tisu. Kraeng Mboi (maksudnya Mantri Kakus Mboi) sangat teliti memeriksa kakus.
Dia memakai gala yang panjang dan menusuk-nusuk tinja di dasar kakus. Kalau tinjanya kurang tebal, dia panggil pemiliknya lalu tos, bogem mentah dikirim ke tubuh pemilik itu. Rakyat tidak dendam karena sadar bangsawan Manggarai itu bekerja keras untuk menghindarkan rakyat dari El Maut, dari penyakit.
Di seluruh Manggarai bahkan di Ruteng tidak ada warung. Pasar mingguan pun tidak ada. Jika kita berkeliling dari desa ke desa membawa barang dagangan, begitu kita diterima sebagai tamu, tidak lama kemudian tuan rumah memasak air untuk kopi, kemudian disusul dengan makanan.
Sebagai pedagang cilik, pedagang keliling ceritanya, aku biasa membawa seliter dua biji jagung keras, sebuah tempurung kelapa sebagai tempat minum, kopi, gula, dan sebuah kaleng mentega untuk merebus air. Begitu lapar di perjalanan (jalan setapak), jauh dari kampung tetapi dekat sungai, aku membuat api unggun, memasak air untuk membuat kopi, kemudian biji jagung dilemparkan ke debu api kemudian dipungut satu demi satu dengan chop stick lalu dilemparkan ke mulut.
Sementara itu ikan asin keringbakar adalah lauk yang nikmat karena lapar dan haus. Kemudian api unggun dimatikan, perjalanan dilanjutkan. Pernah sebulan lamanya aku dan temanku tidak pulang. Perjalanan kami sampai di kaki gunung api Inerie.
Sementara berdagang kecil-kecilan sehabis Sekolah Rakyat yang disebut Sekolah Standar itu, cita-citaku tidak lagi menjadi sopir stomwals dan aktor sandiwara tetapi ingin jadi kaya. Berdagang memang gampang.
Aku membawa ikan basah dari pantai.
Berjalan cepat dari Mborong yang jaraknya 40 km atau Reo 60 km. Sampai di Ruteng, ikan itu dijual. Untungnya besar, asalkan kuat berjalan. Aku bermaksud menabung untuk beli kuda agar barang dagangan lebih banyak. Memang, kepalaku cukup kuat untuk mengusung dan bahuku memikul barang lainnya.
Misalnya di kepala termuat kain tenun baru, di bahu termuat sebakul beras dan tergantung di belakang beberapa ekor ayam. Sementara itu, di depanku, berjalan seekor babi yang dibeli di desa dan dibawa ke kota untuk dijual. Babi berjalan cukup cepat.
Disuruh lari ia berlari, disuruh berjalan ia berjalan. Babi memang sepintar anjing. Semua ini telah kulakukan setelah tamat Sekolah Rakyat kelas enam. Dengan berdagang keliling memakai kaki sendiri tanpa sepatu naik turun gunung dengan banjir keringat dan napas ngos-ngosan, aku bisa memakai kain baru, pakaian baru dan semangat baru. Di atas segalanya aku terdidik menjadi manusia Spartan dalam arti berfisik tangguh, mendaki bukit-bukit Flores yang curam, sambil berjalan cepat. Topografi Flores pulau vulkanis itu, sangat bergunung-gunung dan berbukit indah. Dengan berjalan kaki otot menjadi kuat. Apalagi Manggarai memiliki segalanya. Sayur mayur alam, seperti paku, rebung jamur serta sayuran di kebun memberi kecukupan mineral.

Buah-buahan seperti mangga, jeruk kecil dan jeruk besar, murbai, jambu, terong Belanda yang pohonnya tinggi dan buahnya manis memberi cukup vitamin kepada tubuh. Belum lagi ikan dan daging serta protein alam seperti kodok dan tikus ladang. Orang Manggarai rata-rata kuat karena gizinya tinggi. Lihat saja sahabatku Ramut dari Tenda. Berjalan kaki ke Surabaya Kedua (Riung) menggali gua persembunyian pesawat terbang, tidur tergeletak di mana saja, tetapi ia masih bisa pulang dengan tubuh yang segar bugar. Di udara yang dingin ia cuma memakai celana kolor di luar rumah di hari hujan, bahkan tidur pun tidak memakai baju dan selimut. Temanku yang ikut menyiang kebun jagung bercampur padi ladang, kalau bekerja memakai cawat. Kulitnya lebih dari jaket. Aku lihat, dia betul-betul manusia alam, manusia Spartan. Soalnya gizinya tinggi. Tiap hari ia menangkap kodok di kali. Salah satu keanehan temanku ini adalah senangnya ia memburu kadal dengan panah, lalu mengupasnya. Modalnya hanya garam, lalu memanggangnya. Kalau aku ke desa-desa, mangkuk utama adalah sayur yang dimasak dengan daging dan ikan. Mereka menikmati betul. Komentar tentang enak tidaknya sebuah makan siang atau malam, bukan mengenai nasinya tetapi lebih kepada sayurnya. Aku pernah menghapal beberapa jenis padi ladang yang ditanam di ladang-ladang di Ruteng. Ada yang pendek dengan bijinya yang panjang ada yang bundar yang rasanya penuh lemak, ada padi rawa yang akarnya turun jauh mencari lumpur. Semuanya dalam nama Manggarai tetapi aku sudah lupa. Aku selalu mengenang nikmatnya beras merah dan puncak kenikmatan adalah roti jagung yang disebut sombu. Sombu itu terbuat dari tepung jagung setengah tua sehingga rasanya masih terasa manis. Cara masaknya seperti kue putu tetapi sombu adalah kue putu besar karena memakai bambu betung. Kalau ada mesin penggiling tepung maka akan lebih banyak tepung yang dibuat untuk menu makanan tradisional di hotel-hotel.
Waktu aku sibuk menjadi pedagang kecil-kecilan (papalele) yang berjalan kaki dari desa ke desa, abangku Benyamin sibuk dengan kuda, entah kuda siapa. Setiap hari ia berada di pacuan kuda, pacuan. Ia tak pulang-pulang.
Entah di mana ia tidur dan makan. Mungkin ia tidur di punggung pacuan kuda. Badannya memang tahan angin dan dingin.
Ia bisa tidur di mana saja.
Pada suatu hari seorang lelaki tua tinggi, masih tegap bersama istrinya yang masih muda datang ke rumah. Mereka berdiri di pintu disambut ibu. Di belakang suami istri itu ada beberapa lelaki tegap yang memikul ayam, ada yang memikul beras dan sebagainya.
”Ibu, saya mau bertemu dengan anak saya Benyamin,” kata orang tua itu.
”Anak Bapak? Min itu anak saya,” kata Ibu.
”Ya, karena Ibu yang membesarkan dia, kita sama-sama mengaku anak saja.
Harus begitu,” kata orang tua itu.
Itulah salah satu kenakalan abangku, sejak kenakalan pertama melempar-lempar burung tekukur orang, nonton sandiwara lewat lubang terpal, pulang ke rumah lewat tiang loteng depan, kemudian di masa Jepang memuat perempuan rumah panjang (istilah orang di Ruteng untuk para yogun ianfu yang dibawa Jepang dari Jawa dan sebagainya) di punggung kuda di belakangnya lalu berlari kencang, sampai dengan berkelahi dengan serdadu Jepang.
Pada suatu hari hujan, aku dan Benyamin ngobrol dengan seorang penjual kue baskom. Payungnya diletakkan dekat baskom itu. Tau-tau beberapa buah kue sudah melompat ke dalam payung. Kenakalan terakhir lebih meningkat lagi. Pada suatu hari hujan, suami istri tua itu, dengan beberapa pengiringnya berteduh di podium pacuan kuda di Karot. Lalu berceritalah abangku bahwa sebenarnya dia itu bukan orang Rote asli. Ketika Raja Ti, David Messakh dibuang Belanda ke Ruteng, ia berkenalan dengan seorang wanita Manggarai. Keduanya menjadi intim tetapi dalam perut wanita itu telah tumbuh seorang bayi. Wanita itu mengaku telah hamil karena berhubungan dengan seorang bangsawan Manggarai. Wanita itu mengikuti Raja Ti ke Rote. Waktu dia besar, ibu menceritakan bahwa dia bukan keluarga Raja Ti, Messakh, tetapi berdarah bangsawan Manggarai.
Lelaki tua bangsawan itu percaya. Memang ia pernah menghamili seorang wanita tetapi wanita itu menghilang mengikuti lelaki lain. Aku marah besar. Abangku memang punya imajinasi untuk membual tetapi tidak tersalur secara kreatif dan etis. Hanya tubuh dan kecekatan motorik dan kecerdasan alamiah yang dipunyainya. Ada kemungkinan besar tekanan psikologis di rumah paman ketika ibu meninggalkannya yang membentuk wataknya, selain bawaan temperamental yang dibawa dari sono-nya.
Ayah diam saja mendengar cerita bangsawan itu. Dia marah tampaknya sehingga abangku Benyamin ketakutan dan jarang datang. Pada suatu hari abangku Benyamin membawa anjing bagus, besar dan gemuk milik bangsawan itu. Rupanya abangku Benyamin sudah diterima di keluarga bangsawan itu sehingga ia selalu menginap di sana dan anjingnya sudah jinak padanya. Dasar anak nakal, dia dan teman-temannya yang doyan erwe menyembelih anjing itu. Yang punya anjing melapor kepada kami akan kehilangan anjing yang sudah berada dalam periuk itu.
Aku marah. Marah sekali padanya sehingga pada suatu pesta caci (permainan baku pukul dengan cambuk memakai perisai), ada seorang frater yang berlibur mendekati aku dan bertanya, ”Adiknya Benyamin, ya!”

