Selamatkan tarian Sumba
Menyelamatkan Tarian Sumba
dengan Tari Kreasi Baru
Oleh EMANUEL DAPA LOKA
Meski senyumnya belum mengembang sepenuhnya, setidaknya Hendrik Pali, seorang pendidik yang juga budayawan dari Sumba Timur, NTT sudah mulai
melihat dengan mata kepala sendiri langkah-langkah konkret pemerintah Kabupaten Sumba Timur dalam memajukan atau mengembangkan kebudayaan Sumba.
Setahun terakhir ini langkah-langkah itu tampak lebih nyata. Telah beberapa kali Pemda ikut serta dalam pemeran budaya di Jakarta, mencanangkan beberapa
item kebudayaan daerah sebagai mata pelajaran ekstrakurikuler di sekolah-sekolah, dan memberi sumbangan kepada sanggar-sanggar kebudayaan.
Tidak hanya itu, dinas pariwisata juga mulai memberi bantuan dana kepada sanggar-sanggar kebudayaan yang tersebar di berbagai kecamatan di sana.
“Apakah karena beberapa media massa gencar memberitakan kondisi ini sehingga ada perubahan? Saya tidak tahu. Tapi saya kira pemberitaan itu berpengaruh,”
ungkap Hendrik saat ditemui di sela-sela pentas Gebyar Budaya Nusantara yang diadakan di gedung Semanggi Expo, Jakarta Selatan (3-6 Mei). “Kalau pentas
kami sudah mulai dihargai juga dengan honor. Ya, lumayan untuk memperbarui kostum dan kasih uang saku pada anak-anak,” ungkap pemilik Sanggar Ori Angu
(artinya: Merangkul Teman-red) ini.
Dengan perhatian semacam ini Hendrik dan kawan-kawan di sanggar-sanggar lain menjadi lebih bersemangat dan leluasa mengembangkan kebudayaan yang adi
luhung ini.
Sejak lama Hendrik adalah salah satu budayawan Sumba yang sangat gelisah melihat budaya daerahnya yang terancam punah. Kaum mudanya lebih kepincut
dengan budaya-budaya luar terutama dari barat yang memang lebih menawarkan suasana dinamis dan lebih glamour. “Para anak muda ini mau cepat-cepat maju
seperti yang mereka lihat di televisi. Hal ini dengan sendirinya mengancam eksistensi budaya lokal kami karena anak-anak muda ini adalah pewaris
budaya,” jelas pria yang pandai menari dan pencipta beberapa tarian kreasi baru Sumba ini. Dalam pengamatan Hendrik, perkembangan tarian misalnya tampak stagnan. Tidak ada kreasi-kreasi baru. Gerakannya hanya itu-itu saja.
Demi pengembangan kebudayaan leluhur yang diakui mengandung sangat banyak nilai-nilai hidup, pada tahun 1980 atas inisiatif pribadi Hendrik mengikuti kursus menari di sanggar milik Bagong Kussudiardjo di Yogyakarta.
Sepulang dari kursus tersebut Hendrik justru bertambah gelisah. Kenapa? Dia melihat anak putus sekolah di sekitar kampungnya Lambanapu (12 kilo meter dari ibu kota Kabupaten Sumba Timur, Waingapu-red) semakin banyak. Selain itu, orang-orang tua yang menguasai tarian secara baik berikut makna yang terkandung di dalamnya nyaris sudah tidak ada lagi. Kalaupun masih ada, umur mereka sudah mencapai 75 tahun. Sehingga hari ini tidak ada lagi. “Kalau
anak-anak ini tidak diurus bisa berbahaya. Juga kalau ilmu dari orang-orang tua itu tidak segera diadopsi, bisa berbahaya juga,” ungkap Hendrik pada dirinya sendiri ketika itu.
Ayah enam anak ini lalu mendirikan Sanggar Ori Angu untuk memfasilitasi anak-anak putus sekolah, “mencuri” dan mengembangkan ilmu dari para orang
tua. Hendrik berusaha menemui para orang tua tersebut dalam kesempatan-kesempatan upacara adat. Dia juga berkonsultasi kalau-kalau dia mencoba menciptakan kreasi baru. “Mungkin inilah yang dinamakan panggilan.
Sepertinya saya memang diutus untuk berada di wilayah semacam ini,” ungkap Hendrik dengan perlahan sambil meletakkan tangannya di dada.
