Aih! Bahasa Gaul yang “Begi Sa”
Aih! Bahasa Gaul yang "Begi Sa"
Rudy Badil
Masa keemasan kota Kupang di Timor Barat, menjadi sorotan tulisan musafir
asing. Misalnya, Kapten Amasa Delano dari kapal layar Massachusetts, saat
singgah di Kupang pada sekitaran tahun 1790, dia menulis kalau Kupang itu mirip
tetangganya surgawi.
ungai indah itu memotong tengah kota . sore-sore hari, kami biasanya
duduk-duduk setelah mandi sore hari. Pelayan lelaki dan perempuan menyiapkan
teh, peralatan isap tembakau, botol dan gelas minuman, dan juga baju mandi.
sementara itu mereka memainkan musik sambil bernyanyi. Belanda itu sungguh
jamak mendapatkan semuanya itu di Hindia Timur."
Namun, kemewahan hidup Belanda di Kupang berubah total sejak runtuhnya VOC.
Tahun 1811 Inggris berhasil mencekal penuh pemerintahan di Kupang, hingga tahun
1815. Setelah itu Kupang mulai meredup dan suram. Gaya hidup ala VOC dan
kompeni Belanda yang penuh hura-hura dan foya-foya mulai ditinggalkan dan bukan
pemandangan umum lagi.
Saat kedatangan Kapten Stokes dari kapal Beagle tahun 1840, pelaut andal itu
terkejut menyaksikan Fort Concordia. Sebab benteng kebanggaan Belanda di tepi
pantai di atas bukit berkarang itu ternyata sebagian sudah roboh dirontokkan
oleh guncangan gempa.
Sejak Belanda meraup kekuasaan di Kupang tahun 1653, desa kecil di tepi pantai
kemudian melebar dan kian ramai. Belanda membuka pintu bagi pendatang luar
pulau, bahkan sampai pendatang dari jauh sekalipun. Orang Bugis, Makassar, dan
Buton menempati tanah pesisiran Orang Rote, Sabu, dan Solor diizinkan menetap
dan disediakan lokasi perkampungan khusus.
Begitupun orang mereka alias mardijkers yang bekas soldadu Benteng Concordia,
berikut barisan pedagang China, menjadi isi catatan sejarah Kupang. Belum lagi
ditambah kaum Indo peranakan Belanda, menjadi populasi kota kecil yang terus
membesar luas.
Antara kaum pendatang yang semuanya mencari dan membuat kehidupannya, mereka
memakai bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar. Bahasa gaul zaman kuno itu
tentunya memantapkan dialek khas Kupang. Baik kosakata dan susunan kalimat
dalam percakapan "bahasa pasar" itu, terasa sekali ada campur baurnya aneka
dialek bahasa Melayu gaya timur.
Bahasa Kupang dasarnya dari dialek bahasa Melayu, begitu ulasan umum James J
Fox (1982). Gaya dialek itu merupakan pemenggalan kata-kata Indonesia hingga
menjadi suku kata singkat dan bisa menjadi satu bunyi saja. Lama-kelamaan
tercipta sendiri gaya bahasa, sebagai suatu kesepakatan sesama pemakainya.
Bahasa Kupang
Bahasa yang diucapkan cepat dan terpenggal-penggal memang disebut bahasa
Kupang. Kata dan kalimat bahasa itu sungguh menarik dan enak, meski aneh
didengar bagi orang luaran.
Skarang ni kotong hars hati- hati. Tiap jam, tiap manit kotong musti slalu
waspada jang sampe kana bom (sekarang ini kita orang harus hati-hati. Tiap jam,
tiap menit mesti selalu waspada jangan sampai kena bom). . Kalo ada orang muka
baru, trus dong sonde lapor . jang segan- segan lapor polisi sa (kalau ada
orang muka baru, terus mereka tidak lapor . jangan segan-segan lapor polisi
saja-Red).
Kalimat pendek itu hanya kutipan singkat kalimat dalam rubrik "Tapaleuk" di
halaman dua Harian Pos Kupang, koran terbesar di Kupang dan Nusa Tenggara Timur
(NTT) yang terbit sejak 1 Desember 1992. "Tapaleuk itu arti harfiahnya pelesir
atau jalan-jalan tanpa tujuan jelas. Kami memakai nama itu sebagai sentilan.
Kalau profesi wartawan yang suka keliling cari berita, sebetulnya jalan-jalan
juga namun bermakna atau punya tujuan," kata Dion DB Putra, Pemred Pos Kupang.
Tanpa sadar, rubrik yang ditulis bergiliran itu menjadi salah satu andalan
berciri khas bahasa Kupang. Selain itu, kolom jenaka dengan kisah keseharian
warga Kupang sebetulnya ikut mendokumentasikan salah satu sisi kebudayaan di
NTT. Sebab, bahasa itu sungguh bahasa gaul kian menyebar di NTT.
Hampir semua orang paham bahasa gaul ibu kota NTT itu. Semua pemakai bahasa ini
paham, kalau be atau bet, aslinya berarti beta alias aku atau saya. Sonde alias
son itu artinya tidak atau tanpa.
Kata jang artinya jangan. Anehnya kamu disebut ‘lu’ yang sama artinya dengan
‘lu’ versi Jakarta. Kalau deng dong artinya dengan dorang atau dengan mereka.
Kalau bu dong artinya bung dorang, sementara ‘kalian’ disebut bosong, tanpa
kejelasan asal muasal kata bosong yang bukan busung!
Selebihnya bahasa gaul Kupang itu enak didengar meski bingung disimak. Kalau
mau mencongak dan mempelajari bahasa itu, perlu waktu juga dan terutama perlu
saraf pendengaran yang baik, termasuk mental menebak dan menerka makna kata
yang dikorting-korting itu.
Biarpun belum diteliti secara tuntas, hubungannya antara sejarah pertumbuhan
Kupang dan perkembangan bahasanya, rasa- rasanya, peranan rubrik "Tapaleuk"
harus diacungi jempol juga karena bisa dipakai sebagai acuan. Bahasa Kupang,
rasanya memang asyik. Bu dong, beta su mo brenti . begi sa, begitu saja!