Aku pun menjawab, ”Bukan.” Frater itu tercenung. Melihat wajahnya, aku pun menyesali penyangkalan itu. Sungguh sangat menyesal.
Abangku, mungkin karena dia joki ulung di seluruh Manggarai maka banyak orang yang mengaguminya, menyebut-nyebut namanya. Di antara yang mengaguminya itu adalah seorang gadis kuning bening. Nama gadis itu aku lupa. Keduanya bersahabat akrab, sebutlah berpacaran. Akan tetapi pada suatu malam, ketika purnama raya, aku lihat ada makhluk berselubung kain kalas (tenunan Manggarai) yang berjalan.
Tubuhnya satu tetapi kakinya empat.
Dua hitam, satu putih. Pastilah itu abangku Benyamin dan pacar putihnya.
Pada suatu malam, datang lagi iring-iringan lain membawa oleh-oleh. Ceritanya, ketika ibu, ayah, dan aku duduk menghadapi meja makan yang tersandar di dinding, tiba-tiba sebuah ujung tombak muncul. Ayah dan aku yang duduk di samping dinding santai saja, tetapi adikku Nona yang duduk bersama ibu menghadap dinding, langsung terjatuh ke belakang. Ayah dan aku menahannya agar kepalanya tidak kena lantai tanah. Dia sadar kembali lalu kami semua keluar. Ayah memegang lampu teplok. Tiba-tiba kami melihat ada seorang pemimpin ‘golongan putih’ berdiri memegang tongkat kebesaran. Orangnya tinggi memakai jubah putih sampai ke kakinya. Di kepalanya termuat sebuah sorban putih, ada ekor mencuat di belakangnya. Tampaknya betul-betul seperti mullah. Di belakangnya berdiri beberapa orang bercelana pendek memikul barang untuk diserahkan kepad Papa dan Mama serta kami adik-adiknya – begitu dia sering menyapa ayah dan ibu serta kami semua. Ia senyum-senyum saja ketika ayah mengangkat lampu teplok itu. Daniel Jacob menyamar sebagai tuan habib saudagar hewan.
Tiba-tiba ayah membalik, ”Masuk, semua masuk,” kata Ayah. Ibu menarik kami berdua masuk, diikuti ayah lalu pintu ditutup rapat.
Daniel Jacob dan anak buahnya yang memikul barang curian ditinggalkan bergelap-gelap di luar. Ayah tidak mau tahu. Walaupun ayahku pernah masuk penjara tetapi menurut abangku Benyamin, semua itu karena keluargaku terlalu besar. Ayah harus memberi makan enam sampai sepuluh perut. Di samping itu, kesalahan ayah adalah spekulasinya yang tidak tepat waktu. Dia kira perusahaan Amerika itu akan bubar begitu saja karena Jepang telah dekat dengan Flores. Sesungguhnya kesalahan ayah adalah, begitu Jepang hampir mendarat di Flores, ia memberi kredit pada ibu-ibu dan guru-guru di desa. Lalu kreditnya macet. Jalan keluarnya, ayah meminta mereka membayar dengan babi. Namun babi sukar dibawa ke kota. Ayah menyuruh menyembelih saja binatang itu lalu dagingnya akan dijual di kota tetapi garam tidak cukup banyak tersedia karena kampung itu jauh dari pantai. Lalu ayah bertanya apakah ada gula aren. Jawaban yang diterima menyenangkan ayah karena di sekeliling kampung itu penuh dengan pohon aren. Pulang ke kota, ayah membawa berkilo-kilo daging yang diawetkan dengan gula. Namun tak laku dijual karena orang biasanya makan daging asin, bukan daging manis. Maka tekorlah uang perusahaan sebanyak cuma seratus rupiah tetapi hakim memutuskan hukuman tiga tahun, tiga tahun! Dua kata yang mengebor telingaku dan merusak rasuk jiwaku yang masih ceria tetapi keceriaan masa kecil ketika duduk di kelas tiga itu betul-betul berganti derita, berganti beban batin, berganti salib kehidupan seorang anak yang tersingkir dari ayah. Aku merindukan ciuman ayah ketika jenggotnya baru tumbuh, menggesek lembut pipiku. Aku memandang mata ibuku, mata ibunda yang penuh duka. Ah, semuanya harus kuterima. Ibu memasak untukku, mengatur meja dan aku duduk makan sendiri. Aku mengganti ayah dalam rumah toko yang tiba-tiba penuh suasana kehilangan itu. ”Papa, orang yang berkorban untuk kita. Ia mencari makan untuk kita,” kata anak tirinya, abangku Benyamin.
Jadi, ayahku bukan tipe si Daniel Jacob. Ia menyuruh kami masuk.
Bangun pagi-pagi si Daniel itu membawa suasana lain bagiku. Ayah memperlihatkan sebuah kaca mata orang tua yang ditaruh Daniel di atas pintu. Ketika ayah dan juga ibu memakainya, dunia jadi terang. Ibu bisa menjahit lagi, menjahit pakaian lusuh yang lama tinggal lusuh terlantar karena tidak ada kacamata. Di samping aku tak suka pada seorang pencuri, sebagai manusia aku merasakan juga bahwa Daniel ingat pada situasi mulai membutanya mata ibu dan ayah. Memakai kacamata yang ditaruh Daniel di atas pintu dalam situasi setengah buta dan memberinya parang agar dia tidak mencederaiku adalah tindakan etis yang terpaksa, dipaksa oleh situasi buta dan ketakutan. Aku pernah dengar cerita, orang Jerman yang menyembunyikan Yahudi di kolong dipannya menipu Gestapo bahwa tidak ada Yahudi di rumahnya. Itulah etika situasi.
Soal pencuri yang bernama Daniel, memang perlu ditangkap. Menurut Daniel, pernah mantri polisi Detaq asal Rote mengejar Daniel di hutan ketika Daniel sedang memanggang celeng hasil panahannya. Polisi telah mengetahui bahwa ia bos dari beberapa puluh anggota pencuri di Manggarai. Biarlah polisi yang mencari dan menangkap. Aku tidak pernah menceritakan bahwa akulah yang memberinya parang ketika ia lari dari penjara. Kalau tidak, siapa tahu, ia bisa membunuhku walaupun ia bukan pembunuh. Begitu ia mendapat parang dariku malah ia berterima kasih padaku lalu menghilang di malam gelap berhujan. Waktu aku berbaring di tempat tidur aku mengomeli laki-laki itu. Apa susahnya menjadi orang baik-baik? Sekarang susah sendiri. Di luar hujan lebat.
Di pondok kebun mana berteduh, menghidupkan api berdiang dan makan malam? Apakah ia tidak sakit? Oh, Daniel Jacob! Ia anak Ringgou, sekampung dengan ayahku dan konon ada ikatan perkawinan dalam keluarga kami. Keturunan (marga, fam) Jacob pandai-pandai. Ada sarjana teologi (pendeta), guru dan orang berpendidikan tinggi. Salah satunya kawin dengan putri cantik Tuan Bestuur Assisten Winokan. Akan tetapi si jenius Daniel salah jalan. Ia menjadi pencuri profesional. Untung dia bukan pembunuh.

Yang paling menarik selama tinggal di Ruteng adalah upacara pembagian kebun berbentuk roda sepeda atau lebih tepat berbentuk sarang laba-laba. Sebuah patok pusat ditancapkan dan dari titik pusat ditarik benang-benang (tali halus) ke sebuah lingkaran. Jarak antara dua utas benang misalnya selebar ibu jari. Kalau ditarik terus sepanjang setengah atau satu kilometer maka kebun itu akan luas. Ada ukuran ibu jari, kelingking dan jari tengah. Ukuran yang lebih kecil adalah ukuran kelingking. Di samping lingkaran itu ada sebuah patok besar berbentuk silinder berujung lancip. Mula-mula anak ayam disembelih lewat mulutnya dan darahnya diteteskan ke ujung lancip patok (yang disebut lodok) itu, disertai mantra-mantra yang berirama indah.
Kemudian anak babi dibelah di kepalanya lalu darahnya diteteskan ke lodok (patok) yang lancip itu. Upacara itu kulihat berlangsung di dataran Kumba yang kini telah menjadi lapangan terbang Satar Tacik. Setelah upacara pembagian kebun berbentuk roda sepeda dan jerijinya itu, para tetua adat dengan pembagian pakaian adat berbaris beriringan, berjalan pelan-pelan sambil menyanyikan syair-syair doa dan mantra-mantra dalam bahasa Manggarai.
Ketua paling depan berjalan sambil memegang golok terhunus, menunjuk de depan, menuju rumah adat di Tenda. Aku mengikuti dengan penuh keasyikan, mulai dari dataran Kumba sampai ke Tenda. Jaraknya sekitar tiga kilometer.
Kalau kebun demikian menjadi sawah maka bentuknya seperti sarang laba-laba raksasa. Hal itu tampak jelas di lembah Cancar, enam belas kilometer di sebelah barat kota Ruteng.
Orang Manggarai menyebut kebun demikian itu Lingko. Andaikata kebun gotong royong demikian ditiru di seluruh Indonesia maka masalah pengangguran sarjana dan keterbelakangan pengetahuan petani tradisional akan teratasi. Kebun demikian itu akan merupakan embrio sebuah desa pariwisata budaya dan pariwisata agro industri. Bayangkan kalau kebun yang demikian itu ditanami tanaman obat-obatan, tanaman parfum (minyak mawar, melati, kenanga dan sebagainya) serta tanaman pandan yang menghasilkan anyaman dan tanaman kapas yang menghasilkan tenun ikat. Kebun (sawah) gaya Lingko itu memberi inspirasi buatku untuk sebuah novel berjudul Enu Molas di Lembah Lingko (enu molas, dalam bahasa Manggarai berarti Gadis Cantik).
Selama enam tahun tinggal di Ruteng, hanya sekali aku ke Reo. Pelabuhannya bernama Kedindi. Desa Reo terletak di tepi sungai yang makin lama makin dangkal saja. Dulu memang dalam. Menurut guruku, Tuan Wowor, dulu kapal api bisa masuk sampai ke sungat Reo dan merapat di pinggir desa, membongkar dan memuat barang. Erosi yang terjadi ratusan tahun menyebabkan muara sungai itu dangkal sehingga tak dapat dimasuki kapal besar.
Kini hanya sampan-sampan kecil saja yang berlabuh di tepian sungai desa Reo. Setelah enam tahun tak melihat pantai, begitu turun ke Reo dan pelabuhan Kedindi, aku merasa masuk neraka. Panasnya bukan main. Keringat bagaikan banjir di siang hari, lebih-lebih di malam hari karena semua orang mesti tidur dalam kelambu. Aku merarsa tempat manusia hidup sehat bukan di desa pantai, tetapi di Ruteng. Di Ruteng aku tak pernah kena flu tetapi di Reo aku batuk pilek. Ingusku kental melulur dari hidung. Ketika pulang ke Ruteng, begitu angin pegunungan menyentuh kulitku, aku sehat kembali.

Memang, Reo penuh dengan sawah tetapi juga nyamuk malaria. Waktu ayah mengusulkan kepada ibu agar kami sekeluarga pindah ke Reo untuk mengerjakan sawah, ibu menolak karena takut kena malaria.
Ruteng adalah kota agama. Mayoritasnya Katholik dan karena bersekolah di sekolah Katholik maka aku juga ikut-ikut masuk gereja dan menghafal doa-doa dalam bahasa Latin. Tetapi kami tetap Protestan. Tiap minggu aku masuk Sekolah Minggu.
Tiap hari Natal aku ikut main sandiwara Natal. Umat Protestan tidak banyak tetapi anak-anak Protestan di tangsi polisi dan pendatang sipil cukup banyak untuk sebuah perayaan Natal. Hari Natal dan hari Minggu membuat aku menjadi anak yang bersih, tidak berpakaian kumuh, berbaju warna tanah. Aku berpakaian baru dan walaupun memakai seterika arang, pakaianku diseterika. Waktu itu seorang Tante yang gemuk bundar agak jijik padaku karena pakaianku dan karena kena koreng di celah paha dan burungku. Aku sering telanjang bulat kalau badanku sudah digosok dengan obat koreng yang sangat berbau. Di zaman Jepang tuma meraja-lela. Kota Ruteng penuh dengan rombongan anak sekolah yang korengan. Keluar dari rumah sakit badan kaum korengan itu sudah dilumuri obat dan berjalan ke sekolah telanjang-telanjang sembil menenteng pakaian. Kalau diingat, memang lucu. Suasananya ramai sekali ketika rombongan kaum koreng kecil mengejar gadis-gadis kecil yang sudah tentu berlarian tak mau badan mereka disenggol kaum korengan. Kulupku kena dan makin lama makin parah karena selalu dikucak kalau gatal. Tiba-tiba pada suatu hari berhujan seminggu suntuk sehingga tidak sempat ke rumah sakit, aku mengambik pil kinine. Kuhancurkan lalu kutaruh di koreng yang bersandar di kulupku. Amboi! Perihnya luar biasa. Aku berlari ke sungai dan membersihkan semuanya. (Baca cerpenku Si Keong yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman).
Omong-omong tentang hujan tak henti-henti seminggu bahkan sebulan lamanya, yang dalam bahasa Manggarai disebut musim dureng, aku ingat ketika baju sekolahku Cuma satu. Keluar dari rumah memang agak kering tetapi karena dalam perjalan ke sekolah, basah-basah. Di jam beristirahat aku berjemur diri sebentar kalau ada matahari tetapi tidak langsung kering. Memakai pakaian basah duduk di kelas sudah terbiasa.