Sejumlah tarian kreasi baru telah Hendrik hasilkan. Meski menyandang predikat “kreasi baru”, tarian-tarian ini tetap didasarkan pada tarian asli Sumba. Tarian-tarian tersebut antara lain adalah Ji….ha!, diambil dari perjamuan kudus di negeri (manghulango praing). Tarian ini biasanya
dipentaskan mengiringi penutupan sebuah pesta adat. Nilai yang terkandung di dalamnya “yang retak akan dipertemukan kembali”. Tarian ini bersifat gembira
dan sangat enerjik. Burung Bercanda: diilhami dari Tarian Merak (dari Jawa) dan Tarian Ngguku (tarian tekukur dari Sumba),Tarian Tanapang Baru (Menanti
Fajar). Tarian ini untuk menjemput pengantin wanita masuk ke kampung suaminya. Dalam budaya Sumba, seorang pengantin wanita tidak boleh masuk
kampung suami pada malam hari. Tarian Paaka (artinya membentuk sesuatu yang baru). Tarian ini merupakan perpaduan dari tarian kabokang dan beberapa
tarian syukur.
Tarian lain yang diciptakan Hendrik adalah Kayarak yang berarti mendesir.
Tarian ini dilhami oleh naskah drama seorang budayawan lokal Yosef Pati Wenge (alm) yang berjudul “Kembalikan Daku Sumba”. Dalam naskah itu ada
syair berbunyi kapupu la ambangu, kayaraku la roti . . . (“menggaung sampai ke Ambon, mendesir sampai ke Rote”).
Tarian-tarian tersebut bersifat lebih dinamis dan modern dengan kostum yang sudah mendapat sentuhan-sentuhan baru. Hendrik mengakui, ada kesan bahwa
gerakan-gerakan asli tarian Sumba kurang bervariasi. “Saya berpikir ke depan harus ada tarian bersama atau tarian pergaulan. Tapi dasarnya harus tetap
dipertahankan. Boleh ada macam-macam pengembangan tapi dasarnya harus tetap dipertahankan,” ungkap Hendrik.
Saat ini Hendrik mengakui merancang tarian yang bisa melibatkan banyak orangseperti halnya Poco-poco dari Manado atau Jae dari Maumere-Flores yang saat
ini cukup banyak diminati anak-anak muda Sumba di samping dansa dan walsa.
Adat Sumba menurut pria berumur 60 tahun ini, jika diamati secara seksama mengandung banyak makna yang sangat dalam. Banyak hal yang bisa membuat
orang guyub dalam hubungan, sigap dalam membantu, terampil kerja, dan mengandung pesan kalau menjadi pemimpin harus merangkul rakyat. Dalam
hubungan dengan kepemimpinan ada kata-kata magis dalam beberapa nyanyian seperti Kita yang pilih pemimpin maka kita pun harus taat padanya (nyutta
mapindi ya na kapala lupang makabidi ta manundu lai nyunna). Tarian dan syair-syair lagu juga mengembuskan keutamaan-keutamaan hidup seperti
kesabaran, tahan godaan dan takut akan Tuhan. “Di Sumba ini kan banyak upacara mulai dari kebun sampai ke kampung besar. Ada tarian-nyanyian di kampung dan di kebun. Semua itu memiliki makna sendiri-sendiri. Saat panen padi misalnya, orang menyanyikan lagu-lagu dengan syair penuh makna dan itu menjiwai hidup orang Sumba,” jelas Hendrik lagi.
Saat ini banyak budaya itu yang telah menguap ditelan modernisasi. Hendrik menunjuk kehadiran alat perontok padi dan traktor telah menggusur kebiasaan
menyanyi sambil memetik dan injak padi (parina uhu) dan gotong- royong di antara warga.
Beberapa kampung seperti Lambanapu, Mauliru, Kadumbul (ketiganya terletak di pinggiran Kota Waingapu-red) yang dalam waktu sangat panjang dikenal sebagai
pusat-pusat kebudayaan, kini sudah sepi dari nyanyian panen dan kebiasaan injak padi bersama. Tradisi semacam ini hanya bisa ditemukan di gunung-gunung atau pedalaman. Bahkan di Lewa yang menjadi lumbung beras—dan
karenanya di tempat ini budaya menyanyi sambil panen berlangsung dengan ramai—sudah sepi juga dari tradisi-tradisi tersebut.
Perjuangan Hendrik untuk mempertahankan dan mengembangkan budaya leluhurnya melalui Sanggar Ori Angu bukan hal mudah. “Awalnya orang-orang larang
anak-anak mereka. Mereka bilang, kulit mati itu bikin orang buang waktu,” ungkap Hendrik menirukan ucapan mereka. Kulit mati yang dimaksud adalah kulit kerbau atau sapi yang menjadi bahan dasar pembuatan tambur, salah satu
alat utama dalam musik Sumba Timur.
Alasan utama masyarakat setempat tidak mengizinkan anak-anak mereka untuk ikut di sanggar adalah agar bisa membantu orang tua di kebun dan mencari rumput untuk ternak. Bagi mereka ikut di sanggar hanya membuang-buang waktu.