Begitu pulang basah kuyup lagi lalu di rumah, api di tungku diperbesar dan pakaian itu diputar-putar di atas lidah api sampai kering, kemudian dipakai lagi walaupun sangat berbau asap.
***
Wahmi! Tiba-tiba ayah diangkat menjadi pegawai negeri. Ah, aku hampir tak percaya. Pegawi tatausaha di kantor gubernermen pada waktu itu terdiri dari tiga tingkat. Pertama jurutulis (schrijver), kedua klerk dan pangkat tertinggi adalah commies dan hoofdtcommies.
Ayahku kembali menjadi pegawai negeri Negara Indonesia Timur (NIT). Dia ditempatkan di Maumere, kota di Flores yang memiliki lapangan terbang satu-satunya.
Sebelum berangkat ayah membuat bunga rampai lalu disebarkan di sebuah perempatan sambil berkata, ”Selamat Tinggal Kota Penderitaan!”.

Pagi itu kami meninggalkan Ruteng dengan sebuah truk. Semuanya pindah. Abangku Benyamin ikut. Truk berhenti di Bajawa dan kami menginap di rumah iparku David Kaha yang sudah pindah lebih dahulu ke kota itu. Besoknya truk meneruskan perjalanan ke Endeh dan tiba di kota itu malam hari. Kami menumpang di rumah Oom Eka dan besoknya kami meneruskan perjalanan ke Maumere. Malam hari tiba di Nita, kami dibawa ke ‘hutan’ kelapa dan dalam hutan kelapa itu ada desa buatan Jepang yang disebut Weru Oret. Ada kantor pos, ada rumah-rumah darurat dan kami dibawa ke rumah yang pernah didiami perwira tinggi Jepang. Rumah itu didiami oleh Commies Loudoe yang akan menjadi bos ayahku.
Di situ telah ada klerk Blantaran de Rosarie menempati satu kamar, tidur di atas tikar. Dua keluarga satu kamar, termasuk Paul Leiloh. Setiap hari para pegawai dibawa dengan truk dari Weru Oret ke kota pelabuhan dan perkantoran Kabupaten Sikka, Maumere.
Selamat tinggal di Weru Oret, pekerjaanku dan abangku Benyamin hanya mencari kayu bakar di bawah rimbunnya pohon kelapa. Untung ada kelapa karena biasanya kami makan pagi ubi rebus dan bagiku singkong rebus membawa bencana. Beberapa menit setelah menelan bongkah-bongkah singkong rebus sampai perut penuh, badanku mulai gemetar dan makin gemetar saja. Dengan suara gemetar aku meminta abangku memanjat pohon kelapa untuk kutelan sampai lima buah kelapa muda. Badanku segar kembali. Waktu itu, kelapa-kelapa tua jatuh sendiri dari pohon kelapa, tak dipungut orang, dibiarkan sebagai batu yang tak berguna. Soalnya perdagangan kopra baru saja dimulai. Toko-toko baru dibangun secara darurat. Memang, mereka menampung kopra tetapi kelapa terlalu banyak dan penampung kopra masih sedikit, Ayah A. C. W. Neloe, (Direktur Bank Mandiri) yang waktu itu pegawai tinggi Postel, terheran-heran melihat begitu banyaknya kelapa tua yang jatuh sendiri tidak dipungut orang.
Selain mencari kayu bakar, pekerjaan setiap hari memikul air minum dari ledeng milik Seminari Agung Ledalero yang terletak di atas bukit. Ledeng sebesar betis datang dari gunung, turun ke tepi kali lalu naik lagi ke atas bukit untuk memenuhi kebutuhan komplek Seminari Agung itu. Untuk menolong penduduk di sekitar, mereka membuat bocoran di kaki bukit itu dan orang membawa reservoir bambu betung yang panjang untuk menampung air dan memikulnya pulang. Berbeda dengan di Manggarai dipertengahan bambu diberi tali lalu dikaitkan ke kepala. Di Maumere lelaki dan perempuan memanggulnya seperti senjata (bazoka besar).
Biasanya sore-sore kalau aku turun mandi aku melihat ada seorang pastor berjalan-jalan di taman bunga sambil membaca. Aku bermimpi, suatu waktu aku akan membaca dan membaca seperti pastor bule itu. Lebih-lebih ketika pada suatu hari aku diberi kesempatan melihat-lihat kompleks seminari itu. Dasar orang terpelajar, lebih dulu pengantar kami dengan bangga memperlihatkan perpustakaan yang begitu luas dan begitu banyak bukunya. Wah, aku bermimpi lagi. Suatu waktu, aku akan membaca dan membaca, suatu waktu aku akan menulis buku…
Tidak lama kemudian, setelah rumah para pegawai pemerintah selesai, kami pindah ke Maumere. Dalam kompleks itu ada delapan rumah darurat yang cukup besar.
Ada sebuah kamar tamu, sebuah kamar makan dan dua kamar tidur. Rumah kami persis di belakang rumah raja Sikka. Entah bagimana atau entah untuk apa, abangku bikin kenakalan baru. Ada satu pohon kelapa tumbuh dekat rumah kami. Tiba-tiba pada suatu sore ia memanjat pohon kelapa itu sampai ke ujung dan turun kembali tetapi turunnya kayak ci cak. Kepalanya lebih dulu. Aku pikir, anak ini akan mati muda karena kenakalannnya. Beberapa hari kemudian barulah aku tahu, mengapa abangku menjadi ‘cicak’. Soalnya, di belakang rumah raja ada jendela. Sering gadis-gadis cantik nongol di jendela belakang itu, di antaranya dua orang putri raja. Barang kali ia menarik perhatian cewek-cewek di rumah raja itu. Barangkali.
Selama menjadi pegawai pemerintah, ayahku sering membawa koran dan majalah serta buku-buku dari kantor. Ada sebuah prospektus kursus tertulis dari Surabaya. Aku tertarik pada kursus tertulis bahasa Inggris dan stenografi karena ayah ingin aku jadi wartawan.
Aku minta ayah mengirim uang, memesan kursus tertulis itu. Tidak lama kemudian aku mulai sibuk belajar sendiri bahasa Inggris dan stenografi – sistem Groote.
Ayah juga mengikuti kursus tertulis pembukuan. Di samping itu, pernah ayah membawa sebuah majalah Garuda yang bermoto, majalah Angkatan Muda. Aku tertarik sekali pada cerpen-cerpen terutama puisi. Aku ingin mengirim cerpen dan puisi ke majalah itu.
Ayah lalu mengirim uang untuk berlangganan.

Ketika seorang telefonis Mumere sakit, aku diminta menggantinya sementara. Pada waktu itulah aku mahir mengirim fonogram dan menerimanya. Fonogram itu biasanya dikirim kepada kontrolir dan pejabat lainnya. Lagi senang-senangnya mengengkol telepon, menaruh corong di telinga dan monyong didekatkan di corong yang lengket di kotaknya, tiba-tiba temanku (seorang putra Maumere) sembuhl. Aku merasa terbuang dari teknologi telepon engkol dan ngemonyong itu, terpaksa nganggur lagi. Lucunya karena tidak punya sepatu aku masuk kantor (sebuah gudang dari gedong yang hancur kena bom), memakai kelom dari kayu waru dan bannya dari ban mobil bekas.
Tiba-tiba temanku Nani Pandy anak Rote berbapak Rote dan ibu Manado, sakit. Dia bekerja di kantor KLM sebagai tenaga serabutan. Kepala perwakilannya, Frans Kaunang, tetangga kami. Orangnya lucu. Setiap malam selalu menggaruk-garuk jukulele dan melantunkan lagu-lagu Minahasa. Berjam-jam ia menyanyi dan tiba-tiba kedengaran ia berkelahi dengan istrinya. Karena istrinya orang Maumere dan berceloteh keras-keras memakai bahasa Maumere maka kami tak mengerti apa yang diperkelahikan. Sudah itu keduanya bercanda lagi. Selain lucu, keduanya baik sekali.
Ketika Nani sakit, aku dipinjam sebentar menggantikan tugasnya. Pakaian dinas Nani Pandy dipinjamkan padaku. Setiap kali pesawat Dakota antik itu turun, dengan pakaian dinas ala pakaian seragam tentara Amerika, aku berdiri di depan dan menggoyang-goyang semacam raket pimpong. Enak juga pekerjaan ini tetapi kemudian Nani alias Johanis Pandy sembuh. Yaa, aku dibuang lagi. Nganggur lagi, sambil belajar sendiri bahasa Inggris dan steno sambil mencari kayu bakar untuk ibu, sambil menimba air dari sumur.
Abangku Benyamin menemukan harta karun di luar kota sehingga ia tak pulang-pulang. Di bawah (di utara) Seminari Ledalero ada tumpukan mobil-mobil dan tank-tank bekas peninggalan Jepang. Ada juga pesawat terbang. Di samping tumpukan bekas mesin perang Jepang itu, ada pohon-pohon mangga, pisang dan singkong. Ada juga barak yang atapnya masih bagus. Di sanalah abangku tinggal bersama ular, tikus dan serangga lainnya. Ia membuat api unggun, membakar ubi, merebus air dengan topi-topi baja. Bukan saja air tetapi singkong, nasi dan jagung direbus dengan topi-topi yang pemakainya sudah menjadi debu dan tulang. Berkali-kali aku mengomeli dia, pulang, pulang, tetapi ia tak mau pulang. Ia tak mau memberatkan ekonomi ibu. Pertanyaan makan apa yang kulontarkan ia menunjuk pohon-pohon mangga yang besar, buahnya bermatangan dan berjatuhan. Ia menunjuk pisang, singkong dan kelapa!
Tidak lama kemudian ia muncul dengan pakaian baru dan bungkusan onderdil truk-truk untuk dibawa ke toko Tionghoa yang memesannya. Pedagang Tionghoa mulai sibuk menghidupkan ekonomi dengan truk pengangkut kopra, truk tua yang membutuhkan onderdil. Nah, abangku telah menemukan barang bekas yang bisa diumpamakan sebagai tambang emas.

Tinggal di timbunan mobil bekas, membuat dia menjadi montir.
Penduduk setempat tidak peduli akan rongsokan-rongsokan mobil itu. Mereka lebih peduli pada pesawat-pesawat terbang capung yang ditinggalkan Jepang di bawah pohon mangga asam dan sebagainya. Di bawah naungan pohon ada benteng tanah yang melindungi pesawat itu. Di depannya ada lapangan terbang kecil. Banyak sekali pesawat yang demikian.
Kalau ada pesawat sekutu datang membom Maumere, tiba-tiba muncullah ratusan capung dari bawah pohon. Pertempuran udara sering terjadi dan orang-orang yang kampungnya di lereng gunung yang jauh sering menonton. Begitu Jepang pergi, capung-capung itu ditinggalkan. Waktu aku dipinjam untuk menjadi kacung KLM pengganti Nani Pandy, sebelum Dakota KLM datang aku sering bermain-masin dengan pesawat capung itu. Mungkin kaca atau plastik depan ditembak sekutu sehingga mereka menggantinya dengan bambu dan terpal. Orang-orang Maumere lebih peduli pada capung-capung yang indah itu, yang bunuh diri dan bunuh orang secara indah pula. Mereka datang membawa gergaji dan sebagainya, memotong-motong aluminium tubuh pesawat dan membuatnya menjadi piring dan sendok lalu dijual di pasar Maumere. Aku sering makan dengan piring dan sendok dari tubuh (kulit) capung itu dan sekali waktu terhentak ketakutan ketika membaca berita di koran bahwa ada sejumlah orang di kampung anu meninggal karena keracunan piring pesawat terbang Jepang. Aku selalu merenung sampai hari ini, betapa pesawat kecil yang begitu banyak di Maumere lenyap menjadi besi tua. Seandainya orang-orang terpelajar waktu itu punya ide untuk memelihara pesawat-pesawat atau memanfaatkannya dengan membuka sebuah sekolah teknik penerbangan, maka mesin-mesin pesawat itu merupakan aset pendidikan dan sekaligus aset pariwisata. Itulah kalau orang tidak punya ide dan visi ke masa depan. Politikus praktis, birokrat, tentara dan polisi, guru dan petani memang banyak tetapi men of ideas, manusia yang punya ide-ide kreatif, sedikit jumlahnya.
Aku teringat pada cerita tentang seorang lelaki Jepang yang menjadi montir. Bengkelnya di sebuah petak dari puing bangunan yang hancur oleh bom. Dari bengkel sepeda motor, akhirnya dia menjadi pemilik pabrik Honda yang terkenal di seluruh dunia.
Dia punya ide, punya visi, punya imajinasi, punya kemauan dan punya kejujuran (moral). Dia bekerja keras di atas jalur-jalur yang sudah kusebut di atas.
Maumere (Sikka) memiliki jutaan pohon kelapa. Lautnya penuh ikan.
Uang bisa diperoleh dari kopra dan ikan. Antara ide dan aksi, uang adalah jembatannya tetapi Maumere, seperti juga Indonesia umumnya, ada uang ada jembatan antara ide dan aksi tetapi idenya yan gsalah sehingga aksinya hanya aksi-aksi konsumtif, destruktif (pembobolan bank, membakar, saling bunuh karena salah menafsirkan agama).

Di Maumere aku tak banyak punya teman. Biasanya di sore hari habis mandi aku jalan-jalan di kota yang hancur serata tanah itu, melihat-lihat bangunan sementara di jalanan pertokoan, melihat jembatan yang kena bom dan duduk-duduk di sana memandang ketenangan teluk dan pulau-pulau yang sayup, kemudian pulang melalui katedral yang anehnya tidak hancur sama sekali. Rupanya para pembom mengetahui bahwa di bawah sana ada gereja bukan bangunan militer. Maumere sangat berdebu di musim kemarau. Namun, ibu memberi kuliah hidup secara tak langsung. Ia mencangkul tanah kering di halaman rumah. Begitu hujan tiba jagung bertumbuh subur dan seperti juga di Bajawa, ibu gemar sekali menanam labu, sehingga ketika panen tiba hampir setiap hari aku makan jagung rebus dan labu lilin serta pucuk labu. Makanan yang sangat bergizi dari bumi Maumere yang sangat subur yang ditanami ibuku. Aku ingat ada seorang anak usia TK yang datang makan jagung rebus bercampur labu itu. Ayahnya, Meneer Senff adalah Kepala Pekerjaan Umum di kabupaten itu. Meneer Senff Indo Belanda. Istrinya juga Indo Belanda bercampur Rote dan konon masih ada ikatan keluarga dengan ibuku. Aku suka menggendongnya. Akan tetapi di kemudian hari aku menemukan dia di Mataram, Lombok sudah beranak lima tetapi bercerai dengan suaminya. Dengan susah payah aku mencabut dia dari Lombok membawanya ke Jakarta, kemudian aku menelepon orang tuanya di Belanda untuk menjemputnya. Terakhir, di tahun 1999, ketika seorang keluarga Messakh menikahkan anaknya di Gedung Manggala Wanabakti Jakarta, aku dengar dari seorang kerabat bahwa anak itu gila. Teman lain adalah seperti sudah kukatakan, adalah Nani Pandy. Tidak tersangka, baru-baru ini, (awal tahun 2000) ia meneleponku di Jakarta setelah melihat tampangku terpampang di harian Kompas.
Maumere memang kota kering ketika itu. Tidak ada pertandingan bola antara anak-anak sekolah. Memang pada suatu hari di lapangan bola berduri, kami bermain bola tetapi tiba-tiba abangku menghajar seorang lelaki Waiwerang sehingga terpental.
Keduanya berkelahi tetapi segera dilerai. Kemudian abangku Benyamin minta maaf tetapi lelaki itu menolak.
Melihat itu aku sangat cemas.
Lelaki itu bekerja pada kami. Pekerjaannya setiap hari mencari kayu bakar, menimba air dari sumur dan pekerjaan serabut lainnya. Orang Waiwerang pendendam. Balas dendam melalui pembunuhan sering terjadi. Akan tetapi abangku tidak takut sedikit pun. Aku percaya refleksnya bagus. Ia belajar pencak silat ,sehingga begitu ada orang membawa parang mendekat, pasti ia bisa menangkisnya. Walaupun demikian aku cemas karena ia jatuh gedebuk tersepak. Aku tidak suka pada kenakalan abangku. Dulu di Ruteng pun ada seorang lelaki gemuk besar pencari rumput makanan kuda dibanting oleh abangku secara bergurau. Laki-laki besar itu terbanting, gedebuk di tanah dan abangku tertawa terkekeh-kekeh. Beberapa tahun kemudian aku bertemu dengan orang itu.
Ia sudah menjadi polisi seperti juga abangku. Kembali kepada si Waiwerang, aku baru merasa lega setelah habis bulan, selesai menerima gaji, ia pamit untuk meneruskan perjalanan ke Tawao, dengan perahu layar.
Bulan Agustus tiba. Tanggal 31 Agustus adalah hari ulang tahun Ratu Wihelmina. Anak-anak sekolah sibuk membuat lampion untuk arak-arakan di malam hari. Aku diminta oleh seorang gadis cilik adik Nani Pandy untuk membuat lampionnya. Aku tak ingat nama panjangnya, aku hanya ingat nama panggilan Rote yang sama dengan namaku, nama panggilan sehari-hariku, Be’a. Si Be’a jantan sibuk membuat lampion untuk si Be’a betina gadis cilik. Hasilnya lumayan. Lampion berbentuk bintang yang berisi gambar Ratu Wilhelmia karya lukisanku itu memenangkan hadiah pertama. Namun bukan si Be’a jantan yang menerimanya. Hadiah dilimpahkan kepada si Be’a betina gadis cilik itu.
Suatu hari, aku mendapat pekerjaan sebagai sekretaris pada toko Go A Sein. Tokonya masih darurat. Masih berdinding bambu dan beratap seng. Lantainya tanah berpasir. Namun aku disuruh duduk di pintu, tak punya pekerjaan apa-apa. Kerjaku hanya menguap, mengantuk sedangkan baba Go A Sein sibuk membalik-balik kopra yang dijemur di pelataran berpasir.
Aku mengambil keputusn minta keluar. Namun beberapa lama kemudian aku menyesal sekali karena begitu kopranya dikirim ke Surabaya, berdatanganlah barang-barang yang memenuhi sebuah toko besar. Kedudukanku diganti oleh seorang anak sebayaku . Gajinya besar sekali.
Waktu itu, para petani kelapa makmur. Dengan membawa kopra dari kampung, mereka langsung mendapat bayaran, kemudian pulang dengan membawa beras, kopi, gula, pakaian dan keperluan sehari-hari lainnya. Aku sering melihat iring-iringan kuda membawa kopra, pisang, mangga dan makanan yang paling kusenangi yaitu singkong kering batangan yang sudah diperam, agak hitam karena jamur. Cara membuatnya sederhana sekal. Singkong dikupas lalu diperam di tempat lembab sampai kehitaman, agak membusuk lalu dijemur. Gaplek utuh pereman ini enak sekali (bagiku) dipanggang maupun di rebus dan dimakan dengan ikan yang banyak sekali di Maumere, dicampur kelapa dan labu Maumere pun sebuah daerah pisang. Kebun pisang tersebar di mana-mana dan di desa yang tak ada sungai dan mata air, air batang pisang diperas dan diminum.

Laut dan pelabuhan Maumere merupakan hiburan. Di waktu tenang, hiburannya adalah ketenangan. Di waktu kapal pengangkut kopra datang (kapal KPM – Koningkleike Paketvaart Maatschapij) sebelum mengangkut kopra, barang-barang kelontong, beras, gula dan sebagainya diturunkan lebih dulu. Di Maumere tidak ada buruh pelabuhan ketika itu. Perusahaan pelayaran Kerajaan Belanda membawa buruhnya ke mana-mana, buruh yang disebut baco-baco, semuanya dari Sulawesi Selatan. Orang-orangnya kuat-kuat. Kerjanya cepat. Bongkar muat dilakukan mereka hanya dalam waktu singkat lalu kapal berlayar. Rumah tinggal mereka di atas kapal. Setelah adanya buruh pelabuhan, kacaulah efisiensi bongkar muat. Aku senang sekali melihat baco-baco itu bekerja. Sering aku melihat mereka memiliki belas kasihan pada orang pantai yang miskin. Baik di Kedindi (pelabuhan di Reo), baik di Maumere, ada baco-baco yang memberi nasi, sayur dan ikan kepada anak-anak pantai.
Pada suatu hari, ketika duduk menonton kegiatan di kapal, ada karung beras yang bocor. Seorang baba (peranakan Tionghoa) menyuruh aku segera menampung beras yang terburai dari karung. ”Itu ambil cepat, masuk kantong, bawa pulang!” Bagiku, itulah pelajaran pertama untuk menjadi tikus pelabuhan. Aku merasa tersinggung. Gengsi anak pegawai muncul. Bapakku pegawai kantor pemerintah, bila berbahasa Belanda, masa disuruh mengambil beras orang di pelabuhan. Dia mengira aku layak menjadi buruh pelabuhan tetapi gengsi. Di pelabuhan Maumere itulah batinku bertemu dengan konflik antara budaya kerja dan budaya gengsi.

Pada suatu hari ada tontonan lain. Di Katedral Nita ada upacara tahbisan imam Katholik. Upacaranya indah dan khusuk sekali. Penyerahan diri kepada Roh Kristus itulah yang sangant mengagumiku. Seorang imam yang baru ditabiskan berpidato singkat. Dengan rendah hati ia mengatakan bahwa mereka adalah imam yang belum matang. Ibarat ubi yang belum dimasak sempurna, tetapi karena kebutuhan, maka mereka siap memenuhi kebutuhan umat. Begitulah inti pidatonya. Pidato itu memakai latar petani setempat yang menanam ubi di mana-mana. Suatu analogi yang tepat.
Tontonan lain selama dua tahun tinggal di Maumere adalah datangnya Presiden Indonesia Timur, Cokorde Gde Raka Sukawati. Penyambutan luar biasa ramainya.
Grup-grup orkes seruling bambu begitu banyaknya di Maumere. Hampir setiap kecamatan memiliki grup musik serulingnya. Komposernya pun banyak. Maumere adalah kabupaten nyiur melambai dan musik seruling. Para komposernya mendapat inspirasi dari suara burung, dari laut dan dari hujan. Tidak ada lagu sedu sedan. Semuanya ceria. Habis, apalagi yang kurang di Maumere? Walaupun tidak ada sawah makanan berkelimpahan. Ada kelapa, ada pisang, ada singkong, ubi kacang ijo, ada ikan di mana-mana. Ada toko yang hidup karena kopra. Karena itulah jiwa orang Maumere tidak pernah murung. Semua lagu yang dibawakan oleh seruling bambu yang kudengar sangat dinamis yang mungkin, sebagai manusia, dinamika yang demikian bisa berubah menjadi amarah kalau diusik, diganggu.
Hal itu terlihat pada peristiwa hostia. Maumere yang ceria menjadi Maumere yang marah gara-gara apa yang sakral dilecehkan.
Presiden NIT, Cokorde Gde Raka Sukawati, datang dengan pesawat dakota dari Makasar, disambut oleh seruling, tarian dan kemudian sedikit pidato. Waktu itu hubungan hanya dengan pesawat dakota yang kalengnya menderu kalau kita menumpang pesawat tersebut. Hubungan laut hanya melalui kapal KPM. Hubungan telepon hanya melalui kawat telepon engkol. Juga sudah ada radio tetapi hanya dimiliki oleh para pedagang kopra dan pemilik toko.
Namun semuanya lancar. Gaji pegawai negeri tidak pernah terlambat.’
Hiburan yang paling penting adalah datangnya kursus tertulis bahasa Inggris dan stenografi secara teratur dari Surabaya. Ada juga cabangnya di Bandung untuk melayani peserta dari Indonesia bagian barat. Ketika aku belajar di SGA Surabaya, aku tinggal dekat kantornya di Jl. Achmad Jais, Plampitan Surabaya. Tiap hari aku lewat kantornya dan melongok ke dalam. Hanya ada satu Oom (Encek) sebagai direkturnya dan seorang amoi Surabaya yang cantik sebagai sekretarisnya. Oya, aku hampir lupa nama lembaga pendidikan tertulis itu ‘Sumber Pengetahuan’. Lembaga itu sangat berjasa buatku karena begitu aku bersekolah kembali di sekolah formal (SGB, SGA) bahasa Inggrisku telah jauh lebih maju. Di samping itu, hiburan lain adalah menunggu dan menerima majalah Garuda, majalah Angkatan Muda itu. Aku masih ingat, sebuah sajak yang ditulis oleh seorang gadis mengengai hari hujan. Di hari hujan, ia berdiri di jendela memandang alam tanpa matahari kecuali kabut kelabu dan pohon-pohon hijau yang menerima dan menyimpan hujan di akar, batang dan daunan. Ada air di teritis rumah yang turun dari atas menitik terus, menitik terus sampai titik-titik itu berganti gerimis yang liris mengelus wajah, rambut dan perasaannya. Kira-kira begitulah sajak itu. Membaca sajaknya itu terasa olehku perasaan puitis, sebutlah itu internalisasi puitis. Ini semacam dawai misterius yang menghubungkan penulis sajak itu dan diriku yang biasa sendiri memandang hujan yang turun di teritis rumahku dan gerimis yang meremas-remas kalbuku lembut-lembut.