Saat itu seni belum menghasilkan uang. Tapi sekarang ceritanya sudah sedikit berbeda. Tidak heran SD Katolik Praikundu tempat istri Hendrik mengajar
berubah menjadi semacam pusat kebudayaan khusus untuk anak-anak. “Orang tua mencintai sekolah ini. Mereka sangat ingin anak-anak mereka sekolah di sini
agar pandai menari.” Istri Hendrik, Yuli Emu juga pandai menari dan menenun.
Saat ini anggota Ori Angu mencapai 50 orang. Peserta di sanggar ini berlatih secara gratis. Bagi Hendrik, ketiadaan uang tidak boleh menjadi penghalang
bagi seorang anak untuk belajar. Hendrik pernah mencoba untuk mengenakan iuran Rp. 100,-/bulan untuk setiap peserta, namun tidak jalan. Latihan di
Ori Angu berlangsung setiap hari Jumat, pukul 16-19.00 WITA. “Anak-anak saya yang kadang jadi korban saya marah-marahin kalau ada peserta yang tidak datang. Mereka saya suruh pergi jemput,” ungkapnya. Menjemput bisa dengan motor atau malah jalan kaki naik turun bukit atau menyeberang kali. Beberapa rumah sulit dijangkau dengan motor.
Kini, berkat adanya secercah perhatian pemerintah, Hendrik merasa mendapat semangat baru. Betapa tidak? Dalam rentang waktu panjang dia merasa seperti
menempuh “jalan sunyi” seorang diri. “Saya pernah merasa sangat lebih dan ingin berhenti dan membubarkan Ori Angu,” ungkapnya sambil menarik nafas dalam-dalam. Namun karena rasa cinta pada budaya nenek moyangnya itu muncul
dari jiwanya, rasa letih itu tidak mampu menguasai dirinya.
Pengamat budaya Sumba Sylvia Asih Angreni (54) mengakui nilai-nilai adiluhung dalam budaya Sumba. Menurutnya, meski Sumba terkenal feodal namun juga sangat demokratis. Dia menunjuk contoh kebiasaan duduk bersama di
bangga (balai-balai di teras rumah adat Sumba, tempat bermusyawah para pria-red) untuk membicarakan dan menyelesaikan bersama sebuah masalah
sebagai contoh konkret. “Hal ini harus dipelihara dengan baik,” saran wanita lulusan sastra Inggris Universitas Satya wacana, Salatiga, Jawa Tengah yang
juga adalah istri bupati Sumba Timur, Ir. Umbu Mehang Kunda ini.
Bahkan nilai adiluhung itu seperti diungkapkan Umbu Hamakonda, seorang peminat budaya yang juga adalah Sekretaris Daerah Kabupaten Sumba Timur,
sangat sangat luhur. Dia menunjuk contoh orang Sumba yang sangat menghargai perempuan. “Dulu, apapun yang diputuskan para bapak atau laki-laki harus
dikonsultasikan pada ibu. Kalau sang ibu katakan tidak, maka rencana batal,” ungkapnya. Filosofinya, segala sesuatu yang ada di rumah berada dalam
pengawasan seorang ibu. Misalnya ternak atau tenunan-tenunan. Umbu menyayangkan nilai-nilai itu kian hari kian memudar sehingga timbul kesan
dan fakta baru bahwa orang Sumba tidak menghargai perempuan. “Sebenarnya penghargaan jender sudah berlangsung sejak zaman dulu tapi kemudian memudar.
Ini pekerjaan berat ke depan,” ungkap pria hitam manis ini.
Untuk mempertahankan tradisi-tradisi tersebut, Pemda Kabupaten Sumba Timur melalui Dinas Pariwisata mencanangkan berbagai program yang mendekatkan
kembali kebudayaan Sumba pada generasi muda. Selain itu akan diadakan pengembangan aneka situs budaya yang dapat menarik banyak wisatawan. “Kalau hal-hal ini berkembang dengan baik, maka rakyat yang akan merasakan akibat
langsungnya. Kain tenun yang mereka buat misalnya, bisa langsung bisa dijual kepada turis. Hasilnya langsung mereka rasakan. Saya optimis dengan perkembangan dunia periwisata ke depan,” ungkap Kepala Pariwisata Kabupaten
Sumba Timur Domu Warandoy, SH sambil menyebut aneka obyek wisata eksotis yang tersebar di seantero Sumba Timur. **
on May 27th, 2008 at 6:35 am
halllo kawan. tulisannya bagus sekali.
salam kenal.
kalau mau bagi pengalaman gabung juga bersama kami di http://www.talora07.wordpress.com
ini situs anak2 mahasisiwa di jateng
on October 8th, 2008 at 8:31 am
Hii kawan,teruskan perjuanganmu melestarikan budaya sumba…Hidup Sumba…!