Tiba-tiba ayahku sibuk. Di malam hari, ia duduk di meja kamar depan, membakar lampu taplak, mengambil botol tinta dan pena serta kertas dan kamus lalu menulis berjam-jam sampai larut malam. Di hari minggu pun, karena Mumere tak ada gereja Protestan, maka ayah tak keluar. Ia menulis terus, menulis terus. Ketika aku mencuri-curi membacanya ketika ayah pergi, aku lihat ada sebuah sajak panjang berjudul Te Deum Laudamus. Entah apa artinya dalam bahasa Latin.
Setelah judul, di kiri sajak ada Te Deum Laudamus. Di kanan sajak pun ada Te Deum Laudamus. Maka Te Deum Laudamus itu memenjarakan rumpun kata-kata yang disusun berjam-jam, bermalam-malam, berminggu-minggu. Lalu ayah mengirimkannya ke tabloid Bentara di Endeh. Waktu pemimpin redaksinya mampir ke Maumere ia menyempatkan diri mencari ayah di kantor kontrolir dan mengatakan bahwa sajak atau lebih tepat disebut syair buah karya ayah terlalu berat dan tidak cocok untuk pembaca Flores yang belum bisa mencerna dengan baik karya yang demikian.
Commies Loudu sendiri pernah berkata tentang tulisan ayahku pada seorang tamu di rumahnya dan aku mendengarkannya. Katanya, ”Dulu, sebelum perang, Nani menulis sebuah artikel berjudul Allah, Manusia, dan Wet. Wah, Belanda-Belanda baca artikel itu dan mereka merah.”
Nani adalah panggilan akrab ayah. Mendengar yang demikian itu aku bangga. Pada suatu hari aku berkata pada ayahku bahwa aku mau seperti ayah, masuk Angkatan Laut, bekerja di kapal perang. Ayah langsung menolak. ”Jangan, jangan,”katanya. Mungkin ia bosan bekerja di kapal perang. Kerjanya antara lain ‘bermain’ bendera. Seperti halnya morse, orang dapat berkomunikasi dengan bahasa bendera. Di samping itu, ia ikut sibuk mengukur delaman laut di Laut Flores untuk dijadikan peta. ”Lebih baik jadi journalist,” katanya. Ayah pernah berbicara mengenai kartu pers dan jurnalis Parada Harahap di Batavia. Ia begitu bangga degnan kartu pers. Dengan adanya kartu pers maka orang bisa bergerak bebas. Begitu kata ayah.
Suatu kali, datang komedi stambul alias sandiwara ke Maumere. Seperti halnya di Ruteng, pasar yang tak berdinding, kecuali atap dilingkari terpal. Aku sempat nongol ke panggung dan melihat para pemain, terutama aktor-aktornya asyik mengintip gadis-gadis penonton terutama dua putri raja.
Yang paling asyik adalah untuk pertama kalinya aku mendenganr pidato Bung Karno lewat radio. Kalau tidak salah ingat pidato itu dikumandangkan pada waktu agresi Belanda ke Yogya. Aku pernah membuat ayah berdesis, ssst, karena aku berkata bahwa Presiden Sukawati adahalh presiden boneka sedang Bung Karno adalah presiden yang sebenarnya.
Aku bisa memaklumi sikap kehati-hatian ayah karena ia telah menjadi pegawai di kantor yang masih dikuasai Belanda. Pada hal, di Ruteng dulu ayah sangat republiken dan Sukarnois. Setelah merdeka ia anggota PNI. Ketika rombongan sandiwara keliling mereklamekan pementasan karya Bung Karno, Kut Kut Bi, ayah berbisik kepada teman-temannya tentang sandiwara itu lalu dia bercukur bersih, memakai dasi dan jas lalu membawa kami semua menonton.
Aku pikir Kut Kut Bi itu makhluk horor tetapi barangkali maksud Bung Karno Indonesia Could,could be free.
Tiba-tiba pada suatu hari, seorang perempuan manis muncul di rumah kami. Gerak-geriknya agak kaku. Dia masuk ke kamar makan, kemudian berjalan ke kamar tamu, melihat-lihat sebentar lalu berpapasan dengan ayah tetapi keduanya tak saling tegur. Waktu itu ibu tak ada. Kira-kira cuma satu atau dua menit, tanpa bicara.
Ayah pun tidak bicara padanya. Ia keluar tanpa permisi lalu tak kembali-kembali lagi.
Itulah dia Tante Maria.
Itulah ‘Monica Lewinsky’ ayah di Bajawa. Aku tertegun. Mengapa ayah tak bicara padanya, mengapa dia tak bicara pada ayah? Entahlah. Kemudian aku jalan-jalan di jalan raya di bawah rimbunnya pohon kelapa aku melihat Tante Maria telah membuka sebuah warung di pingir jalan dan sibuk mencari sesuap nasi karena setelah suaminya pensiun, tidak lama kemudian meninggal dunia.
Wanita Jawa yang tidak punya anak itu tetap tinggal di Maumere sampai meninggalnya. Begitulah. Kesalahan adalah guru. Bayangkan, gaji yang cukup besar sebagai Hoofdt Menatri, hilang begitu saja gara-gara selalu memeriksa Tante Maria ketika ia berobat ke rumah sakit. Ayah tak mau kehilangan mata pencaharian untuk kedua kalinya. Ia terlalu mencintai ibu, aku, adikku dan anak tirinya.
Pada sutu hari, adikku Matilda dilamar oleh Karel Pandy, anak tertua Oon Pandy, kepala kantor pos Maumere. Abangku Benyamin tidak setuju. Aku setuju. Ayahku mengatakan, pikir-pikir dulu, nanti akan diberi jawaban.
Aku simpati pada Karel. Tampaknya ia sangat mencintai adikku terutama ketika adikku sakit keras. Malam-malam ia berangkat ke Sikka di pantai Selatan untuk memanggil dokter. Besok paginya dokter datang, seorang dokter Belanda.
***
Tiba-tiba ayah memberitahukan bahwa ia dipindahkan ke Kalabahi, Pulau Alor.
Oh, makin jauh letaknya dari pusat pemerintahan. Tidak ada lapangan terbang di pulau itu. Hanya pelabuhan kapal. Yang membikin aku gembira, orang menceritakan bahwa di sana ada kolam renang dan teluknya indah dilingkari perbukitan sehingga tampaknya seperti danau besar. Di sana kapal-kapal mengisi air minum di samping bongkar muat barang. Rasa romantisku timbul. Ah, di Kalabahi nanti aku belajar terus bahasa Inggris dan stenografi sambil berenang dan berkebun. Ya, berkebun sayur-sayuran karena kata orang air melimaph ruah di kota itu. Ya, kau akan beternak itik untuk memperolah telurnya untuk dijual. Itulah masa depanku. Timbul suasana hati yang ceria, optimis menghadapi masa depan.

Kami naik truk dari Maumere ke Larantuka. Kali ini abangku Benyakmin tidak ikut Oom Bire dari dinas LLJR untuk terus belajar menjadi sopir dan montir. Belajarnya di tumpukan kerangka mobil-mobil Jepang itu.
Duduk di puncak truk sampai Larantuka, aku merasa bahwa penghayatanku terhadap keindahan alam Flores telah lengkap. Entah apa yang membuat mataku tak pernah terpejam melihat alam, melihat gunung dan lembah, melihat jurang dan ngarai, melihat warna-warna pohon dengan kembang-kembangnya dan kulit wajahku serta paru-paru merasa begitu segar disapu angin. Semua pemandangan yang indah itu masuk lewat mata dan kulit, lewat hidung yang mencium bau pepohonan dan kembang serta buah-buahan hutan, semaunya masuk lewat panca inderaku lalu mengendap di sana dalam khasanah kenangan manis yang rahasia, dalam cintaku kepada urutan-urutan kehidupan dan kecepatan perputaran roda perjalanan.
Di Larantuka kami menumpang di rumah Pedeta Fanggi tetapi hampir tiap hari kami berada di rumah Papa To’o (paman) Hormu, pamanku pensiunan kepala polisi di Bajawa, kemudian pindah ke Ruteng, lalu pindah lagi ke Larantuka dan pensiun di sana.
Papa To’o (paman) Hormu, adalah seorang paman yang sangat mencintai kami. Ia punya seorang anak prempuan yang cntik bernama Lies. Lies selalu masak untuk kami sementara sang paman membawa kami ke pantai bening berpasir putih dan penuh pepohonan untuk mandi berenang.

Tante Hormu juga sangat mencintai kami berdua. Suatu hari ia berkata kepada adikku dan aku bahwa dia tetap sayang kepada kami berdua dan ayah, tetapi kalau dia bercermin dan melihat luka gigitan ibumu di pipi, oh….
Kami diam saja tak mau mencampuri urusan orangtua, kami bermain dan makan.
Kapal motor Higgins dengan nomor BD sekian datang dari Kupang. Kapalnya kecil, sebesar perahu lambo tetapi semaunya dari besi.
Aku duduk di haluan, merasakan kenikmatan diayun ombak. Sudah delapan tahun tidak pernah berlayar dan aku menikmati betul pelayaran dengan kapal motor kecil terbuat dari besi itu. Ketika gelombang makin besar dan air asin memuncrat ke dalam kapal, barulah aku masuk ke kamar. Berlayar siang hari dari Larantuka, sampai di Kupang pagi hari. Kami berlabuh di pelabuhan lama Kupang dan karena tidak bis bersandar maka kami turun dengan sekoci-sekoci milik rakyat.
Mendengar kami berada di Kupang, kakak perempuanku Usi Miana (kakak Mariana), datang dengan perahu dari Rote. Ayah mengambil keputusan untuk membawa dia ke Alor. Aku lihat ayah meminjam uang sana sini untuk ongkos kakak. Melihat itu, bangun pagi-pagi aku mengambil sebuah arloji duduk (weker) berjalan ke toko-toko untuk menjualnya. Beberapa toko Tionghoa aku masuki dan menanyakan apakah mau beli arloji. Baru sedetik melihat, si encek menggeleng kepala. Tidak. Semua pemilik toko yang terbuka di pagi hari menolak. Aku membawa pulang arloji duduk itu. Tiba di rumah iparku David Kaha yang sudah lebih dulu pindah ke Kupang dari Bajawa, ayah telah mendapat pinjaman dari keluarga Joosten. Maka berlayarlah kami bersama kakak perempuanku yang telah lama berpisah dengan ibunya, dengan ibu kami.
Di Alor kami ditempatkan di sebuah pasangrahan pemerintah. Pasangrahannya besar, buatan Belanda. Di samping kirinya ada sebuah gereja Protestan yang sekaligus pada hari biasa menjadi sekolah. Murid-muridnya baru saja tamat, tetapi masih ada yang datang.Orang mengatakan bahwa sekolah di gereja itu disebut OVVO (Opleiding voor Volksonderwijser).
Sekolah guru desa dua tahun.
Tidak lama kemudian, tibalah tahun ajaran baru. Aku melihat di gereja itu telah ada murid-murid OVVO yang baru. Pada suatu malam ketika aku duduk di tungku, aku mendapat ide untuk menghadap guru OVVO untuk memohon menjadi murid. Api di tungku yang hangat itu seolah-olah menggerakkan kemauanku. Atau bisa dikatakan aku mendapat inspirasi di depan tungku. Hal yang serupa juga ketika di Ruteng, setelah setahun lebih meninggalkan kelas tiga. Aku mendapat ilham untuk bersekolah lagi di tungku di rumah beratap ilalang berdinding bambu. Di Kalabahi aku mengalami serupa. Ya, besok aku menghadap guru OVVO itu.
Bangun pagi-pagi, aku mandi dan mengenakan pakaian bersih. Tuan Sirituka, guru satu-satunya di OVVO itu sedang berdiri di samping gereja.
”Tuan, apa bisa saya diterima di OVVO ini?” tanyaku.
”Bisa.”
Hanya satu kata dari mulut Tuan Sirituka, merobah jalan hidupku. Aku pulang ke rumah, karena pelajaran belum muali, untuk memberitahukan kepada ayah dan ibuku. Aku akan selalu berada di antara anak-anak yang jauh lebih muda dariku. Untung badanku kecil dan tampak awet muda. Soalnya sudah empat tahun aku tak bersekolah. Oya, aku tidak malu sama sekali karena dari kursus tertulis bahasa Inggeris ada pepatah yang berbunyi, Better Late Than Never. Ya, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Kwartal pertama aku jatuh di ranking dua, seterusnya setiap ujian kwartalan aku nomor satu terus menerus di OVVO dan SGB.
Kemudian kami mendapat lagi dua orang guru . Yang seorang guru bahasa Belanda dan yang lain mantan guru OVVO di Rote, Tuan Manuhutu. Orangnya kuning, mengaku orang Rote, walaupun famnya Ambon. Ketatnya luar biasa. Kami duduk seperti patung. Kalau kaki gatal digigit nyamuk, kami tak bisa menggaruk.
Sedang asyik-asyiknya belajar dengan ranking pertama tiap kwartalan, tiba-tiba hampir terjadi musibah. Ketika ada pertandingan bola antara polisi dan kesebelasan siswa OVVO, si polisi yang pakai sepatu itu menyepak kaki seorang temanku yang juga sudah tua sepertiku.
Aku marah besar. Aku berkelahi dengan polisi itu. Berkelahi mati-matian sepertiku.

Seorang pemuda Tionghoa yang kami pinjam untuk memperkuat kelab bola kami masih ingat peristiwa itu ketika aku bertemu dengannya di kantor Sianr Harapan ketika aku jadi wartawan di koran itu. Ia telah menjadi pemborong di Jakarta dan setiap hari mengawasi renovasi kantor Sinar Harapan. Kepada rekan Aristides Katoppo pemborong itu mengatakan tidak mengira aku jadi orang baik-baik di Jakarta ini. ”Ah,” kata Aristides Katoppo wartawan Sinar Harapan. ”Ah, sampai sekarang ia tak berubah. Gerson itu teroris!” canda Tides (nama akrabnya).
Walaupun gaji ayah kecil tetapi ibu membawa perut baru ke rumah. Seorang anak lelaki ditemukan ibu di pasar dalam keadaan bingung karena ketinggalan perahu yang berlayar ke pulaunya, Pantar.
Orang tuanya telah berlayar. Ibu membawanya ke rumah. Dia disekolahkan di SR di samping rumah. Tiba-tiba ibu membawa lagi seorang bayi yang diletakkan di kursi tamu. Anak pertama bernama Christofel Titing dan kedua Elizabeth. Christofel dibawa ke Kupang, masuk SMA dan kemudian jadi polisi (Kepala Polsek di Paga, Manggarai) dan Lies juga demikian kawin di Rote, lalu meninggal setelah punya dua anak. Anak pertama kawin dengan wanita berada dan kedua disekolahkan oleh adikku Richard.
Pindah ke Alor di tahun 1948, aku terkejut sekali karena penduduk dari pedalaman, Suku Atimelang yang tinggal di gunung-gunung, masih memakai cawat. Mereka tak malu-malu. Walaupun cawat, aku perhatikan, alat vital mereka tidak kelihatan. Perempuan Atimelang memang sudah maju karena mereka memakai kain dan kebaya atau kaos. Dari Atimelang mereka memikul kemiri, kenari, ubi pisang dan pinang. Juga ular-ular besar yang diisi di karung dan masih hidup. Kulitnya dikupas dengan teliti oleh pedagang Tionghoa, dijemur di pasar. Aku pernah melompat ketakutan karena ketika duduk di sebuah karung, tiba-tiba karung itu bergerak dan orang berkata, jangan duduk di karung itu, itu ular!
Akan tetapi cawat-cawat segera menghilang. Setelah penyerahan kedaulatan, setelah bendera-bendera merah putih berkibar mengganti merah putih biru, cawat dilarang dan orang-orang pedalaman semuanya memakai celana katok, biasanya dari kain hitam tahan kotor.
Di Alorlah, aku jatuh cinta untuk pertama kalinya, aku tertarik pada teman sekelasku gadis Rote. Kata para pemuda di kota itu, ia cantik sekali. Memang ia cantik seperti mbakyunya, istri guruku. Gadis Rote yang bernama Antoneta Taka itu bermata satu dan bergigi bagus. Kulitnya kekuningan dan rambutnya lurus berjurai. Namun selama di OVVO aku hampir tidak menegurnya. Aku hanya simpan dia di hatiku. Dia jarang keluar rumah setelah pulang dari sekolah. Ada juga gadis Alor yang manis dan tinggi, si Hadijah Abdullah, kemudian Ratna Matorang. Semuanya manis menarik tetapi bukan semua itu yang menyibukkan jiwaku. Cinta pertamaku adalah ilmu. Bagiku belajar lebih penting dari kecantikan gadis-gadis Alor.
Akan tetapi, di luar sekolah, lebih asyik lagi. Di hari raya tujuh belas Agustus, lapangan luas di tengah kota diadakan pasar malam dan tarian lego-lego. Gadis-gadis Binongko dan Bugis-Makasar yang bersarung sutra keluar dari pingitan mereka untuk berlego-lego ria dengan para pemuda kota. Semalam suntuk aku ikut lego-lego, yaitu tarian lingkaran, ada yang mudah, ada yang sukar. Biasanya yang mudah saja yang kami ikuti karena yang lebih dinamis, yaitu tarian Lego-lego mengelilingi api unggun atau lampu tekan yang dilakukan oleh suku Atimelang, cukup sukar tetapi sangat ekspresif, sangat indah.
Kalau ada dua gadis cantik berpegang tangan menari lego santai maka setiap pemuda dibolehkan membelah kedua gadis itu dan mengaitkan kelingking ke kelingking kedua gadis itu lalu ikutilah irama gong, tambur dan nyanyian.
Aku selalu mencari dua gadis Binongko (Sulawesi) yang cantik. Setelah membelah keduanya, kedua kelingkingku mengait kelingking mereka. Aku pun dijepit dua jelita. Kami menari melingkar bergandeng kelingking sepanjang malam, lupa daratan dan karena sudah sering dan barangkali itulah namanya kasmaran maka kalau lingkarannya sampai ke tempat yang tak disinari lampu tekan, aku memeluk gadis yang kutaksir dan ia membiarkan aku memeluknya dan ia pun memelukku. Asyik betul. Betul-betul lupa daratan!
Di kelas tiga SGB barulah kami mendapat ilmu pasti (aljabar dan ukur).
Di kelas empat distop karena waktu harus dipakai untuk mengajar. Ujian penghabisan tidak peduli apakah hanya satu tahun belajar ilmu pasti. Soal-soal yang diberikan diambil kurikulum kelas 3 SMP. Namun aku mendapat nilai tertinggi. Yang membanggakan adalah bahwa kami diajar oleh tiga profesor Belanda yaitu Dr. Bergema, Dr. Enklaar, dan Dr. Duyuerman.
Sayang, setelah dua tahun bersekolah aku harus meneruskan pelajaran. Aku ke SGB (Sekolah Guru Bawah) yang dulunya disebut Normalschool. Aku menempuh sekolah pendidikan SGB di So’e, ibukota Kabupaten Timur Tengah Selatan, seratus kilometer lebih dari Kupang.
Di So’e-lah baru aku berani mengirim surat cintaku pada Neta, teman sekelasku. Latihan mengarang pertama, latihan untuk menjadi sastrawan, adalah menulis surat cinta untuk si cantik jelita Rote itu. Bermalam-malam aku menulis surat cinta, bermalam-malam pula ia menulis surat cinta padaku. Sayang, Cuma dua tahun belajar di So’e dan karena aku lulus nomor satu maka aku terpilih untuk melanjutkan sekolahku di Surabaya. Dari SGB kelas empat hanya dipilih dua orang. Selain nomor satu, nomor dua temanku Abusalim Enga dari Alor yang jatuh di nomor dua juga berangkat ke Surabaya untuk belajar selama tiga tahun di SGA Kristen, Jl. Pirngadi, Bubutan.

Ayahku tetap tinggal di Alor. Kakakku, Mariana kawin dengan seorang kepala pertanian kabupaten dan melahirkan dua orang anak, pertama bernama John Senek dan kedua bernama Syarif. John pernah menjadi camat di Sabu Timur dan Syarif menjadi pengusaha.
Bagaimana pun Alor lebih menyenangkan daripada So’e. Walaupun ketika itu tidak ada mobil kecuali sebuah sepeda motor tetapi ketenangan teluk sungguh sangat inspiratif. Setiap sore hari aku duduk santai di pelabuhan memandang selat yang kosong, Cuma air danau-teluk yang tenang, bukit-bukit yang damai dan ketika senja makin temaram aku pulang ke rumah, makan malam atau menulis surat untuk teman-teman korespondensi. Dari Palembang aku berkenalan lewat surat dengan Rohana Yahya, siswa Taman Dewasa Raya, Tamansiswa serta rekan sekelasnya Tuty Ropi.
Kami berkirim foto.
Tulisan keduanya bagus. Bahasa Rohana lebih indah dari Tuty. Aku bertemu dengan Rohana ketika tamat dari SGA dan mampir di Palembang dalam perjalananku menuju Medan, mengunjungi abang tertuaku dan ibuku. Hanya Tuty yang tidak pernah aku temui.
Teman korespondensi lain adalah dari OVVO Tentena tetapi ketika aku mengunjungi Tentena di saat kapal Tampomas tenggelam, aku lupa namanya. Sayang. Aku hanya mengenang dia ketika menulis novel Doa Perkabungan yang berlatar belakang tenggelamnya Tampomas II dan Danau Poso.
Teman korespondensi ketika di Alor, adalah Len Daud, putri Raja Ringgou, masih termasuk sanak keluargaku. Kemudian kami duduk satu kelas di SGB. Dia dan kekasihku dikirim ke Rote untuk jadi guru sedangkan aku hanya menjadi murid ikatan dinas, dengan uang pas-pasan untuk kos murahan, setiap hari makan nasi kualitas rendah dan perkedel tahu bercampur ampas kelapa (karena santennya dijadikan kuah).

Sekali dalam liburan panjang aku mampir ke Alor. Ayahku sudah punya rumah sendiri tetapi aku tidak sempat menginap karena kapal hanya berlabuh beberapa jam. Kemudian ayah dipindahkan ke Kupang dan Rote sampai dengan pensiunnya. Lumayan. Kalau dibanding dengan pangkat zaman Belanda, ayahku pensiun dengan status commies. Adikku menikah dengan Herman Nggebu, mantan guru yang bekerja sebagai pegawai tata usaha di kantor polisi Kalabahi. Kemudian ia dipindahkan ke Kupang sebagai pemegang kas di kantor Kejaksaan. Anak-anaknya kini tinggal di Bali, semuanya menjadi pengusaha.
Tentang Neta, cinta pertamaku, ia menjadi guru di Seda Talae. Aku pernah mengunjunginya. Turun dari kapal, aku langsung berjalan kaki ke Seda, ibukota kerajaan kecil Talae. Di sana aku bertemu dengan Bapak Taka Tinggi, berbadan tinggi memang yang menerimaku di lumbungnya yang penuh padi dan lain-lain yang terletak di bawah naungan kelapa. Pulang ke Ba’a aku menumpang sebuah jip pedagang.
Cintaku betul-betul cinta Siti Nurbaya. Tidak ada ciuman perpisahan, tidak ada ngobrol sampai jauh malam, pada hal semua keluarga sudah menerimaku sebagai tunangan anak gadis mereka. Aku dibuang ke rumah pendeta. Tidur di sana setiap hari.
Aku jadi gondok seribu gondok.
Setibanya di Surabaya aku mencari pacar baru. Aku melamar seorang jururawat cantik tetapi langsung ditolak. Baru di Makassar, aku bertemu dengan seorang gadis yang mirip Pier Angeli. Akan tetapi gadis yang kemudian menjadi bidan itu kawin dengan orang lain. Aku sadar bahwa aku adalah anak kesayangan ibu. Pertama-tama aku adalah pengikat antara ibuku dan ayahku dan sekaligus antara ayahku dan anak-anak tirinya. Bagaimana pun, ibu selalu menjaga perasaan suaminya, tetapi sering kalau kulihat kenakalan anak tiri ayahku, sehingga ayahku secara halus menolak kehadiran saudara tiriku, maka ibu menjadi sangat sedih. Aku pernah menemukan ibu menangis dan murung, ingin meninggalkan ayahku dan terbang secara mental ke dekat anak pertamanya, tetapi seribu gunung seribu gemawan membatasnya. Mustahil ibu melarikan diri. Mustahil. Ibu hanya menangis, sedih sampai sang waktu menghiburnya dengan kemampuan lupa akan semuanya lalu keadaan yang pahit dalam hidupnya menjadi manis kembali. Di samping itu, adikku juga penghubung batin ayahku. Dua anak kandungnya ada di satu pihak dan empat anak tiri ayah ada di kutub lain. Namun ayah tetap tenang dalam ketegangan yang demikian. Tampaknya ayah memelihara ketegangan yang cukup kreatif, sampai satu saat, ketika aku bisa mandiri dan adikku kawin. Di saat itu, mungkin ayah merasa telah cukup bertanggung jawab. Bertahun-tahun ia hidup dalam ketegangan, namun ia tetap memberi makan kami semua, anak-anak ibu dan ibuku sendiri. Hal yang demikian itu membuat aku kadang-kadang terhentak. Terhentak oleh konflik-konflik berantai timbul dan tenggelam. Lebih-lebih ketika ayah memutuskan untuk mencari seorang istri yang lebih muda. Aku marah tetapi aku berpikir, umur ibu jauh lebih tua daripada ayah. Berpikir tentang hal itu aku memaafkan ayahku, apalagi kalau kulihat anak-anak dan menantu ibu dapat menampung ibu. Ketika aku berada di pelabuhan dalam rangka naik kapal, berlayar ke Surabaya untuk melanjutkan sekolahku, aku bertemu dengan iparku, Nico Senek kepala pertanian di Alor. Ia mengatakan bahwa ibu sudah mengangkut semua barang-barang ke rumahnya di Alor. Oh, dalam kebahagiaan semesta karena lulus sebagai murid nomor satu, tiba-tiba datang berita menyedihkan. Batinku terapung seolah dibawa ombak ke atas kapal lalu aku duduk di haluan sambil merenung. Sebaiknya setiba di Surabaya, aku minta diri untuk jadi guru dengan ijazah SGB saja. Jadi guru di suatu desa terpencil, tinggal bersama ibu. Bagaimana? Sudahlah. Tenang. Bagaimana pun ibu masih bisa momong cucunya John di Alor di waktu kedua suami istri sibuk mencetak sawah baru. (Cucu yang di kemudian hari menjadi camat di Pulau Sabu).

Kapal berlayar menuju masa depan meninggalkan ibu.
Ibu pindah ke Kupang, ke rumah adikku Matilda (Nona) karena adikku lebih cerdas, lebih peduli, lebih bersih. Ayahku tinggal di Alor. Ia menghadapi tragedi baru. Ia mengira wanita muda yang mandul yang masuk ke rumahnya menggantikan ibu itu telah bercerai dengan suaminya. Walaupun demikian wanita itu tetap mengurus ayah.
Ayah berpindah ke Kupang dan mendapat rumah pemerintah di jalan elit. Namun rumah yang bagus itu segera menjadi neraka perkelahian mulut terus menerus dan baru berhenti ketika pengadilan memutuskan ayah mengambil cuti panjang (enam bulan) di luar tanggungan negara.
Ayah dipekerjakan di bagian administrasi rumah tahanan selama enam bulan. Tidak sampai enam bulan ayah keluar lalu kembali lagi bekerja seperti biasa. Ketika aku berlibur ke Kupang, ibuku menunjukkan kemuliaannya.
Ia mengajak aku mengunjungi ayah. Aku hanya menarik nafas memandang seorang lelaki absurd yang menjadi ayahku.
Tarikan nafasku itu berhubungan dengan rahasia kehidupan batin.
Batin manusia bagaikan laut yang dalam yang mustahil diduga secara tepat. Kalaupun aku mengatakan bahwa arus kesadaranku bisa membikin jarak dengan penderitaan, maka kesadaranku hanya bisa berkata bahwa antara aku (kesadaranku) dan dunianya ayahku terbentang jembatan kendala kontradiksi dan ketakmungkinan.
Aku sangat cinta dan bangga pada ayahku tetapi kesedihanku memandang mata ibunda yang makin lama makin jauh menyimpan kaki langit kerinduan menunjukkan bahwa ibu adalah batinku, surgaku. Kesadaran rasional akan berkata bahwa hal yang demikian itu adalah konflik. Boleh saja diterima tetapi hidup lebih dari dimensi akal. Hidup itu kelimpahan dan yang limpah itu puisi.
Seusai mengunjungi ayah aku menulis puisi ini.

Penjara
nafas yang menyusuri hatinya tandus/menyaksikan mulutnya yang terkatup/melantangkan sekali-sekali kemerdekaan risau/dan suara bisu memperhitungkan laba-rugi dalam diri angin yang melewati kisi penjara membisik kenyataan tak lagi lembut/isi jiwanya penuh hawa lembab segala alasan/semua jadi kuyup bila kekerasan menginjak ubun jiwanya begitu lincah beralih ke serba ragam kehidupan yang betul/pertarungan di tengah lecah pengalaman/-antara kasih yang ia serahkan dan gelombang lingkar terdengar jauh? semua ini bersifat sesaat/kuterima perjanjian terletak hukum di atas ubun/dan angin tak kuasa menembus tembok penjara tibalah acara jalan sengsara hingga puncak/sampai kita sama singkap gerbang dan sutera batas.
Pada suatu pelayaran liburan dengan kapal dari Surabaya aku bertemu dengan perempuan itu, perempuan yang nasibnya juga tragis seperti nasib ayahku. Aku iba melihatnya. Aku melihat ia sebagai segumpal kefanaan yang telah menggurat riwayat dan vibrasi puitis dalam diriku. Aku mendekatinya dan menegurnya tapi ia membalas dengan kaku. Aku yakin, begitu ia melihat aku ia melihat beban yang timbul dari tahun-tahun ia bersama ayahku. Apa boleh buat. Kapal berlayar menuju Kupang dan aku turun menjumpai ibu dan saudara-saudaraku.
Semua pengalaman masa kecilku ini mungkin akan membuat terapung, terasing, teralienasi dan pribadiku akan kacau tetapi untung aku berkenalan dengan puisi, waktu itu. Semua yang terpatri dalam jiwaku sejak kesadaran pertama di Bajawa, sampai dengan habisnya masa kecil di Flores dan meloncat ke masa remaja, membuat aku merenung bahwa hidup ini puisi (mousike) yaitu nyanyian batin yang mendorong terjadinya karya-karya sastraku.
Filsafat mengatakan bahwa hidupku absurd, seperti juga hidup ayahku, seperti juga ibu dan saudara-saudaraku.
Agama mengatakan kami penuh dengan beban penderitaan yang berat, penuh dengan salib, beban dosa. Manusia bagaikan KTP yang tertinggal di kantor lurah kehidupan. Kalau tidak ditebus, sulitlah perjalanan hidup kita ke surga. Aku tidak tahu, apakah kata-kataku ini jelas, dapat ditangkap karena kehidupan ini selain lebih dari psikologi dan sosiologi, juga lebih dari rumusan filsafat, teologi dan analogi-analogi serta puisi dalam arti bentuk (karya) seni.
Kemana pun aku pergi kemana pun aku mengembara di dunia ini aku selalu membawa puisi kehidupan masa kecilku, membawa tembang batinku yang pada mulanya hanya aku sendiri menghayatinya.

Tembang batin ini sering mendorong aku membuat sajak (poem), tetapi apakah sebuah sajak adalah segala-galanya tentang poetry – tentang spiritual energi? Belum tentu. Aku lahir di Rote dan pulau itu membuat batinku penuh dengan energi misterius yang sebisa-bisanya dengan bahasa dan kata-kata Indonesia aku mencipta atas dorongan energi misterius itu. Sajak ini dimuat di Majalah Mimbar Indonesia.

Rote (pulau kelahiran)
baris baris nyiur, pantai meranggas dalam jiwaku/rebah atas merah tanah hidup yang mengingini pula bahagia waktu di sana baris-baris nyiur pantai meranggas terlampau panjang di sana tangis dalam gereja lalang tak ada gunanya/bagi seorang yang tak ingin menghirup upah dosa/ dalam segelas susu ternak yang tumbuh dalam sepoi savana/ sejak nyala adam membakar dan padam/ dalam segenggam merah tanah pulau kelahiran yang fana engkau kiranya/ yang merombak remuk jiwaku dengan hadirnya diriku atasmu/ sejak bayi hingga dewasa kau hidupkan api roh dalam nasibku yang rapuh/ air tanah tandus mengalir dalam tubuhku suatu kubu kenangan terbuka/ merasakan dadamu keriput karang/ dadamu yang bangga bahwa kau pun waris laut yang keras airmata bundaku nyaring dalam merah tanah hatiku/ sedangkan bunga kasihku hidup dari embun bersih mata rejeki yang ranggas nyala adam ayah meninggalkan ciapan wajah kami/ hidup untung-untungan dalam jemari dunia/ bersilih keluh dan detak baru langkah tak mungkin kami bergantung pada nyiur pantai yang ranggas bukitmu yang gundul dan mandul tersia sekali kuhafal/ bukit pemberi rasa sebal, bukit yang menanam pula angkara senjata bila kutanya di keping tanah mena terjelma seorang bayi dalam rahim/ tunjukkan rahang karang tersembunyi/ penuh air kasih bagi dahaga musim manakala kau petik sesandu atas kuda tunggang dan sepoi savana/ini, kuberi tangan yang radang meninju nasib yang rapuh lihatlah urat-urat di dahi, darah yang didih/ lihatlah kekasih yang lelah dalam doa harapan gereja lalang dibungkusnya kenyataan hitam dengan impian pualam/ dan bergantung padanya siang dan malam

Bagiku, ayah adalah seorang lelaki normal. Ia tidak memilih jalan atau cara-cara yang seratus persen tidak etis dalam mengarungi kehidupan yang absurd ini, kehidupan yang penuh dengan kontradiksi dan kemustahilan ini. Ia tak beda dengan pemain selancar di atas gelombang. Walaupun ia jatuh dari papan selancar, ia menggaetnya dan berselancar dengan penuh gairah cinta akan kehidupan.
Tiga kali ia jatuh tercebur, namun jatuhnya sportif, etis. Dengan istri pertamanya sebelum menikahi ibuku, tidak ada dendam dan kekerasan sama sekali.
Hal ini cukup mengharukan aku. Kalau aku mampir ke Ba’a, aku selalu mampir ke pasar, tempat mantan istri ayahku berjualan.
Pada suatu hari, wanita itu mengundangku makan malam. Ketika sedang menikmati makanan lezat, serba daging, ia mengatakan bahwa karena dia mandul maka ia izinkan perceraian dan menerima ibuku sebagai penggantinya. ”Sayalah salah satu faktor yang menyebabkan engkau datang ke muka bumi ini,” kata mantan istri pertama ayahku. ”Kalau saya tak izinkan, kau tak ada.”
Ucapan itu menunjukkan bahwa wanita itu tidak dendam pada ayahku dan ibuku. Di tahun 1997, sebelum kerusuhan tanggal 13-15 September, aku ke Ba’a. Pasar itu telah menjadi puing tetapi penuh dengan kenangan yang manusiawi sekali terhadap wanita yang pernah mengurus ayahku. Makan malam yang sangat inspiratif itu melahirkan cerpen Pasar (Hotis).
Ibu pun tidak pernah dendam. Waktu aku marah pada ayahku, justru ia mendinginkan aku. Soalnya ibu betul-betul menyadari kondisinya sebagai wanita yang umurnya lebih tua dari ayahku. Ia memilih menjaga atau momong cucu-cucunya dengan ikhlas dan menyerahkan ayah kepada seorang wanita yang terbilang sanaknya yang berasal dari Rote.
Sayang, beberapa tahun kemudian setelah hidup dengan tenang menikmati gaji ayahku, datanglah serangan legalitas. Ayahku dicutikan di luar tanggungan negara selama tiga atau empat bulan. Di saat itu ibuku justru menyuruh aku menjenguk ayah.
Betapa mulianya ibuku.
Ketika aku kembali ke Surabaya, kemudian menamatkan sekolah lalu menjadi guru, aku dengar ayah telah menemukan wanita impian hidupnya, seorang wanita muda yang belum pernah bersuami. Saudara-saudaraku setuju saja dengan pilihan itu.

Ayah mulai bangkit lagi. Ia dan istrinya dapat membangun rumah di Kupang dan di Rote tetapi yang paling membahagiakan kami adalah lahirnya adik-adikku dari wanita yang kusapa Mama Net. Seorang adik lelaki lahir, disusul dengan seorang adik perempuan yang cantik tetapi sayang si cantik itu meninggal di Rote ketika ayah menjadi sekretaris kecamatan Rote Timur di E’ahun, Ringgou. Anak ketiga dari Mama Net itu seorang lelaki.
Begitulah, setelah orang tua kami meninggal dunia, aku mempunyai dua orang adik lelaki, yaitu Richard Poyk dan Rocky Poyk. Yang pertama seorang sarjana yang bekerja di RRI Kupang dan kedua tamatan STM jurusan mesin yang mengepalai stasiun PLN di Rote.
Dengan demikian, keturunan ayahku tidak punah sebab dari anakku lelaki di Jakarta, aku hanya memperoleh seorang cucu perempuan. Merekalah yang akan mewarisi buku-bukuku yang cukup banyak, yang kutulis dalam hidupku.

(Habis)
Depok, Agustus 2000

November 2nd, 2006

VLIR UOS Belgia, dibuka kembali!!!

Posted by flobamora in Current Affairs

punten ya mas moderator, klo VLIR udah pernah ada yg posting seblumnya.

beasiswa VLIR kembali dibuka, bagi siapa saja yang berminat studi di Belgia atau
tertarik dengan salah satu program studinya (Training atau Course) silakan klik
link yang tercantum di bawah ini. Semoga Membantu…

————————–SCHOLARSHIPS—————————-
With the support of the Belgian Directorate-General for Development Cooperation,
every year VLIR awards scholarships to students from developing countries to
find a place on one of the 15 ICPs or 6 ITPs.

Each year, up to 180 scholarships are available to first-year ICP students and
up to 70 scholarships to ITP participants.

The brochure Study in Flanders and make things happen at home (2007-2008) is now
available. Click here.

http://www.vliruos.be/index.php?navid=380

Deadline subscriptions: 1 February 2007.

If you have problems downloading the publications, ask for a printed copy:
scholarships[at]vliruos.be.

Erratum brochure and flyer
brochure, p.32 and p. 53
Optimisation in Diagnostic Radiology
European University College Brussels
1 October 2007 - 15 December 2007

———————–SEDIKIT GAMBARAN TENTANG VLIR—————-

VLIR finances 15 International Courses (ICPs) organised by the Flemish
universities. These courses are master programmes, lasting one or two academic
years, all of which lead to a master’s degree. They focus on specific problems
of developing countries. The main target group for the courses are students from
developing countries, although the courses can also be attended by Belgian
students or students from other countries.

The ICPs aim to train people from the South with a responsible position in civil
society (at a university, school, NGO, ministry, etc) in such a way that the
knowledge that they acquire is disseminated and applied in the home institution
and country of origin.

VLIR also finances International Training Programmes (ITPs) organised by Flemish
universities and one university college. ITPs are short-term training programmes
whose main focus is transferring skills rather than knowledge. The International
Training Programmes are designed for people from developing countries with a
certain degree of professional experience. Knowledge and skills are transferred
through the ITPs, and the possibility for cooperation and networking is created.

VLIR is responsible for the offer of ICPs and ITPs. It provides funds to the
organising Flemish universities and also provides a number of scholarships for
each programme.

The Flemish universities themselves are responsible for the programmes’ academic
content, and practical and logistical organisation.

Although they primarily address the needs of students and professionals from
developing countries, these programmes are also open to other people. This
brochure provides all the information you may need as a self-supporting student
or as scholar.

————————-Overview courses————————-

—–ICPs 2007 - 2008

International Courses (ICPs) are VLIR funded master programmes lasting one or
two academic years that lead to the master’s degree.

Master of Science in Biostatistics
Hasselt University
2 years

Master of Science in Physical Land Resources
Ghent University
Vrije Universiteit Brussel
2 years

Master of Science in Aquaculture
Ghent University
2 years

Master of Science in Environmental Sanitation
Ghent University
2 years

Master of Science in Rural Development and Nutrition, Main subject: Human Nutrition
Ghent University
2 years

Master of Science in Nematology
Ghent University
2 years

Master of Science in Food Technology
Ghent University
Katholieke Universiteit Leuven
2 years

Master of Human Ecology
Vrije Universiteit Brussel
2 years

Master of Science in Molecular Biology
Vrije Universiteit Brussel
Katholieke Universiteit Leuven
University of Antwerp
2 years

Master of Science in Ecological Marine Management
Vrije Universiteit Brussel
University of Antwerp
2 years

Master of Science in Water Resources Engineering
Katholieke Universiteit Leuven
Vrije Universiteit Brussel
2 years

Master of Human Settlements
Katholieke Universiteit Leuven
1 year

Master of Development Evaluation and Management
University of Antwerp
1 year

Master of Globalisation and Development
University of Antwerp
1 year

Master of Governance and Development
University of Antwerp
1 year

————-ITPs 2007

International Training Programmes (ITPs) are short term training programmes
lasting up to six months whose main focus is transferring skills rather than
knowledge. ITPs are designed for people from developing countries with some
professional experience. These programmes do not necessarily follow the academic
calendar.

Beekeeping for Poverty Alleviation
Ghent University
1 April 2007 - 31 July 2007

Poverty Reduction Strategy Papers (PRSP) - Making the PRSP work
University of Antwerp
16 April 2007 - 25 May 2007

AudioVisual Learning Materials - Production & Management
Katholieke Universiteit Leuven
1 May 2007 - 31 June 2007

Scientific and Technological Information Management in Universities and Libraries
Vrije Universiteit Brussel
May 2007 - July 2007

Engendering Development Policy, Projects and Organisations
University of Antwerp
15 September 2007 - 15 November 2007

Optimisation in Diagnostic Radiology
European University College Brussels
1 October 2007 - 15 December 2007

November 2nd, 2006

Master Scholarship in Sweden for Developing Countries

Posted by flobamora in Current Affairs

You are eligible for these scholarships if you are a university
graduate, citizen of a developing country and have several years of
relevant work experience.

The purpose of these scholarships is to help grow special
competencies in targeted countries. Eligibility is thus restricted to
candidates from specific countries seeking admittance to approved
programmes at Swedish universities. Because Sida has identified
different developmental needs in different countries, your
citizenship determines which programmes are available for scholarship
support.

Read more on http://www.milisbeasiswa.com

Programmes

Journalism: Global Journalism

Technology and Engineering: Electric Power Engineering, Management of
Logistics and Transportation, Sustainable Energy Engineering,
Sustainable Technology, Quality Technology and Management, Management
and Economics of Innovation, International Masters Programme in Water
Resources - WaterLU Lund University, Environmental Engineering and
Sustainable Infrastructure

Business and economics: Master of Science Degree with a Major in
Business Administration, Master of Science in Business
Administration - Strategy and Culture, Master of Science in
Environmental Management and Policy Lund University, Master’s
Programme in Economics, Master’s Programme in Management: People,
Projects and Processes, LUMID - International Master Programme in
Development and Management

Health and Medicine: Master of Arts and Sciences in Health and
Society, International Masters Programme in Public Health , Public
Health Programme

Natural Science: Master of Science in Environmental Science, LUMES -
an International Masters Programme in Environmental Science /
Studies, Master of Science Programme in Veterinary Medicine for
International Students

Social Science: Advanced Program in Statistics, International Master
of Science in Social Work, Master of Science in Water Resources and
Livelihood Security, Master of Social Science in International and
European Relations, Children: Health - Development - Learning -
Intervention, Master Programme in European Spatial Planning

Baca selanjutnya di http://www.milisbeasiswa.com

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: